
Mars menyelesaikan menulis catatan ke 55 di buku jurnalnya. Coretan kecil tentang kisah kemarin dan hari ini. Detik-detik yang entah kenapa, baru kali ini rasanya menyenangkan. Baru kali ini dia suka.
Cowok itu menutup buku tebal bersampul cokelat polos itu, menumpuk bolpion hitam di atasnya. Di dalam ruang perpustakaan ini, tidak banyak hal yang dia lakukan kecuali menghitung hari. Dan di sisa-sisa hari yang semakin menipis, hal yang paling dia hindari akhirnya terjadi juga.
Dari dulu Mars selalu takut satu hal, yaitu harapan manusia kepadanya. Takut kalau dia tidak bisa, takut kalau semesta marah karena dia gagal.
Tapi sepertinya sebentar lagi dia akan mendapat kegagalan itu. Gagal dalam memenuhi harapan seorang manusia bernama Venus untuk tetap tinggal dan bahagia.
Mars menghela nafas panjang. Tidak bisa menyalahkan Venus, karena dia juga sadar kalau dia lah yang membuka pintu. Dia lah yang mempersilahkan gadis itu masuk, menjelajah lebih jauh tentang hidupnya. Dan sekarang, semua sudah terlanjur. Harapan itu semakin meninggi, menembus batas kemampuan Mars untuk mengabulkan. Dia tidak punya cara.
Selain melangkah mundur mulai sekarang, mungkin?
**********
Hari libur pertama di musim dingin, Venus merasa kesepian karena di Apartemen sendiri. Gadis itu berjalan menuju kaca besar di ruang tengah Apartemennya. Dari kaca besar yang sebagian kacanya memburam karena terkena salju dan uap dingin, dia dapat melihat aktivitas orang-orang di bawah sana. Dari anak kecil yang sibuk membentuk boneka salju sampai aki-aki yang masih enjoy bermain sky.
Puas melihat-lihat sekitar, tangan Venus bergerak menutup gorden jendela. Suhu ruangan sudah dia atur ke mode hangat, tapi hatinya masih terasa dingin. Sudah tiga hari Mars tidak bisa dihubungi. Nomor cowok itu tiba-tiba nonaktif, dan saat Venus datang ke Apartemennya, tempat itu tidak pernah terbuka seolah tidak mempunyai penghuni.
"Sha, enaknya kita nyamperin Mars apa nggak ya?" ucapnya pada boneka panda yang tidak tau pemberian siapa, meminta pendapat seolah benda itu bisa menjawab pertanyaannya. Boneka panda lucu berwarna hitam putih yang dia beri nama Marsha.
"Ya harusnya disamperin dong, kali aja dia kangen sama gue kan?" sahutnya sendiri sambil menyengir lebar. "Kan kata orang cinta itu harus diperjuangin, masak baru dicuekin tiga hari doang udah nyerah. Lo setuju nggak kalo gue nyamperin Mars?"
Tangannya menggerak-gerakkan kepala Marsha ke atas dan ke bawah, lalu dia bersorak sendiri. "Pinter, lo emang selalu sepemikiran sama gue!"
Venus lalu meletakkan boneka itu di pojok sofa ruang tengah. Dia melipir masuk ke dalam kamar, memakai syal dan baju tidak terlalu tebal serta tidak lupa memakai kupluk. Kupluknya yang kebesaran membuat matanya nyaris tertutup, penampilan Venus yang begini semakin mirip dengan anak sekolah dasar.
"Bye Marsha, jagain rumahnya. Gue mau nyamperin jodoh gue dulu!"
Gadis itu melipir pergi, menutup pintu Apartemennya lalu berjalan menuju lift di sudut lorong. Dia melewati beberapa unit Apartemen milik orang, tapi satu unit menarik perhatian Venus. Dia ingat betul saat lewat sini kemarin unit ini masih kosong, tapi sepertinya sekarang sudah ada penghuninya setelah kosong selama 2 tahun. Dulu banyak orang yang menyewa unit ini, tapi cuma sebentar. Menurut gosip yang dia dengar, para penyewa takut karena di unit ini dulu pernah terjadi aksi bunuh diri oleh pemilik lama.
Venus baru akan lanjut berjalan tapi pintu unit Apartemen itu tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok laki-laki bertubuh jangkung dengan wajah western yang khas. Mata tajamnya melihat Venus yang masih terpaku di depan pintu. Alis tebal cowok itu naik sebelah, menatap seorang gadis di depannya dengan bingung.
"Sorry?" ucap cowok itu dengan tatapan tajamnya.
Venus terkesiap, gadis itu buru-buru membenarkan posisi berdiri. Lalu tersenyum canggung kearah laki-laki yang baru dia temui hari ini.
"Oh sorry, penghuni baru ya?". Retoris...! Jelas dia penghuni baru, mereka baru bertemu hari ini dan Venus masih saja bertanya.
Melihat cowok itu tidak menjawab, Venus spontan mengulurkan tangannya mengajak kenalan. Sebagai tetangga yang baik memang harus mau bersosialisasi kan?.
"Gue Venus, pemilik unit di ujung sana" gadis itu menujuk unit Apartemennya yang terhalang dua unit dari tempat ini.
Tidak mau di cap arogan, cowok itu membalas uluran tangan Venus meskipun cuma sekilas. "Darren"
Venus menarik uluran tangannya, "Salam kenal. Semoga lo betah ya, biar gue ada temennya." dia memelankan suara, setengah berbisik. "Soalnya yang tinggal di lantai ini kebanyakan orang sibuk semua"
"Oh ya, itu unit gue" dia menunjuk unitnya sekali lagi, supaya Darren bisa ingat dengan baik. "Kalo lo butuh apa-apa, bisa kok minta tolong ke gue. Anggap aja mulai sekarang kita temenan"
Sudut bibir Darren terangkat membentuk kurva yang sangat tipis. "Thanks"
Venus mengacungkan dua jempolnya sambil menyengir lebar, "Kalo gitu gue duluan ya, mau ketemu orang. Biasalah, orang sibuk" gadis itu terkekeh geli kemudian barangsur menjauh.
Darren masih menatap punggung mungil Venus yang kian menjauh lalu menghilang saat gadis itu masuk ke dalam lift yang membawanya naik ke lantai atas. Perkenalan yang mengesankan, Venus adalah perempuan paling ekspresif yang pernah dia temui. Cowok itu mendengus geli, kemudian menutup pintu Apartemennya dan pergi membeli pasokan makanan di Swalayan.
***********
Ini sudah bunyi bell yang ke 57, itu berarti sudah 57 kali juga gadis itu memencet bell Apartemennya. Mars menghela nafas panjang, ini sudah pukul sebelas siang, 1 jam sejak Venus mulai merecokinya dengan menekan bell tanpa henti dan jangan lupakan suara cemprengnya yang menggema seisi lorong.
Cowok itu menyerah, dia menarik engsel pintu hingga pintu terbuka dan menampilkan sesosok Venus sedang berdiri di depan pintu sambil memeluk kedua sikutnya. Kedinginan.
"Akhirnya lo buka pintu juga, disini dingin tau!" Venus mengerucutkan bibirnya yang mulai pucat karena dingin, mencoba menunjukkan seberapa kesalnya dia meskipun kenyataannya dia tidak pernah bisa marah kepada Mars.
"Kurang kerjaan lo, sampek harus gangguin hidup orang?!" pertanyaan sarkas itu keluar dari mulut Mars dengan sekali tarikan nafas. Venus tertegun saat melihat mata cowok itu. Tatapannya terasa berbeda. Asing, dingin, dan tajam. Tatapan yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu.
"Lo kenapa sih?" tanya balik Venus dengan heran. "Kenapa lo tiba-tiba begini ke gue padahal sebelum-sebelumnya kita baik-baik aja"
Tatapan putus asa bisa Mars lihat di dalam sorot mata cokelat yang gadis itu miliki.
"Apa ini semua karena perasaan yang gue punya buat lo?"
Mars masih bungkam.
"Apa lo nggak pernah nganggep kita itu spesial? Apa cuma gue yang berharap disini?" cecar Venus dengan nada frustasi.
"Lo mau tau jawabannya?" tukas Mars dengan wajah dingin. "Kalo lo mau tau jawabannya, gue akan jawab". Cowok itu menarik nafas sejenak, mencoba untuk mengendalikan segala emosi yang ada di hatinya.
"Gue nggak pernah suka sama lo, sekalipun nggak pernah Ve" ucapnya secara gamblang, jelas, dan yang pasti menusuk ke dalam hati Venus. Gadis itu menahan nafas saat Mars maju dua langkah, berdiri di hadapannya dan hanya menyisakan jarak 2 senti di antara mereka.
"Kalo lo nggak suka sama gue, terus selama ini apa?!" Venus berseru sambil berusaha menahan isakannya. "Rasa perhatian lo selama ini apa, lo selalu ngelindungin gue dari apapun. Lo selalu ada disaat gue butuh lo, sampek-sampek gue mikir kalo lo juga punya perasaan yang sama kayak gue".
"Gue cuma kasihan sama lo. Cewek malang yang hidup sebatangkara karena ditinggal Ayahnya. Gue cuma berusaha buat bantu lo, tapi gue nggak nyangka kalau lo bakal terus bergantung sama gue, nyusahin gue, bahkan menyalah artikan bantuan gue sebagai rasa cinta" Mars mengepalkan tangannya sendiri sebagai luapan emosi dan kekecewaan pada dirinya sendiri.
Air mata Venus jatuh setetes, gadis itu menunduk dalam. Mars segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Mencoba untuk tidak peduli dan kembali mengontrol perasaannya.
"Gue udah peringatin ke lo kan, jangan pernah berharap apapun dari gue. Karena ujung-ujungnya lo pasti kecewa" tambah cowok itu.
Venus mengangkat kepalanya, balas menatap mata tajam cowok itu yang tidak pernah bisa dia tebak apa isinya. "Gue minta maaf kalo gue udah nyusahin lo selama ini, gue minta maaf karena udah ngebebanin hidup lo" dia menjeda sejenak. Mengambil oksigen untuk dadanya yang terasa terhimpit. "Sekarang mau lo apa?"
"Pergi dari hidup gue" ucap Mars tanpa mau menatap Venus.
Gadis itu mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum miris. Menertawakan hatinya yang receh, bisa-bisanya berharap padahal dia cuma dikasihani.
"Gue tahu ini bakal susah banget buat gue, tapi gue akan coba semaksimal yang gue bisa Mars. Demi kebahagiaan lo"
Dada Mars seperti terhantam rasanya. Tapi dia memang pandai mengatur ekspresi dan emosi, seolah semuanya baik.
"Makasih buat semuanya. Untuk rasa kasihan lo buat cewek malang ini. Makasih buat semua moment itu. Gue nggak akan lupa, sampai kapanpun. Gue pamit"
Gadis itu menarik diri untuk mundur. Venus merasa jarak menuju lift sangat panjang padahal dia sudah jauh berjalan. Dia menggigit bibirnya sendiri. Rasa asin dan amis dari darah terasa dari sana. Baru kali ini, tapi rasanya ternyata sesakit ini.
Venus masuk ke dalam lift. Sebelum benda persegi itu tertutup dia bisa melihat Mars masih berdiri di depan pintu, menatap kearahnya. Dan saat itulah tangis Venus pecah, bersamaan dengan lift yang turun ke lantai 5.
Telinga Mars bergetar saat menangkap suara tangis Venus dari dalam lift yang berjalan. Cowok itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu memukul tembok dengan penuh emosi. Dia menempelkan dahinya di dinding dengan rahang menegang. Mars benci takdir ini.
"Sorry Ve" lirihnya.
"Selamat berhenti mencintai gue"
...****************...
1 Kata buat Mars?