Baby Twins

Baby Twins
32



FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.


HAPPY READING.


Rosse,peri kecil yg di maksud oleh William,peri kecil yg memiliki warna mata dan rambut sama persis seperti milik nya.


"Om bhukan Daddy na lousse kan?"pertanyaan kembali di lontar kan Rosse tanpa takut,pada hal dia kini berada dalam gendongan laki-laki asing.


"Daddy?tentu saja bukan girl,nama om William,call me uncle Willi"untung saja William dan Steven mengerti bahasa Indonesia,jika tidak tentu mereka akan sulit berbicara dengan Rosse.


"Tellus om ithu siapha?"Rosse menunjuk ke arah sekertaris Steven yg hanya diam tidak bergeming.


Mirip.satu kata yg terus menerus terngiang di telinga Steven,sedari tadi dia terus memandangi wajah sang bos dan gadis mungil ini, mereka sangat mirip.


"Om Steven,oh ya siapa nama mu princess?"William melangkah masuk ke sebuah toko khusus pernak-pernik anak-anak,berniat untuk membeli kan sesuatu.


"Lousse taupi hulluf na ini?"Rosse menunjuk ke arah gelang tangan hadiah dari biru,terukir nama Rosse Doble S di sana,gelang couple dengan Rossi.


"Rosse,wah nama yg sangat indah,kau tau apa arti Rosse,Rosse itu melambang kan bunga mawar yg sangat indah"untuk pertama kali nya William memuji seseorang, biasa nya dia yg di puji tapi sekarang kejadian langka terjadi,dia memuji seorang anak kecil.


"Bunga mawall?mommy Ndak peullnah bilang nama lousse puna aullti yg indah,lousse shuka-shuka"Rosse menyandar kan tubuh nya di dada bidang milik William.


Nyaman,itu yg di rasa kan Rosse,rasa nyaman yg bahkan lebih dari ketika dua berada di dalam gendongan Rahardian,ikatan batin antara ayah dan anak memang tidak bisa di ragu kan.


"Kau mau sesuatu princess?boneka atau semacam nya,pilih lah sesuka mu,kali ini om yg bayar"entah mengapa, ketika berada di dekat Rosse, William seakan tidak ingin berpisah dengan nya.


Rosse yg baru saja di turun kan, langsung berlari, mencari-cari yg ingin dia miliki,dan pasti banyak,kapan lagi bisa di traktir mainan.


Di belakang Rosse mengekor dua laki-laki tampan,William dan steven.bak bodyguard mereka terus mengekori langkah kaki mungil Rosse, sesekali senyum tercetak di bibir mereka mendengar celotehan yg keluar dari bibir Rosse.


"Tuan muda,bukan kah nona kecil itu sangat lucu"Steven terus mengamati langkah kaki mungil milik Rosse, terlihat beberapa kali gadis kecil itu tampak berfikir.


"Sangat,tidak tau siapa ayah yg beruntung memiliki putri selucu dia"puji William, sesekali tawa kecil terdengar dari bibir nya, melihat Rosse terus berceloteh sendirian.


Rosse,gadis kecil dengan nama yg sangat indah itu tengah di sibuk kan memilih-milih mainan yg akan dia beli, seperti perempuan dewasa, Rosse tampak teliti memilih mainan,raut wajah nya pun berubah menjadi sangat serius.


"Om Taumpan!lousse binun mahu piyih yg Mauna, plincess na bagus-bagus"Rosse menunjuk kan ke dua tangan nya,yg mana terdapat masing-masing kotak berisi boneka Barbie,satu dengan gaun merah muda,dan satu bersama dengan pangeran tampan.


"Ambil saja dua-dua nya princess, uang om cukup banyak untuk membeli satu mall ini"William menyombong kan diri,lalu ikut memilih-milih mainan,dia mendadak ingin membeli banyak mainan untu si kecil Rosse.


"Om stev,Ndak mau beullanja? keunnapah Ndak mahu,ini di tellaktill Shama om Taumpan,jaudi na om stev pilih-pilih ajah,Ndak papah Ndak usah malu-malu, lousse tau om stev shuka boneka ballbie kan?"Steven mengulas senyum tipis mendengar tawaran yg di beri kan Rosse pada nya.


Bisa turun ketenaran yg di miliki sekertaris Steven jika orang-orang tau dia terlihat membeli Boneka Barbie di pusat perbelanjaan, jika ada yg mengenal nya pasti mereka berfikir,Steven sedang berbelanja dengan anak nya.


"Sudah?"William menoleh ke arah Rosse, ternyata gadis cantik itu tidak mengambil banyak barang seperti perkiraan awal William,Rosse hanya mengambil boneka barbie beserta pangeran,sebuah boneka Teddy bear berukuran jumbo dan juga sebuah mobilan.


Mobilan? William mengeryit bingung,dari penampilan nya saja Rosse terlihat sangat feminim,lalu untuk apa sebuah mobilan.


"Princess untuk apa kau membeli mobilan?"william menunjuk sebuah kotak mobilan remote di tangan Rosse mengguna kan dagu nya.


"Untuk loussi adhik na lousse,taupih cuma beuda tigha meunit,muka na lousse milllip loussi,cuma beuda na lambut lousse panjang,loussi milip paman taumpan"Rosse menujuk ke arah wajah William,lagi dan lagi laki-laki tampan itu tertegun.


"Kita bayar!"dengan tangan penuh Berbagai macam mainan,William melangkah kan kaki nya menuju ke mesin kasir,membayar semua belanjaan untuk Rosse.


Setelah membayar semua mainan yg harga nya untuk orang biasa cukup menguras kantong,tapi tidak untuk William.mereka melangkah menuju ke salah satu restauran,memesan berbagai macam makanan enak.


"Biar om yg menyuapi mu princess"William mulai menyuapi Rosse secara perlahan dan juga penuh perhatian, seperti seorang ayah pada anak nya.


"Rosse!"sebuah pekikan besar mengaget kan Rosse,makanan nya bahkan sampai tumpah karena terkejut.


Rossi,tangan pria kecil itu mengepal erat,sedari tadi dia dan Nisa berkeliling mall demi mencari keberadaan saudari kembar nya yg entah menghilang ke mana,tapi lihat lah sekarang, ternyata Rosse tengah sibuk memakan makanan lezat dengan orang asing.


Dengan langkah cepat,Rossi menarik tangan kembaran nya secara kasar,bahkan Rosse sampai terjungkal ketika Rossi menarik nya yg sedang duduk di kursi secara paksa.


"Kau apa yg kau lakukan hah!aku mencari mu sedari tadi bersama nona Kim!kami mengkhawatir kan mu!tidak bisa kah kau bersikap dewasa sekali saja! jika sesuatu terjadi pada mu aku akan merasa sangat bersalah Rosse!kita tidak punya Daddy,hanya aku satu-satu nya yg berkewajiban menjaga mu dan mommy! pikir kan itu sedikit saja!"


Steven dan William masih tertegun di tempat,bukan karena kaget seorang pria yg sangat mirip dengan Rosse membentak gadis mungil itu,tetapi karena wajah Rossi yg sangat mirip dengan William.


"Hiks,,,hiks,,maap"Rosse mulai terisak,untuk pertama kali nya Rossi membentak nya dengan sangat keras, memarahi nya dengan sangat panjang,dan kasar,rasa bersalah terus menerus menyelusup di hati Rosse.


"Kalian tenang dulu!dan kau pria kecil duduk lah"sekertaris Steven yg sadar lebih dahulu,lalu meminta Rossi untuk duduk, setelah dia menggendong tubuh Rosse,lalu menduduk kan nya di kursi.


"Bisa kah kau tenang dulu boy,kami orang baik"sekembali nya william dari pikiran nya,dia mulai mengajak Rossi untuk bernegosiasi.


Rossi menghela nafas,tapi tidak urung dia ikut duduk, kembali menggenggam erat tangan Rosse,tidak membiar kan tangan itu lepas dari genggaman nya.


"Perkenal kan William Alexander Efron Smith, aku tidak sengaja bertemu dengan saudari mu ini,lalu kami berkenalan dan dekat memang nya ada yg salah?"William menjelas kan bagaimana bisa dia dan juga Rosse bertemu.


"Rosse Rossi!"terdengar deru nafas tersengal-sengal,Nisa berlari dengan cepat,memasti kan keadaan ke dua anak-anak biru itu baik-baik saja.


"Nona Kim?"Nisa menoleh ketika ada yg memanggil nya, membungkuk penuh hormat, Nisa ingat laki-laki ini yg akan menjadi klien bisnis nya.


"Senang bertemu dengan mu tuan Smith"Nisa meraih sebuah kursi,lalu duduk di sana sembari mengatur nafas nya, bersiap untuk memarahi Rosse.


"Rossi sudah memarahi nya nona Kim?"baru saja Nisa akan membuka suara,Rossi buru-buru menyela nya,tidak ingin saudari kembar nya di marahi lagi.


"Mereka adik-adik anda nona?"untuk pertama kali nya,Nisa berinteraksi dengan sekertaris Steven,mereka memang saling sapa tapi tidak sedekat ini.


"Bukan,anak sahabat ku"Nisa menjawab santai,mata nya masih memperhati kan Rossi yg sibuk menghapus air mata di pipi Rosse.


"Oh ya nona Kim,mommy saya siap membayar mahal jika anda mau pergi ke Inggris,lalu mengurus langsung gaun dan pasta untuk ulang tahun pernikahan ke dua orang tua saya"


William ingat permintaan sang mommy ketika dia akan pergi ke Korea,yaitu membujuk Nisa agar mau menangani acara nyonya Lisa sendiri.


Tidak fokus,Nisa mendengar namun belum memberi kan respon,dia terus menganalisis kemiripan antara Rosse dan Rossi Serta William mereka sangat mirip.


"Baik lah,saya terima dua hari lagi saya akan terbang ke Inggris bersama dengan mereka"Nisa melirik ke arah Rosse dan Rossi,William juga ikut melirik,senyum lebar tercetak di bibir nya,semua hal yg berkaitan dengan Rosse selalu membuat nya bahagia.


"Lousse Ndak mahu"semua orang yg ada di meja menoleh ke arah Rosse ketika mendengar penolakan yg di keluar kan oleh peri kecil nya William itu.


"Kenapa princess?kau tidak mau berkunjung ke rumah om?di sana tempat nya indah-indah"William yg pertama kali bereaksi,dia menjadi satu-satu nya orang yg sangat ingin Rosse pergi ke Inggris, sekedar menghabis kan waktu bersama dengan nya.


"Lousse mahu calli Daddy, bimana jaudi nah kalau lousse peullgih ke inggllis, Daddy na lousse bagaimana?"oh ternyata Rosse masih memikir kan bagaimana dia busa mencari keberadaan sang Daddy.


"Rosse!mau aku kata kan berapa kali hah! berhenti mencari tentang daddy,mommy selalu menangis,tidak tau kah kau laki-laki itu tidak lebih dari laki-laki breng*ek yg menghancur kan hidup kita"Rosse menatap tidak suka ke arah Rossi yg baru saja menjelek-jelek kan Daddy nya.


"Loussi Daddy Ndak begitu!"sangkal Rosse kasar,bahkan dia langsung melepas genggaman tangan Rossi.


"Rossi,tidak baik berbicara tentang Daddy mu seperti itu"William ikut menengahi,walau pun dia tidak tau siapa yg di maksud Daddy oleh baby twin di depan nya ini.


"Lalu laki-laki apa yg dengan tega memperkosa seorang gadis!membuat kami ada tapi tidak pernah perduli!dia menghancur kan hidup mommy ku dan juga hidup kami!kami selalu di hina tau kah anda seberapa sakit nya hah!"entah kenapa Rossi rasa dia ingin meledak-ledak Sekarang, terutama ketika William yg notabene nya hanya orang asing ikut campur.


Uhuk uhuk!


Nisa yg tadi sedang minum langsung tersedak,memukul dada nya yg mendadak sakit,dan memencet hidung mancung milik nya yg memerah.


"Nona kau baik-baik saja?"sekertaris Steven langsung menepuk-nepuk punggung belakang Nisa,membantu gadis yg sedang tersedak karena kaget.


William tertegun,rasa nya ada sebilah pedang menancap di hati nya,sakit tapi tidak terlihat, ketika dia mendengar perkataan Rossi,rasa bersalah kembali menghantui nya.


Perkataan Rossi sama seperti menyindir nya, bagaimana tidak William pernah memperkosa seorang gadis belia,bahkan membuat gadis itu hamil,secara tidak langsung tentu dia sudah menghancur kan masa depan gadis itu.


Jahat.willam memang jahat,bahkan setelah tau wanita yg telah di perkosa nya telah hamil,William masih tidak perduli,bahkan menghenti kan semua pencarian nya tentang wanita itu.


Lalu apa kabar wanita itu sekarang? baik-baik saja bukan.apa kah bayi ug di kandung wanita itu baik-baik saja, William yakin wanita itu tidak menggugur Jan kandungan nya, terbukti dari dia yg hampir sembilan bulan penuh mengalami morning sickness.


Tanpa di sadari oleh William, anak-anak nya berada tepat di dekat nya di sebelah nya,sedang mengobrol bersama nya,begitu juga dengan putri kecil nya.


Anak-anak yg tengah mendebat kan seorang Daddy, anak-anak yg selalu mengharap kan kehadiran nya selama ini.


Sebanyak itu kah dosa mu wahai tuan muda tunggal keluarga Smith,pada biru dan juga anak-anak nya,dosa yg di miliki oleh William sangat lah banyak.


"Rossi dari mana kau mengetahui itu?"setelah mengatasi batuk-batuk nya Nisa langsung mengintrogasi Rossi.


"Malam pertama sewaktu kami tiba di Korea,bukan kah nona mengintrogasi mommy?"Rossi menatap balik ke arah Nisa.


# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh


Author balik lagi yah guys


Like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen komen and vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote,vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote vote VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE vote vote vote vote.