Another Star

Another Star
Kita yang (tidak) Mungkin



Malam itu di rumah sakit, Mars menunggu dokter keluar dengan gelisah. Dia tidak tau lagi bagaimana keadaan Venus seandainya dia terlambat datang. Mengingat kondisi perempuan itu tadi saja rasanya Mars sangat kesal karena kurang cepat tiba disana. Venus dalam bahaya dan dia malah tidak ada.


Dokter keluar dari ruangan, kini berganti Mars yang masuk ke ruangan itu. Langkah lebarnya membawa diri untuk mendekat ke arah Venus yang sedang terbaring di kasur. Perempuan itu sudah bangun, mata teduhnya menatap Mars penuh arti. Waktu terasa berputar lambat saat Mars berjalan mendekat, ke arah mata itu. Rasanya bumi seperti berhenti saat dia menatap Venus.


Langkahnya sampai di pinggir ranjang. Dan tatapan itu belum terputus. Baik keduanya masih sama-sama diam, membiarkan emosi mengambil alih situasi saat ini.


"Keadaan lo gim—,


"Siapa lo sebenernya?" Venus memotong ucapan Mars dengan pertanyaan. Matanya melihat mata Mars dengan lekat. Mata itu, mata segelap obsidian dengan segala rahasia di dalamnya.


"Gue?" ulang Mars dengan ragu. "Gue Mars, Mars Ellerick".


"Gue, gue nggak tau lo ini apa Mars" perempuan itu menatapnya asing, dan Mars tidak suka. Dia mengerutkan kening bingung, heran kemana arah pembicaraan Venus.


"Maksud lo?"


"Gue tanya sekali lagi, siapa lo sebenernya?"


"Tadi gue udah jawab, jadi buat apa gue jawab lagi?" cowok itu menjawab dengan tenang, disertai wajah datar andalannya. Wajah yang membuat orang lain, bahkan Venus sendiri tidak bisa menebak apa isi otak cowok itu.


Venus meringis, dia mencabut selang infus di pergelangan tangannya.


"Lo udah gila?!" desis Mars sembari menatap kesal ke arah perempuan itu. Tapi Venus tidak peduli. Dia turun dari ranjang, berdiri menghadap Mars yang lebih tinggi beberapa senti darinya.


"Jawab gue dengan jujur" Venus menjeda sebentar guna mengambil nafas panjang untuk menetralisir debaran jantungnya yang saat ini gila-gilaan. "Lo. Ini. Apa?"


"Kenapa lo terus ngulang pertanyaan yang sama?" tukas balik Mars. "Lo sampe ngebahayain diri lo sendiri cuma buat nanyain hal gak guna kayak gini?!"


Untuk pertama kalinya, Venus melihat kobaran amarah itu di mata Mars. Setelah sekian lama, dia baru melihat cowok itu benar-benar kesal saat ini.


"Sekarang balik ke kasur lo, gue panggilin dokter"


Tanpa Venus sadari kalau Mars seperti itu karena dia, peduli.


Cowok itu sudah hendak pergi saat Venus mencegahnya. Bukan ini tujuan pembicaraan mereka sekarang.


"Yang gue butuhin sekatang itu jawaban lo, bukan dokter!!" Venus berseru. Perempuan itu menarik nafas, berusaha mengontrol perasaannya sendiri.


"Siapa lo Mars, tadi gue lihat lo bisa teleportasi buat nyelametin gue. Gue nggak buta ya, gue bisa lihat dan ingat dengan jelas apa yang lo lakuin tadi!" kini Mars bungkam.


"Oh ya, bukan cuma itu!" nafas perempuan itu memburu. Matanya menuntut kejelasan dari Mars yang sejak tadi bungkam.


"Tingkah lo selalu aneh bagi gue, lo bisa lempar bola sampe ratusan meter, lo bisa penyokin besi cuma dengan sekali pegang, bahkan lo bisa bergerak secepat itu!!. Sekarang jelasin ke gue, siapa lo sebenernya dan kenapa lo disini?!" suara Venus agak meninggi, tanda dia mulai frustasi dengan segala teka-teki hidup Mars yang sulit ditebak.


Mars masih bungkam, dengan wajah datar dan tatapan menusuknya. Logat tenang itu seperti tidak ada emosi, seolah dia memang tidak takut apa-apa. Padahal sekarang Mars sedang memperkirakan banyakk hal, apa Venus memang saatnya untuk tau?.


"Jawab gue Mars!!. Jangan buat gue terus-terusan nebak hal yang enggak-enggak tentang lo!!"


Wajah Venus jadi makin pucat karena pikirannya dipaksa untuk terus bekerja. Tangannya bahkan sedikit bergetar, tanda kalau dia mulai kedinginan lagi.


"Gue nggak peduli" tapi Venus membantahnya dengan mudah, seolah mempermainkan emosi Mars saat ini. "Jawab gue, sekarang!"


Rahang Mars mengeras, tatapan itu semakin tajam dan dingin. Mengikis nyali Venus yang tiba-tiba meluap entah kemana.


"Oke kalo lo maksa!" Mars maju dan Venus mundur. Mars yang ini benar-benar bukan seperti Mars yang dia kenal. Auranya benar-benar mengerikan.


"Lo mau tau siapa gue?" Mars terus maju, mendesak Venus untuk mundur hingga punggung perempuan itu merapat ke tembok. "Gue akan kasih tau ke lo!" dia meletakkan tangannya di kedua sisi kepala Venus, mengunci pergerakannya.


"Lo pengen tau gue yang sebenernya kan?" Mars mengarahkan satu tangannya ke arah kursi yang terletak di sudut ruangan tanpa melepas tatapannya dari mata Venus. "Gue tunjukkin ke lo sekarang!!"


Cowok itu mengarahkan tangannya ke atas, membuat kursi itu ikut terangkat tanpa disentuh. Venus tercengang dengan mata membola. Lalu Mars menjatuhkan kursi itu dengan kasar, hingga bunyi benturannya dengan lantai terdengar sangat keras. Venus kaget sekaligus takut. Mars yang ini benar-benar seperti monster.


"Sekarang lo liat kan, gue bukan orang baik, Ve!" dia lalu melihat gelas di meja, menatapnya dengan tajam lalu gelas itu pecah dengan sendirinya. Venus kontan menjerit kaget.


Mars kembali menatap Venus intens, memaksa perempuan itu untuk membalas tatapannya. Kini Venus baru melihat sisi Mars yang seperti ini.


"200 tahun yang lalu, gue dateng ke tempat ini dari luar angkasa. Tapi waktu balik, gue tertinggal dan bikin gue harus tetep disini sampai sekarang, sampai gue bisa balik ke planet gue. Gue dan lo, kita nggak sama"


Penjelasan itu seperti sebuah dongeng untuk Venus. Andai dia tidak ada di posisi seperti ini, mungkin dia akan tertawa lepas untuk menertawakan cerita Mars yang menurutnya konyol. Alien, apa-apa ini?.


Tapi setelah kejadian tadi, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cowok itu menggerakkan barang tanpa menyentuh. Bahkan memecahkan barang cuma dengan melihat. Dan pada akhirnya Venus tau, kalo Mars bukan hal yang bisa dibuat bercandaan.


"Gue bisa nyakitin lo kapan aja, kapan pun gue mau. Jadi setelah ini gue harap lo jangan berharap apapun ke gue. Karena lo tau sendirikan. Kita itu cuma kayak kemustahilan yang dibuat penulis dengan harapan supaya kita bisa sama-sama. Padahal itu nggak mungkin" ucap Mars seraya menatap mata Venus dalam-dalam. Memendam segala rasa sakit hatinya. Ini adalah jalan terbaik untuk mereka. Berakhir tanpa dimulai.


"Jangan cinta sama gue, Ve" kata Mars lagi.


"Jangan berharap apapun sama gue".


"Jangan lagi ada gue di hidup lo"


"Gue nggak peduli!!" suara Venus yang terpendam, akhirnya keluar juga. "Gue nggak peduli lo siapa, mau lo alien, mau lo vampire, atau zombie sekalipun, gue nggak peduli Mars" satu tetes air matanya jatuh.


"Gue bodo amat kalo lo bisa sewaktu-waktu nyakitin gue, karena yang gue tau, Mars nggak akan nyakitin Venus. Mars nggak akan jahat sama Venus, karena Mars itu baik"


Dan akhirnya Mars menemukan 'rumahnya' dalam diri perempuan ini.


"Karena gue sayang lo, jadi apapun yang nggak mungkin akan jadi mungkin!!" Venus dan sifat keras kepalanya tidak pernah bisa disanggah. "Dan gue harap lo juga punya perasaan yang sama ke gue, Mars. Kalaupun nggak, izinin gue terus ada di deket lo".


Mereka sama mengunci tatapan satu sama lain. Hingga akhirnya Mars mundur selangkah, dia tidak boleh melewati batas.


"Ini nggak segampang yang lo pikirin" kata Mars seraya terus mundur menjauhi Venus. Perempuan itu bergerak maju.


"Sekali lagi, lupain gue Ve. Supaya lo nggak sakit"


Dan akhirnya Mars benar-benar balik badan, berlari ke arah balkon dan menghilang saat dia melompat. Venus berlari ke arah balkon, melihat ke samping, atas, dan bawah untuk mencari keberadaan Mars. Tapi cowok itu sudah menghilang.


"GUE NGGAK AKAN LUPAIN LO MARS!!". Venus berteriak kencang, "SAMPE KAPANPUN!!".