Baby Twins

Baby Twins
part 19.



FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.


HAPPY READING.


air mata biru menetes, perjuangan nya benar-benar berat untuk mendapat kan beasiswa,tapi langkah nya menuju mimpi sebagai seorang dokter harus terhenti, cita-cita nya menyandang gelar sarjana kedokteran spesialis bedah saraf.


Hanya karena dua anak,biru rela mengorban kan segala yg dia miliki,semua hal,demi anak dari laki-laki yg telah memperkosa nya.


Mereka tidak salah, Rosse dan juga Rossi tidak salah, mereka hanya makhluk tak berdosa,yg berdosa adalah diri nya, karena tidak pandai menjaga diri nya dengan baik, sebagai wanita.


"Biru!"biru segera menghapus air mata nya lalu menoleh, mengangguk setelah mendengar perintah senior nya.


Detik demi detik berlalu,kini jam sudah menunjuk kan pukul sembilan malam, jendela-jendela Restauran sudah di tutup,para karyawan sudah bersiap menghambur kan diri kembali ke rumah.


Langit malam tampak tertutup dengan awan hitam,mendung di sambut dengan cahaya petir di langit,pintu restauran telah di tutup lalu di serah kan kepada tuan Rahardian.


"Kalian hati-hati di jalan"pesan Rahardian kepada para karyawan nya yg telah membubar kan diri,tinggal lah biru dan Rahardian.


Biru memandang ragu,dia takut petir,lalu bagaimana dia bisa pulang,jika dia tidak pulang Rosse dan Rossi pasti takut sendirian, terutama Rossi,biru yakin bahwa putra nya itu tengah menunggu kepulangan nya.


"Biru"Rahardian mendekat ke arah wanita yg berstatus sebagai adik tiri nya,dan juga wanita yg sangat di cintai oleh nya.


Menoleh,biru merapat kan jaket berwarna merah yg membalut tubuh nya,hawa dingin menusuk hingga tulang,kulit tipis biru seketika merinding ketika hawa dingin semakin menusuk.


"Iya pak"biru menjawab dengan lirih.


"Ayo aku antar pulang"tawar Rahardian, laki-laki jangkung itu membuka kan pintu mobil milik nya, mempersilah kan biru untuk masuk.


"Tidak perlu pak"halus,biru menolak Rahardian dengan halus,dia benar-benar tidak nyaman jika terus berada di dekat Rahardian.


Biru tau,wanita dua anak itu tahu, sedikit banyak ia tau, bahwa Rahardian belum benar-benar menghapus perasaan nya pada biru,semua perilaku dan segala macam kebaikan Rahardian,bisa biru arti kan itu bentuk cinta,bukan sekedar perhatian pada adik tiri.


"Biru,kau yakin anak-anak mu tidak akan takut sendirian? terutama Rosse,gadis kecil itu pasti tengah bergetar ketakutan"senjata andalan di keluar kan oleh Rahardian,jika berurusan dengan anak-anak nya,pasti biru tidak akan menolak.


"Terima kasih"akhir nya biru memutus kan untuk di antar kan Rahardian, tubuh nya juga sudah lelah jika harus berjalan pulang, setidak nya ini mempersingkat waktu.


Setelah memasang sabuk pengaman, Rahardian mulai tancap gas, menembus kepadatan jalan raya di malam hari, sesekali dia melirik ke samping,biru tampak sangat tenang seperti tidak terjadi apapun.


"Biru"biru yg sibuk melihat pemandangan di luar jendela menoleh kan kepala nya.


"Iya?"biru menelisik,wajah Rahardian tampak meragu,biru mengeryit dalam, perasaan nya mulai tidak tenang sekarang.


"Ibu ku ingin menemui mu?"kan benar,biru sudah menduga nya, Rahardian pasti menyampai kan sesuatu yg tidak mengena kan.


"Sebagai apa?"tanya biru to the points,hati nya meragu untuk bertemu wanita yg telah merebut kebahagiaan masa kecil nya, sekaligus penghancur rumah tangga kedua orang tua nya.


"Sebagai putri dari wanita yg telah dia hancur kan hidup nya"biru tersenyum sinis mendengar nya, Rahardian melihat itu,diam.hanys itu yg bisa di lakukan Rahardian,dia tau ini salah.


"Aku harus apa biru?ibu ku sangat ingin bertemu dengan mu"Rahardian tertunduk,biru tetap diam tak bergeming.


"Kau mencerita kan tentang ku?"Rahardian mengangguk,percuma diam fikir nya.


1 Minggu yg lalu....


Kediaman Hartono,seorang wanita paruh baya dengan tampilan glamor nya keluar, menyambut kedatangan Rahardian,sang putra.


"Assalamualaikum Bu"Rahardian mengecup punggung tangan keriput milik ibu nya.


"Waallaikum sallam,kau sudah pulang Dian?di mana menantu ibu?"ibu Rahardian sibuk menoleh kebelakang sembari menyusul sang putra masuk.


Menghela nafas panjang, Rahardian mendudukan diri nya di atas sofa ruang tamu,menegak segelas jus mangga yg tersedia khusus untuk nya,minuman favorit yg selalu di sedia kan oleh sang ibu ketika dia pulang.


"Dian, jangan bilang kau belum melupa kan mantan istri mu itu"ibu Rahardian mulai menerka-nerka,tapi Rahardian tetap menggeleng,bukan itu alasan nya.


"Lalu kenapa?"ibu Rahardian berpindah duduk,mendekat ke arah sang putra.


"Ibu, apa kah ibu benar perebut suami orang?"


Ibu Rahardian tersentak, tidak, bagaimana bisa putra sulung nya tau rahasia yg telah di tutupi oleh nya selama bertahun-tahun,tidak mungkin kan tuan Hartono yg memberi tahu.


"Ibu kenapa sejahat itu?ibu tidak tau nasib seorang gadis kecil hancur karena keegoisan ibu"Rahardian menatap ibu nya yg sedang gugup dengan sabgat tajam.


Dia masih ingat,di ingatan nya terlintas jelas cerita kehidupan biru yg penuh masalah,dan sumber masalah nya adalah ibu nya sendiri, Rahardian semakin pusing,ternyata dia dan biru terikat benang takdir tidak terlihat,yg menghalau Hubungan mereka.


Biru, mereka memang tidak memiliki Hubungan darah,tapi Rahardian sudah cukup menjadi putra tiri dari Hartono saja,itu sudah membuat benteng yg sangat tinggi,untuk hubungan mereka.


"Dian ini"


"Maaf Bu,wanita yg ku cintai harus menderita karena keegoisan mu, aku tidak menyangka, wanita yg sangat ku hormati,dengan tega nya merampas kebahagiaan wanita lain"


Ibu Rahardian semakin merasa gamang,tangan nya saling meremas,terdiam mendengar semua tuduhan yg di layang kan oleh sang putra, tidak bisa melakukan apa pun,mengelak pun tidak bisa, karena itu memang benar,semua nya fakta,fakta yg tidak bisa di tolak,walau pun dia mau.


"Aku mencintai nya Bu,sangat.tapi ibu tau, karena keegoisan mu,dia menderita,hidup nya penuh kekurangan, karena kebereng*ek kan ayah nya,dia terkena karma, dia di perkosa laki-laki tidak di kenal Bu"


Nyeri.itu yg di rasa kan oleh Rahardian, dia ingat dengan baik, perkataan biru sewaktu di rumah sakit,ingin rasa nya Rahardian berteriak,memaki sang ibu,namun dia sadar diri.


Akhir nya,mengalir lah cerita bagaimana ibu nya Rahardian bisa tau, biru?wanita itu hanya diam.


"Dia sangat ingin bertemu dengan mu biru,bahkan ibu berulang kali ingin menemui mu di restauran,tapi selalu ku cegah.


Menghapus air mata nya,biru menghela nafas perlahan,lalu menghembus kan nya secara kasar.


"Sudah sampai pak, terima kasih"biru sama sekali tidak memberi kan tanggapan,baru saja hendak keluar,tangan biru di cekal oleh Rahardian.


"Biru,ibu ku sangat ingin bertemu dengan mu"Rahardian berujar penuh harap,membuat biru merasa sungkan jika harus menolak.


Semua pertolongan yg telah Rahardian beri kan sangat bearti untuk biru,jika nolak,bukan kah dia terkesan seperti orang yg tidak tahu diri, berani-berani nya dia menolak permintaan seorang laki-laki yg benar-benar tulus menolong nya.


"Akan ku fikir kan"biru membuka pintu mobil,lalu mulai melangkah masuk ke dalam,meninggal kan Rahardian yg tersenyum sangat lebar.


Senyum yg tercetak sangat jelas di bibir nya, setelah memasti kan biru masuk dengan aman, Rahardian kembali melaju kan mobil nya.


Biru membuka pintu kamar kos setelah meminta kunci kepada satpam,mengingat dia yg terakhir pulang,biru langsung mengunci pintu,masuk ke dalam kamar kos nya.


"Mommy"biru menoleh ke belakang, ternyata sang putra,Rossi belum tidur dan masih menunggu nya.


"Tidur lah sayang, mommy akan bersih-bersih dulu"biru mengambil handuk kecil,dan sikat gigi, masuk ke kamar mandi, ibu kos sudah merenovasi setiap kamar,jadi di hampir semua kamar memiliki kamar mandi kecil berukuran 1×1 meter.


Di dalam kamar mandi biru membersih kan wajah nya,lalu menggosok gigi, begitu keluar, ternyata Rossi belum tidur,dia baru datang dari dapur sembari membawa segelas susu.


"Terima kasih anak mommy"biru menerima nya dengan senang hati,pria kecil nya ini memang sangat perhatian pada nya.


"Mommy lelah?"biru menggeleng,bibir nya mengulas senyum lebar,meyakin kan dia baik-baik saja,walau pun kenyataan tubuh nya benar-benar pegal.


"Kau tidur lah boy, mommy juga akan istirahat"Rossi mengangguk,lalu membaring kan tubuh mungil nya ke kasur berukuran satu meter, di sebelah biru,biar kan saja si Rosse tidur di pojok dekat dengan dinding.


"Tidur lah my prince"biru mengecup kening Rossi sayang,lalu kembali menyender kan tubuh nya ke dinding.


Memandangi indah nya makhluk ciptaan Tuhan di sebelah nya, Rosse dan juga Rossi,dua makhluk yg lahir dari dalam rahim nya.


Dua anak kecil yg dia perjuang kan mati-matian, anak-anak yg benar-benar menjadi titik penyemangat biru.


"Terima kasih sayang, karena telah hadir"biru menatap mereka berdua,tanpa sadar dia terlelap.


Aktivitas hari ini benar-benar menguras tenaga,rasa nya baru sebentar biru lelap tidur,dia kembali terbangun ketika dering alarm di handphone nya terdengar sangat nyaring, perlahan biru mengerjap, mengumpul kan kesadaran yg dia miliki.


"Sudah pagi"biru mengeluh karena pagi begitu datang dengan cepat,tubuh nya sedikit berbeda sekarang,suhu tubuh nya pun begitu,hangat.


Kepala biru terasa pusing,suhu tubuh nya tidak senormal biasa nya,perlahan biru berusaha berdiri sembari berpegangan pada dinding.


Setelah berwudhu,biru langsung melaksana kan shalat subuh,tidak butuh waktu lama, sekarang dia tengah berkutat di dapur,banyak bahan-bahan untuk membuat kue yg dia bawa dari dalam kamar kos.


Hanya memiliki satu dapur,itu lah alasan kenapa biru selalu bangun lebih awal di Bandung penghuni kos yg lain,dia tidak ingin harus berebut dapur.


"Bismillah"biru melafal kan bismillah,lalu mulai membuat adonan,tampak nya dia tidak akan membuat banyak kue.


Dan benar saja,dia hanya bisa membuat 2 kotak kue,berjumlah 100 buah, biasa nya biru bisa membuat 6 kotak sekaligus.


3 kotak untuk kampus di Xz,2 kotak untuk kantin kantor yg tak jauh dari restauran, satu kotak lagi untuk KAR cake.


Tapi lihat lah sekarang dia hanya bisa membuat dua kotak, karena biasa nya biru membuat banyak,akhir nya dia memutus kan untuk menitip kan ini di kantin universitas saja.


"Rosse!Rossi!bangun sudah pagi!"biru menggeser gorden,membiar kan sinar matahari menerpa wajah ke dua buah hati yg sangat di cintai oleh biru itu.


"Pagi mommy"Rossi yg bangun lebih dahulu, seperti biasa tanpa di perintah dia langsung masuk ke kamar mandi,lalu mulai membersih kan diri.


Berbeda dari Rosse yg masih asik bergemul dengan selimut milik nya,gadis cantik itu sama sekali tidak terusik dengan sinar matahari.


"Rosse sayang,bangun yuk,mandi lalu makan"biru mengelus lembut rambut Rosse, biasa nya gadis itu akan terbangun,ketika biru mengelus rambut nya.


Terbukti,Rosse mulai menggeliat,dengan nyawa yg belum terkumpul sepenuh nya, dia mulai duduk.


"Mommyhh dah pagi?"Rosse menoleh ke arah jendela kecil,langit biru mulai tampak, matahari memang belum sepenuh nya menampil kan diri,tapi cerah nya langit biru membuat Rosse mengulas senyum lebar.


"Lousse mahu itut mommyhh keulljah"Rosse mendadak bersemangat, arabella, nama sahabat baru nya terlintas begitu saja,Rosse fikir,jika ikut sang mommy dia bisa bertemu dengan arabella.


Menggeleng, biru tidak menyetujui permintaan Rosse,untuk hari ini dia tidak akan mengajak si kembar, Rosse menunduk pelan melihat penolakan yg di beri kan sang mommy.


"Taupi keunnapah?"biru menghela nafas kasar,Rosse tidak akan pernah berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yg puas.


"sayang, mommy tidak ingin kalian lelah, mommy juga harus pergi ke suatu tempat dulu"biru menjelas kan dengan sangat lembut agar Rosse tidak marah pada nya.


Baru saja hendak menyanggah, tatapan tajam Rossi yg baru saja keluar dari kamar mandi,menghenti kan aksi protes yg akan di layang kan oleh nya.


# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.


Author balik lagi yah guys