
Bel istirahat berbunyi.
Rafaell menunggu Aelke di depan kelasnya.
"****, Aelke mana?" tanya Rafaell pada Dicky yang keluar kelas bersama Dinda dan Reza.
Dicky menunjuk ke dalam kelas, "Tuh, di dalem... Dia kan lagi pincang, jadi mau ngerem aja di kelas katanya..." ujar Dicky, dan Rafaell masuk ke dalam kelas Aelke.
"Kamu gak apa-apa? Ke UKS aja, yuk!" ucap Rafaell, Aelke menatap Rafaell dan menggeleng, "Ngapain ke UKS, aku sehat, kok!" jawab Aelke. Rafaell menarik lengan Aelke, "Udah ah kita ke UKS, nanti bel masuk ya masuk lagi..." ucap Rafaell sambil berusaha membantu Aelke berjalan.
Sesampainya di UKS, Aelke duduk di sisi ranjang.
"Sini, deh... Aku pijitin ala-ala terapi internasional, biar kaki kamu enakan..." ujar Rafaell sambil mengolesi minyak angin ke kaki Aelke. Aelke menjerit saat Rafaell memijit kakinya yang terkilir.
"Sakit tau, Raf... Udaaaah...." pekik Aelke memegangi kakinya, tapi Rafaell meneruskan aktifitasnya.
"Sabar dong, sakit dikit gak apa-apa..."
"Aaaaa.........!!!!!" teriak Aelke, Rafaell langsung berhenti memijit kaki Aelke.
"Duh, jangan teriak-teriak,"
"Sakit!" sentak Aelke, wajahnya memerah menahan sakit.
"Nah, coba gerak-gerakin telapak kakinya, masih sakit ga?" tanya Rafaell lembut.
Aelke menggerak-gerakan kakinya perlahan. "Udah gak terlalu sakit... Kamu bakat jadi tukang pijit, ya? Hehe.." ujar Aelke cengengesan. Rafaell terkekeh, "Kalo buat mijitin kamu mah rela, kok!"
Aelke tersipu malu mendengar apa yang Rafaell katakan.
***
"Morgan, kamu kemana aja sih??" Audrey menghentakan kakinya di atas lantai sekolah. Morgan menatap Audrey yang memang manja.
"Kamu jangan ngambek terus, dong.. Kan aku udah disini," ucap Morgan. Audrey terlihat memalingkan wajahnya.
"Ikut aku, deh!" ujar Morgan yang lalu menarik lengan Audrey dan membawanya ke suatu tempat.
Sepanjang perjalanan, Morgan terus menggenggam tangan Audrey hingga sampai ke tempat tujuan.
"Kamu ngapain bawa aku ke Lab Bahasa? Aneh ih!" guman Audrey kesal. Biasanya Morgan itu paling bisa buat suasana romantis, tapi Audrey merasa akhir-akhir ini Morgan berubah.
"Udah, kamu duduk aja disini, jangan banyak komentar ya, sayang..." ucap Morgan menutup pintu Lab Bahasa. Audrey sudah duduk di salah satu kursi.
Morgan menghidupkan proyektor yang sudah tersambung dengan laptop yang tersedia disana. Perlahan, papan tulis yang menjadi medianya menayangkan gambar-gambar slide show foto Morgan dan Audrey yang sudah menjalani hubungan beberapa bulan ini. Lalu, setelah itu Morgan memutar video yang sudah ia buat.
Dalam video tersebut, ada momen-momen saat Audrey dan Morgan berdua. Audrey yang melihat itu tersenyum manis, Morgan yang ia kenal ternyata masih Morgan yang romantis.
'Audrey, Happy 3month Aniversary I love you...' ucap Morgan di dalam video tersebut dan tayangan video pun selesai.
Audrey langsung mendekati Morgan dan memeluknya "So sweet banget kamu...." ucapnya.
Morgan tersenyum dan balas memeluk Audrey. Tapi, sepertinya Morgan lupa 1 hal. Slide show videonya masih berjalan sesuai playlist, dan parahnya video yang berjalan adalah video yang ia buat untuk pacar-pacar lainnya. Audrey terdiam melihat video yang terlanjur jalan sendiri dan konsepnya hampir sama dengan apa yang ia lihat tadi.
"Gan!" pekik Audrey. Morgan membolakan matanya kaget dan langsung menghentikan video yang masih berjalan.
"Jadi, selama ini pacar kamu bukan cuma aku? Terus kamu perlakuin aku sama kaya mereka??? Parah kamu, Gan!" sentak Audrey mendorong tubuh Morgan.
"Eh, bukan... Aku gak begitu!" jawab Morgan ngeles. Audrey memasang wajah marah dan kecewa berat. Ia menunjuk Morgan dan berkata "Aku benci kamu, Gan! Cowok brengs*k!" Audrey berlari keluar dari Lab Bahasa dan Morgan menepuk keningnya sendiri. "Mampussss.... Ceroboh banget gue! Laah, ketauan!" ucapnya kesal.
***
Aelke baru selesai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dan menaruh handuknya di jemuran kecil yang ada di balkon luar kamarnya. Saat melangkah ke ruang santai yang berukuran sedang, Aelke memicingkan matanya kesal. Ruangan itu berantakan, baju Morgan berceceran dimana-mana.
Aelke mendekati Morgan yang duduk santai sambil main games.
"Lo jorok banget, sih! Baju sekolah yang udah kotor bukannya dicuci malah sembarangan aja ditaronya!" bentak Aelke. Morgan menatap Aelke sekilas dan malah asik kembali pada games yang sedang ia mainkan.
"Morgan denger gue ngomong gak??"
"Gan! Ih nyebelin!"
Kesal, Aelke mencabut kabel TV yang tersambung ke kontak listrik dan Morgan bangkit mendekati Aelke kesal.
"Gue lagi maen, jangan ganggu ngapa!"
"Ya beresin dulu dong baju-baju lo itu, jangan jorok!" ucap Aelke.
"Ye, terserah gue, baju-baju gue, kenapa lo yang sewot!"
"Kan di rumah ini ada gue, bukan lo doang, gue gak suka rumah berantakan!" Aelke.
"Lo kan yang gak suka? Gue sih gak peduli!" Morgan memasang wajah tak peduli dan begitu saja memasang kembali kabel TV dan melanjutkan permainannya yang tertunda.
Aelke memunguti baju Morgan dan menentengnya jijik.
"Baju lo ini, mending gue bakar! Jorok tau! Lo banyak duit kan? Beli aje yang baru..." ucap Aelke. Morgan bangkit dan berlari lalu merebut baju-bajunya.
"Eh, sembarangan! Sini-in baju gue... Gak sadar apa kalo uang gue dibatesin gara-gara musti serumah sama lo!" ucap Morgan dan bajunya berhasil diselamatkan. Dalam hati, Aelke tertawa puas, ia berhasil membuat Morgan takut saat bajunya akan dibakar.
"Nah, itu nyadar! Makannya punya duit banyak jangan buat beli barang yang kagak ada penting-pentingnya..." Aelke.
"Kan nenek lo yang bilang!" timpal Aelke. Morgan berjalan membawa baju-bajunya menuju kamar mandi, tapi ia membalikan badan "Eh, dari pada cerewet, mending cuciin baju gue..." ucap Morgan. Aelke menggeleng keras, "Ogah!"
Morgan berjalan mendekati Aelke dengan tampang melasnya. "Please... Kan gue biasanya dicuciin, terus elo udah bisa nyuci sendiri, cuciin lah.. Yaaaa..." ujarnya.
"Gak mau!" Aelke berjalan menuju kamarnya, Morgan meraih tangan Aelke cepat, "Please laaah.. Kapan coba gue melas begini sama lo.."
Aelke menatap Morgan kasihan.
"Ah, melas ko kalo ada maunya doang. Cuci aja ndiri!"
"Hufft... Udah bawel, pelit pula, masa iya calon istri gue kaya dia, Tuhan? Paraaah..." dumel Morgan.
***
Rasya dan Dinda menunggu Aelke di sebuah restoran yang sering mereka kunjungi. Mereka rencananya akan membeli perlengkapan UN dan belajar bersama sampai sore hari. Dicky juga Bisma ikut bersama mereka, tapi Ilham dan Reza tidak bisa ikut, mereka bilang sedang ada urusan keluarga.
Aelke datang menjinjing tasnya yang penuh buku-buku tebal.
"Emang ya, orang pinter kemana-mana bawa buku melulu!" celetuk Dicky, "Yoyoy!! Bisma menimpalinya.
"Hoho, maaf kelamaan, tadi perpusnya rame banget... Eh, pesen apa kalian?" tanya Aelke.
"Gue mah biasaaa, Mie Pedas Tornado..." ucap Dinda, Dicky membolakan matanya "Beb, jangan yang pedes-pedes mulu napa, gak kasian sama perut?" ucap Dicky.
"Lah, kan biasanya kamu yang ngajak aku makan Mie Pedes Tornado?" jawab Dinda, Dicky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Iya, sih... Terserah kamu deh, beb..."
"Gue mau cuanki!" ujar Bisma semangat, Rasya dan Aelke menjitak kepala Bisma bersamaan. "Mana ada cuanki disini, jangan pea ngapa..." timpal Rasya, Bisma mengelus kepalanya yang baru saja dijitak.
"Gue pesen semur jengkol!" celetuk Rasya, dan ia akhirnya mendapat cubitan di pipi kanan-kirinya. "Lo sama peanya!" tukas Aelke dan semua tertawa.
Setelah acara makan siang selesai, Aelke dan semua temannya meluncur ke taman kota untuk belajar disana.
Mereka saling bertukar pikiran dan mencoba mengisi soal-soal UN tahun lalu bersama-sama.
Aelke membalas pesan singkat dari Rafaell yang menanyakan keberadaannya. Rafaell bilang, ia akan menyusul ke taman kota untuk ikut belajar bersama. Aelke tersenyum dan menyiapkan semangat belajarnya saat tahu Rafaell akan ikut belajar bersama mereka semua.
Tak lama, Rafaell sudah tiba di taman kota. Aelke awalnya tersenyum melihat Rafaell yang sudah datang, tapi senyuman itu luntur seketika saat melihat Rafaell membawa Ifa.
"Hei, gue ikutan belajar sama kalian, boleh?" tanya Ifa, dan semua yang disana saling pandang satu sama lain menatap Aelke yang aiir mukanya berubah menjadi tak bersemangat.
***
Hujan turun deras malam ini. Aelke menyendiri di kamarnya. Mengingat kedekatan Rafaell dengan gadis yang bernama Ifa membuatnya sesak.
Aelke bangkit dan membuka pintu saat pintunya diketuk oleh seseorang. Dan itu pasti Morgan, di dalam rumah ini kan hanya mereka berdua.
"Kenapa?" tanya Aelke malas, Morgan sudah berdiri di depan kamarnya.
"Di luar hujan..." jawab Morgan.
"Ya, terussss?"
"Hujan bikin basah,"
"Gak usah basa-basi, lo kenapa? Minta cuciin baju malem-malem gini??"
"Eh, enggak... Bukan itu, gue... Gue mau tanya..."
"Tanya apa? Langsung aja ngapa, biasanya langsung nyamber juga..." Aelke.
"Lo tunangan gue pan sekarang?"
"Iya, terpaksa..."
"Bersikap layaknya tunangan gue dong, sekali-kali..." ucap Morgan. Aelke menautkan kedua alisnya heran.
"Maksud looo??"
"Kan di luar ujan, noh... Ujannya gerombolan, bikin basah, bikin susah.. Gue mau nyari makan di luar susah, mobil pan bensinnya musti irit, terus gue paling gak bisa makan mie kalo belom makan nasi, pan tau kali gue magh-nya suka kambuh-kambuhan, terus gue gak bisa masak, masakin dong, ya, ya, ya.... Lapernya nyampe ke tulang rusuk gue, nih.. Siang tadi kagak makan soalnya.." cerocos Morgan, Aelke memasang wajah yang polos, ingin tertawa, mules, dan akhirnya ia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Morgan yang aneh.
"Lo basa-basi begini cuma mau gue masakin??" tanya Aelke berusaha menghentikan tawanya. Morgan mengangguk menahan malu.
"Jangan ketawa, gue udah belajar 30 menit buat ngomong ginian ama lo, please lah.. Laperrrr..."
"Sayangnya, gue males!"
"Lah... Kan elo jago masak..."
"Gak mau, ah.. Ngantuk!"
"Aelke Mariska, masakin tunangan lo dapet pahala tau..."
"Status palsu, lo nganggep gue tunangan pas ada maunya..." ucap Aelke. Morgan mengangkat plastik yang ia bawa sejak tadi.
"Plis plis plis, gue mau makan... Masakin ya tunangan gue yang cantik... Nih udah ada bahan-bahannya, masakin apa aja boleh, gue janji besok traktir lo makan, deh..." ucap Morgan. Aelke mengambil plastik dari tangan Morgan dan berkata "Traktirannya di resto Sushi, oke!" Morgan mengangguk antusias sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
TBC.......