Another Star

Another Star
Nothing



Pagi itu benar-benar hari paling semangat untuk Venus berangkat sekolah. Sebuah moment langka, seorang Mars mau berangkat bareng bersamanya. Padahal sudah hampir sebulan ini dia mendekati cowok itu, nyaris tidak ada hasil. Dia hampir menyerah dan mundur apalagi saat berita hilangnya sang Ayah mencuat. Tapi Mars malah datang, memberinya uluran tangan untuk menguatkan. Lantas, apa Venus masih punya alasan untuk menyerah?.


"Dad, Venus janji. Venus gak akan nyerah sama keadaan. Venus bakal buktiin ke Daddy kalo putri Daddy itu cewek kuat. Daddy juga harus buktiin kalo Daddy sayang Venus, cepet pulang ya Dad. Ve masih nunggu". Sebelum berangkat sekolah, Venus menyempatkan diri melihat foto dirinya dan Teddy yang terpajang di ruang tengah. Matanya sendu melihat foto itu. Bohong kalau dia kuat, bohong kalau dia tidak takut. Venus takut ayahnya betulan tidak pulang, dan malah pulang ke tempat 'lain'. Tempat yang tidak bisa dijangkau siapapun kecuali Tuhan.


Gadis itu menarik nafas panjang sebelum memasang senyum ceria di wajahnya. Dia boleh hancur, dia boleh remuk, tapi orang lain tidak perlu tau.


Venus membuka pintu apartemennya, dan ternyata Mars sudah ada di depan sana. "Hai..." sapanya dengan ceria.


Mars menatap Venus dengan tatapan berbeda. Semua ucapan gadis itu tadi dia dengar, sekalipun terhalang oleh tembok tebal. Gadis yang kuat—batinnya. Melihat senyuman Venus, dia berjanji tidak akan membuat senyuman itu pudar oleh apapun.


"Ayo...!"


Mars menggandeng tangan Venus kearah parkiran. Bukan tanpa alasan, dia tidak mau sampai gadis itu ketinggalan dan berakhir dia harus menunggu. Tapi sepertinya Venus mengartikan tindakan itu dengan artian lain.


Mereka masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas menuju sekolahan. Jalanan selalu padat di setiap waktu. Tidak ada kata senggang untuk jalanan salah satu kota di Rusia ini.


"Mars?" suara Venus memecah keheningan. Gadis itu menoleh, menatap Mars yang masih fokus melihat jalan.


"Apa?" sahut cowok itu.


"Kenapa lo tiba-tiba baik sama gue?", sebenarnya ini bukan pertanyaan penting. Tapi Venus perlu tau. Sebab dibandingkan dengan sikapnya yang kemarin-kemarin, sikap Mars kali ini berbanding terbalik. Memang sih, masih tetap dingin bak kulkas 5 pintu, tapi sekarang cowok itu lebih peduli, hangat, dan perhatian mungkin?.


"Bukannya setiap manusia harus baik sama sesama?" sahut Mars dengan nada bertanya yang terkesan ketus.


Tapi masalahnya Mars bukan manusia[cry]


"Jadi lo baik kayak gini cuma atas dasar rasa kemanusiaan?" tanya Venus lagi.


"Kita udah sampek"


Baru juga Venus bertanya, mobil cowok itu sudah terparkir rapi di parkiran Sekolah Clarion. Dan si pengemudi entah keluarnya kapan, tiba-tiba sudah berada di luar sana.


Mars, cowok itu sudah keluar lebih dulu dari dalam mobil. Berusaha menghindari pertanyaan Venus tadi. Padahal pertanyaan gadis itu tadi simple, cuma tentang kenapa, dan dia tinggal memberi alasan. Tapi kenapa bagi Mars rasanya susah untuk menjawab. Dia sendiri juga tidak tau kenapa dia mau melakukan ini.


Dia memutuskan untuk berjalan lebih dulu, meninggalkan Venus yang masih sibuk ngomel-ngomel di dalam mobil. Mars berjalan cepat menuju kelasnya, tapi tiba-tiba dia bertemu seseorang yang dia kenal. Victor?.


"Tunggu..!" Victor memanggil Mars saat cowok itu sudah melewatinya. Mars terpaksa berhenti. Tanpa berbalik badan dia menunggu Victor bicara.


"Gue perlu ngomong sama lo" tambahnya.


"10 menit" putus Mars dengan nada acuh.


Victor berdecih, merasa makin muak dengan laki-laki yang baru muncul tapi malah berhasil menarik simpati perempuan yang dia suka dari lama. "Sombong juga lo ternyata"


Mars memutar bola matanya malas. Dia lalu berbalik badan, membalas tatapan Victor tanpa minat. "Kalo lo manggil gue cuma buat basa-basi, gue pergi sekarang"


Melihat Victor masih belum memberi respon, Mars benar-benar balik badan dan melangkah pergi. Tapi baru 5 langkah dia berjalan, suara orang dibelakangnya mengistrupsi.


"Gue minta dari sekarang lo jauhi Venus!!" seru Victor dengan lantang.


Mars berhenti, tanpa berbalik badan dia menyahut, "Lo gak berhak ngatur hidup gue!"


************


Venus masuk ke dalam kelasnya dan langsung duduk di samping Gabby. Sahabatnya itu tampak sedang sibuk membaca novel yang baru dia beli kemarin.


"Tumben dateng pagi" ucap Gabby tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal dengan genre romance-fantasi itu.


"Tadi gue dibarengin Mars dong...." pamer Venus dengan senyum merekah lebar. Ya meskipun gak diantar sampai kelas, seenggaknya dia cukup senang bisa jadi orang pertama yang berangkat bareng cowok itu di sekolah ini.


"Dih, tumben. Kesambet apaan si kulkas" seloroh Gabby yang kini sudah menatap Venus sepenuhnya. Agak imposible dengan pencapaian gadis itu. "Lo pakek pelet apaan, Ve?"


"Lo gak takut dia punya maksud lain gitu?"


Venus melihat Gabby yang juga melihatnya serius. Dia menelan ludah, kemudian mengalihkan pandangan kearah lain. "Dia bukan orang jahat, Gab"


Gabby mengendikkan bahu, kemudian lanjut membaca novel. "Bukan orang jahat gak menutup kemungkinan untuk gak nyakitin kan, jangan gampang percaya dulu!"


Dia tidak menanggapi lagi. Meskipun memang aneh, tapi sampai detik ini Venus tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepada Mars, kecuali tentang kejadian kemarin.


Kejadian hari itu, benar-benar aneh. Bahkan Venus sampai dibuat tidak bisa tidur karena kepikiran. Dia yakin betul, tangan Mars yang membuat besi baja itu bengkok.


"Gab..." panggilnya.


"Apa?" Gabby menyahut tanpa minat. Matanya masih fokus membava novel, tapi telinganya juga menunggu Venus kembali bicara.


"Menurut lo, mungkin gak sih manusia bisa bikin baja bengkok cuma dengan sentuhan tangan?"


Pertanyaan itu menarik perhatian Gabby, gadis itu kini menatap Venus sepenuhnya. Dengan wajah bingung. "Ngaco lo, ya mana mungkin!" tukasnya langsung.


Venus juga mikir begitu, tapi tidak mungkin matanya salah lihat kan.


"Nih ya, kalo alien kek di buku yang gue baca gini, itu baru mungkin. Tapi ngawur banget kalo sampek ada alien di Bumi" lanjut Gabby.


Alien?, manusia jadi-jadian?, mana mungkin!. Venus yakin betul kalau Mars adalah manusia sungguhan. Fisik cowok itu tidak ada yang berbeda. Sibuk menerka-nerka keadaan, Venus memilih browsing di internet. Tapi hasil pencarian itu, malah semakin membuatnya bingung.


Siluman, vampire, dan alien.


Dari semua opsi, tidak ada satupun yang masuk kriteria.


"Apa mungkin kemaren gue salah liat?"


**************


Venus: Lo pulang duluan aja, gw msih ada krja kelompok sama Gabby.


Mars baru membaca pesan yang masuk 20 menit yang lalu. Cowok itu berdecak, sia-sia dia menunggu. Dia kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana dan mulai mengendarai mobilnya keluar dari area Clarion, benar-benar meninggalkan Venus.


Cowok itu mengendarai mobilnya dengan cepat, dan cuma butuh waktu 20 menit dia sudah sampai di gedung apartemen tempatnya tinggal. Mars masuk ke dalam lift, memencet tombol dan menunggu benda persegi itu membawanya naik ke atas.


Setibanya di lantai 10, Mars langsung masuk ke dalam unit apartemennya setelah berhasil membuka pintu. Cowok itu menuju sofa dan langsung merebahkan tubuhnya disana. Dia bingung, seharian ini badannya terasa aneh. Mars tidak pernah merasa gerah sebelumnya, tapi hari ini dia merasakan itu.


"Apa ini karena waktu gue di Bumi tinggal sedikit?"


Waktu yang tersisa tinggal 3,5 bulan lagi. Tapi kenapa Mars tidak seantusias dulu, padahal ini yang dia tunggu-tunggu. Seperti ada yang mengganjal di hatinya untuk tidak pergi. Namun kalau dia tidak pergi, kemungkinan dia akan hancur di Bumi akan semakin besar.


"Kenapa lo harus dateng disaat waktu gue disini semakin terkikis?"


...****************...


Venus



Mars



Venus sama Gabby