
Suara bell apartemen berbunyi membuat atensi Mars teralihkan dari kain kanvas yang sedang dia lukis dengan motif senja. Cowok itu mengerutkan dahinya bingung, siapa yang datang ke tempatnya sore hari begini. Karena dia merasa tidak punya teman ataupun kenalan yang memiliki kemungkinan untuk datang.
Mars meletakkan kotak cat yang semula dia pangku di atas meja. Dia berjalan menghampiri pintu, lalu meraih gagang pintu itu hingga pintu terbuka.
Dan detik berikutnya, Mars menyesal karena tidak melihat siapa yang datang dari kaca pintu terlebih dulu. Kini seorang gadis berisik yang selalu membuat Mars terganggu sedang berdiri di depannya, sambil memasang senyum manis san tangan yang meneteng sebuah kotak makan.
"Hai Mars!" Venus menyapa dengan senyum riang, yang hanya dibalas dengusan malas oleh Mars.
"Tau dari mana lo tempat gue?!" cowok itu bertanya dengan nada ketus, menatap sengit kearah lawan bicaranya.
"Dari resepsionis dong..... Pinter kan gue bisa nemuin tempat lo" Venus menjawab dengan nada bangga, seolah apa yang dia lakukan sangat berjasa bagi nusa dan bangsa.
"Dasar sinting!"
Venus mendengar cibiran itu. Meski diucapkan dengan nada yang pelan, kupingnya masih sehat dan dapat mendengar dengan baik apa yang barusan Mars ucapkan. Tapi Venus tidak peduli. Suka suka Mars lah mau ngomong apa, tugasnya cuma menutup telinga rapat-rapat supaya mentalnya tidak ikut terbakar ucapan sepedas boncabe level maksimum yang cowok itu lontarkan.
"Gue gak disuruh masuk nih?. Gue bawa makanan loh, yuk makan bareng di dalem!"
Tanpa permisi, tanpa malu, dan tanpa dipersilahkan, Venus menarik tangan Mars untuk masuk ke dalam apartemen cowok itu. Membuat Mars geleng-geleng sendiri, kok bisa ada spesies perempuan macam Venus di Bumi. Dia jadi kasihan sama laki-laki yang akan jadi pasangan Venus nanti, pasti harus punya mental baja dengan kesabaran setinggi benteng firaun!.
"Wah gilaaa, Apart lo keren banget!" decakan kagum keluar dari bibir Venus saat netranya melihat sekeliling interior Apartemen Mars. Minimalis, tapi elegan. Seleranya sekali, ternyata mereka memiliki jiwa artistik yang sama.
"Mars duduk deh, anggep aja rumah sendiri!" gadis itu duduk di sofa milik Mars tanpa permisi, dan menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Ini emang rumah gue!" dengus cowok itu.
Venus menyengir dan Mars tidak menanggapi lagi. Cowok itu kembali melanjutkan acara melukisnya tanpa memperdulikan Venus yang berada disana. Sedangkan Venus, tidak masalah. Gapapa kok, sumpah gapapa kalo dia dianggap makhluk astral disini. Udah biasa katanya. Bahkan ayahnya sendiri pernah mengatainya mirip Valak.
Mata gadis itu menelisik setiap sudut ruangan. Mulai dari cat tembok, interior, model barang, warna karpet, penempatan barang, bahkan sampai mereknya pun Venus lihat semua. Sebagai referensi, kelak kalau dia menikah dengan Mars dia akan menata rumah mereka seperti ini. Seperti selera Mars.
"Lo tinggal sendiri?" Venus bertanya saat menyadari tidak ada suara selain suaranya dari ruangan ini.
"Emang lo liat ada orang selain kita berdua?" Mars menjawab dengan malas.
"Ya engga sih, kan cuma basa-basi doang" gumam gadis itu, setengah berbisik dengan suara yang amat sangat pelan. Tapi suara itu masih bisa didengar oleh Mars yang memiliki kekuatan mendengar 7× lebih baik dari manusia.
"Mars udah makan belum? Tadi gue masak Beef Stroganoff, lo harus cobain deh. Pasti suka!" Venus membuka kotak makannya, yang hanya dilirik sekilas oleh Mars.
"Dapur lo sebelah mana?"
Mars kembali mendengus, tapi tak urung dia tetap memberitahu letak dapurnya yang tidak jauh dari ruang tamu. Venus segera menuju kesana, dan kembali dengan membawa dua piring serta dua pisau plus sendok garpu beberapa menit kemudian.
"Ayo makan dulu!" gadis itu kembali menarik tangan Mars, sedikit memaksa.
"Gue gak suka makan sama orang lain!" ketus cowok itu.
"Dih, lo manusia apa bukan sih?!. Ya kali gak suka makan sama orang lain. Udah deh lo gak usah sok sungkan sama gue. Kalo lo nambah nasi, gue bakal pura-pura gak liat. Suerrr!"
Mendengarkan Venus bicara panjang lebar membuat kepala Mars nyaris pecah. Suara cempreng gadis itu sangat menusuk telinga. Sampai akhirnya Mars mengalah, dia menuruti kemauan Venus untuk makan bersama di ruang tamu. Hidangan dengan olahan daging plus nasi merah sudah tertata di atas meja. Cowok itu cuma melihat sekilas saat Venus mengambilkan nasi serta lauk yang dia buat.
"Ayo makan, mau gue suapin?" godanya, yang hanya dibalas dengusan oleh Mars.
"Gue bukan anak kecil!"
Venus terkekeh, matanya dengan jeli melihat setiap pergerakan yang Mars lakukan. Mulai dari bagaimana dia menyendok nasi, gerakannya dalam mengunyah, hingga gerakan jakun cowok itu yang naik turun saat menelan. Dia jadi senyum-senyum sendiri, kenapa semua hal yang dilakukan Mars sangat menarik untuk diperhatikan.
"Enak gak?"
"Hm"
Satu lagi, Venus jadi punya kelebihan baru. Yaitu mengetahui bahasa isyarat Mars. Kalau sudah bilang 'hm' berarti ada tiga kemungkinan. Iya, boleh, dan oke. Astaga, setelah jatuh cinta dia menjelma menjadi gadis super peka dan kritis.
"Makan makanan lo terus cepet keluar dari tempat gue!"
Sepertinya cobaan cinta Venus kali ini memang sangat besar. Jatuh cinta pada orang macam Mars ini memang seperti cari penyakit. Kalo gak sakit hati, ya sakit mental. Baru juga dia senang karena makanannya dinilai enak, tapi sekarang sudah diusir.
"Baru juga duduk" gadis itu menggerutu kesal, sedangkan Mars cuma meliriknya malas. Makanannya sudah habis, dan dia memilih untuk menonton TV siaran berita luar angkasa.
Venus melirik Mars yang sedang melihat TV dengan seksama. Dia sengaja makan sedikit demi sedikit, supaya makanannya tidak cepat habis dan dia bisa lebih lama disini. Haha, Venus dengan segala akal bulusnya.
"Mars, liat Marsha and the Bear dong" pintanya.
"Makan!" sahut Mars dengan ketus. Dia ingin Venus cepat-cepat pergi dari sini, kalau harus ada acara nonton kartun, bisa-bisa gadis itu lebih lama berada di apartemennya.
"Marsss, mau nonton Marsha!. Gue kalo makan harus sambil liat kartun biar nafsu makan"
Mars berdecak. Gadis itu selalu punya alasan dengan tingkahnya yang selalu memaksa. Mau tidak mau Mars mengganti channel tv ke acara kartun anak kecil dan beruang itu.
"Dasar ngerepotin!"
"Wkwk, liat deh Mars beruangnya gemoy deh mirip lo"
"Ih ikannya lucu, bisa ngabulin permintaan. Kalo disini ada gak ya ikan kek gitu"
"Apaan sih prik banget pake acara nyusruk ke kobangan"
"Kenapa ya, Marsha kalo pake jilbab poninya keluar. Padahalkan ciput murah"
Kuping Mars rasanya sangat panas. Matanya melirik sengit kearah Venus yang sibuk menggerutui film kartun sampai melupakan makanannya yang tergeletak naas di atas meja. Tanpa aba-aba, dia meraih bahu Venus untuk menghadapnya hingga membuat gadis itu terkejut.
"Mars kenap-.."
Belum sempat Venus melanjutkan ucapannya, Mars lebih dulu menyumpal mulut gadis itu dengan sesendok nasi. Mata Venus melotot lebar, apa tadi, Mars menyuapinya?!.
"Dasar lemot!"
Dia kembali menyuapi Venus saat nasi di mulut gadis itu sudah tertelan. Begitu terus sampai sepiring nasi habis. Mars meletakkan piringnya ke dapur, dan kembali dengan membawakan segelas air mineral untuk Venus yang diterima oleh gadis itu dengan senang hati.
"Mars so sweet deh, sampek nyuapin gue segala" pipi gadis itu bersemu merah. Perutnya seperti dikerubungi oleh puluhan kupu-kupu yang terus membuatnya ingin tersenyum.
"Makan lo udah abis, cepet keluar!"
Dan detik itu juga, Venus kembali menarik kata-katanya yang bilang kalau Mars so sweet. Dalam sejarah tidak ada ceritanya seorang Venus Garziella dicampakkan oleh laku-laki. Tapi ini, hanya dengan Mars Ellerick, Venus merasa kalau dia memang tidak diinginkan. Tapi bagaimana lagi, hatinya sudah terlanjur memilih Mars sebagai tempat menanam cinta. Dan yang dia mau cuma cowok itu, tidak ada yang lain.
Venus bangkit dari duduknya dengan muka dongkol. Gadis itu memakai tas selempangnya serta meneteng totebag yang tadi dia bawa.
"Mars ngeselin!" serunya dengan kesal.
Gadis itu melangkah menjauh seraya menghentak-hentakan kakinya ke lantai. Tapi baru di langkah ke lima, Venus berhenti dan balik badan.
"Ihhh Mars kok gak nahan gue?!"
Tuh kan, kumat lagi gak tau malunya.
"Peduli apa gue sama lo!"
Duh makin kisut deh ini hati.
Venus memegangi dadanya dengan muka sok dramatis, bersiap memulai drama.
"Sakit hati aku mas, kamu tega!"
Mars menatapnya jengah. Cowok itu berdiri lalu mendorong tubuh Venus keluar dari apartemennya.
"Pulang, udah sore!"
Dia hendak menutup pintu, tapi Venus menahan dari luar. Gadis itu menyembulkan kepalanya ke dalam.
"Lo serius ngusir gue?"
"Hm" Mars mendorong kening Venus ke belakang. Tapi gadis itu kembali menyembulkan kepalanya.
"Yaudah gue pulang, tapi besok kesini lagi"
Kepalanya kembali didorong, dan Venus kembali melongok ke dalan.
"Bye, bye Mars ganteng"
Brakkkk
Mars menutup pintu dengan kencang setelah berhasil membuat Venus keluar. Cowok itu membuang nafas kasar sembari geleng-geleng kepala.
"Cewek aneh"
...****************...
Mars
Venus
JAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN SHARE MANTEMANN