Another Star

Another Star
Ditinggal



"Kayang yang bener dong, Ve. Gak niat banget sih lo!"


Venus berdecak-decak bahkan hampir misuh saat Gabby enak-enakan menyorakinya yang sedang bersusah payah kayang di pinggir jalan.


"Lo mah enak anjirr tinggal nyuruh-nyuruh, lo pikir kayang gak susah?!" cewek itu menjawab dengan nada frustasi. Dari tadi dia berusaha menguatkan sanggaan tangannya supaya punggungnya bisa terangkat tapi gak bisa-bisa. Venus dan olahraga memang musuh bebuyutan sejak dulu.


"Salah siapa ngajak taruhan kemaren?!" Gabby membalas tidak kalah sengit. Venus berdecak lagi. Dengan mengumpulkan kekuatan sekuat jiwa raga, serta mencoba menyingkirkan jiwa-jiwa kaum rebahannya, akhirnya dia bisa kayang juga meski cuma semenit. Tatapan aneh dia dapat dari orang-orang yang melewatinya. Tapi mereka semua cuma melihat, lalu kembali bersikap acuh. Ciri khas orang Moskow sekali.


"Duh anjirrr" kayang semenit rasanya seperti sejam, Venus mengkis-mengkis setelah selesai melakukan hukuman taruhannya kemarin. Gadis itu lalu bangkit, berjalan sempoyongan menghampiri Gabby yang sedang duduk santai di tempat yang teduh.


"Yaelah, kayang gitu doang aja udah kayak habis disuruh nguli!" cibir Gabby saat melihat Venus minum sebotol air dengan rakus, bahkan langsung habis tanpa sisa.


"Susah goblokk, udah kayak alien aja gue jalan kek gitu" gadis itu mendengus kesal. Tangannya bergerak mengelap dahinya yang basah karena keringat. Butuh waktu 30 menit panas-panasan untuk bisa kayang walau cuma 1 menit.


"Makanya olahraga buk, biar gak jadi remaja jompo terus"


"Kalo olahraganya sama Mars baru gue mau" sahut Venus yang langsung mendapat tampolan di kepala dari Gabby.


"Lo kalo lagi bucin, jijik gue liatnya!" cibir gadis itu.


Venus cuma memutar bola matanya malas. Dia dan Gabby duduk berdua di Cafe depan apartemennya, sambil melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang sore hari seperti ini.


"Kata lo, bokap lo nanti pergi ke California ya. Jadi?" Venus menyahut dengan anggukan, "Jadi lah, entar malem pesawatnya take off.Lagi sibuk penelitian tuh bapak-bapak. Katanya sih, mereka lagi ngadain penelitian tentang Alien. Tapi asli sih Gab, gue gak habis pikir. Masak kata bokap gue di Bumi ada alien terdampar, kan gak mungkin banget ya. Ya kali di zaman sekarang ada alien"


"Tapi kan bisa aja beneran, kita gak tau mereka dimana. Bisa aja mereka nyamar jadi manusia. Terus mereka ada di sekitar lo, Mars contohnya"


Venus kontan menampol kepala Gabby, "Ngaco lo. Mars manusia tulen kali, ya kali ada alien seganteng dia!" ucapnya dengan jengkel.


Gabby mengelus kepalanya yang terasa sakit sembari mendengus kesal, "Bercanda doang elahh, sensi aja lo kalo tentang si kulkas" desisnya.


"Bodo amat!"


********


Venus memasuki unit apartemennya setelah selesai nongki bersama Gabby. Saat membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah ayahnya yang sedang sibuk mengeluarkan koper-koper dari dalam kamar dan menatanya di ruang tengah.


"Daddy berangkat sekarang?" tanya Venus saat dia sudah berhadapan dengan ayahnya.


"Iya, satu jam lagi pesawatnya take-off. Kamu yakin gapapa sendirian?" jawab Teddy sekaligus bertanya.


Venus mengangguk diiringi senyuman tipis, "Gapapa dong, Dad. Kan Ve udah gede"


"Kalo gitu Daddy berangkat sekarang ya, kamu baik-baik di rumah. Jaga diri, jaga kesehatan, see u two weeks again babe!"


Setelah berpamitan singkat, Venus mengantar ayahnya sampai luar gedung apartemen. Laki-laki itu harus memenuhi panggilan atasannya di California untuk membahas kelanjutan dari penelitian mereka.


Setelah melihat ayahnya pergi diantar oleh taksi, Venus kembali masuk ke dalam. Dia menaiki lift yang kala itu sedang kosong. Tapu bukannya kembali ke apartemennya sendiri, gadis itu malah menekan tombol lantai 10.


Kalian pasti sudah bisa menebak dia mau kemana.


Pintu lift terbuka di lantai 10 yang hanya berisi beberapa unit yang ditempati. Venus berjalan riang menuju apartemen Mars yang terletak paling ujung. Saat sudah tiba di depan pintu, gadis itu memencet bell yang ada di depan sambil berharap kalau Mars ada di dalam.


Dia menunggu dengan tidak sabaran, sampai akhirnya pintu terbuka sepuluh menit kemudian. Menampilkan Mars yang berdiri di depan pintu dengan muka datar dan alis terangkat sebelah.


"Ngapain?" tanyanya.


"Mau nengokin lo" sahut Venus sambil tersenyum lebar, "Boleh masuk gak?"


"Gak, udah malem mendingan lo pulang" tolak Mars sekaligus mengusir, tapi bukan Venus namanya kalau langsung menurut.


"Ih Mars ada kodok terbang!" dia menunjuk kearah pojok lorong dengan ekspresi hiperbola, membuat Mars mau tidak mau jadi ikut menoleh. Dan saat cowok itu lengah, Venus bergegas masuk ke dalam hingha membuat si pemilik rumah berdecak kesal.


"Cewek aneh!" dengus Mars kemudian ikut masuk ke dalam. Ditatapnya Venus yang sedang jingkrak-jingkrak dengan muka kesal. Kapan perempuan ini berhenti menganggunya.


"Lo ngapain sih kesini?!" cowok itu berdesis, tapi Venus malah memasang wajah cuek bebek seperti tidak tersinggung.


"Duh, Mars. Harus banget ya gue kasih alesan kenapa gue kesini?. Kan membangun silahturahmi sama tetangga itu baik, jadi ngapain pake alesan" dia beralibi ria, dengan muka tanpa dosa Venus duduk di sofa milik Mars tanpa dipersilahkan. Memang definisi tidak tau malu yang sesungguhnya.


Mars mendengus kesal, dia hendak beranjak pergi dan mengabaikan kedatangan Venus yang memang tidak diundang. Tapi baru lima langkah dia menjauh, gadis itu kembali memanggilnya.


"Perpustakaan" sahut cowok itu tanpa berbalik badan.


"Lo punya makanan gak?. Gue laper dari tadi siang belum makan"


Anggap aja Venus gak tau malu, karena pada dasarnya dia memang gak punya malu. Jadi kalau malu-maluin itu sudah biasa. Bahkan gadis itu dengan santainya minta makan setelah tadi masuk tanpa permisi, Mars kembali menghela napas. Mencoba sabar.


"Ada ramen di dapur, ambil aja" setelah itu dia benar-benar pergi. Menuruni tangga yang menghubungkan ruang tengah dengan perpustakaan bawah. Lalu menghilang deiring dengan belokan tangga.


Venus mendengus kesal, merasa kedatangannya diabaikan. Tapi untuk sekarang dia ingin fokus mengisi perut dulu. Supaya energinya kembali full untuk mengganggu Mars semalaman.


Dengan mengandalkan instingnya, Venus akhirnya berhasil menemukan letak dapur Mars. Dia berdecak kagum, rupanya cowok itu memiliki selera interior yang patut diacungi jempol. Duh jadi makin cinta.


"Wih ramennya masih banyak nih" gadis itu berseru senang saat melihat mie ramen yang masih penuh di dalam wadah, masih panas juga. Tidak mau menunda kegembiraan perutnya, dia segera mengambil mangkuk dan mengambil mie ramen semaunya.


Venus makan dengan tenang di meja makan, sambil sesekali melihat sudut rumah Mars yang nampak sangat sepi, seperti tidak ada orang. Karena dia termasuk orang yang makannya cepat, semangkuk ramen sudah dia habiskan cuma dalam waktu 15 menit. Venus membawa mangkuk itu ke wastafel lalu mencucinya, dia masih punya etika sebagai seorang tamu.


"Mars tadi kemana ya" setelah selesai mencuci mangkuk, gadis itu mencari keberadaan Mars yang tidak kelihatan batang hidungnya. Hal terakhir yang dia ketahui adalah cowok itu pergi ke perpustakaan.


Memang ya, ciri khas anak ambis. Gak siang gak malsm, hobinya main sama buku.


Venus kemudian memutuskan untuk menghampiri Mars. Dia mengikuti jalan yang tadi cowok itu lewati. Ternyata tangga yang menjadi penghubung dua ruangan itu cukuo panjang, tidak lupa dengan pencahayaan yang temaram. Venus sedikit merinding dibuatnya.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan sebuah pintu yang besar. Venus memencet tombol yang ada disana, dan pintu itu bergeser ke samping. Memberikan dia akses untuk masuk. Saat berada di dalam sana, Venus dibuat berdecak kagum dengan tumpukan buku yang mungkin berjumlah ratusan. Tertata rapi di sebuah rak-rak raksasa yang ada disana.


"Gila sih, banyak banget bukunya anjirr. Gue baca buku satu bab aja ngantuk" dia geleng-geleng takjub, merasa penasaran apa iya Mars membaca semua buku ini sendirian.


Langkah gadis itu semakin masuk ke dalam, melihat-lihat beragam jenis buku yang tertata sesuai tema. Sampai akhirnya, tatapan Venus terkunci pada sebuah buku jurnal yang tersempil di antara buku ensiklopedia.


'Life In Earth' Venus membaca judul buku itu dalam hati. Karena merasa penasaran, disa mengambilnya dan membaca buku itu sambil berdiri. Saat lembarannya dia buka, pada halaman pertama terdapat tulisan tangan yang sangat rapi.



Catatan 5 bulan terakhir di Bumi



Rasa penasaran Venus semakin membuncah. Namun, saat dia hendak membuka lembar kedua, suara Mars membuatnya kaget. Cowok itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya tanpa dia sadari.


"Lancang banget sih lo, buka-buka buku orang tanpa izin!"


Mars segera merampas jurnal di tangan Venus dengan muka kesal. Sedangkan Venus masih terbengong-bengong, memikirkan darimana cowok itu datang sampai dia tidak dengar suara langkah kakinya.


"Ya maaf kali, gue kan cuma pengen liat. Lagian baru juga satu halaman" gadis itu mencari pembelaan. Memang ya, perempuan dimana-mana sama aja. Gak ada yang mau disalahkan.


Mars tidak menanggapi lagi. Dia melangkah keluar dari area perpustakaan dan meninggalkan Venus sendirian disana. Gadis itu mencak-mencak kesal. Dia segera menyusul Mars dengan setengah berlari, serem juga ditinggal sendirian disini.


"Mars, ihh kok gue ditinggal" Venus masih membuntuti Mars sampai ruang tengah. Cowok itu berbalik badan, menatapnya jengah.


"Lo ngapain sih, mending pulang!" usirnya.


"Gak mau!" Venus menggeleng cepat. Dia terdiam sejenak, matanya melirik kearah jurnal yang disembunyikan Mars dibalik ketiak. "Tadi gue baca jurnal lo tentang 5 bulan terakhir di Bumi, itu maksudnya apa?. Lo mau pergi, kemana?"


Gadis itu bertanya dengan muka polos. Mars kontan menelan ludahnya, membuat jakun di lehernya bergerak naik turun. "Bukan urusan lo!"


Venus tentu tidak puas dengan jawaban itu. Dia hendak menjawab, tapi baru saja mulutnya terbuka, lampu seluruh gedung tiba-tiba mati total. Gadis itu berteriak histeris, dia phobia kegelapan.


"MARS LO DIMANA?!" Venus berseru sembari meraba-raba udara, mencari keberadaan Mars. Dia panik, dalam keadaan gelap seperti ini dadanya serasa ditimpa beton. Rasanya sesak, ditambah dengan keringat yang mengalir di dahinya.


"Gue disini" suara Mars bagaikan suara peri penolong untuk Venus saat ini. Apalagi saat tangan cowok itu meraih bahunya untuk dipeluk, Venus mulai merasa rileks. "Jangan takut, ada gue"


...****************...


Nih yg gatau kayang itu apa, aku kasih tempe