
Author's Pov.
Halaman sekolah bersorak riang, merayakan hari kelulusan. Sebuah panggung meriah beserta 2 pembawa acara menjadi pemandu.
Satu tahun sejak pindahnya Gabriel, tidak banyak yang berubah disana. Suasana menjadi agak tenang walaupun satu cecunguk masih hidup disana, Selatan.
Satu tahun yang tidak banyak berubah, hanya saja sifat seorang manusia yang bertambah dingin. Ia mengasingkan diri setiap hari, membolos pelajaran dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua osis.
Elang terduduk diam dengan earphone dikedua telinga, menghirup udara dalam. Suara ricuh dari lapangan sangat tidak menarik, hidupnya semakin hilang arah.
"Bang! Lo gak mau rayain hari kelulusan?! Khawatir gue, jadi botak menahun lo." sahut Nauval menaiki tangga, menuju teman dari oroknya.
Elang menggeleng singkat, mulutnya makin kaku untuk bicara.
"Hah... Elang, doi boleh pergi. Tapi jati diri lo jangan, lo makin hari makin bisu tau gak? Mau jadi sodara mbah Limbad?" cerocos Daniel.
Elang berdiri, Langkahnya menuju parkiran dengan wajah dingin dan aura sekitarnya yang semakin mengerikan. Para adik kelas sempat menghindar ketakutan.
__________
"Pa, Elang mau kuliah di London." ucap Elang saat Angkasa baru saja melepas dasi.
"Apa maksud kamu?" sergah Papanya, dengan tatapan sangat tajam, tapi kali ini tekad Elang sudah bulat. Ia ingin mencari Gabriel.
"Sekalian liburan."
"Apa yang terjadi, hah? Bahkan nilai rapormu tidak pantas dilihat, dan sekarang kamu minta libur?" sungut Angkasa.
"Ya udah, kalau gitu Elang pamit." kata Elang, menyeret kopernya. Tidak peduli dengan pria yang terus meneriaki namanya.
"Elang!" teriak Angkasa sekali lagi, menahan lengan anaknya, Refan terdiam melihat pertengkaran Angkasa dan Elang.
"Jangan bilang karena perempuan itu?!"
"Iya. Karena dia, memangnya kenapa? Elang bukan Papa yang mau ngelepasin Mama tanpa perjuang--"
Plaak
"Silahkan kamu keluar dari rumah ini!"
"Terimakasih." Elang pergi memegangi pipi kanannya yang memerah.
Setelah memesan tiket ia masuk kedalam pesawat. Menunggu sambil mendengar lagu, tidak peduli dengan sekitarnya yang terus berputar.
I'd climb every montain♪
And swim every ocean♪
Just to be with you, and fix what i've broken♪
Oh, cause i need you to see♪
That you're the reason♪
Kali ini Elang tidak lagi memejamkan mata, lirik yang dinyanyikan begitu nyata. Seakan menceritakannya, satu tahun setelah melihat Ann baru, Gabriel. Perasaannya menjadi lebih aneh dari perasaan seorang anak SMP.
Elang merindukannya tanpa alasan, hati memaksanya untuk mencari sosok pembuat kacau pikirannya.
Ia merogoh saku, mengambil sebuah buku hitam kecil yang belum pernah ia buka dalam setahun itu. Hanya membawanya kemana saja, ia hanya takut kecewanya kembali.
Dengan ragu jemarinya membuka lembaran putih yang penuh dengan coretan lusuh itu, manik matanya tertuju pada sebuah kalimat.
Teruntuk El.
Bahasa baku yang aneh.
Elang ingat hari pertama ia menjahili cewek kacamata dan batu itu.
Flashback on.
Elang's Pov.
"Maaf, kamu siapa? Memang kita bernah berjumpa?"
Ha?
Gue menganga lebar, mencerna ucapan luarbiasa kuno dari mulut kakunya. Hampir juga ngakak.
"Pedalaman suku aborigin lu? Bahasa gitu amat kaga dipermak." cerocos gue, namun dia melenggang pergi membawa sebuah buku hitam kecil yang selalu dibawa kemanapun.
Bahkan, para cewek tukang bully bakal masuk UGD kalo berani nyolek buku dia. Pokoknya gue penasaran banget isi buku itu.
Sampai gue beranikan diri buat 'berteman' walaupun dia nolak tapi dia gak pernah ngusir, hari hari gue tersita buat cewek batu itu, bahkan buat mikirin dia juga. Gue mendengar semua cerita hidup dia yang sangat rumit. Saat gue pikir cuma gue satu satunya yang sakit kehilangan Mama yang meninggal karena Papa yang tuduh Mama selingkuh dan dia bunuh diri. Aneh, dan saat itu gue kira gue satu satunya mahkluk paling sial dimuka bumi.
Makin lama gue makin nyaman sama dia, walaupun dia jarang manggil nama lengkap tapi kata dia, dia lebih senang dipanggil Ann.
Setelah sadar tentang perasaan gue, dia menghilang. Dua bulan tanpa kabar, dan rindu gue memuncak. Gue mencari cari dia tapi gak pernah ketemu, dia gak punya sosmed atau nomor telepon.
Saat gue berfikir dia cuma halusinasi, dia balik sekolah. Tapi dengan tubuh kurus dan banyak luka sayatan dimana mana. Lebih parah dari pertama kali gue lihat. Lengan, pipi, betis dan... Leher?
Pernah sekali, gue gak nemu dia ditaman, karena bosan gue ke rooftop mencari udara segar, tapi gue melihat Ann disana, berdiri diujung lantai dengan wajah kosong. Gue buru buru menarik lengan dia, tapi ditepis. Hati gue sakit lihat dia begini.
"Lo kenapa?"
"Aku benci Om Zam! Benci Papa! Benci El!!" teriak dia kencang, gue diam gak berkutik. Rasanya ada sesuatu yang nyengat nadi gue.
Besoknya keadaan dia makin parah, mata dia yang terang dan lucu berubah pekat. Gue beranikan diri buat bicara tentang adek ucul gue yang masih 2 tahun dan hal hal lucu lainnya yang mungkin bisa mencairkan suasana. Tapi gue sadar, gue lagi bicara sama bongkol toge, percuma.
"Oi ngapa lu diem? Kayak kunti mau beranak aelah,"
Dia diam, seakan gue cuma lalat somplak yang nongol pas iklan uttaran.
"Jubaedah, mingkem mulu lu gak asoi." kata gue lagi, tiba tiba dia nangis buat gue spot jantung. Anehnya nangis tapi gak bersuara.
"Ann, kenapa lo?" panik gue, mengeluarkan tisu wc, eh ga deng.
"Pergi!"
"Ntar lo kangen."
"Enggak! Enggak akan! Aku gak peduli, dasar laki laki sialan!"
Jleb
Nusuk nyampe kebulu idung, gue terdiam lalu bersuara,
"Ann, gak semua cowok itu jaha-"
"Mati!" seru dia, menggoreskan pisau dari saku dilengan lebamnya. Jadi, dia yang ngelakuinnya sendiri? Gue kira orang tuanya.
"Lo gila, Hah?!"
"Memang." geram dia, sejak kembali sekolah gue sering dengar gosipan anak sekolah kalau Ann sakit jiwa, gue gak percaya.
"Ann.."
Panggil gue, berusaha meredam emosinya yang meledak ledak.
"Gue sayang lo, gue bukan cowok yang jahat kayak pikiran lo."
Dia diam, bahunya sedikit gemetar.
"Gue cinta sama lo," ucapan bocah esempeh yang kurang belaian langsung lolos dari mulut gue, ah bodo.
Gue makin panik waktu ngelihat bahunya makin gemetaran, kayak orang ketakutan. Gue berniat buat nenangin dia dengan megang tangan dan meluk kayak yang dilakuin di filem filem, tapi sesuatu diluar nalar terjadi...
Braaaakk!!!
*****
Gantung kek jemuran😂