
FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.
HAPPY READING.
"biru!!!!!"suara pekik kan mengiringi tubuh ibu hamil yg jatuh tertabrak mobil yg langsung melari kan diri.
Para karyawan restauran langsung berhamburan keluar, mendekat ke tempat di mana biru terbaring lemah tidak sadar kan diri.
Darah mengalir di mana-mana,membuat semua orang panik,termasuk Rahardian.
"Kita harus membawa nya ke rumah sakit"Rahardian menggendong tubuh biru,lalu memasuk kan nya ke dalam mobil,dia tidak sendirian, seorang karyawati juga ikut masuk,membaring kan kepala biru di paha nya.
Rumah sakit ED,ya hanya rumah sakit itu yg terdekat sekarang, Rahardian mulai tancap gas dengan sangat cepat.
Semua orang yg masih berada di sana tergugu di tempat, melihat bagaimana mobil itu melaju dengan sangat cepat,bahkan tuan Hartono hanya bisa diam tak bergeming, melihat putra tiri nya menyelamat kan putri tiri nya.
Heran nya,dia hanya diam tak bergerak dari tempat nya sedikit pun,menengok keadaan biru pun tidak,lebih terkesan tak perduli,jika putri nya mau tiada sekali pun, hati nurani nya sebagai seorang ayah,mendadak lenyap tanpa bekas.
Darah segar masih tercetak jelas di jalan,bau anyir juga masih menyengat,tapi entah kenapa tuan Hartono tak perduli,dia membalik kan badan,lalu memasuki mobil pribadi nya,melaju pelan meninggal kan bekas darah sang putri.
Perjalan yg membutuh kan waktu kurang lebih 30 menit,di pangkas oleh kecepatan mengendara versi Rahardian,mereka telah sampai di halaman parkir rumah sakit.
"Dokter tolong!!"suara Rahardian memenuhi seluruh penjuru rumah sakit,langkah nya tergesa-gesa mendekat ke arah dua orang perawat yg sedang mendorong brankar.
"Tolong selamat kan biru"karyawati yg sangat dekat dengan biru itu berujar pelan.
Setiap detik sangat berharga,para perawat langsung mendorong brankar biru,menuju ruang UGD, seorang dokter yg memang berjaga di sana telah bersiap.
Lampu UGD menyala,menanda kan tindak kan medis sedang di jalan kan, Rahardian tak henti-henti nya mondar-mandir penuh khawatir,dia terus mengumpat karena perkataan ayah nya, kondisi biru jadi begini.
Derap kaki ramai-ramai datang,6 orang karyawan restauran datang, mereka ikut memantau keadaan biru,tak peduli bahwa ini sudah malam, mereka bahkan tidak perduli jika akan di cari oleh suami,istri atau orang tua mereka,yg ada di fikiran mereka sekarang,hanya biru dan bayi nya.
"Ku mohon selamat kan mereka tuhan"doa mereka semua,sambil menatap penuh harap-harap cemas ke arah pintu UGD.
Pintu terbuka, mereka sontak berdiri, menghadang langkah perawat yg akan keluar, kekompak kan yg hakiki.
"Bagaimana keadaan nya dok?"Rahardian yg pertama kali mengeluar kan suara.
"Nyonya sedang kritis, permisi saya harus memanggil dokter kandungan"mereka semua langkah memberi jalan ketika mendengar suster itu akan memanggil perawat lain.
Pukul sudah menunjuk kan jam 23:59 malam, mereka belum ada yg beranjak sedikit pun dari depan ruang UGD.
Hingga tepat pukul 00:00 suara seorang bayi yg sangat nyaring terdengar,membuat mereka semua serempak mengucap kan syukur,berselang tiga menit kemudian,suara seorang bayi juga kembali terdengar.
"Mereka sudah lahir!"para karyawan memekik heboh, mendengar sendiri suara keponakan mereka yg telah lahir di dunia.
"Bayi sudah lahir,berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,bisa anda masuk dan mengadzani?"seorang suster yg baru keluar langsung meminta Rahardian untuk masuk dan mengadzan kan ke dua bayi itu.
Dengan patuh Rahardian mengekor,tentu nya dengan mengenakan baju steril.
Mata Rahardian berkaca-kaca ketika dia melihat dari balik tirai,biru tengah berjuang menyelamat kan nyawa nya.
Pandangan nya sekarang teralih kan,di box bayi, terdapat dua bayi mungil yg sangat lucu, perlahan Rahardian mendekat.
"Mereka kembar?yg mana yg Kakak sus?"tanya Rahardian antusias.
"Yg perempuan pak"Rahardian mengangguk, ternyata sang kakak adalah yg perempuan,bukan yg laki-laki.
"Silah kan di adzani"suster menyerah kan bayi perempuan itu ke gendongan Rahardian,masih kaku,namun laki-laki itu berusaha dengan sangat baik.
Mengumandang kan adzan di telinga bayi perempuan itu,di kanan,serta iqomah di telinga kiri.
Tampak Rahardian tertegun,dia baru sadar ternyata manik bayi perempuan di gendongan nya bukan berwarna hitam kecoklatan seperti biru,melain kan berwarna biru laut.
Rambut yg masih sedikit itu,juga berbeda dari orang Indonesia yg umum nya memiliki rambut hitam,ini pirang,warna yang dominan dengan ke-emasan.
Apa ini alasan biru tak ingin memberi nya kesempatan, karena almarhum suami nya sangat lah tampan, terbukti baby twins ini adalah bibit unggul.
"Pak putra anda"suster mengambil alih baby girl,lalu memberi kan saudara kembar nya kepada Rahardian yg masih tertegun di tempat.
Duplikat,ya tak ada perbedaan sedikit pun dari wajah kembar ini, mereka sangat mirip,kembar identik,walau pun,tak ada sedikit pun yg mirip dengan biru.
Perlahan,Rahardian mendekat kan bibir yg di balut masker,lalu mulai melantun kan suara merdu adzan dan Iqamah,suara yg seharus nya di pendengar kan oleh laki-laki yg berstatus ayah kandung nya,kini harus di ganti kan oleh sang kakak tiri ibu nya.
Setelah di adzani,para perawat langsung membawa bany twins keruang bayi,begitu keluar dari UGD, mereka langsung di sambut para karyawan yg memekik girang.
"Dia keponakan kita"
"Mereka twins!"
"Ah tampan dan juga cantik!
"Wah,biru sangat beruntung!"
Puji demi pujian di beri kan kepada mereka untuk ke dua baby twins,baby twins yg menjadi cahaya baru di hidup biru.
Tak lama, brankar berisi biru keluar dari UGD,kondisi nya masih cukup mengkhawatir kan, keinginan biru yg sebenar nya ingin menjalani lahiran secara normal,kini terpaksa menjalani operasi Caesar, kandungan Nya belum cukup sembilan bulan.
Ke esok kan hari nya,biru mulai mengerjap,kepala nya terasa sangat pusing,netra hitam milik biru menyipit menyesuai kan cahaya yg menerpa retina mata nya.
"Perban"gumam biru pelan,ketika tangan nya menyentuh kepala dan merasa kan kepala nya tengah di balut perban.
Begitu mengedar kan pandangan nya,biru terkejut ketika menyadari,bahwa dia sedang berada di rumah sakit.
"Biru ada apa?"ibu kos yg baru berkunjung terkejut mendengar teriak kan biru yg sangat keras.
"Ibu anak ku di mana?"beberapa anak kos yg juga ikut berkunjung mengelus dada, ternyata ini alasan biru berteriak-teriak keras.
"Sebentar kak,baby twins sedang di bawa kemari"biru tertegun mendengar perkataan dari tetangga nya.
Dia berfikir rasa sakit di perut nya karena janin nya di angkat paksa,biru salah tuhan masih berbaik hati pada nya,tidak mengambil penyemangat nya lagi.
"Jadi bayi ku baik-baik saja?"semua orang mengangguk kan kepala nya,membuat biru kembali menangis penuh haru.
Perjalanan nya sembilan bulan berjuang sendiri,mencari makan sendiri,siang malam berkerja demi hidup.
"Permisi"dua orang suster masuk, masing-masing menggendong baby twins.
Biru terisak ketika suster meletak kan ke dua bayi kembar nya di sebelah nya,tepat di box bayi khusus,ibu mana yg tidak bahagia melihat bayi-bayi nya lahir dengan selamat.
"Beruntung ibu sempat melindungi perut ibu,juga mereka berdua baby twins yg sangat kuat,jika mereka tidak kuat,mungkin kini mereka sudah tiada, ibu adalah ibu yg kuat"puji seorang suster.
"Terima kasih,terima kasih karena tetap bertahan bersama mommy,maaf karena kecerobohan mommy nyawa kalian berdua dalam bahaya"menahan rasa sakit di perut nya akibat operasi Caesar,biru mengecup pelan kening ke dua anak nya.
"Ibu sudah memiliki nama?saya akan menulis nya di gelang tanda pengenal"biru mengangguk,sehari sebelum nya dia sudah memiliki nama yg akan di beri kan kepada baby twins milik Nya
"Sebentar mbak,kakak nya siapa?"karena pingsan,biru tidak mengetahui yg mana kakak nya, Putri nya atau kah putra nya.
"Yg perempuan bu,dia yg pertama lahir,dia pasti akan menjadi wanita pemberani kelak"
Memang yg lahir pertama adalah yg perempuan,pada hal biru berharap laki-laki lah yg menjadi kakak,agar bisa melindungi adik perempuan,tapi kenyataan nya sangat berbeda.
"Nama nya,Ayana Rosse anne anindira"
Nama yg di beri kan biru tak main-main, memiliki arti yg sangat mendalam.
"Untuk mu boy, mommy memberi nama mu,abiyasa Rossi Anno Andara"biru mengelus pelan pipi baby Rossi yg tampak menggemas kan.
"Rosse dan Rossi wih nama nya bagus yg kak"
"Mari bu,kami bantu"biru mengangguk,membuka dua kancing baju teratas nya,bersiap menyusui baby Rosse dan Rossi.
Dengan bantuan suster,akhir nya biru bisa memberi kan ASI untuk pertama kali nya pada baby twin.
Setelah selesai menyusui tampak baby Rosse tertidur pulas,tetangga indekos mengerubungi nya,melihat Ciptaan tuhan yg sangat cantik ini.
Berbeda dengan biru yg malah tertegun ketika manik mata nya menatap pemandangan berbeda dari sang putra,mata itu,dia ingat dengan warna bola mata itu,warna mata yg menatap nya penuh nafsu.
Manik berwarna biru lautan milik Rossi memandang penuh kepolosan,membuat ibu muda itu tertegun.
"Kenapa mereka harus mirip dengan laki-laki itu?"gumam biru pelan,dia menggit bibir dalam nya kelu, bagaimana bisa anak-anak nya mirip dengan laki-laki itu,takdir sungguh tak berpihak pada nya.
Biru ingin melupa kan sosok yg telah menghancur kan hidup Nya,tapi bagaimana bisa dia melupa kan , di saat ke dua anak nya sangat mirip laki-laki itu.
"Dia mirip ayah nya ya mbak"perkataan tetangga kos nya berhasil membuyar kan lamunan biru,biru hanya mengulas senyum tipis.
"Hem,sangat mirip"gumam biru pelan.
"Permisi"pintu terbuka.mereka semua menoleh, Rahardian dan dua orang rekan kerja biru datang,membawa kan bingkisan-bingkisan untuk biru.
Ibu dua anak itu mengulas senyum, biru ingat,di ambang kesadaran yg mulai menipis dengan darah di mana-mana,biru melihat laki-laki yg berstatus kakak tiri nya ini lah yg menggendong nya.
Kecelakaan malam itu,untung biru segera sadar,jadi dia benar-benar tak tertabrak,hanya terserempet,lalu tubuh nya terhuyung mengenai trotoar.
Tuhan masih baik pada nya,dia membiar kan biru hidup untuk melihat anak-anak yg telah di lahir kan nya dengan baik.
"Apa kabar biru?"Rahardian memecah kan kecanggungan yg terjadi,semua tetangga biru sudah pergi berikut juga para karyawan yg tadi menengok nya,kini hanya tersisa biru, Rahardian dan juga baby twins.
"Alhamdulillah,terima kasih banyak,dan maaf aku merepot kan"Rahardian mengangguk kan kepalavnya pelan.
"Boleh kah aku bertanya sesuatu biru?"ragu, keraguan tampak di tangkap oleh Indra pendengar biru, perasaan nya mulai tak tenang,apa yg akan di tanya kan Rahardian kepada nya sekarang.
"Apa hubungan mu dengan ayah ku"bibir Rahardian bergetar hebat ketika berujar.
Biru menghela nafas,sedetik kemudian,baby Rosse yg tertidur mendadak menangis,biru meringis ketika memaksa kan ingin berdiri, pembedahan Caesar terasa sangat sakit sekarang.
"Biar aku saja"Rahardian berjalan cepat ke box bayi,lalu dengan perlahan dan penuh kasih sayang dia menggendong baby Rosse.
"Anda ingin tahu pak, hubungan ku dan tuan Hartono"menyiap kan hati untuk segala kemungkinan reaksi yg di beri kan oleh Rahardian,biru mulai mencerita kan.
"Berjanji lah satu hal,jangan memberi tahu siapa pun pak"Rahardian mengangguk setuju.
"Sebelum ayah anda menikah dengan ibu anda,ayah anda sudah memiliki seorang istri dan juga putri kecil"
Memaling kan wajah,biru menggigit bibir nya, menahan Isak tangis.air mata nya meluncur bebas tanpa sebab,dia harus kembali membuka luka lama, luka yg di sebab kan oleh ke dua orang tua nya.
"Tuan Hartono, meninggal kan istri dan anak nya demi ibu anda yg saat itu tengah membesar kan anda seorang diri"
Diam,hanya itu yg bisa di lakukan Rahardian,tentu dia tau bahwa tuan Hartono hanya ayah tiri nya,tidak ada kemiripan sedikit pun antara tuan Hartono dan juga diri nya, sedikit pun.
# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Author balik lagi yah guys