
"Hei... Aku tahu kamu melanggar!"
• • •
Braaaak
Seketika pandangan gue gelap, dan pelipis gue terasa nyeri. Gak ada lagi muka jutek yang kakunya subhanallah, dan ucapan baku dan aneh bin ajaib dari mulut Ann. Semua hilang.
Drrrrtt
Sebuah dering membuat lamunan gue buyar, gue menatap hp dengan enggan. Rupanya notif dari temen geblek semua. Masa gue nyari Gabriel dikira mau naik haji? Pemikiran dalam dari mana itu tong? Nauval, temen dari orok yang tau semua masalah gue nge-chat seakan berasa paling dungu gak tau apa apa.
Karena malas gue menutup hp, menatap lembar putih rada kusam itu dengan--- ragu?
______
Teruntuk El.
26 November 20XX
Benar dugaan gue, dia nulisnya baru beberapa bulan yang lalu. Beneran terencana.
Ini buku kelima yang sering gue--- atau lo lebih nyaman dengan bahasa gue dulu? Aku kamu? Yah, ini buku sama tapi berbeda, aku cuma ingin mengingat kembali apa yang pernah tertanam aneh diperasaanku. Waktu pertama kamu minta contekan.
Aku tahu, itu cuma akal akalan kamu saja, kan? Rangking satu masih mau ambil contekan anak pindahan. Kamu sehat?
Tiba tiba gue geli sendiri, membayangin sifat Ann yang kaku sedangkan Gabriel yang kontras, mereka cuma satu orang. Benar kata si Selatan, dia udah mencoba buat berubah.
Tapi, sejak kapan dia jadi cenanyang? Karena penasaran gue membaca lembar berikutnya.
Mungkin kata maaf gak akan cukup untuk menghilangkan rasa kecewa kamu, aku paham. Hanya saja waktu tak kenal kompromi. Dia tak pernah membenarkan jarak kita. Seandainya aku bukan pengecut, aku sudah berlutut disana. Tapi aku takut, bencimu membuatku takut.
Seandainya lo disana, gue gak akan semarah ini go block, gue makin kesel aja nyampe pramugari ngira gue LDR an lewat buku. Orang lewat hp gue lewat buku. Keren. Beri tepuk tangan buat gue.
Hei..? Kamu masih mau membacanya? Atau sudah muak dengan Ann yang selalu bikin kamu eneg?
Haha, maaf. Kalau kamu masih mau baca, aku ingin meluruskan saja. Kamu orang pertama yang memanggil ku teman. Aku terlalu canggung dan itu membuat kamu kesal, aku tahu. Tapi bohong, kalau aku tidak senang membuat kamu jadi benteng, haha merah, ups.
Kan, gue geregetan sendiri, cuma lewat tulisan dia udah bikin gue gondok. Tapi, gue rindu dengan Ann yang ada didalam buku ini, perasaan senang menghangati hati gue. Sial!
Segini dulu ya, masih ada besok El. Jangan marahin aku, karena aku gak disana. Marahin aja orang sebelah kamu yang lagi menjomblo.
Apasih, gak jelas. Gue kesel kesel sendiri. Oke, gue gak akan baca buku ini sampai besok.
Gue mengalihkan pandangan kekanan, penumpang sebelah gue terlihat kayak cowok galau yang baru diputusin ceweknya.
Marahin aja orang sebelah kamu yang lagi menjomblo...
Kok dia bisa tau?
Atau cuma kebetulan??
Cukup lama berada dipesawat, tanpa sadar gue udah langsung nyampe di kota asing yang dingin, gue memberhentikan taxi lalu termenung.
Karena gabut buku hitam itu jadi pelarian gue, toh yang punya buku gak akan tahu dia membaca tulisan yang harusnya untuk besok. Aturan macam apa itu?
Hei...
Aku tahu kamu melanggar!
Sial, kicep gue anjirun.
Beneran cenayang dia? Kok gak mirip mbah Mijan?
Aku tahu sifat kamu El, jangan pikir aku peramal. Ku pikir kamu sekarang sedang bosankah? Atau memang penasaran?
Aku ingin tanya, apa kamu masih ingat sebuah janji? Haha, kukira itu cuma candaan. Setelah membuat kamu sakit aku mengurung diri, aku ingin bunuh diri tapi kamu membuatku ingin tinggal lebih lama. karena tanpa kamu, tulisan ini gak akan ada.
Bahagia juga gak pernah ada, aku juga ingin bahagia, El. Tapi, sejak hari pernyataan cinta aku paham satu garis batas yang selama itu aku langgar,
Aku gak pantas disebelah El, mungkin aku suka. Aku jujur tapi aku takut El jadi korban. Bahkan kamu kenal aku lebih dari hatimu sendiri, sadar gak? Makin lama makin susah buat hilangin wajah kamu, berlebihan? Terserah. Aku hanya ingin jujur, tapi aku takut bicara langsung. Maaf, aku hanya mengutarakannya lewat buku.
Heleh, bilang aja lo takut merah liat gue, kan? Cuih.
Kamu masih disana? Aku hanya kesepian, berbicara dikamar sambil memikirkan El yang baru saja marah marah didepan gerbang sekolah.
Jangan jangan dia sengaja pindah, dia sengaja?!
Iya, aku mencari El. Untuk sebuah janji. Janji untuk membuktikan kalau Ann sudah berubah. Bukan Ann sicewek kusut tapi Gabriel yang ngeselin. Haha.
Aku tahu kamu lupa, tapi wajah dingin kamu membuat aku nyesal. El yang kocak berubah menjadi Elang yang dingin. Bukannya kamu yang bilang, jadi manekin itu ga enak? Kok sekarang malah kamu yang membeku?
Benar aku salah disini.
Tapi aku lebih merasa bersalah melihat kamu berubah menjadi aku yang dulu, penyendiri. Aku pikir, dengan merubah jadi Ann yang suka merecokin El akan membuat semua berubah. Aku sengaja buat kamu marah, aku sengaja cari perhatian. Tapi kamu beneran lupa muka ku? Segitunya kah?
Waktu insiden sekolah sepi gara gara takhayul itu kamu juga masih beku. Gak tahu lagi harus gimana, yaudah aku pulang tapi Selatan bilang kamu lagi di Perpus Daerah.
Ku kira kamu bakal ingat Ann dengan gaya yang dulu, kacamata dan sifat dingin. Sekuat mungkin aku tahan perasaan yang hampir meledak, tapi Ann nya El gak peka.
Malah nambah berkali lipat judesnya, entah aku salah dengar tapi apa kamu manggil aku? Entahlah, yang keliatan cuma duit 50-ribuan haha.
Pengen nampol, sumpah rupanya ini sebuah drama! Hebat dia Drama Queen-nya.
"Hei..? Are you listen to me?" sahut supir taxi itu menunjukkan apartement yang tadi gue tuju. Gue udah siapin semuanya tinggal mencari cewek itu aja buat jadi gantungan dasbor.
Gue berjalan, memasuki lift dan bergerak kekamar, rasanya cepat banget waktu berlalu. Tadinya di indonesia sekarang nyosor di London.
Mata gue terpejam, sambil menghirup udara segar gue memejamkan mata.
"El...?" panggil seseorang dengan suara yang familiar, alah paling gue cuma halu. Masa iya sih, haha. Ngarep.
"Budek dipelihara, ckck."
Wait?
Ini ada manusia diapartemen gue?
Gak nunggu lama, gue melihat manusia dengan baju putih macam pasien rumah sakit, berdiri didekat jendela menghadap gue.
"Gabriel..? Kok disini? Lo ngerjain gue?!" bentak gue seenak jidat, sumpah? Demi kutangnya Soimah, gue gak mimpikan?
"Maksudnya?"
"Yakali lo setan?"
Dia tersenyum misterius, berjalan mundur pada sebuah jendela besar yang hanya dibatasi kaca.
"Lo mau apa?" introgasi gue melihat dia makin tersenyum aneh.
Langkahnya berhenti sebentar, mulutnya bergerak tapi gue gak bisa dengan apa yang dia bilang. Dia menjatuhkan diri tepat saat gue berdiri, kaca jendela retak dan menjatuhkan tubuhnya.
"GABRIEL?!!"
Nafas gue tercekat, yang gue lihat saat ini hanya kamar putih belum banyak barang. Ternyata gue cuma mimpi. Gue melihat jam dinding, yang menunjuk angka 5 pagi, Berarti gue udah ketiduran dari jam 4 sore sampai 5 pagi. Lama amat.
Sialan.
Apa tadi pertanda buruk?
.
.
Gue memakai jaket tebal dengan syal dileher. Mulai keluar dari apartement ini, cerita baru dimulai. Ini bukan lagi cerita tentang anak SMA yang saling jatuh cinta lalu pacaran. Ini bakal lebih jadi rumit, seperti Matahari yang gak pernah bertemu Bulan. Ini sebuah tragedi, bukan sebuah cinta romantis.
*****
Sad/ happy ending?