Another Star

Another Star
Beda



Pukul 20.00 Venus keluar dari kamarnya karena merasa lapar. Gadis itu melewati ruang tengah dan mendapati ayahnya ada disana sedang mengamati bintang-bintang menggunakan teleskop canggih yang dia punya, kegiatan yang hampir setiap hari selalu pria itu lakukan.


"Daddy lagi ngapain?" Venus menghampirinya dan bertanya, membuat atensi Teddy teralihkan dari lensa teleskop yang dia gunakan untuk melihat aktivitas luar angkasa.


"Mengamati bintang, kamu mau lihat?" sahut pria itu dengan senyuman.


Venus menggeleng kecil sebagai jawaban. Dia tidak terlalu tertarik dengan hal luar angkasa dan sejenisnya. Mempelajari teori sosiologi Ferdinan Tonnies, Karl Max dan kawan-kawannya pun dia sudah pusing. Jangan ditambah lagi dengan teori bagaimana bintang dan bulan bisa mengambang di angkasa. Bisa-bisa otaknya makin keriting dan tidak bisa digunakan!.


Teddy tersenyum lalu kembali menganati langit lewat teleskopnya. Gadis itu masih diam disana. Ikut berdiri di samping sang ayah, dan ikut menatap langit dari kaca besar yang terdapat di ruang tengah milik mereka.


"Dad, gak capek tiap hari ngeliatin bintang-bintang itu?" Venus berceletuk ringan. Matanya masih melihat keatas, membuat pola abstrak hasil dari menghubungkan bintang satu dengan lainnya.


Teddy menoleh lagi, kali ini disertai kekehan kecil untuk anak gadisnya. "Ya enggak lah sayang, kalo kamu suka sama suatu hal, sesering apapun kamu melakukan itu, kamu nggak akan bosen. Karena kamu memang suka, dan kamu ngelakuin itu karena keinginan, bukan paksaan"


Benar juga, Venus membatin. Apa ini sebabnya dia tidak pernah merasa bosan melihat dan mengganggu Mars?. Karena dia sudah jatuh cinta.


"Dad, kenapa ya waktu ada bintang jatuh terus aku bikin permintaan tapi gak pernah dikabulin" Venus kembali berucap, kali ini lebih ngelantur. Seperti biasa, pemikirannya memang selalu di luar nalar.


"Karena yang kamu lihat itu bukan bintang jatuh, Ven. Tapi meteor atau meterorid yang jatuh ke Bumi. Lagian kamu juga aneh, kalau mau sesuatu ya usaha, masak minta sama bintang"


Gadis itu menyengir lebar, toh apa salahnya mencoba.


"Berarti yang jatuh tiga minggu yang lalu juga meteor Dad?"


Teddy mengangguk diiringi senyum tipisnya, "dan kamu tau arti jatuhnya meteor itu apa?" Venus menggeleng.


"Itu sinyal alien untuk komplotan mereka"


Kali ini Venus tertawa ngakak. Dia tau ayahnya memang sangat suka dengan fenomena luar angkasa karena dia memang bekerja di bidang itu, tapi berpikir bahwa ada alien yang hidup di dunia ini adalah pemikiran konyol menurut Venus.


"Astaga Dad, ini udah 2022. Mana ada alien di jaman sekarang, Daddy ada-ada aja deh" masih dengan sisa tawanya, Venus menyahut sembari menggelengkan kepala kecil.


"Mereka nyata, sayang. Daddy dan para ilmuan lain juga sedang melakukan penelitian tentang hal itu. Ini di luar prediksi, dua bulan lalu kami baru menemukan planet Kepler-186f, atau K-186f. Para astronot memprediksi kalau disana ada kehidupan, yang berarti kalau alien-alien ada disana. Terus secara kebetulan tiga minggu lalu ada meteor jatuh, disusul meteor raksasa sekitar 4 bulan lagi yang rumornya jadi pertanda terbukanya pintu planet lain. Kalau hal itu terjadi di Bumi, para ilmuan memprediksi kalau disini ada alien yang tinggal"


Teddy menjelaskan panjang lebar dengan muka serius. Misi ini sangat menarik menurutnya, apalagi kalau harus mencari keberadaan alien di Bumi.


"Terus Daddy mau cari alien itu gitu?"


"Of course, Daddy bakalan dapet 500 juta rubbel dan dapet penghargaan kalau Daddy bisa nemuin salah satu dari mereka"


Venus cuma manggut-manggut, meskipun menurutnya tindakan sang ayah tidak jelas, tapi percuma juga dia mengingatkan. Venus tau betul tabiat Teddy, dia ambisius dan tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau. Bahkan pria itu akan melakukan segala macam cara supaya tujuannya bisa tercapai.


"Oh ya, kamu ada apa keluar kamar?"


"Venus laper" gadis itu berucap dengan manja. Meskipun usianya sudah 18 tahun, tapi Venus masih tetap bersikap layaknya balita di depan sang ayah.


"Mau Daddy bikinin pasta?" Venus mengangguk dengan semangat.


"Ayo kita buat sama-sama"


Teddy merangkul bahu putrinya menuju dapur. Disana mereka memasak pasta bersama, sambil sesekali Venus menjahili sang ayah yang sedang menata bumbu hingga menjadi berantakan. Lalu mereka akan tertawa bersama saat barang-barang jatuh ke lantai dan dapur menjadi seperti kapal pecah.


Pria itu memilih hidup menduda, cuma hidup berdua dengan Venus tanpa adanya pendamping. Itu sebabnya dia selalu menyibukkan diri dengan teleskop dan tumpukan jurnal penelitian di ruang kerjanya untuk mengusir rasa sepi.


Mereka makan bersama di meja makan. Tapi Venus tidak mau makan sendiri, dia meminta Teddy untuk menyuapinya. Benar-benar the real bayi besar.


.


.


.


Jika Venus selalu dikelilingi kehangatan dan kebersamaan, maka berbeda dengan Mars yang selalu ditemani kesendirian. Di malam hari seperti ini, Mars yang tidak suka keramaian selalu menyendiri di dalam unit apartemennya. Bahkan selama 200 tahun hidup, dia selalu makan sendirian.


Bukan tanpa alasan, Mars trauma akan suatu hal. Dia yang berbeda dengan manusia, tidak bisa bercampur darah dengan mereka. Pernah suatu ketika Mars bekerja menjadi guru pembimbing di Sydney 150 tahun yang lalu. Tabiatnya yang jarang tersenyum dan selalu lempeng diam-diam membuat seorang siswa tidak suka padanya. Hal itu juga dipicu oleh sikap acuh Mars yang selalu memberikan banyak tugas tanpa melihat kemampuan muridnya.


Sampai suatu ketika mereka makan bersama di sebuah tempat. Entah saking dendamnya atau bagaimana, siswa itu meludahi kopi yang akan Mars minum. Hal itu bereaksi cepat pada tubuhnya. Suhu tubuh Mars meningkat drastis, badannya lemas seperti orang mabuk, dan kekuatannya menjadi tidak bereaksi dalam beberapa jam. Itu sebabnya dia menjadi menjaga jarak dengan manusia. Tidak terlalu intens dengan mereka, dan karena itu juga Mars selalu makan sendirian.


Apartemennya sangat sunyi dengan pencahayaan temaram, tapi Mars sudah terbiasa. Cowok itu merasa haus setelah menghabiskan makannya, tapi gelas minuman berada di ujung meja. Dia sangat malas kalau harus berdiri untuk mengambil. Mars menatap fokus kearah gelas itu lalu mengarahkan matanya kesisi dimana dia berada, dan dalam hitungan detik gelas itu bergerak dan berpindah tepat di depan Mars. Cowok itu minum dengan tenang.


Setelah selesai makan, Mars mencuci piring dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Cowok itu mematikan lampu lalu naik keatas ranjang. Di tengah kegelapan seperti ini, hanya cahaya dari bulan yang menjadi penerang. Mars menggerakkan matanya untuk membuka gorden di sudut ruangan. Membuat dia bisa melihat pemandangan kota dari kaca besar itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering, cowok itu mendesah berat. Dia sudah menebak siapa yang menghubunginya


Venus


~Mars ganteng kangen gue gak?


~Pasti kangen dong, masak enggak


~Yaudah kita ketemu di mimpi dulu aja ya, nyatanya besok


~Cuma mau ngucapin good night buat Mars


-Jan lupa mimpiin gue


~Night jodohnya Venus


Mars tidak habis pikir melihat tingkah gadis itu. Setelah membaca pesan Venus Mars kembali meletakkan ponselnya tanpa membalas chat tersebut.


"Lo gak mungkin berjodoh sama gue, karena kita beda"


...****************...


Mars Ellerick



Venus Graziella