
Bel istirahat telah berdering, beberapa siswi berkerumun di meja –atau lebih tepatnya di sebelah meja Kiki dan Rafael yang bersebelahan dengan meja si kembar Luke dan Hans.
Mereka sibuk berkenalan, menyapa, dan merayu kedua murid tersebut bahkan sudah tersebar satu sekolah kalau ada murid pindahan kembar dan tampan.
Karena kesal mereka berlima pergi ke rooftop untuk menikmati udara segar dan melihat keramaian dari atas sana.
Sunyi sejenak, tidak ada pembicaraan di antara mereka karena sibuk dengan masalah masing-masing, terutama Daniel yang masih bingung dengan cintanya.
Anne Christiena Jakfar.
Daniel masih ragu apa harus menyatakan perasaannya pada wakil Ketua Osis itu, karena semua orang tahu.
Anne bukan cewek yang mudah terpesona, butuh waktu berabad-abad untuk mendapatkan hatinya, lagipun Anne tidak pernah mencintai Daniel selama setahun ini, mereka hanya terjebak di ruang friendzone.
"Gue mau curhat ni..." kata Daniel sembari menatap teman temannya yang tidak menoleh sama sekali.
"Denger kek, hoy kambeng!" bentak Daniel, temannya menoleh dengan muka anjeng-bisa-selo-gak.
"Gue mau nembak Anne..." ujar Daniel ragu.
"Oh," kata mereka serempak dan Daniel mengerucutkan monyongnya.
"Bangke tirex." Daniel menengadahkan wajahnya ke langit.
"Lo yakin? Vero si kapten basket juga suka sama Anne. Lo mau duel emang sama dia?" tanya Nauval.
"Gue suka sama An---"
"Bukan masalah itu, emang Anne suka sama lo?" potong Kiki dan ucapannya membuat Daniel bungkam.
Benar kata Kiki, Anne tidak menyukainya lagipula tidak nyaman berada di dekatnya, tapi mau bagaimana lagi? Daniel sudah terlanjur sayang pada gadis berambut pendek kuncir kuda itu.
"Oh Tuhan... Kucinta dia... Kusayang dia... Rindu dia... Dianya enggak," nyanyi Daniel dengan nada sumbang membuat Nauval buru-buru menyumpal mulut Daniel dengan kresek sampah.
"Lo sih, Anne gak cuma liat tampang doang tapi juga prestasi macam Vero..." sambung Rafael dan Daniel menatap tajam padanya.
"Maksud lo?"
"Vero mantannya Anne."
"Katanya sih udah balikan," tambah Nauval lagi.
Deg!
Apa Daniel harus menyerah? memang Vero adalah musuh bebuyutannya sejak kelas 10. Pantas saja Anne mau menerima Vero.
Karena Vero kapten basket dan rangking 1. Di kelas 11 mia 2 pun, ia sudah pernah ikut lomba silat tingkat nasional dan mendapat juara 1.
Sudah pasti, kan?
"Gue gakkan menyerah kalau itu buat lo!" batin Daniel lalu pergi dari atap untuk ke kelas Anne, 11 mia 2.
"Semangat, kudaniel!" teriak Kiki, Rafael, dan Nauval lalu Daniel memasang muka masam.
Mereka memang sudah tahu, kalau Daniel kuat pendirian, dia tidak akan goyah pada apapun dan itulah yang membuat keempat temannya salut pada Daniel.
"Iya."
***
"Anne!!!" teriak Daniel di lorong kelas membuat para siswi melirik geli padanya.
"Lo kangen gak sama gue?" tanya Daniel lagi namun cewek tersebut menghiraukannya. Dia masih berjalan menuju Ruang Osis untuk menggantikan tugas Elang.
"Hey!" Daniel menepuk pundak gadis tersebut namun ditepis dengan cepat.
Saat gadis itu melihatnya dengan tatapan bengis, Daniel tambah dibuat terpesona olehnya. Rambut pendek dengan pipi merona dan bibir imut, dia lah orang pertama yang berhasil membuat Daniel sampai segila ini.
"Lo punya waktu sebentar?" tanya Daniel, gadis itu berpikir sejenak.
"Di taman, boleh?" kata Daniel gugup dan gadis itu segera membalikkan badan menuju taman sekolah yang sepi.
Kini hanya mereka berdua, Daniel yang gugup dan Anne yang pendiam. Sama-sama tidak ada obrolan di antara mereka hingga 15 menit.
Jantung Daniel terasa meloncat saat mata lentik itu menatapnya minta penjelasan mengapa mengajaknya ke taman, Daniel menarik nafas dalam lalu menetralkan nafasnya.
"Gue suka sama lo," kata Daniel dan gadis itu mengernyit heran.
"Tapi gak apa kok, gue tahu lo suka sama Vero jadi lo gak perlu khawatir gue gakkan ganggu hubungan lo sama di---"
"Gue mau jadi pacar lo," kata Anne tiba-tiba membuat bola mata Daniel keluar.
"Asalkan lo bisa kalahkan dia, si jago merah." Anne menoleh pada cowok berambut cokelat itu dengan serius.
"Kok?" tanya Daniel heran. Dia belum mengerti dengan situasi yang sekarang dihadapinya.
"Tapi jangan ge-er, gue gak suka sama lo. Gue cuma mau lepas dari si bangsat dan lo harus kalahin dia besok di lapangan basket," ujar gadis itu meninggalkan Daniel yang masih membeku di tempat.
"Gue tunggu lo besok di lapangan buat duel sama Vero, dah." gadis itu menghilang dari pandangan Daniel yang masih loading.
L O A D I N G
• • •
"APA?!!" teriak Daniel shock. Baru sadar kalau dia akan jadi korban untuk dipermalukan. Tanpa pikir panjang segera dikejarnya Anne namun sayangnya Vero berada di depan perpustakaan bersama Anne.
Anne menunjuk kearah Daniel dan Vero menoleh padanya. Daniel tahu pasti, Anne bilang pada pacarnya kalau ia mengajaknya tanding basket melawannya besok siang.
Betis Daniel bergetar, bagaimana bisa dia melawan pemain basket senior yang sudah mendapat banyak piagam seperti Vero, belum lagi teman-temannya yang sudah pro sama seperti dirinya.
Yang ada hanya malu kalau bertanding dengan Vero besok. Apa dia pindah sekolah saja ya? Ah pecundang, sayangnya Daniel bukan pecundang!
Daniel melangkahkan kakinya menuju Vero Aldibastian Pratama mata sipit Vero memerhatikannya dengan benci.
"Gue tantang lo main basket di lapangan besok!" kata Daniel dengan spontan. Sungguh menyesal sudah berbicara seperti itu namun ia ingin kelihatan gentleman di hadapan Anne.
"Heh." Vero memasukkan tangan ke dalam saku lalu melanjutkan. "Besok bawa temen lo 6 orang buat tanding, itupun kalo lo berani," ucap Vero ketus lalu menyenggol bahu Daniel tiba-tiba membuatnya oleng menabrak dinding sekolah.
"PENGUMUMAN!!! BESOK DANIEL DAN KAWAN-KAWANNYA BAKAL TANDING DENGAN GRUP BASKET GENERASI BANGSA!" kata Vero memberi jeda membuat semua murid mengerubungi Vero, Anne, dan Daniel.
"BESOK SIANG, DI LAPANGAN BASKET OKE!!" sorak Vero dan kali ini Daniel benar-benar ciut karena semua orang berpihak pada Vero.
Perlahan Daniel pergi meninggalkan kerumunan. Bahkan ia sama sekali tidak jago bermain basket begitu juga temannya, kecuali Elang. Pupus sudah masa SMA yang indah, karena setelah pertandingan besok dia akan menanggung malu yang luar biasa.
Saat sedang larut dalam keputusasaan seseorang menyahut dari belakang, tahu saja dua orang sedang berjalan di sebelah kanan dan kirinya.
"Kok sedih gitu?" sapa Luke.
"Gara-gara tanding basket tadi ya?" timpal Hans antusias.
Daniel mengembuskan nafas dengan kasar, apaan dengan si kembar ini? Di cafe kemarin marah-marah hari ini sok baik.
"Gak, kalian gak usah ikut campur," balas Daniel datar.
"Kita jago maen basket, gimana?" ucap Hans membuat Daniel berhenti.
"Gue ada rencana buat menangin lo di pertandingan besok, tapi gue punya syarat!" ucap Luke dengan senyum miring.
Dan di sana Elang bersama Rafael menguping pembicaraan Daniel yang menghilang daritadi.
Ternyata dia bersama si kembar, dan tentu mereka curiga karena Luke dan Hans adalah gengnya Gabriel.
"Apa syaratnya?" ucap Daniel serius.
Luke dan Hans sama-sama mengembangkan senyuman manisnya.
****