
Kemunculkan Mars di sekolah ini tentu membawa dampak tersendiri untuk Venus. Dia yang dulunya cuma sekolah suka-suka, kini menjadi sangat bersemangat untuk datang ke sekolah. Hampir setiap hari, dia tidak pernah absen untuk mampir ke kelas Astronomi sekedar untuk melihat Mars sedang membaca buku di kursi belakang.
"Mars, mau kemana?" Venus mengimbangi berjalan di samping Mars saat cowok itu sendirian. Mars melirik kearahnya, cuma sekilas.
"Perpustakaan" sahutnya singkat.
"Gue ikut boleh gak?"
"Gak!"
"Dih, kenapa?" Venus bertanya dengan muka kesal.
"Soalnya lo berisik!"
Venus melongo tak percaya. Disaat cowok lain mengantre untuk bisa duduk bersamanya, cowok kutub bernama Mars itu malah menolaknya mentah-mentah. Tidak, Venus tidak terima penolakan.
"Ihh Mars kok gitu sih!" gadis itu mencebik.
Mars mendengus di depan sana. Rasanya dia sangat ingin menceburkan Venus ke kandang beruang supaya dia bisa terbebas dari manusia satu itu. Satu aja sudah menyiksa kupingnya, bagaimana kalau banyak. Bisa-bisa dia mati duluan sebelum sempat kembali ke planetnya.
Mars mempercepat langkahnya, membuat Venus kesulitan mengimbangi. Perpustakaan ada di gedung 2, mereka harus melewati lapangan basket lebih dulu. Kebetulan disana ada anak kelas lain sedang olahraga basket.
Venus setengah berlari mengejar Mars sampai tidak sadar kalau ada bola yang mengarah kearahnya. Mars melihat dari kilatan ekor matanya. Buru-buru cowok itu berbalik badan secepat kilat, meraih tubuh Venus ke dalam pelukannya sebelum bola menyentuh gadis itu. Bola mendekat dan langsung dihalau Mars menggunakan sebelah telapak tangan kiri. Tanpa perlu menggunakan kekuatan ekstra, bola itu terpental sangat jauh hingga terlempar keluar sekolah.
Seluruh siswa yang ada disana melongo tidak percaya. Mars melihat tangannya sendiri, sial dia tanpa sadar mengeluarkan kekuatannya. Tatapannya kemudian beralih pada Venus yang dia peluk, kontan dia melepaskan pelukannya hingga membuat gadis itu terjatuh ke tanah.
"Marsss, kenapa gue dijatohin!!" Venus berdecak kesal.
"Sakit tau!!"
"Lo pikir lo enteng?"
Singkat, jelas, nyakitin. Dikira badan Venus segede gaban?. Heiii berat badannya cuma 53 kg, cukup ideal untuk ukuran anak sekolah menengah.
Seakan tidak mau menjadi pusat perhatian, Mars pergi duluan meninggalkan Venus yang sedang menahan dongkol setengah hidup.
"MARSS, KOK GUE DITINGGAL!!" gadis itu berteriak dengan suara nyaring, membuat orang-orang yang ada disana menoleh kearahnya. Venus mendengus, udah pantat sakit, sekarang malah ditinggal sendirian. Double shitt!!.
"Mars bangsatt!!" umpatnya dalam hati.
Sebagai perempuan mandiri yang kalo jatuh bangun sendiri, Venus bangkit dari duduknya dengan kesal. Membersihkan roknya yang kotor, sembari terus mengumpati Mars yang tidak punya perasaan.
"Ganteng ganteng kelakuannya kek setan!!"
Venus dengan muka cemberutnya masuk ke dalam kelas, mengundang tatapan bingung dari Gabby yang sedang mengerjakan tugas. Gabby si anak ambis.
"Napa tuh muka, sepet amat" celetuk Gabby.
Venus menarik kursinya dengan kasar, lalu duduk sembari mengacak rambutnya kesal. "Aaa kesel kesel kesellll"
"Gue cantik gak sih Gab?"
Gabby melihat penampilan Venus dari bawah sampai atas dengan tatapan menilai, "Cakep kok. Kalo lo jelek gak mungkin lo masuk nominasi 3 besar cewek paling cantik di sekolah"
Di Clarion, ada nominasi siswa dan siswi paling populer di sekolah karena paras mereka dan Venus masuk nominasi 3 besar, lebih tepatnya dia berada diurutan kedua. Tapi nominasi itu adalah nominasi paling aneh dan tidak berguna bagi Venus. Disaat siswi lain sangat membanggakan nominasi itu, dia malah tidak memperdulikannya. Apa yang perlu dibanggakan dari sekolah modal tampang?
"Tapi kok dia nolak gue terus ya, padahal badan gue udah spek Lalisa Manoban gini. Muka gak kalah cantik dari Roseanne, emang picek matanya tuh orang" gadis itu terus-terusan menggerutu. Membuat Gabby jadi ikut bingung, ini yang dimaksud siapaa.
"Siapa sih yang lo omongin, cowok yang mana?!. Tumben-tumbenan lo suka cowok duluan"
Persahabatan mereka sudah terjalun lama, Gabby paham betul bagaimana tabiat Venus. Perempuan paling tidak ramah kalau urusan cowok. Dari sekian banyaknya murid lelaki yang mengantre untuk jadi pacarnya, tidak ada satupun yang nyantol. Bahkan Victor yang notabenenya adalah cowok paling ganteng di sekolah pun masih Venus tolak.
"Dia tipe gue banget Gab, ya ampunn. Udah ganteng, cool, tinggi, suaranya berdamage, wangi lagi. Akhh makin terpesona deh gue" gadis itu cekikikan sendiri membayangkan sosok Mars, cowok paling paket lengkap yang pernah dia temui. Apalagi saat mengingat kejadian tadi, dia dan Mars sangat dekat. Bahkan wangi parfum cowok itu masih terekam jelas di penciumannya. Ya tuhan, sadarkan Venus bahwa mencintai secara berlebihan itu tidak baik.
"Doain gue ya Gab, moga aja gue bisa dapetin pangeran gue" Venus menggoyangkan bahu Gabby, "Udah dulu ya, gue mau nyamperin jodoh gue dulu"
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berlari keluar kelas dan menuju ke kelas astronomi. Membuat Gabby makin tak habis pikir dengan pola pikirnya. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia marah-marah karena ditolak, tapi sekarang sudah kembali semangat untuk mendapatkan orang yang dia mau.
**************
Di kelas astronomi, adalah sekumpulan anak-anak ambis yang memiliki obsesi terhadap peristiwa luar angkasa. Awalnya Venus menganggap mereka sangat kurang kerjaan, ngapain juga rotasi dan revolusi bumi dihitung segala. Tapi siapa sangka sekarang dia malah jatuh hati dengan salah satu dari mereka.
Mars Ellerick, diam-diam Venus menyebut nama itu dalam hati saat matanya menangkap sosok lelaki itu sedang duduk diam di kelasnya dengan mata terpejam serta telinga yang tersumpal earphone. Wajah tampan itu terlihat sangat tenang, Venus tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana.
"Hai Venus, nyariin Mars ya?" Karen, salah satu anak astronomi yang sedang di luar kelas menyapa Venus. Tentu dia tau alasan gadis itu kesini. Sejak 4 hari yang lalu Mars masuk, Venus tidak pernah absen untuk mampir ke kelas astronomi sekedar untuk menyapa Mars di pagi hari ataupun untuk melihat cowok itu sedang membaca.
"Hehe, iya nih. Gue boleh masuk nggak?" sahut Venus sambil mengumbar senyumnya.
"Boleh lah, kek sama siapa aja. Masuk gih, Mars ada di dalem"
Setelah mendapat lampu hijau, Venus langsung masuk ke dalam kelas. Siswa disana menyambutnya dengan senang hati, kapan lagi kelas mereka didatangi cewek cantiknya Clarion. Venus menyapa mereka dengan senyuman, lalu dia melihat Mars yang seperti tidak menyadari keberadaannya.
Gadis itu menarik salah satu kursi di depan Mars, lalu duduk disana sembari terus memperhatikan cowok itu. Mars menyadari hal itu, meskipun dia memasang earphone dan matanya terpejam, insting kuatnya bisa menyadari kehadiran seseorang tanpa perlu melihat. Tapi dia enggan untuk merespon, karena pasti tidak akan ada habisnya.
"Mars, gak niat buka mata?" Venus bertanya setelah sekian menit tapi Mars tetap diam. Gadis itu mendengus, melihat hidung mancung Mars dia jadi gemas ingin mencubitnya. Hidung sempurna seperti perosotan TK.
Tangan Venus bergerak maju, hendak menyentuh hidung Mars mumpung pemiliknya tidak melihat. Tapi tiba-tiba Mars terbangun, memegang pergelangan tangannya saat jarak antara tangannya dan hidung Mars cuma kurang 2 cm.
Venus membalas tatapan Mars yang sedang melihatnya. Gadis itu tersenyum tipis, jantungnya berdegup kencang saat berada di dekat seorang Mars Ellerick.
"Jangan sembarangan pegang badan orang!" suara berat Mars membubarkan lamunan Venus. Cowok itu melepas pegangan tangannya, membuat Venus diam-diam merasa kecewa.
"Lagian lo sih, disamperin malah gak ngerespon" bibir gadis itu mencebik kesal.
"Emang gue nyuruh lo buat ngelakuin itu?. Nggak kan?!"
Skakmat, Venus mati kutu.
"Ya minimal lo ngasih feedback kek, tanya 'Venus kenapa kesini, ada yang bisa gue bantu?' gitu . Peka dikit dong jadi cowok"
Mars mengangkat kedua alisnya, kok jadi dia yang disalahin. Kan Venus yang datang sendiri, dia juga tidak mengharapkan gadis itu untuk kesini.
"Ngapain lo kesini?" dia bertanya dengan muka lempeng tanpa ekspresi. Benar-benar manusia kutub. Venus heran kenapa dia bisa suka dengan makhluk seperti ini.
"Mau ketemu lo" dia menjawab to the poin. Gak pake kode-kodean, takut kalau Mars gak peka lagi.
"Dasar gak jelas" cibir cowok itu pelan.
"Gue emang gak jelas, tapi perasaan gue ke lo udah pasti jelas kalo cinta"
Tolong kasih tau Venus tentang pentingnya jaga imej╥﹏╥
"Tapi gue gak peduli!"
************
"Mars.....!!!"
Suara itu lagi, Mars rasanya sangat ingin membuat pemilik suara itu ke luar planet. Dia sudah sangat hafal siapa yang memanggilnya. Seorang perempuan yang entah datangnya darimana, tiba-tiba mengganggu hidupnya yang semula tenang tanpa gangguan.
"Marsss..." Venus berlari mengejar cowok pemilik punggung lebar itu. Tapi yang dipanggil tidak mau berhenti. Padahal Venus yakin kalau Mars mendengar panggilannya.
"Ihh lo kok gak mau berhenti sih!!"
Mars cuma bisa menghela nafas panjang saat gadis itu tiba-tiba menghadang jalannya. Berdiri dengan nafas ngos-ngosan, Venus menatapnya kesal sambil memvenahi rambutnya yang berantakan.
"Gak teriak-teriak bisa gak sih, sakit kuping gue denger suara lo!" ucap Mars dengan muka kesal. Ekspresi pertama yang Venus lihat di muka datar itu.
Venus menyengir lebar, tidak menghiraukan tatapan jengkel yang cowok itu berikan secara terang-terangan. "Lo mau ke metro kan?. Bareng yuk" ajaknya. Tapi Mars tidak menanggapi. Dia berjalan melewati Venus hingga membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Mars jangan benci-benci, entar takutnya malah jadi cinta"