Baby Twins

Baby Twins
part 20.



FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.


HAPPY READING.


"Baik lah Rosse ayo mandi"biru menuntun Rosse masuk ke dalam kamar mandi,Rosse bukan Rossi yg serba bisa mandiri,jadi mau tidak mau,biru harus mementing kan rose dulu..


Tak butuh waktu lama, mereka telah keluar dari kamar kos menuju dapur,di sana biru telah menyiap kan,nasi putih dan juga omlet kesukaan si kembar


"Wah teloul"Rosse berbinar menatap Hidangan di hadapan nya dengan penuh semangat.


Biru mendampingi anak-anak nya makan di meja makan kecil tanpa kursi,yg memang di khusus kan untuk anak-anak kos.


Sembari menyuapi Rosse,biru juga menyuapi diri nya sendiri, begini lah rutinitas yg sering biru lakukan,bayang kan betapa kewalahan diri nya.


Mengeluh,pernah bahkan sering,tapi berulang kali biru belajar bersyukur semua atas kehendak Allah,itu yg di tanam kan oleh nya dalam hati.


"Sayang mommy berangkat yah,kalian jaga diri, Rosse tidak boleh nakal oke?,turuti semua perkataan Rossi"biru tengah berpamitan dengan anak-anak nya.


Rosse mengerucut kan bibir nya kesal, dia benar-benar kesal bukan main, mommy nya tidak mengizin kan ikut.


"Baik lah mommy hati-hati di jalan,Rossi akan menjaga Rosse"Rossi meraih tangan biru lalu mencium nya,di ikuti dengan kembaran nya Rosse.


Setelah memasti kan anak-anak nya baik-baik saja,biru melangkah keluar,kepala nya terasa sangat berdenyut,biru memutus kan untuk naik bus.


Tidak membutuh kan waktu lama,biru telah sampai di universitas Xz,berjalan perlahan, biru menuju ke kantin untuk menitip kan kue-kue buatan nya.


Biru meletak kan kue di atas meja, setelah sebelum nya sempat berbincang-bincang bersama penjaga kantin.


Kini dia tengah di perjalanan pulang,pulang ke rumah yg sudah di tinggal kan oleh nya kurang lebih empat tahun.


Biru mendadak ragu,hanya beberapa langkah lagi dia bisa masuk ke dalam rumah, fikiran nya tengah menerawang,apa kah ibu nya bisa menerima kehadiran anak pembawa sial seperti nya,biru bimbang,jika tidak melangkah,rindu nya tidak bisa dia tahan lagi.


"Semangat biru,dia ibu mu"biru menekan bel rumah,pintu terbuka.biru tergugu di tempat,wanita yg dia rindu kan tengah ada di hadapan nya.


"Ibu"biru langsung berjalan memeluk tubuh sang ibu,dia benar-benar merindu kan sosok seorang ibu,di peluk nya erat-erat tubuh ibu nya.


Bukan nya mendapat balasan pelukan,biru malah di dorong dengan kuat, hingga tersungkur di lantai.


Air mata biru mengalir begitu saja,bahkan setelah sekian lama tidak bertemu,ibu nya masih bersikap kasar pada nya.


Putri mana yg tidak sakit hati,biru juga begitu,dia di tolak oleh ibu kandung nya sendiri,ibu yg telah membesar kan nya dengan penuh perjuangan,sosok yg seharus nya menyemangati biru ketika diri nya terpuruk,tetapi sang ibu malah dengan tega mengusir nya.


"Ibu"biru terisak pelan,mendongak,mata nya bertatapan langsung dengan sang ibu,dada biru kembali terasa nyeri, ketika ibu nya sama sekali tidak perduli.


"Untuk apa kau datang ke sini?"ibu biru bertanya dengan nada yg sangat-sangat dingin,dia enggan menoleh ke biru sedikit pun.


Kan benar,biru sudah menduga ini sebelum nya, ibu nya pasti tidak akan pernah menerima diri nya lagi, ibu nya memandang biru hanya lah orang asing,biru terisak keras,tangan nya mengepal erat,ini semua karena laki-laki itu, laki-laki yg telah merenggut mahkota nya dan ibu nya.


"Ibu apa salah biru?"biru berdiri tepat di hadapan sang ibu, baru saja hendak meraih tangan keriput itu,biru langsung di tepis kasar.


"Salah mu, karena kau tidak bisa menjaga kehormatan mu!"bentak ibu biru sangat keras, wanita paruh baya itu sakit hati,dengan sikap anak semata wayang nya yg hidup bebas.


"Salah ku lagi?ibu jahat,aku putri mu Bu! kenapa ibu sejahat ini pada ku!itu bukan kesalahan ku"biru menjambak rambut nya sendiri frustasi.


"Pergi kau dari sini!hidup lah dengan anak haram mu itu!"usir ibu biru.


Tangan biru mengepal,tatapan nya Berubah menjadi sangat nyalang,tidak ada satu pun,ibu di dunia ini yg akan terima ketika anak yg telah di kandung dan di besar kan nya di hina.


Terutama ketika itu adalah biru,Rosse dan Rossi, mereka memang lahir karena kesalahan,tapi kehadiran mereka bukan kesalahan, mereka masih anak-anak suci tidak berdosa,yg salah bukan biru atau ke dua anak nya,melain kan laki-laki yg telah membuat Rosse dan Rossi hadir.


"Anak ku bukan anak haram!"tanpa sadar biru meninggi kan nada suara nya.


Plak!


Lagi,untuk ke dua kali nya,ibu nya menampar,air mata semakin membasahi pipi biru.


"Berani sekali kau meninggi kan nada bicara mu pada ibu biru!"ibu biru langsung menarik rambut sebahu biru keras,marah,mata itu menampil kan api kemarahan yg sangat besar.


"Ibu"biru meringis,rambut nya rontok,tarik kan ibu nya benar-benar kasar.


"Kak!"seorang laki-laki berumur tiga puluh tahun datang,paman dari biru, langsung melepas kan jambakan itu.


"Paman"biru terisak di depan paman nya, laki-laki yg tidak lain adik dari ibu nya.


"Kau membela nya di banding kan kakak mu"ibu biru langsung melayang kan protes nya.


"Kak,dia anak mu"biru bersembunyi di belakang tubuh tinggi sang paman, terisak, mengingat penolak kan keras yg di layang kan sang ibu.


"Dia bukan anak ku,anak ku sudah meninggal empat tahun lalu"santai ibu biru,beliau seakan tak perduli dengan apa yg dia katakan.


"Biru ikut paman!"biru menggeleng, dia ingin memeluk ibu nya untuk terakhir kali nya,tapi percuma,paman nya sama sekali tidak perduli,beliau masih terus menarik tangan biru keluar.


Biru menoleh ke belakang,ibu nya ternyata sudah masuk,sesakit ini kah tidak di anggap,biru berulang kali memegang dada nya yg terasa sangat nyeri,kasih sayang untuk ibu nya masih sangat lah besar.


Biru sangat menyayangi ibu nya, karena wanita itu lah yg membesar kan biru seseorang diri, mencari uang untuk nya, menyekolah kan nya hingga jenjang SMA,walau pun dengan beasiswa.


"Paman,aku ingin bertemu dengan ibu ku"biru masih menangis,tangan nya memegang erat tralis pagar rumah,masih terus memandang ke dalam, berharap ibu nya bersedia keluar,untuk melihat nya sebentar saja.


"Biru sayang,dengar kan paman,ibu mu benar-benar kecewa pada mu,tapi paman tau,ini tidak sepenuh nya salah mu"paman menggenggam tangan biru, berharap keponakan nya merasa tenang.


"Kau menyayangi Rosse dan Rossi kan?"


Biru tersentak kaget, bagaimana bisa paman nya ini tahu nama anak kembar nya,pada hal biru baru sekali ini bertemu lagi dengan paman,tangan biru saling meremas, berusaha meyakin kan diri bahwa paman Nya,tidak memata-matai nya.


"Paman tahu?"biru bertanya dengan ragu.


"Iya sayang,paman tau semua hal tentang mu, termasuk kau yg berkerja di Restauran milik kak Hartono"


Tanpa sepengetahuan siapa pun,paman memang selalu memata-matai biru,melihat bagaimana kah keponakan nya yg masih belia itu hidup di tengah keras nya kota.


Ternyata hidup biru menang cukup sulit,namun keberuntungan masih berpihak pada nya, bertemu dengan ibu pemilik kos, berkerja di Restauran,walau pun,biru harus menghadapi kehamilan nya seorang diri, berkerja siang dan malam demi menghidupi anak-anak nya.


Perjuangan hidup biru sangat lah sulit,dalam diam nya paman sedikit terkejut, ternyata dengan keluar nya biru dari rumah,membuat biru bertemu dengan sang ayah.


"Paman tahu,aku berkerja di restauran ayah?"paman mengangguk,sontak saja biru langsung berlutut di hadapan sang paman.


"Paman,biru mohon, Jangan kata kan apapun pada ibu,ku mohon paman.ibu pasti akan semakin marah pada ku,ibu pasti tambah kecewa pada ku biru"biru me-nangkupkan kedua tangan nya,memohon di hadapan sang paman.


"Tentu saja tidak sayang,paman ingin hubungan kalian berdua baik-baik saja,paman tau kau hidup sulit di luar sana"biru mengulas senyum tipis, ternyata paman nya sangat baik hati.


"Ayo kau ingin berkerja kan?biar paman antar"biru menggangguk pelan,lalu duduk di motor,memakai helm,paman nya mulai melaju kan motor milik nya ke restauran di mana biru berkerja.


Di sepanjang perjalanan biru hanya diam, kepala nya semakin berdenyut hebat,tubuh nya pun terasa menggigil,air mata mengalir begitu saja, mengingat dia di usir oleh ibu kandung nya sendiri.


Hidup di tengah keras nya kota bersama kedua anak-anak nya benar-benar menguras tenaga.


"Terima kasih paman"mete telah sampai di Restauran,begitu biru berbalik dia terkejut melihat kehadiran sang ayah, Hartono.


"Jangan dekati keponakan ku"paman langsung menarik tubuh biru,menyembunyi kan di balik tubuh kekar nya.


"Kau begitu menyayangi nya ya?"Hartono mengejek,dia seakan tidak sadar diri laki-laki yg di ejek oleh nya sangat penting bagi putri kandung nya.


"Tentu saja dia keponakan ku,aku bukan kau pria yg tidak bertanggung jawab,meninggal kan anak dan istri demi janda anak satu"


Sontak perdebatan itu di saksi kan para karyawan,di benak mereka tengah bertanya-tanya,ada apa kah gerangan, sehingga biru bisa memiliki hubungan dengan seorang Hartono,pemilik restauran.


"Paman sudah, sekarang paman lebih baik pulang,paman kan harus berkerja,paman terlalu penting untuk mengurus laki-laki tidak bertanggung jawab seperti nya"biru membujuk paman nya untuk segera pulang.


Akhir nya, setelah banyak bujukan yg di keluar kan oleh biru,paman nya menurut lalu berbalik pulang, meninggal kan Hartono yg menatap tak suka ke arah biru.


"Apa yg kau kata kan pada Rahardian hah!bukan kah kau sendiri yg meminta agar kita tak saling anggap"kini mereka tengah berada di ruang pribadi Hartono.


Biru tak gentar,dengan sangat santai dia mengulas senyum tipis,sangat tipis.


"Aku harus bagaimana lagi ayah?putra tiri mu yg ingin tau,bahkan dia mengintrogasi ku"biru menjawab dengan sangat santai,seakan tak terganggu sedikit pun.


Hartono mengepal kan tangan nya geram,pantas saja istri nya bertanya, ternyata putri nya yg memberi tau,salah satu alasan kenapa hingga kini Hartono tidak menyetujui permintaan Rahadian untuk berpacaran dengan biru.


"Kau!sebenar nya apa mau mu!"baru saja Hartono hendak mencengkeram tangan biru,dengan sigap putri nya itu menepis kasar,senyum manis terukir di wajah biru,melihat mimik wajah tuan Hartono,sang ayah.


"Tidak ada,aku tidak mengingin kan apa pun,hidup ku sudah sangat berkecukupan dan juga sangat bahagia"biru menekan kan kata bahagia,supaya Hartono sadar diri.


"Kenapa kau tidak menjauhi putra ku Rahardian!"


Biru membuang pandangan nya ke arah lain, sungguh miris sekali hidup nya, bagaimana tidak,dia di buang ibu nya,dan tidak di akui oleh sang ayah.


"Aku tidak ingin menjauhi nya,aku sudah benar, berada di tempat yg seharus nya,salah kan lah hati putra mu yg terlanjur terpaut pada ku"biru bersikap sangat dewasa sekarang.


"Kau!berapa nilai mu! katakan kau butuh uang berapa!"


Pyar!


Vas bunga berwarna merah yg terletak di meja kerja Hartono biru banting sangat keras,keping demi keping vas mahal itu berjatuhan,berserak kan di banyak tempat.


Setidak nya biru berhasil me-lampias kan kemarahan nya,walau pun marah,biru masih sadar diri laki-laki paruh baya di hadapan nya ini adalah ayah kandung nya,mau tidak mau, karena itu biru tidak berani mengangkat tangan nya,walau pun dia sangat ingin melayang kan tamparan di wajah Hartono.


"Jika ayah berfikir aku bisa di beli dengan uang,ayah salah besar,memang nya seberapa kaya ayah,hingga mampu membeli ku!seharus nya anda itu sadar diri!sudah tua!tapi semakin memperbanyak dosa"


Biru keluar,membanting pintu dengan sangat keras,baru saja berjalan beberapa langkah,dia bertemu dengan Rahardian, laki-laki tampan yg terus menatap nya dengan tatapan penuh cinta,dia benar-benar kesal,ketika laki-laki itu datang ke waktu yg tidak tepat.


Baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuh biru limbung.


Bruk!


Tubuh nya jatuh di lantai.


# Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.


vote vote.