
"Lo kenal Ann?" akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulut gue. Cewek itu memasang wajah diam yang dingin. Ekspresi kampretnya hilang ditelan sunyi.
Menunggu jawaban agak lama, saat mulutnya mulai terbuka gue berharap sebuah jawaban pasti. "Lo nanya apa yah tadi?" kata dia, sumpah. Gorok anak orang dosa gak?
"Lo pikir sendiri!" ucap gue kesal, dua pertanyaan dan semua tanpa jawaban.
"Ciela ngambek, kek banci taman lawang ae lu mas!" cibir dia. Gue kacangin sambil memilih natap tetesan hujan yang mereda.
"Udah reda, lo pulang sendiri," dengus gue, melampirkan tas di bahu lalu menuju motor.
"Buju gile, gue ketabrak fuso kangen lo ntar, ck!" serbu dia menaiki motor lalu nyengir lebar.
"Nyiehhhehhh," kekehnya sambil menepuk bahu gue.
Karena mulai gelap gue buru-buru mengantar dia sesuai arah yang dia tunjuk. Sampai di sebuah rumah besar dan kosong gue mulai merinding.
"Turun!" decak gue dan dia nurut lalu ******** senyum.
Manis.
Idih, katarak gue.
Kerasukan apa dia jadi gitu? Kerasukan jin tomang? Atau dedemit?
Tanpa basa-basi gue menggas motor, tapi sebelum itu gue mendengar sepatah kata sakral yang keluar dari mulutnya.
"Makasih... El."
Dia berterima kasih?
"El..?" gue memerhatikan langkah kecil gadis itu memasuki pintu dengan senang. Namun pikiran gue terhenti ketika rintik hujan mulai menjelajahi semesta, hujan akan turun lebat.
Dan gue menuju ke rumah sambil menerka maksud dari ucapan dia.
____________
#20.00
"Bang,.."
"Bang, Bang,"
"BANG BANG BANG!!!" Nyanyi Refan ala boyband korea, gue tersentak dengan suara sumbangnya.
"Apa?!" geram gue.
"Sotonya udah dingin elah, Kerasukan jin bohlam bang nyampe melamun gitu?" cerocos dia sambil menyendok kuah soto gue. Kesempatan dalam kesempitan memang.
"Hm." gue berniat kembali ke kamar.
"Kalo ada masalah cerita aja kali, gak usah dipendam. Ntar basi," kata Refan menoel pinggang gue.
"Em.." gue berhenti, walaupun adek gue rada sengklek otaknya tapi gak ada salahnya bertanya sama dia.
"Apa bang?"
"Lo tau El itu siapa?" tanya gue ragu.
"Pfffft!!" ledek dia lalu geleng-geleng kepala. Tanpa menjawab pertanyaan gue dia melenggang ke kamar.
"Jawab setan!" hardik gue, dia berhenti saat mulai membuka pintu.
"Panggilan masa kecil sendiri aja lupa, jangan-jangan abang pernah lupa make sempak ya?" ledek Refan memasuki kamar sambil ketawa jahat, niru dari Aki Madara katanya.
Ha?
"Apaan?"
Sendiri. Gue berdiri kaku di depan wastafel sambil mengusap wajah dengan air. Ucapan Refan mengingatkan gue pada sebuah fakta nyata yang gue lupa.
Tapi kalau benar Gabriel itu Ann, darimananya? Memang gue gak tahu nama lengkap cewek kacamata itu, apalagi tempat tinggalnya. Yang gue kenal cuma Ann yang selalu datang ke taman sekolah sambil meneteng buku kecil berisi puisi indah. Ann yang dingin dan sangat misterius. Dan satu lagi, Ann yang psikopat dan penyakitan sering dibully karena penampilan dan sikap yang aneh.
Berbicara sendiri, kadang berteriak ketakutan. Sering masuk UKS dan paling telat masuk kelas, ini semua tentang Ann yang lama. Ann yang membuat gue gila.
Dengan kasar gue merebahkan tubuh di kasur, berpikir hingga tertidur lelap.
________
Bel istirahat berbunyi, dan sialnya teman-teman gue udah siap berkhotbah dengan segala racauan yang melewati galaksi bimasakti.
"Eh anjir, Niel! Cewek lo nunggu depan pintu!" teriak Kiki menggetok kepala Daniel dengan tupperware.
"EH SUMANTO!! SELO NGAPA SI--- Eh Anne, udah lama nunggu?" Lontar Daniel tersenyum lebar, selebar landasan pesawat. Dia langsung pergi dengan Anne keluar.
"Aelah, tai. Kayaknya tinggal kita doang yang jomblo," cecar Rafael.
"Kita? Lo aja kale!" ceplos Kiki dan Nauval barengan. Tumben sinkron nih berdua.
"Apa? Sejak kapan kalian ndak jones?"
"Sejak pitchentropus erectus berevolusi jadi Al Ghazali, cuk! Awokwok," tawa Nauval menertawai kengenesan Rafael.
Kemudian mata Rafael menengok gue dengan girang. "Gak papa, emang yang paling ganteng yang paling lama dapat jodoh, ya gak Lang?" dia menyikut lengan sambil senyum. Jijik.
"Hmm." gue menoleh memerhatikan cewek aneh yang lagi menulis di sebuah buku hitam kecil. Ya, Gabriel. Memang belakangan gue sering ngelihat buku unfaedah itu nyempil di manapun dia pergi, dasar cewek absurd.
"Ciieee yang liatin jodoh," cerca Kiki menatap gue geli. Sumpah, gue lebih geli lihat muka dia, mirip om-om gatel yang mangkal ditanjakan Emen. Ngeri.
"Siapa?" kata gue ngebuat Kiki mengatup bibir monyongnya sambil merapatkan kedua tangan.
"Ampun Tuan," katanya disambut cercaan dari Nauval, Rafael, dan Daniel. Kebiasaan.
Braak!
Seorang cowok tengil memasuki kelas dengan membanting pintu, Selatan. Penampilannya lebih abstrak dari biasanya, baju kusam dan rambut yang acakan. Pengen gue marahin cecunguk bedebah macam dia.
Karena merasa gak penting gue acuhin hingga sebuah suara keluar, gue menatap Gabriel yang sudah berdiri menghadap cowok brengsek itu.
"Maaf, Selatan."
.
.
.
Itu Gabriel?
Gue gak salah dengar? Kenapa ucapan dia belakangan ini di luar bayangan gue?
"Lo boleh marah, tapi tolong maafin gue."
Seisi kelas terdiam mendengar suara parau dia.
"Tch, sikap lo gak pernah berubah ya? Lo masih pengen nyakitin gue lagi?! Berkat Firzhi gue udah sadar, kalo selama ini gue cuma merjuangin cewek egois macam lo!!" cewek itu terdiam.
"Lo lebih percaya cewek busuk itu ketimbang sahabat lo?" nada suaranya mulai meninggi. Sungguh kayak lagi nonton sinetron tapi gue tetap aja masih nyimak. Kampret.
"Iya! Daripada percaya sama cewek gatel macam lo!" Selatan menggeram kesal salah satu temannya melerai.
"Gue sahabat lo!!" pekiknya.
"Kemaren lo bilang lo sayang gue, kan?" dengus Selatan, gue sedikit kesal dengan omong kosong dia, tapi Gabriel mengangguk mengiyakan.
"Kalo lo sayang gue, hari ini juga lo pacaran sama gue?!" ucap -- atau lebih tepatnya perintah cowok itu menatap gue sinis.
Gue, dan seluruh isi bumi tertegun dengan ucapan curut kurang belaian macam dia. Sumpah! Maksa, jadi pengen gue tampol.
*****