
Siang itu Venus mendapat panggilan dari Miss Teresa untuk membantu menata data diri siswa-siswa kelas 3. Awalnya Venus tidak mau, tapi saat guru itu terus memaksanya dia tidak punya alasan untuk menolak.
Di ruang operator sekolah, gadis itu duduk sendirian sembari menata setumpuk berkas milik siswa dan mengurutkannya sesuai kelas. Benar-benar merepotkan.
"Sial banget gue hari ini, gara-gara ngurusin berkas gue gak bisa ketemu Mars!!" gerutunya sambil meletakkan selembar kertas dengan kasar. Dia mendengus, mau kabur juga gak bisa. Bisa-bisa dia diseret oleh Miss Teresa dan dihukum membersihkan toilet lagi seperti minggu lalu. Ogah banget!
Mau tak mau dia meneruskan pekerjaannya. Berkas masih kurang setengah tumpuk, tapi punggung Venus rasanya sudah pegal. Memang susah kalo jadi remaja jompo, dikit-dikit kesemutan, dikit-dikit sakit pinggang.
Tangan gadis itu terus memilah hingga dia menemukan berkas milik Mars Ellerick. Kalo begini dia gak jadi kesal. Dengan senyum lebar, Venus membuka map hijau itu dan membaca data diri Mars. Berharap kalau dia akan mendapatkan informasi penting dari sana.
Mulai dari nama lengkap, sekolah asal, dan alamat dia baca semua. Sampai akhirnya dia menemukan sesuatu yang dia cari-cari, nomor telepon Mars. Di sekolah ini memang selalu begitu. Guru konseling akan meminta nomor telepon setiap siswa untuk berkas dan arsip di ruang konseling.
Sekarang Venus merasa sangat senang. Akhirnya dia mendapatkan nomor Mars, pasalnya tidak ada yang punya nomor cowok itu. Bahkan rekan sekelasnya pun tidak ada yang memiliki.
"Ini sih namanya rezeki anak baik!!"
**********
Rasanya sangat tenang saat hidupnya tidak diganggu oleh suara perempuan bernama Venus. Perempuan yang entah datang dari mana, tiba-tiba muncul dan selalu mengikutinya kemana pun. Bahkan gadis itu tanpa sungkan selalu mampir ke kelas cuma untuk memperhatikannya.
Venus menyukainya, Mars tau itu. Gadis itu menunjukkan secara terang-terangan. Tapi Mars memang tidak tertarik. Bukan karena dia tidak suka perempuan. Venus cantik, dia akui itu. Tapi mereka berbeda, kalau pun dia mengizinkan Venus untuk masuk ke dalam hidupnya, gadis itu akan sakit sendiri nanti.
Dan dia tidak mau itu. Biarlah dia pergi tanpa harus merasa terbebani karena meninggalkan seseorang suatu saat nanti.
Mars berjalan sendirian, tetap tenang sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Banyak siswi menyapa, tapi dia hanya melihat mereka sekilas. Tanpa menjawab apapun.
Cowok itu menuju arah kantin. Ada satu hal yang perlu kalian ketahui. Meskipun dia bukan makhluk Bumi, tapi dia bisa memakan makanan manusia. Tubuhnya sudah terbiasa dan bisa mentolerir asupan makanan yang masuk. Tapi satu yang tidak boleh, dia tidak bisa bercampur darah dengan manusia. Itu sebabnya dia selalu makan sendirian.
Kantin atau Cafetaria sekolah hari ini lumayan sepi. Dia menghampiri meja pemesanan dan memesan Sup Borscht,
kuliner khas rusia. Tidak lupa dengan sepotong roti tawar. Ada hal unik dengan penduduk Rusia. Mereka akan memakan apapun menggunakan roti. Roti adalah menu makanan utama mereka, dan mereka akan tetap merasa lapar kalau belum mengkonsumsi roti dalam sehari.
Setelah pesanannya siap, Mars membawa makanannya ke taman belakang sekolah. Disana sepi dan tenang, tidak ada banyak orang disana dan Mars menyukai itu.
Di sebuah bangku, bawah pohon rindang, Mars memakan makanannya dengan tenang. Suasana seperti ini yang dia mau, damai tanpa gangguan manusia. Hanya terdengar suara angin dan daun bergerak yang terdengar. Mars sangat menikmati waktu ini.
Saat makanannya sudah habis, telinganya tanpa sengaja mendengar suara seseorang. Seperti suara orang bertengkar. Mata cowok itu memicing, dia menerawang ke area sekitar. Retinanya menangkap dua orang laki-laki yang dikeroyok oleh sekumpulan orang di tempat yang berjarak 300 meter dari tempatnya berdiri sekarang. Tepat di gudang samping sekolah ini. Tempat yang jarang dijamah manusia.
Mars berdecak, dia paling tidak suka dengan kecurangan dalam hal apapun itu. Dengan sangat terpaksa dia menghampiri sekumpulan orang tadi. Tidak perlu waktu lama, cuma butuh waktu 3 detik dia sudah sampai di tempat tujuan. Mars melihat dari balik tembok saat dua lelaki tadi dipukuli oleh lawan yang berjumlah sekitar 10 orang. Mereka berusaha melawan, tapi karena kalah jumlah mereka terpukul mundur.
"Jadi gini cara main kalian?. Cupu!" dia berseru dengan lantang. Membuat atensi semua orang teralihkan kepadanya. Sekumpulan orang itu menatapnya sinis. Mereka melepas tubuh dua orang tadi hingga membuat keduanya terjatuh di tanah.
"Siapa lo?. Mau cari mati?!" salah satu diantara mereka-yang paling menonjol dan sepertinya dialah leader disitu, bertanya dengan nada angkuh. Cih, Mars sangat muak melihat muka songongnya.
"Gak bisa berantem lo?, sampek lawan dua orang aja pakek acara keroyokan!" cowok itu menjawab dengan muka datar, tetap tenang seperti tidak punya rasa takut.
Orang itu tertawa remeh, "Lo anak baru ya sampek gak kenal gue?" desisnya.
"Gue, Ronal Clarion. Anak dari pemilik sekolahan ini" cowok bernama Ronal itu berucap dengan nada sombong khasnya. Membanggakan harta milik orang tua, padahal disana dia cuma numpang nama.
Mars menatapnya tanpa minat. Cowok itu bersedekap dada, menantang Ronal lewat sorot mata tajam yang dia berikan. "Terus?"
Melihat respon santai dari orang di depannya, Ronal menaikkan kedua alisnya keatas kemudian terkekeh sinis. "Beggo ya lo?. Apa perlu gue perjelas?" dia menjeda, "Gue anak pemilik sekolah, yang berarti gue adalah penguasa disini. Gue bisa aja minta bokap gue buat ngeluarin siapapun yang coba buat ganggu, ngelawan, ataupun orang yang nggak gue suka. Jadi, lo semua, termasuk lo anak baru, kalian harus nurutin semua perintah gue kalo gak mau hari ini jadi hari terakhir kalian sekolah di Clarion"
Ronal berucap dengan percaya diri. Kini giliran Mars yang terkekeh sinis. Bahkan suara tawanya membuat beberapa orang merinding, cowok itu memiliki aura yang tidak biasa.
Mars maju beberapa langkah, berdiri tepat dihadapan Ronal tanpa takut dengan anak buah cowok itu yang sudah bersiap menyerang, "Jangan mimpi!!" Mars menepuk pipi Ronal keras. "Mau lo anak presiden sekalipun, gue gak peduli. Karena bagi gue cowok kayak lo ini, cuma cowok cupu yang sok jagoan terus beraninya cuma ngandelin harta orang tua" serang Mars dengan kata-kata menusuk.
Ronal mengepalkan tangannya kuat-kuat. Raut muka cowok itu sudah merah, pertanda kalau dia sedang murka. "Bangsatt!"
Ronal melayangkan tinjunya ke muka Mars tapi berhasil ditahan. Tanpa mengeluarkan tenaga yang besar, Mars memelintir tangan Ronal hingga berputar 180°. Bisa dipastikan sesakit apa. Cowok itu mengerang kesakitan.
"Lepasin tangan gue bangsatt!!" dia berseru dengan lantang. Asli, tangannya serasa mau patah. Komplotannya ingin mencoba menyelamatkan, tapi tidak berani saat Mars melempar tatapan tajam kearah mereka. Mereka masih ingin punya tangan yang utuh.
"Teriakan lo gak merdu, sakit kuping gue!" Mars mendorong tubuh Ronal ke tanah. Cowok itu mengerang sembari memegangi tangan kanannya yang terasa patah.
Mars tertawa jahat melihat lawannya kesakitan, " Habis ini dateng ke bokap lo, lapor kalo tangan lo dipatahin sama Mars"
Ronal melihatnya penuh kebencian. Baru kali ini ada yang berani melawannya. "Gue bakal bales perbuatan lo!"
************
Baru kali ini Mars menyesal sudah memasuki sebuah tempat. Ternyata di Clarion banyak orang-orang gak jelas. Mulai dari Venus, Ronal, dan banyak lagi. Kenapa dia bertemu dengan banyak orang gak waras?!.
Ketenangan cuma dia dapatkan di Apartemennya. Tempat sunyi dan dia suka itu. Pukul 22.00 mata Mars masih terbuka lebar, padahal lampu kamar sudah dia matikan.
Cowok itu menatap lekat atap kamarnya yang bernuansa abu-abu. Bayangannya mengukir pola galaksi disana. Rasanya dia tidak sabar untuk menunggu 5 bulan lagi agar dia bisa segera kembali ke planet dimana dia berasal.
Disaat fokus seperti ini, telinga Mars dapat menangkap suara-suara bising yang berasal dari luar. Seperti suara kendaraan di bawah sana, suara tetesan air dari toilet, suara bisik-bisik manusia yang tinggal di samping apartemennya,dsn banyak lagi. Cowok itu menghela napas kasar lalu merubah posisinya menjadi duduk.
Kalo begini caranya dia tidak akan bisa tidur sampai pagi. Mars memilih untuk berdiam diri di perpustakaan yang ada di apartemen. Disana terdapat rak raksasa yang berisi ratusan buku dari generasi-generasi lama sampai sekarang. Yang tentunya berasal dari negara-negara yang dia singgahi.
Cowok itu mengambil salah satu buku jurnal lalu membawanya ke sebuah meja yang sengaja dia letakkan disana. Dia membuka lembar kosong di halaman 573, dan mulai mencoretkan dengan tinta bolpoin disana.
Catatan 5 bulan terakhir di Bumi
Dia baru saja menulis judul, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah chat masuk secara terus menerus. Membuat Mars mendengus dan dengan malas membuka aplikasi chatting yang hanya berisi 5 nomor meskipun ponsel itu sudah dia pakai selama 5 tahun.
+781xxxxx
~Hai
~ Mars,
~lagi apa nihh
^^^Mars:^^^
^^^~Siapa^^^
~Tebak gue siapa
^^^~Jwb atau gue blokir^^^
~Akh gak asik lo!!
~Ini gue, Venus Graziella yang cantik jelita
~Save nomer gw okeyy
^^^~Oh^^^
~Dih, gitu doang?!
^^^~dapet nomer gw darimana lo^^^
~dari suratan takdir asksksk
^^^~stress^^^
~💩
~Jgn lupa save nomer gue!
^^^~👍^^^
~cuek bgt jd cowok, kesel-kesel gue cium nih😁
^^^~berisik!^^^
Setelah itu Mars tidak menjawab lagi. Dia keluar dari aplikasi chatting lalu menonaktifkan ponselnya supaya tidak diganggu Venus lagi. Jujur, dia sudah capek seharian melihat tingkah Venus dan sekarang gadis itu juga akan mengganggunya di chat.
"Gini amat jadi manusia"