
Elang's Pov.
Suara gaduh di area parkiran membuat gue semakin gerah. Entah cuma perasaan gue, atau memang sekolah ini jadi lebih banyak keributan sejak kedatangan si cicak legends.
Gue kira pas pengumuman juara dia bakal menempati posisi setelah gue, karena gue tahu. Otak dia memang terbilang lumayan. Dia bisa nyelesain 1 soal matematika dalam 3 menit. Gue sempat kesal waktu tahu nama dia menduduki posisi pertama di atas gue.
Kerumunan yang tadinya penuh dengan suara lengkingan tiba-tiba diam. Gue menatap seorang cewek absurd yang lagi jongkok menutup telinga.
Semenyedihkan itukah?
"Ngapain lo?"
Cewek itu mengangkat wajahnya yang pucat macam setan ketahuan nyolong daleman. Gue rada kasihan melihat dia walaupun rasa benci gue lebih besar.
"Ikut gue."
Itu suara gue? Sialan.
Gue membalikkan badan berharap cewek itu gak mendengar ucapan yang kurang berfaedah tadi. Tapi bunyi langkah di belakang gue udah jelas terdengar.
Dia ngekor.
Sampai di tempat gue parkir motor dia tetap ngekor. Dengan masang wajah kesal gue menaiki motor berharap cewek itu segera minggat. Gue cuma pisahin dia dari kerumunan tukang bully.
"Pulang sendiri. Gue gak mau antar." gue menyalakan motor.
"Lah? Tadi lo nyuruh ngikut?! Gimana sih, gue udah ketinggalan bus dasar sedot septitenk!" cerca dia marah, hidungnya kembang kempis.
"Lo gak punya motor?"
"Motor gue dibengkel!" Ketus dia lalu pergi sambil menghentakkan kaki, marah.
Marah yang aneh.
"Oy!" panggil gue mensejajarkan langkah dia dengan motor. Dia melirik sinis, pengen nyongkel mata orang tapi takut dikutuk jadi monyet.
"Hm?"
"Di sini banyak setan," kata gue ngawur, kok aneh ya? Gue ngapain sih?
"Iya, apalagi sama cowok tembok kayak lo, mbak kuntinya demen tuh pen grepe-grepe!" Balas dia dengan gemas.
Lucu, eh gak deng. Jijik malah.
Suasana yang tadinya cerah berangsur berubah jadi mendung. Entah sejak kapan sekolah mulai sepi, suara gesekan pohon karena tertiup angin mulai mengisi suasana sekolahan yang angker.
"Naik!" perintah gue mulai ngerasain hawa-hawa tak sedap.
"Ogah gue." Masih marah dia ceritanya, pengen ninggalin takut besok malah jadi arwah gentayangan.
"Naik atau gue tinggal?!" ancam gue dan pastinya gak mempan.
"Bodo."
"Naek cicak!!" untuk yang pertama kalinya gue teriak dalam 2 tahun gue tahan diri gak terlalu menampakkan emosi. Makin kenal dengan si cicak gue makin merasa ada persamaan antara dia dan ---
Ann?
Gue melihat itu, bekas sayatan dalam di leher putihnya.
Persis yang gue lihat di perpustakaan tempo lalu. Gue terdiam, fakta konyol apaan yang lagi gue lihat?
Gabriel, cewek berkacamata, dan Ann.
Mereka semua sama?
Atau hanya satu orang?
"Woy! Kerasukan arwah kang cilok mampus lo. Gue gak nanggung," kata cewek itu mulai jauh.
"Mau dijadiin istri dedemit atau pulang?" tanya gue dengan sedikit pelan. Dia tersenyum girang.
"Gitu kek dari tadi!"
_________
Hujan deras terus berjatuhan membuat jaket gue sepenuhnya basah dan badan gue mulai mendingin.
Gue melihat di kaca spion. Gabriel diam menunduk dengan muka pucat, dan gue yakin dia kedinginan. Tanpa pikir panjang gue berhentiin motor di sebuah warung pinggir jalan yang lumayan sepi, setelah itu memesan dua teh hangat.
"Lo mau sakratul maut?" ceplos gue seenaknya. Jujur baru kali ini gue bicara tanpa pikir dulu, aneh. Shit! Bukan, gue cuma mau bikin dia marah.
Dia menggeleng pelan, bahunya masih gemetaran. Seorang penjaga warung menaruh teh di atas meja.
"Kalo mati gue gak mau kuburin," ucap gue lagi, berharap si cicak bicara.
"Y-ya udah gue gentayangin..lo..." dia mengangkat wajah kedinginannya.
"Kok..dingin ya?" sambung dia gemetaran sambil meluk tas, lucu. Kayak marmut, jadi pengen nampol.
Gue melihat jaket yang gue sangkut di motor, basah total.
Eh?
Gue gak maksud ngasih dia jaket, najis.
"Minum."
"Enggak."
Ini anak nolak mulu kerjanya.
"Kalo lo yang bayarin boleh." dia nyengir lalu meminum teh dengan muka watados.
"Hm."
Jari-jari tangannya masih gemetaran, gue memerhatikan gerak-gerik dia yang bisa dibilang kelewat absurd.
Minum teh panas make sedotan.
Ini gue yang salah lihat atau dia kelewatan begonya?
"Luka di leher lo, kenapa?" Tanya gue tiba-tiba. Gue tersentak dengan kalimat yang barusan keluar seenaknya dari mulut gue.
"Hah?... Lo liat?" cewek itu memegangi lehernya dengan kikuk.
"Iya."
"Em...?" dia berfikir keras, sambil menghitung jumlah cicak di tiang kayu.
Gue memfokuskan pendengaran karena suara rintikan hujan deras masih terlalu menguasai isi bumi.
"Lupa, " jelas dia, meneguk teh dengan wajah kampret seperti biasa.
Kok kesel ya?
Gue mengalihkan pandangan pada sebuah pin hitam yang terselip di tas dia.
"Kenapa muka lo?" tanyanya dan gue masih belum menjawab.
Pin hitam dengan tulisan Hate. Gak mungkin gue lupa hari penting itu. Hari pertama kalinya gue mengungkapin perasaan di hadapan cewek dingin, aneh, dan...
...lucu?
Gue melihat mata Gabriel sejenak.
GAK!
Anggap aja itu cuma tebakan seorang manusia yang tidak tahu apa-apa. Salah, gue berharap firasat gue salah.
"Lo kenapa? Kek lagi ngitung bon utang piutang aja. Teh ini lo yang bayar, kan?" celetuk dia menatap gue heran.
Gue mengangguk, lalu berusaha menetralkan emosi. Kalau persepsi yang timbul di otak gue salah.
Harus salah.
Tapi, gue masih berharap.
"Lo kenal Ann?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut gue.
****