Another Star

Another Star
Titik Temu



"Astaga Gabby, iya iya ini gue udah bangun kok!" gadis bernama Venus Graziela itu tampak sedang mondar-mandir di kamarnya sembari menata buku. Efek semalam tidak bisa tidur karena terus kepikiran cowok bak pangeran yang dia temui di metro kemarin sore.


"Lo sih kebiasaan begadang!!. Buruan, kurang 15 menit udah bell" Gabby menggerutu di seberang sana. Selalu saja seperti itu, kebiasaan ceroboh Venus tidak pernah hilang dari dulu.


"Iya Gabby sayang ini gue udah mau OTW, telfonnya gue matiin ya. See u beb" Gadis itu menutup pintu kamarnya sembari mematikan sambungan telepon, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas ransel yang dia bawa.


"Morning, Dad" Venus menyapa ayahnya yang sedang sarapan di meja sendirian. Pria paruh baya itu membalas dengan senyuman kemudian menepuk bangku kosong di sampingnya.


"Makan dulu"


Venus hanya meminum segelas susu kemudian melirik kearah jarum jam, "No, aku udah telat nanti sarapan di sekolah aja"


"Oke, tapi jangan sampe lupa makan. Inget kamu itu punya maag" Mr.Teddy- ayahnya kembali mengingatkan. Sebab Venus memiliki maag akut tapi gadis itu selalu lupa makan dan kadang menyepelekan sarapan.


Venus mengacungkan jari jempolnya sembari menyengir, "Siap Dad, aku berangkat dulu. See u" gadis itu memberikan kecupan ringan di pipi kiri sang ayah kemudian langsung berlari keluar Apartemen. Langkah kakinya belok kearah kiri menuju lift. Setelah benda persegi itu terbuka, buru-buru Venus masuk ke dalamnya dan memencet tombol angka 1 setelah pintu lift itu tertutup.


Di jam segini, pasti akan sangat ramai kalau berangkat menggunakan metro (kereta bawah tanah) dia keburu telat. Terpaksa dia harus merelakan setengah uang sakunya untuk naik taksi.


Venus menoleh ke kanan dan kiri, mencari taksi yang terparkir di pinggir jalan jalan dekat apartemennya. Tapi tidak ada. Gadis itu berulang kali mengumpat dalam hati. Doa melihat kearah jam tangannya, sial 10 menit lagi bell masuk berdering tapi dia masih nangkring di pinggir jalan.


Gadis itu memilih berjalan sedikit kearah barat, barang kali dia bisa menemukan taksi. Mungkin Dewi keberuntungan sedang berpihak padanya pagi ini. Cuma berjalan sekitar 20 meter ada taksi yang parkir. Venus tersenyum lega. Gadis itu berjalan cepat menghampiri taksi. Tapi saat tangannya membuka pintu, ada tangan lain yang juga meraih pintu taksi sehingga tanpa sengaja tangan mereka saling berpegangan.


Venus mendongak, matanya langsung bertemu pandang dengan tatapan dingin makhluk pemilik bola mata gelap bernama Mars. Sejenak Venus lupa caranya bernafas, akhirnya setelah sekian lama dia menemukan pangerannya. Tanpa sadar gadis itu tersenyum lebar seolah mereka kenal, dan hal itu mengundang kerutan bingung di dahi Mars.


"Hai, ketemu lagi kita" dia menyengir lebar. "Gue Venus, nama lo siapa?" seolah tidak menyerah meskipun sudah ditolak kemarin, Venus kembali mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. Sedangkan Mars cuma menatapnya tidak minat. Cowok itu menghela nafas berat. Perempuan seperti Venus ini tipikal orang yang keras kepala. Kalaupun dia menolak kenalan, suatu saat kalau mereka bertemu gadis itu pasti akan mengajak kenalan lagi. Dia risih.


"Mars" cowok itu membalas singkat tanpa membalas uluran tangan Venus. Toh dia cuma ngajak kenalan kan, bukan salaman. Jadi Mars tidak perlu merasa bersalah.


Venus kembali menarik tangannya dengan muka senang. Gapapa uluran tangannya gak dibalas, yang penting dia sudah tau nama pangerannya.


"Salam kenal, Mars"


Rasanya Mars sangat ingin membawa gadis di depannya ini ke psikolog. Dia suka sekali tersenyum tanpa alasan. Apa semua perempuan begitu kalau ketemu cowok ganteng?


Mars enggan menanggapi lagi. Dia hendak masuk ke dalam taksi tapi Venus menahannya. "Loh kok lo yang masuk?" terselip nada kaget dan agak kesal yang gadis itu keluarkan, Mars menyadari itu.


"Gue udah pesen taksi ini lewat aplikasi, jadi ini taksi gue" cowok itu menjawab, yang membuat Venus ingin tenggelam ke segitiga bermuda karena malu. Dia menyengir lagi sembari memainkan jarinya.


"Mars, sorry nih. Gue nebeng boleh gak? Gue udah telat banget soalnya. Entar duit taksinya gue ikut bayar setengah deh, yang penting gue boleh nebeng. Please" Venus memohon sambil mengeluarkan puppy eyes yang dia miliki, jurus ampuh yang biasa dia gunakan saat minta barang ke ayahnya.


Mars cuma diam sembari memberikan tatapan yang tidak bisa Venus artikan. Tak berselang lama cowok itu mundur selangkah sembari membuka pintu taksi lebar-lebar, "Masuk!"


Asli, hari ini seperti hari keberuntungannya. Venus bersorak dalam hati. Seakan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Venus segera masuk ke dalam taksi dan duduk di pojok sebelah kanan. Menyisakan ruang untuk Mars duduk di sampingnya. Tapi cowok itu tak kunjung masuk, dia malah menutup pintu taksi hingga Venus menatapnya bingung.


Supir taksi itu mengangguk menyetujui. Mobil taksi melaju meninggalkan Mars dipinggir jalan sendirian. Venus tidak berhenti melihat ke belakang. Dalam hati dia bingung, sekaligus kecewa karena gagal satu mobil dengan Mars.


"Aneh, katanya mau pergi tapi taksinya dikasih ke gue" dia menggerutu dalam hati.


Mars melihat mobil itu sampai melaju sekitar radius 100 meter. Setelah merasa mobil itu tidak terlihat, dia melihat sekeliling dengan tajam. Lalu hanya dengan satu jentikan jari, waktu berhenti berputar. Semua orang terpaku di posisi terakhir mereka, tanpa ada gerakan. Dan pada saat itulah Mars bisa berbuat apapun yang dia mau. Cowok itu memejamkan kedua matanya, mencoba untuk fokus. Sebelah tangannya maju ke depan dan dalam hitungan detik, dia sudah meninggalkan tempatnya tadi dan telah tiba di tempat yang ingin dia tuju, Clarion Internasional High Scholl.


Mars melihat sekeliling lagi. Dia menjentikan jarinya sekali, dan waktu kembali berputar. Semua orang kembali beraktifitas seolah tidak terjadi apa-apa. Mars berdiri mematung di depan gerbang, banyak murid melewatinya dengan buru-buru karena sebentar lagi bell masuk.


"Ini, Pak. Terimakasih" Venus baru tiba dengan taksinya. Gadis itu turun dari taksi lalu memberikan beberapa lembar uang rubbel kepada supir taksi tersebut.


"Taksinya sudah dibayar lewat aplikasi, Nona" supir itu menolak dengan halus. Lalu segera tancap gas pergi meninggalkan Venus yang masih kebingungan.


"Berarti dibayarin Mars dong" dia bergumam. "Akhh baik banget deh, jadi makin cinta" mungkin akan banyak orang yang menganggapnya gila. Senyum sendiri, ketawa sendiri, lalu loncat-loncat sendiri. Tapi Venus gak peduli, yang dia pedulikan cuma Mars seorang. Makhluk Disney-nya!!.


Venus melangkah masuk ke dalam area sekolah yang untungnya belum bell masuk. Mungkin karena kurang fokus atau bagaimana, dia tanpa sengaja menyenggol bahu seseorang. Seorang laki-laki dengan tubuh menjulang tinggi bagai tiang.


Venus mendongakkan kepalanya untuk melihat orang itu. Matanya langsung berbinar senang, kalau ada orang itu disini, 24 jam sekolah pun dia siap.


"Mars?!" dia berceletuk kaget, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pandangannya kemudian melihat kearah jam tangan yang dia pakai, pukul 07.58 itu berarti 10 menit dari saat mereka bertemu di depan apartemen tadi. Tapi cowok itu sudah ada disini, bahkan lebih dulu darinya yang berangkat menggunakan taksi.


"Lo kok ada disini?. Sekolah disini?. Anak baru ya, kelas apa?. Terus kok lo udah sampe duluan, naik apa tadi?" runtutan pertanyaan Venus lontarkan membuat Mars pusing sendiri. Suara Venus sangat menusuk indera pendengarannya. Sangat berbanding terbalik dengan cowok-cowok lain yang bilang kalau suara Venus seperti suara dewi.


"Bukan urusan lo!"


Busettt, jutek amat mas.


Mars pergi meninggalkan Venus sendirian. Gadis itu mencak-mencak, untung ganteng-batinnya. Kalau tidak mungkin dia sudah menjambak rambut Mars kuat-kuat.


Mars pergi ke Ruang Sekretariat sekolah untuk menanyakan kelasnya. Ternyata dia ditempatkan di kelas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam-Astronomi. Tanpa banyak basa-basi dia langsung pergi untuk mencari kelasnya.


Bell masuk sudah berdering sejak 15 menit yang lalu, membuat gedung sekolah menjadi sepi karena para siswa sedang pelajaran di kelas masing-masing. Mars berjalan menuju lorong 2, naik ke lantai 2 dan akhirnya menemukan kelasnya yang terletak di samping kelas Ilmu Sosial.


Saat dia melewati kelas itu, Venus yang berada di dalam sana kontan melotot. Matanya yang semula ngantuk langsung melek lebar setelah melihat pangerannya masuk ke kelas yang berada di sampingnya pas. Akh kalau begini dia jadi betah di sekolah.


"Ngeliatin apa sih lo?" Gabby ikut menengok tapi saat itu Mars sudah masuk ke dalam kelasnya. Venus malah cengar-cengir, membuat Gabby merinding dibuatnya.


"Lagi ngeliatin masa depan gue" dia berceletuk ngasal.


Gabby kontan memukul pipinya pelan, "Sadar kak, ini masih di sekolah"