
"Seperti sebuah kaca, retak dan disatukan kembali dengan pecahannya. Lalu retak kembali. Itulah Hati."
***
"Kamu yakin?" sahut Papa serius, gue mengangguk pasti.
"Besok harus pergi, pekerjaan Papa gak bisa ditinggal. Bukan berarti Papa gak pe--"
"Gabriel ngerti, Pa. Tapi Gabriel berangkatnya belakangan." ucap gue dan Papa mengangguk setuju.
"Jangan sedih ya, Papa bisa jagain kamu." semangat Papa.
Gue gak ingin berlama lama disini karena batin gue makin tersiksa apalagi mengingat semua kenangan yang pernah gue alamin disini dengan Bunda.
Gue gak mau semakin sakit.
"Briel..?" sahut Papa melambaikan tangannya. Yah, begitulah. Papa orang yang bisa lembut tapi juga sangat kejam.
"Kenapa?" tanyanya, gue menggeleng.
"Gak kok." ungkap gue, mungkin sekarang juga gue mau pergi dari sini. Rasa bersalah makin membuat hati gue kacau.
"Gabriel pergi sekarang." ucap gue mengambil tas lalu pergi, bayangan dan bunyi lonceng mulai datang. Sayup sayup tenggelam namun makin lama makin terdengar, membuat pandangan gue kabur..
Tinnnn
Braaak!
"Gabriel!" teriak Papa dari gerbang rumah. Gue memegang pelipis yang mulai mengeluarkan cairan merah, darah. Untung kecepatan mobilnya gak terlalu cepat, bisa jadi kerupuk gue. Tinggal taburin bon cabe.
"Cepat pulang!" bentaknya, marah. Gue menurut mengekorinya dibelakang. Kayak yang gue bilang tadi, Papa orang kejam, anak ketabrak dipaksa jalan. Mobil tadi udah maen nyosor, sialan.
Gue memerhatikan rumah sederhana berwarna cream itu. Rasanya ingatan masa lalu gue terputar sendiri dan rasa sakit, benci marah dan menyesal menjadi satu. Membuat gue takut, memilih buat melarikan diri, lagi.
Gue melambaikan tangan, memberhentikan taksi dan melihat Papa gak menyadarinya, syukurlah.
Selama diperjalanan gue menatap langit yang mendung, sesekali melanjutkan tulisan disebuah buku kecil hitam yang nantinya bakal gue kasih ke seseorang, El.
Mungkin, diawal gue terlalu menghindari dia yang berubah menjadi dingin. Sifat bego dan somplaknya hilang, padahal dulu dia yang ngajarin gue, kalau hidup itu cuma sekali, jadi lakukan semua hal yang bisa ngebuat gue senang.
Tapi wajar, karena kepergian gue yang tiba tiba, gue masih ingat terakhir kalinya ketemu dia, ditaman sekolah.
Waktu itu, hari pertama gue sekolah setelah 2 bulan berhenti karena trauma membunuh om om mesum itu. Gue takut sama yang namanya cowok, termasuk El.
Gue diam dan mengacuhin dia yang terus cerita panjang lebar tentang kucingnya yang udah beranak 3 karena dibuntingin kucing kampung sebelah, kadang soal adik kecilnya bernama Refan.
Iya, memang dia.
Karena gue diam dia mulai ngerasa aneh, dia maksa bicara berkali kali bahkan nekat memegang tangan. Gue takut dan memukul dia, gue kira dia bakal menyerah tapi dia tiba tiba meluk, otomatis trauma gue balik dan gak bisa berfikir jernih.
Gue memukul kepalanya keras sampai kebentur pohon besar yang meneduhin bangku taman. Darah mengalir dari pelipisnya, dan gue lari karena takut. Persis kayak pecundang.
Memang kejam. Lo bisa benci gue sesuka hati.
Tapi gue gak pernah nyangka bakal ketemu dia setelah 3 tahun melarikan diri. Hari pertama gue masuk ke SMA Generasi Bangsa gue belum begitu kenal karena yang gue hafal nyengir lebar si El.
Sampai gue lihat, pin hitam yang nyangkut di-tasnya. Itu bukan kebetulan, gue hafal kapan dan hari apa dia hadiahin itu ke gue.
Waktu dia ngajak gue berteman ditaman seminggu setelah dia ngerecokin hidup gue. Bahkan dia gak segan jadi omongan guru yang banyak gak suka ke gue.
Keluar dari Bandara pesawat, gue langsung mencari tumpangan menuju rumah.
Cklek
"Welcome back, briel!" ucap gue pada diri sendiri. Gue menuju kamar mengambil beberapa tablet antipsikotik.
Setelah selesai membersihkan diri gue merebahkan tubuh dikasur, pikiran mulai membaik. Gue melihat notif dihp yang dibiarin tergeletak dinakas.
Sebuah chat dari Elang ngingatin gue, besok lomba karate dan gue masih belum persiapan.
"Bsk jm 7 otw ."
.
.
.
"GABRIEL! SELAMAT, LO JUARA 2.. HOI MONYET CONGEK?!" Pekik Selatan nge-pas ditelinga gue, kemarin pertandingan udah diselenggarain dan gue gagal ngalahin anak SMA Adiputra. Bahkan gue harus dibawa kerumah sakit karena cidera parah.
Dan disini gue, rumah sakit ditemanin banyak cecunguk yang ngocehnya nyampe kekayangan miper sambil ghibahin si reot Sugiono yang hobi naena.
"Siapa namanya? Deon? Gila, cakep cakep jago maen hanyak anak orang! Pengen gue cium sumpah!" celoteh cowok berambut mangkuk, Kiki kalau gak salah.
"Wajar sih, dia emang udah pernah juara 1 nasional. Gue bangga sama lo Gab, gak pernah nyerah sampe akhir, tangan lo hampir lepas loh hahah," Rafael ketawa nyungsep liat lengan kiri gue dibalut perban.
"Mulut ember! Orang hampir sekarat malah diketawain, gue doain lu disambar geledek, MAMPUS!" cerca Selatan, matanya hampir keluar.
Cklek
Seketika pandangan kami tertuju pada satu titik, dimana seorang cowok tembok masuk dengan wajah dinginnya, Elang anak tiang.
"Kalian keluar,"
"Hah?!"
"Gue mau bicara sama dia." sekarang semua mata tertuju pada gue, Elang maju selangkah tepat disamping gue.
"Gue mau bicara."
Deg.
Jantung gue berasa berhenti, Daniel, Selatan, dan semua cowok yang ngejenguk gue langsung keluar. Meninggalin gue, meninggalin suasana horor naudzubillah.
"Gabriel?" ucap dia, gue menunduk makin dalam. Dia tahu sesuatu, gue yakin. Apalagi sekarang dia udah manggil pakai nama.
"Lo dengar gue?"
"Yes, sir."
Ah kampret. Itu mulut gue?
"Sekali lagi gue tanya..."
Gue mengangkat wajah, memerhatikan wajah mulus dan tampannya. Sial.
"... Lo kenal Ann?"
Tubuh mati rasa, pasokan oksigen terasa menjauh membuat gue gemetaran, gugup. Jari jari gue mendingin, semua recorder masa lalu berputar. Gue terus terdiam, takut. Takut dia marah, takut dia benci, takut dia kecewa.
"Lo punya mulut, kan?"
"Maaf."
"Berarti benar?" kata dia dengan nada tenang.
Tubuh gue mendingin, tanpa menunggu jawaban Elang berjalan kepintu. Hati gue sakit.
"El...."
Dia berhenti, tanpa menengok. Gue yakin dia masih marah, tapi gak ada yang bisa gue lakuin selain menyesal. Gue cuma bisa mengutuk diri sendiri, gue gak punya apa apa yang bisa gue kasih untuk minta maaf.
"Maafin gue, El."
"Ya,"
Dia benar benar pergi, air mata gue jatuh. Dan saat itu juga, pandangan gue berubah menjadi gelap.
*****