
Angin bertiup sangat kencang beserta gemuruh yang terus bergema membuat semua penghuninya diam karena jalanan yang digenangi oleh air dan dentuman gemuruh yang menakutkan, alam sedang murka.
Ruangan pucat yang dipenuhi dengan obat dan alat medis lainnya, Elang tertidur di samping seorang gadis dengan balutan perban di kepalanya, sejurus kemudian gadis itu terbangun menatap langit-langit dengan datar.
Dia menengok ke samping, seorang cowok tertidur dengan damai di sana. Terdiam sesaat namun tak lama bangun dari kasur dengan menarik paksa infus di tangannya, menuju ke pintu lalu menghilang di antara pasien yang tengah lalu lalang.
Gabriel.
Gue benci rumah sakit, apalagi dengan bau obatnya yang nusuk sampai ke otak dan selalu berhasil membuat gue pusing.
Saat terbangun gue melihat seseorang tertidur pulas di sana, merasa aneh dengan dia yang kayak punya 2 wajah. Ngeselin dan ngademin.
Elang, manusia yang paling gue benci sekarang ini karena kesongongan dan wajah iblisnya, gue gak ngerti kenapa semua orang pada suka sama si jangkung itu. Tapi setidaknya gue tahu kalau dia lagi tidur wajahnya lumayan tenang gak kayak biasanya yang sadis dan jutek.
Mengingat kejadian kemarin, gue gak habis pikir dengan Papa dan Bunda yang luar biasa banget buat gue kehabisan kesabaran sampai gila dan mutusin buat nabrakin diri di tengah jalan.
Oke gue emang gila, terserah apa kata orang gue akui gue emang gila, karena hidup gue sendiri.
Flashback on
"Gabriel!" sahut Bunda dari lantai bawah mengenakan minidress dirangkul oleh pria yang kelihatan tua dan kaya, dia pasti calon suami Bunda.
Papa keluar dari kamar bersama seorang wanita yang memiliki banyak tato di tubuhnya, lantas gue bergidik ngeri dengan orang yang akan menggantikan kedudukan Bunda sebagai istri baru Papa.
"Jijik."
Gue menarik tempat duduk meja makan di kelilingi mereka berempat tanpa niat sedikitpun berbicara, mulai hari ini gue sendiri jadi gak butuh mereka lagi.
"Sayang, dengar papa," kata Papa serius, gue terus menatap makanan yang gue anggurin di atas meja.
"Papa sama Bunda bakal tetap di sini." gue mendongakkan wajah, mencerna perkataannya barusan, apa mereka gak jadi bercerai?
"Dan mereka juga bakal tinggal di sini," lanjutnya.
Kecewa? Marah? Ya, gue pengen berteriak sekarang.
Dengan cepat gue menggebrak meja, lalu berteriak dengan lantang.
"GUE GAK BUTUH KALIAN! PERGI AJA DARI SINI GUE GAK ANGGAP KALIAN SIAPA-SIAPA LAGI!!" gue menyesal sudah mengucapkan kata-kata kasar begitu, tapi pikiran gue udah hancur. Karena takut mereka melihat gue menangis, gue lari dari rumah.
Saat melihat kendaraan yang lalu lalang, inisiatif bunuh diri yang dari dulu pengen gue lakuin muncul, gue berfikir dua kali sayangnya otak gue kesumbat. Alhasil langkah gue tertuju pada mobil sedan yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Gue berlari, dan terpelanting jauh. Setelah itu gak tahu lagi apa yang terjadi sampai Elang tidur di rumah sakit nemenin gue.
Flashback off
Semua mata menatap aneh ke gue yang duduk di bangku taman, kenapa aneh? Karena gue duduk di tengah hujan dan gemuruh. Beberapa dari mereka mengajak gue berteduh tapi gue acuh.
Gue suka hujan.
"Gak!" tolak gue mentah-mentah, namun suster itu keras kepala masih tetap keukeh mengajak gue menepi.
"Mbak, kalo di sini nanti sakitnya tam- " dengan cepat gue memotong ucapannya.
"Gue mau di sini suka-suki gue, emangnya ada yang peduli gue sakit atau enggak?"
Lah malah curhat si cecunguk satu.
Seseorang menepuk kepala gue, dengan marah gue menatap tajam namun mata gue kemasukan rintikan hujan, gak jadi natap tajam gue malah kelilipan, gila.
"Sengaja mau cari sakit?" ujarnya, ouh oke dia lagi, dia lagi. Kirain udah pulang tadi.
"Apa urusan lo?" ketus gue.
"Tau gini maunya gue bunuh tadi pas lo pingsan," ucap Elang duduk di sebelah gue, ikutan basah kena air hujan yang lagi deras-derasnya.
Elang menunjuk ke teras rumah sakit, menyuruh agar suster itu kembali melakukan tugasnya yang lain.
Gue masih tetap keukeh duduk di sini, walaupun ayam gue dipepes pun gue gak peduli. Gue gak punya apa-apa lagi sekarang.
Keluarga, rumah, saudara, ataupun Nenek Kakek. gue punya banyak alasan buat bunuh diri tapi gue gak punya alasan buat hidup. Itulah gue yang menyedihkan.
Elang masih terdiam di samping gue, gak ada niat sedikitpun buat mengajak gue berteduh? Jadi dia ngapain di sana? Nemenin gue?
Gak ge-er gue,... Percuma.
"Ngapain lo di sini?" sahut gue, hujan makin deras dan jari-jari gue membiru tapi gue gak peduli, masih mau menikmati hujan.
"Nungguin lo," balasnya sangat cepat, tapi masih bisa terdengar.
"Hm?"
"Nungguin lo pingsan biar bisa dibawa ke dalam," ucapnya dengan wajah sadis, benar-benar berbeda dengan wajahnya waktu tertidur.
"Atau lo mau gue seret-seret?"
Mendengar tawarannya gue langsung menggelengkan kepala.
Dingin mulai menusuk tulang dan sialnya kepala gue makin terasa nyeri, bahkan sangat nyeri. Gue menengok seorang lelaki memakai jas menerobos di tengah derasnya hujan, menggendong gue ke dalam rumah sakit hingga gue gak sadarkan diri.
****