
"Kamu juga tidak bisa meminta Tuhan agar tidak mengambil orang yang kamu sayang hanya untuk menjaga perasaanmu, terkadang Tuhan itu baik. Tuhan hanya ingin mendewasakan mu :)"
• • •
"Gabriel, Tuhan sangat sayang sama ibumu, nak."
Rasanya bumi berhenti bersuara, bahkan suara jam mampu terdengar semakin lama makin kelam. Gue merunduk, menyesali setiap detik yang gue hadapi. Membuang sosok yang terus berjuang dan selalu sayang seutuhnya tanpa meminta balas budi.
Bunda.
Dua kali gue melakukan hal yang sama, bersikap seolah olah gue bisa segalanya, Emosian dan penyakitan, Skizofrenia dan hampir menyerupai psychopath. Gue ingat terakhir kali gue mencakar wajah cewek sekelas sampai wajahnya cacat. Gue penyakitan. Melakukan semua hal seenaknya, kasar dan tak berperasaan. Membunuh tanpa rasa bersalah dan tertawa.
Gue gila.
Merasa diawasi, sering berhalusinasi mendengar teriakan kematian, tepatnya pada indra pendengaran. Bunyi lonceng dan bayangan wajah kematian om Zam berkali kali menyusup dalam mimpi dan membuat mental gue makin rusak.
Gua gak punya masa depan seperti yang orang lain rasakan.
Gue cuma seorang tikus kecil yang dihujam dengan ribuan lidi, tumpul namun menyakitkan.
"Gabriel..gabriel?! Kamu dengar bibi?" cemas Bibi mendengar isakan gue. Gue gak mau dengar apa apa lagi, dengan cepat gue beranjak ke lemari memasukkan beberapa pakaian ke koper lalu meninggalkan rumah menuju kampung halaman.
Detik terasa melambat, gue ingin berjumpa Bunda, tapi gak bisa. Gue ingin meluk Bunda tapi dia gak disini. Gue ingin minta maaf tapi dia udah gak bisa jawab.
Gue menunduk dalam, menyembunyikan air mata dengan sesak. Penyesalan lagi, sakit. bahu gue terasa semakin bergetar.
"Dek, kenapa?" tanya seorang penumpang disebelah gue. Seorang wanita karir. Sekitaran 27 tahun.
Gue menggeleng pelan.
"Diputusin pacar?"
Jleb.
Kok kesel ya?
Bener juga sih kemarin putus, tapi gue sedih karena Bunda Go Block!
Gue menoleh kedepan, sebentar lagi pesawat lepas landas.
Dari bandara gue langsung mencari tumpangan, langit cerah tapi hujan mulai jatuh.
Aneh.
Ini tanda orang baru saja meninggal, kan?
Gue menatap luar jendela taksi, para kaum hawa yang menetap disini hampir semuanya mengenakan hijab, gue malu kembali kesini dengan rambut terbuka. Tanpa pikir panjang gue menarik sebuah selendang lalu membalutnya dikepala.
Puluhan orang berdatangan disebuah rumah sederhana berwarna cream dengan teratak dan gemaan yasin.
Tangis gue pecah, gue segera membayar ongkos dan berlari tak beraturan hingga sampai disuatu titik, wanita cantik yang sudah dibalut dengan helaian kain kafan.
"Bundaaa!!!" tangis gue memeluk tubuhnya yang sudah kaku, kulitnya mendingin dengan sedikit senyuman dibibirnya.
"Gabriel, tenang Nak. Tuhan ambil Bunda karena Dia sayang sama Bunda jadi jangan sedih," Bibi mengelus rambut gue sayang.
"Tuhan sayang Bunda, tapi gak sayang Gabriel!" protes gue, menyalahkan seluruh isi dibumi. Mungkin gue terlihat paling menyedihkan sekarang, menangisi penyesalan. Gue belum minta maaf.
"Bundamu kena kanker rahim, hampir setahun. Mungkin dia gak tega cerita karena takut kamu kepikiran."
"Kalau gini lebih sakit lagi, Bi. Gabriel belum minta maaf, dan Bunda belum nepatin janji 3 tahun lalu buat ajakin Gabriel ke Dufan." isak gue dan puluhan orang menjadi saksi, gue hanya anak durhaka yang gak mau mengerti. Keras kepala.
2 kali gue menyesal.
Retak setelah membuang El dan hampir membunuhnya, mencoba lari dengan pindah sekolah dan rumah. Merubah sikap dingin namun tetap gak bisa mengubah sifat tempramental gue.
Dan sekarang ditanggal 1 desember Bunda pergi bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun, Bun." ucap gue serak.
"Gabriel minta maaf gak bisa jadi anak baik, jahat dan kasar."
"Gabriel janji berubah, gak akan nyakitin siapapun lagi." gue berhenti, menatap wajah pucat Bunda dengan lama. Terakhir kalinya gue bisa melihat malaikat cantik tak bersayap.
"Gabriel janji jagain Papa," lanjut gue mencium kedua pipinya lalu memeluk lama hingga mengantarkan jasadnya ketempat peristirahatan terakhir.
___________
"Gabriel...?"
Gue membuka mata, melihat seorang pria dengan balutan jas rapi duduk dipinggiran kasur. Ia ******** senyum kecut dan gue tahu, Papa barusan menangis.
"Gabriel minta maaf, Pa."
"Kamu gak salah, Tuhan sayang sama Bunda. Dan dia gak biarin Bunda sakit lebih lama." ucap beliau sangat tulus, bahkan wajah tuanya masih sangat tampan seperti biasa.
Gue mengangguk lalu menatap jam dinding. Jam 1 siang, dan gue tidur selama itu, badan panas dan kepala gue pusing.
"Papa kapan datang? Istri baru Papa gak datang?" tanya gue beruntun, walaupun Papa udah menikah dengan wanita lain gue tetap bersyukur kalau dia datang kembali kekampung halaman Bunda.
"Tadi, Papa gak menikah sama siapa siapa Gabriel." jelasnya, gue tercengang.
"Papa cuma marah karena Bundamu keras kepala, dia terus ngotot jalanin bisnisnya walaupun lagi sakit." ucap Papa, gue tahu dia benar benar sedih. Bahkan gak malu memperlihatkan airmatanya dihadapan gue.
"Papa kira dengan ngancam dia kalau Papa selingkuh bakal buat dia berubah, tapi sebaliknya. Dia selingkuh juga dan begitulah. Papa salah, kamu boleh benci Papa tapi jangan tinggalin Papa, ya." kata dia memeluk gue lalu menangis.
Papa juga manusia, dan dia butuh sandaran.
"Gak pa,"
Papa mengangkat kepala dengan wajah terkejut.
"Gabriel gak akan ninggalin Papa. Gabriel gak akan benci Papa."
Dia tersenyum sambil menutup matanya yang udah gak sebegitu cokelat kayak dulu. Mata cokelat dan rambut cokelat gue menurun dari Papa, dan sifat aneh gue menurun dari Bunda.
"Gabriel mau ikut Papa ke London."
*****
Lah? Tamat dung ceritanya?
Btw dramatis amat njir, enek gue 😂😂