Another Star

Another Star
Aneh



Bell pulang berdering tepat pukul 14.00 waktu setempat. Seluruh siswa dan pengajar segera bergegas memberesi barang mereka dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Mengistirahatkan badan dan pikiran yang sudah seharian digunakan untuk beraktifitas dan memikirkan masalah hidup.


Venus memasukkan buku-buku tebalnya ke dalam tas ransel warna putih yang setiap hari dia bawa. Matanya kemudian melirik kearah Gabby, gadis itu tampak sedang memberesi bolpoin ke dalam wadah.


"Gab" panggilnya.


"Apa?"


"Pulang nebeng dong, mager gue jalan ke metro" ucap Venus sembari memakai tas ransel di pundak. Sedangkan Gabby baru selesai meresleting tasnya yang ada di bawah meja.


"Gak bisa, hari ini gue ada les ballet dulu"


Venus menghela nafas kecewa. Dia lupa kalau hari ini hari Rabu, yang berarti ini adalah jadwal latihan ekskul ballet. Ekstrakulikuler yang diikuti oleh Gabby sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Sedangkan Venus?, mana ada. Dia yang masuk ke dalam jajaran kaum mageran mana mau merelakan waktu rebahannya untuk mengikuti ekstrakulikuler sekolah. Pulang telat dikit aja dia nangis.


"Kenapa gak minta anter pangeran kutub lo itu" ucap Gabby.


"Mustahil cowok kek dia mau nganterin gue. Dingin, kaku, cuek gitu. Kalo sampek dia nganterin gue pulang, gue berani kayang di pinggir jalan saat itu juga"


Memang sih, Venus suka Mars. Tapi melihat sikap cowok itu yang kadang tidak manusiawi dia juga mikir-mikir kalau mau berharap. Diajak ngobrol aja kadang gak direspon, apalagi nganter pulang. Nggak akan mau!.


Venys berani bertaruh demi kera sakti dan Biksu Tong yang masih berusaha mencari kitab suci!.


"Gue pegang ya omongan lo, kalo sampe si mas planet itu nganterin lo, lo harus kayang di depan gue!. Gak gue kasih ampun" sahabatnya itu malah ngajak taruhan. Venus memutar bola matanya malas.


"Terserah, tapi gue jamin dia gak bakalan ada niat nganterin gue. Mau gue pulang apa kagak juga dia gak bakal peduli" sahutnya kemudian.


Guru pembimbing keluar dari kelas setelah memberikan salam, diikuti siswa-siswa lain yang juga ikut keluar untuk segera pulang.


"Gue duluan ya Ve, udah ditunggu anak-anak lain di ruang latihan" Gabby berdiri dengan terburu-buru setelah melihat chat di ponselnya. Venus cuma mengangguk sebagai jawaban.


"Lo pulangnya ati-ati, jam-jam segini biasanya banyak anak berandal nongkrong di halte" Gabby memberi pesan sebelum dia pergi dan cuma dibalas acungan jempol oleh Venus. Toh dia belum mau pulang, gadis itu memilih duduk-duduk dulu di kursi depan kelasnya sambil bermain game di ponsel.


Satu persatu siswa mulai melipir keluar, menyisakan sedikit dari mereka yang masih berada di kelas ataupun lapangan untuk melaksanakan kegiatan ekskul yang diikuti. Venus melirik kearah kelas Mars, pintu ruangannya sudah tertutup rapat yang berarti siswa di kelas itu sudah pulang semua. Tapi perasaan daritadi dia tidak melihat cowok itu lewat, apa mungkin dia tidak sadar?.


Mencoba untuk mengalihkan pikirannya, Venus bangkit berdiri dan bersiap untuk pulang setelah menyadari kalau sekolahan sudah sepi dan waktu semakin sore. Rasanya lumayan horror juga, dia jadi merinding. Gadis itu bergegas keluar dari gerbang yang masih dijaga security.


Venus berjalan sendirian menyusuri trotoar untuk mencari taksi atau kendaraan apapun yang bisa memgantarnya pulang. Dengan ditemani lagu Justin Bieber yang mengalun lewat earphone, gadis itu berjalan riang dan tidak memperdulikan sekitar. Hingga langkahnya tiba di depan halte yang letaknya berdekatan dengan sekolah. Sial, Venus melupakan omongan Gabby tadi. Ternyata gadis itu benar, banyak anak berandalan sedang nongkrong disana. Ditemani sebotol wine yang dibagi sama rata, mereka tertawa bersama entah menertawakan apa.


Venus sudah mau putar balik, tapi sayang salah satu dari mereka sudah keburu melihatnya. "WOY ADA CEWEK CAKEP TUH!"


Ini mah namanya double apes!. Sekarang dia bingung harus ngapain. Mau lari juga percuma, cowok-cowok itu sudah mendekat kearahnya.


"Mau kemana cantik, kok puter balik?!" cowok dengan tindik di hidung itu bertanya kepada Venus sambil tersenyum licik. Diikuti tatapan penuh nafsu dari temannya yang lain. Rasanya Venus sudah seperti ayam betina yang masuk ke dalam kandang buaya.


"Mau pulang lah!' sahut Venus dengan ketus, matanya menatap was-was kearah lima orang ini. Dia takut digrepe-*****.


"Pulang ke rumah gue aja gimana?" salah satu dari mereka menawari dan yang lain tertawa menanggapi.


"Dih, ogah. Enakan pulang ke apart gue, ada AC nya" lah, gadis itu malah pamer.


"Udah ke rumah gue aja, nanti kita olahraga bareng"


Tangan Venus tiba-tiba ditarik oleh cowok itu, jelas dia berontak. Kulit putihnya sedikit memerah karena pegangan mereka, dia bersumpah akan mencucinya dengan sabun 12 kali.


"IH LEPASIN TANGAN GUE, APAAN SIH MAIN TARIK-TARIK!" gadis itu berseru dengan kencang.


"LEPASIN GAK!. IHH LO BAU, BELOM MANDI KAN LO?!"


"Enak aja, gue udah mandi ya!" cowok bertindik itu menjawab dengan kesal. Kini fokusnya sudah bukan lagi pada tangan gadis itu, tapi pada omongannya.


"Apaan, boong!. Buktinya ketek lo bau terasi"


Masih dengan sebelah tangan yang memegangi tangan Venus, cowok itu mencium keteknya sendiri. Dia sedikit berjengit lalu mengarahkan keteknya kepada temannya.


"Ketek gue bau cong?" tanyanya.


"Hooh, bau ikan asin anjirrr. Belum mandi berapa hari sih lo?!" temannya juga ikut bergidik. Bau ketek Paul membuat perutnya jadi mules. Bau ketek cowok itu melebihi kentut tukang parkir di area swalayan.


"Tuh kan dibilangin bau juga, gak percayaan!" Venus menimpali dengan nada mencibir. "Sini gue kasih parfum, tapi tangan gue lepas dulu!"


Dengan tampang bodoh, Paul melepas tangan Venus dan menunggu gadis yang sedang merogoh tas ransel itu. Dia mengeluarkan sebotol mini parfum warna peach yang selalu dia bawa, dan memamerkannya kepada Paul.


"Nih cium, wangi kan" ucap Venus seraya mengarahkan botol parfumnya ke hidung cowok itu.


"Iya woy, bagi dong. Malu nih entar kalo ketemu gebetan gue tapi bau terasi"


"Nih bawa aja, tapi ada syaratnya"


"Apaan?"


"Lo gak boleh gangguin gue, terus kalo gue lewat gak boleh dicegat. Besok gue bawain parfum lagi" gadis itu membuat penawaran yang akhirnya disetujui oleh Paul. Memang ya, kayaknya cuma Venus yang bisa menego seorang berandal cuma dengan parfum lokalan.


"Wihh, keren juga lo" sepergian Paul dkk, Ronal tiba-tiba datang bersama motor sportnya yang membuat Venus terjingkat kaget. Cowok itu entah sejak kapan berada di ujung jalan sana, memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.


"Cuma gitu doang mah kecil" Venus menjentikkan jari, seolah menunjukkan kalau Paul tidak ada apa-apanya. Padahal dia tadi sempat ketakutan, dikit.


Ronal tersenyum simpul. Sebenarnya dia sudah tau Venus sejak lama, tapi dia tidak terlalu tertarik dengan kehidupan gadis itu. Cuma sekedar tau wajah dan nama, selebihnya Ronal tidak peduli. Tapi hari ini, dia malah melihat sisi lain Venus yang membuatnya terkesan.


"Gue Ronal" cowok itu memperkenalkan diri, yang hanya dibalas Venus dengan delikan malas.


"Udah tau" jawabnya.


Siapa sih yang gak kenal Ronal. Nama cowok itu sangat populer di Clarion dan selalu disebut-sebut sebagai anak pemilik sekolah. Venus sampai bosan mendengarnya.


"Mau gue anter pulang, daripada lo sendirian?"


"Gak perlu"


"Siapa juga yang minta dibaikin sama lo?!" sahutnya agak ngegas.


"Cantik-cantik galak banget" Ronal bergidik ngeri, apalagi saat melihat lirikan setajam silet yang Venus tujukan untuknya.


"Bodo amat!"


"Udah ayo balik sama gue, disini sepi. Gue gak bisa jamin kalo berandal tadi gak bakal balik kesini, apalagi sogokan lo cuma parfum" cowok itu sedikit terkekeh mengingat hal tadi. Hal paling konyol yang pernah dia lihat. Disaat seorang perempuan dihadang berandal, bukannya takut malah diajak negosiasi.


Venus berpikir sejenak, dia melihat Ronal beberapa kali. Benar juga, bagaimana kalau berandal tadi balik lagi. Dia kan gak bisa berantem, kalau nanti dia dimutilasi bagaimana?!. Tidak, tidak, dia belum siap mati. Dia belum kaya dan belum jadi istrinya Mars, Venus menolak mati kalau untuk sekarang.


Gadis itu hendak menjawab, tapi baru saja dia membuka mulut seseorang dari arah belakang menyela. "Dia pulang sama gue"


Venus dan Ronal sama-sama menoleh. Pandangan mereka langsung tertuju pada sosok laki-laki jangkung yang kini tengah bersandar pada pintu mobil sport miliknya. Masih dengan tatapan dingin dan kaca mata yang bertengger di hidung, cowok itu berjalan menghampiri Venus yang masih terbengong tidak percaya.


"Ayo pulang!" serunya lagi.


Venus mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi apalagi halu.


"Eh anak baru, apa-apaan sih lo. Baru dateng udah ngajak-ngajak Venus!" Ronal menatap sengit kearah lawan bicaranya. Tepat kearah cowok pemilik bola mata tajam berwarna hitam yang memiliki sejuta rahasia di dalamnya.


"Lo pulang sama gue atau dia?"


Venus menelan ludahnya beberapa kali. Jelaslah dia akan memilih pulang bersama orang ini. Kapan lagi dia bisa diantar pulang oleh pangeran es-nya, Mars Ellerick.


"Gue pulang sama Mars" putus Venus dengan senyum sumringah yang dia suguhkan kepada Mars. Sedangkan cowok itu, hanya menatapnya tanpa ekspresi.


Mars kemudian beralih menatap Ronal yang terlihat kesal. Cowok itu menaikkan kedua alisnya seraya berkata, "Udah jelaskan?. Venus balik sama gue".


Setelah mengucapkan kata tersebut, Mars meraih tangan Venus dan menariknya menuju mobil yang berada tidak jauh dari sana. Venus tidak memberontak, bahkan dengan senang hati ikut kemanapun Mars membawanya pergi. Berulang kali dia melirik tangannya dan cowok itu, senyum Venus terulas lebar.


Saat sudah sampai di depan pintu, Mars melepas gandengannya dan menyuruh gadis itu untuk segera masuk lewat sorot mata yang dia berikan. Venus manyun tapi tetap menurut. Padahal tadi dia sudah berharap kalau Mars akan membukakan pintu mobil untuknya seperti yang ada di serial drama. Tapi nyatanya Venus harus kembali tertampar akan realita kalau berharap terlalu tinggi itu tidak baik.


Setelah memastikan Venus masuk dan duduk dengan nyaman barulah Mars menjalankan mobilnya meninggalkan area itu. Di dalam mobil mereka hanya saling diam, Mars fokus menyetir dan Venus sibuk memikirlan topik obrolan.


"Mars, ini mobil lo?" seorang Venus memang paling tidak bisa kalau disuruh diam. Mulutnya terasa gatel saat menghadapi situasi canggung seperti ini.


"Bukan"


"Terus?"


"Nyuri"


Cowok itu menyahut dengan asal, membuat Venus kesal sendiri dan berakhir dia melayangkan pukulan ke bahu Mars. "IHHH MARSS SERIUS!" serunya kesal. Mars terkekeh kecil, sebentar sekali tapi mampu membuat Venus terpaku. Dia sampai bingung bagaimana caranya bernapas.


Apa tadi?, Mars tertawa?. Itu adalah tawa pertama yang dia lihat di wajah cowok itu. Sangat manis dan candu. Akh Venus menyesal karena tidak mengabadikannya. Dia sampai bingung, bagian mana dalam wajah Mars yang menunjukkan keburikan. Sepertinya saat pembagian burik dia tidak datang.


"MARS JANGAN KETAWA ENTAR GUE PINGSAN" gadis itu berteriak sembari menutup wajahnya. Mars tersenyum simpul lalu menggeleng singkat.


"Lebay" ucapnya pelan.


Venus memukul bahunya lagi. Sepertinya gadis itu memiliki hobi baru, yaitu melakukan tindak kekerasan.


"Tapi seriusan deh, ini mobil siapa woy. Lo gak ngebegal kan?!"


"Bodohh, ya ini mobil gue lah"


"Lo sejak kapan punya mobil" tanya Venus lagi.


"Sejak tadi" Mars menyahut asal.


Venus berdecak, ternyata Mars lebih menyebalkan dari yang dia kira.


"Tau akh sebel!"


Mars hanya tersenyum tipis saat melihat gadis di sampingnya sedang mode ngambek. Bahkan menatapnya pun tidak mau. Cowok itu cuma menatap sekilas, dia tidak tau bagaimana membujuk perempuan ngambek dan tidak mau tau juga sebenarnya.


Mereka saling diam sampai tiba di apartemen. Dua orang itu masuk ke dalam lift yang sama tapi Venus keluar lebih dulu karena lantai apartnya lebih bawah ketimbang milik Mars.


Pintu lift terbuka di lantai 5, Venus hendak keluar tapi sebelum itu dia mengucapkan terimakasih kepada Mars.


"Thanks udah nebengin" ucapnya. Gadis itu lalu keluar dari lift tapi baru juga dua langkah dia pergi, Mars mengatakan sesuatu.


"Gue tunggu lo kayang di pinggir jalan"


Mata Venus melotot. Gadis itu buru-buru berbalik badan, tapi baru saja dia hendak bertanya, pintu lift sudah tertutup dan membawa Mars pergi dari sana.


"Gila, kok dia bisa denger omongan gue di kelas tadi?!" gumamnya bingung. Padahal dia yakin betul kalau tidak ada seorang pun yang bisa mendengar kecuali dia dan Gabby.


...****************...


Mars



Venus



Gabby



...JAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE MANTEMAN...