Baby Twins

Baby Twins
(11) Jealousy



Aelke berbaring lemas. Ia sejak tadi batuk-batuk dan sesekali bersin. Morgan sibuk sendiri di dapur, sambil melihat ponsel yang tersambung dengan internet dan membuka google, Morgan mencari cara membuat bubur dari beras putih.


Aelke jadi aneh sendiri melihat Morgan yang mondar-mandir. Suara alat-alat dapur terdengar gaduh, Aelke berusaha bangkit meski lemas dan tak berdaya. Takut Morgan tidak bisa melakukan pekerjaan perempuan seorang diri. Baru saja Aelke hendak melangkah ke dapur, terdengar suara nyaring.


'Prang!!!'


'Awss!!!' teriak Morgan. Aelke langsung berjalan cepat menuju dapur dan melihat apa yang terjadi. Morgan meniup tangannya, sepertinya ia tersiram air panas, di atas lantai, panci sudah tergeletak dengan air yang berantakan.


"Lo gapapa?" tanya Aelke khawatir, Morgan menoleh dan mendapati Aelke sudah berdiri di belakangnya.


"Gapapa, kok... Lo ngapain kesini??" tanya Morgan menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya.


"Ckck, udah deh ya, gue gak apa-apa kok, Gan... Sini!" Aelke meraih tangan Morgan yang disembunyikannya, Morgan mendesis perih, tangannya yang terkena air panas memerah.


"Kalo gak bisa, jangan maksain, tukang bubur banyak juga," Aelke menggiring Morgan menuju sofa yang ada di ruang tengah dan mendudukkannya. Morgan menatap Aelke yang berjalan lemah, lalu mengambil kotak P3K. Morgan menautkan alisnya, 'Kok dia tau gue mau bikin bubur?' gumam Morgan dalam hati.


"Aduh!!!" pekik Morgan saat Aelke mengompres tangannya dengan alkohol. Aelke tidak peduli Morgan teriak-teriak, ia terus mengompresnya sampai Morgan merasa lebih baik. "Biasanya senga banget, diginiin aja teriaknya kenceng banget, payah!" tukas Aelke.


"Kan sakit, perih, panas!!" Timpal Morgan.


Setelah selesai, Aelke menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata, Morgan memerhatikan Aelke, ia baru sadar Aelke sedang sakit saat ini.


"Maaf ya, lo yang sakit jadi gue yang ngerepotin, dapur berantakan pula..." gumam Morgan. Aelke membuka matanya dan menoleh pada Morgan dengan kepala yang masih menyandar di sofa, "Gak apa-apa, makasih udah usaha, gue baik-baik aja, kok!" ucap Aelke tersenyum.


"Ya udah, mumpung si kembar masih tidur, gue mau nyari makanan dulu, tahan dulu sakitnya ya," Morgan langsung bangkit dan meraih kunci mobilnya.


***


Rafaell duduk termenung di depan kelas. Ia masih memegang kotak makanan yang berisi Sushi untuk Aelke. Karena Aelke tidak ada, ia jadi bingung sendiri, apalagi jika mengingat Morgan dan mengingat apa yang dikatakan Bisma cs tempo hari. Apa Aelke memang dekat dengan Morgan?


"Wei, ngelamun aja...." Dinda dan Rasya yang kebetulan lewat mengagetkan Rafaell yang melamun seorang diri.


"Eh, ngagetin aja!" timpal Rafaell tersenyum simpul.


"Kenapa coco? Galau lo?" tanya Rasya, Rafaell terkekeh dan menyodorkan kotak makanannya kepada Rasya "Nih, buat kalian, makan ya..." ujar Rafaell. Rasya dan Dinda saling pandang, "Serius? Wih, Sushi...!!" ucap Dinda membuka kotak makanan tersebut.


"Makan, ya... Tadinya buat Aelke, cuma dia kan gak dateng." ucap Rafaell. Dinda dan Rasya seketika diam, baru ingat Aelke memang tidak masuk sekolah hari ini, jadi iba melihat Rafaell yang begitu menyayangi Aelke. Setelah itu, Rafaell berjalan meninggalkan Dinda dan Rasya.


"Hei, aku boleh tanya sesuatu?" Dinda dan Rasya membalikkan tubuhnya dan di hadapannya sudah ada Ifa.


"Tanya apa, ya?" tanya Dinda.


"Mmm.. Sebenernya, Rafaell sama Aelke deketnya udah berapa lama ya?" tanya Ifa. Dinda dan Rasya terdiam. Suasana menjadi hening. Ifa masih berdiri menunggu apa yang akan diucapkan teman dekat Aelke.


"Sejak mereka kelas X udah deket banget..." jawab Dinda akhirnya. Kini Ifa yang terdiam dan mengangguk lemah.


***


Morgan sedang menyuapi si kembar bergantian. Ternyata selera si kembar berbeda-beda. Rafha lebih suka makan bubur yang rasanya gurih dengan sayur-sayuran kecil, sedangkan Rifha lebih suka makan bubur manis seperti bubur rasa pisang, beras merah atau biskuit.


Morgan tertawa sendiri saat Rafha makan dengan lahapnya. Ia lalu menatap Aelke yang berbaring diatas sofa dengan selimut tebal membalut tubuhnya. Aelke tertidur setelah meminum obat flu. Ia menolak dibawa ke rumah sakit dengan alasan baik-baik saja, dan ia tak mau menghabiskan uang untuk ke rumah sakit.


"Aaaa... Buka mulutnya, Rafhaaa...." gumam Morgan sudah siap menyuapi Rafha, Rafha membuka mulutnya yang belum ditumbuhi gigi antusias disuapi ayah dadakannya.


"Sekarang giliran Rifha, buka mulutnya... Kereta makanan mau lewat!!" Morgan menyendokkan bubur di mangkuk Rifha dan mendekatkan sendoknya ke mulut Rifha. Rifha menggeleng dan mengerucutkan bibirnya.


"Loh, kok gak mau sih Rifha?? Gak enak ya buatan daddy? Ini pan udah dari sononya, daddy cuma seduhin aja..." ucap Morgan mengajak Rifha bicara, Rifha malah tertawa melihat mimik muka Morgan. Saat Rifha tertawa, Morgan memasukkan sendok makanan Rifha, dan Rifha mengunyahnya berantakan.


"Aaaah... Baby Twinsnya daddy udah kenyang, udah mandi, udah wangi, mmmuach!" Morgan mencium pipi Rafha dan Rifha bergantian. Setelah selesai menyuapi si kembar, Morgan membereskan mangkuk makan si kembar lalu mendekati Aelke yang terlelap.


"Sipit kalo lagi tidur lucu ya, mukanya, haha.." ujar Morgan. Ia menempelkan telapak tangannya di kening Aelke. "Udah lumayan turun panasnya..."


Rifha dan Rafha yang sudah sedikit-sedikit bisa merangkak mendekati Aelke. Morgan mengangkat tubuh Rafha dan Rifha bersamaan dan merangkulnya, "Liat, Mommy kalian lagi bobo. Mommy sakit tuh... Cantik, ya? Ya kan? Ya kan?" ujar Morgan, Rafha menunjukkan mulutnya yang ompong, sedangkan Rifha malah menggelembungkan pipinya menggemaskan.


"Kita main, yuk! Mommy sipitnya biar bobo cantik dulu, yuhuu kita main!!" Morgan mengangkat-angkat tubuh si kembar ke atas dengan hati-hati sampai keduanya tertawa lucu sekali.


***


Aelke mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa pusing tapi tidak separah tadi pagi. Aelke menyingkapkan selimut tebal yang membalut tubuhnya lalu duduk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah, tapi suasananya sangat sepi.


"Morgan sama baby twins pada kemana? Sepi amat!" gumam Aelke berjalan mengitari rumahnya. Ia belum menemukan keberadaan Morgan dan si kembar sampai akhirnya Aelke masuk ke dalam kamarnya sendiri dan disana Morgan ternyata sedang tidur bersama baby twins. Aelke terkekeh geli melihat gaya tidur Morgan yang awut-awutan. Kakinya terbuka lebar, tangannya ke atas, tak kalah heboh dengan gaya si kembar yang juga berantakan.


Aelke mendekati kalender di atas meja nakas kamarnya. Ia melihat tanggal awal mereka tinggal di rumah ini, dan tanggal kapan mereka akan mengakhiri semua ini. Masih ada 1 bulan 5 hari, dan mereka belum juga saling mencintai. Tapi setidaknya, mereka berdua sudah lumayan akur.


***


"Jadi, selama ini Aelke gak pernah mengeluh soal biaya? Soal uangnya yang terbatas?" tanya mama Aelke pada seorang gadis di hadapannya.


"Gak pernah tante, dia keliatan biasa-biasa aja..." jawab gadis itu. Mama Aelke mengangkat sebelah alisnya. "Padahal tante ngasih dia uang yang dikit banget, Morgan juga dibatasi uang jajannya, heran deh mereka gak ngamuk-ngamuk soal uang kaya dulu." ucap mama Aelke. Gadis tadi mengangkat bahunya tak mengerti.


"Mungkin mereka udah bisa saling atur keuangan kali..."


"Bisa jadi..."


"Bagus dong kalo begitu,"


"Iya bener, anak tante bisa juga hemat kaya sekarang..." ucap mama Aelke tersenyum simpul.


***


Aelke dan Morgan hari ini kembali masuk sekolah. Seperti biasa, Aelke akan turun 10 meter dari sekolahnya dan berjalan menuju kesana. Di sekolah, mereka memang terlihat masih seperti mereka yang dulu sering cek-cok, sering adu mulut, juga adu pendapat.


Meski nyatanya sekarang sudah mulai bisa akur.


"Gan, liat Aelke?" Rafaell menghentikan langkah Morgan. Morgan tengok kanan-kiri.


"Gak salah lo nanya ke gue? Emang gue ngantongin dia?" timpal Morgan. Rafaell menatap Morgan bingung.


"Perasaan gue nanya slow, lo kaga slow..." Rafaell. Morgan menggaruk-garuk kepalanya lalu berjalan melewati Rafaell.


"Cari aje sendiri, ye..." tukas Morgan. Rafaell membalikkan tubuhnya, ekor matanya menangkap sosok Aelke yang sedang berjalan menuju kantin sekolah.


Rafaell langsung berlari mendekati Aelke dan meraih tangannya. Aelke menoleh, menatap Rafaell bingung. "Ada apa, Raf?" tanya Aelke.


"Kamu kemana aja? Baik-baik aja gak? Mukanya pucet banget..." tanya Rafaell.


Aelke tersenyum simpul, "Hehe, kenapa deh? Aku segini sehatnya!" jawab Aelke. Rafaell tersenyum lega melihatnya. Aelke melihat Ifa yang berjalan mendekati tempat dimana mereka berdiri.


"Raf, aku pergi dulu ya? Tuh, kamu udah dicariin sama dia, bye!" Aelke melangkah pergi meninggalkan Rafaell yang kebingungan. Kebingungan itu terjawab saat Ifa memang menghampiri Rafaell. Ifa tersenyum manis di hadapan Rafaell. "Raf, kenapa tiap ada aku Aelke menghindar ya?" tanya Ifa. Rafaell menghembuskan nafasnya sejenak lalu mengangkat bahunya. "Aku juga gak tahu!"


***


Rangga sudah berdiri di halaman rumah Aelke. Ia menekan bel rumah Aelke beberapa kali sampai Aelke membukakan pintu rumahnya.


"Eh, ada dr. Rangga..." tukas Aelke. Rangga terkekeh geli dipanggil dokter oleh Aelke.


"Cuma mau ngasih ini, vitamin buat baby twins kamu, vitamin A, minumin pas abis makan ya.." ucap Rangga, Aelke menerimanya sambil tersenyum. "Makasih banyak ya..."


Rangga sudah pamit pulang ke rumahnya sendiri. Aelke masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia terkejut saat Morgan sudah berdiri di hadapannya. "Eh, ngagetin aja!" pekik Aelke sambil mengelus dadanya.


Morgan menatap Aelke dingin.


"Ngapain? Tetangga itu ngasih apaan lagi?" tanya Morgan datar. Aelke menunjukkan dua vitamin A pada Morgan.


"Cari perhatian, tuh. Jangan nerima apapun lagi dari dia!" tukas Morgan.


"Kenapa???" tanya Aelke.


"Pokoknya jangan!" jawab Morgan.


"Ya, kenapa dulu? Niat dia kan baik..." sergah Aelke.


"Gimana kalo dia punya niat buruk dibalik sok baiknya dia?" Morgan. Aelke memicingkan matanya menatap Morgan.


"Lo bisa-bisanya mikir jelek sama orang yang selalu berbuat baik...!"


"Eh, gue cuma ngira aja, kita musti hati-hati sama hal apapun. Apalagi dia tetangga baru!" Morgan.


"Ya tapi gak gitu caranya!" Aelke. Morgan menatap Aelke kesal.


"Gue gak suka lo terima apapun dari dia. Gak suka! Titik!" tegas Morgan sambil berjalan meninggalkan Aelke.


"Dasar lo spesies aneh!" teriak Aelke tapi Morgan tidak membalas ocehannya.


TBC....