Another Star

Another Star
Siklus Rasa



Nyatanya, ada banyak alasan yang tidak selalu bisa disampaikan lewat aksara. Setiap orang punya pilihan, punya cara, tapi tidak selalu bisa menjelaskan. Kadang ada saatnya kita cuma perlu diam, membiarkan orang-orang berpendapat menurut presepsi masing-masing tanpa perlu menjelaskan hal yang 'sebenarnya'. Bukan karena terlalu pengecut, tapi selalu ada kondisi dimana 'diam' lebih baik daripada 'bicara' tapi menghancurkan.


Diamnya Mars bukan tanpa alasan, menjauhnya Mars juga bukan tanpa alasan. Dia punya alasan, tapi dia juga tau. Alasannya tidak akan diterima, alasannya akan menyakiti banyak orang, dan alasannya adalah sebuah 'petaka' untuk semua orang.


Akhirnya dia memilih diam.


Ditemani secangkir cokelat panas yang asapnya masih menguar dari dalam cangkir, Mars mendengar senandung melody akustik dari band cafe yang diprakarsai 4 orang laki-laki.


Bunyi berisik dari klakson kendaraan di jalan, semakin menggambarkan betapa ricuhnya tempat ini saat para pekerja mulai memasuki cafe karena sudah waktunya istirahat. Mars menghela nafas. Segera dia bangkit menuju kasir, dan membayar pesanannya tadi dengan beberapa lembar uang rubbel.


Cowok itu lalu berjalan keluar. Memasukkan telapak tangannya ke dalam coat warna navy yang dia gunakan untuk menghalau dingin dari salju yang turun. Nyatanya di tengah salju yang sedang turun deras-derasnya, Kota Moskow tidak pernah berubah. Mereka masih sama, ramai tapi acuh. Tidak peduli kalau salah satu penduduknya sedang tidak baik. Moskow tidak pernah menanti.


Kalau Moskow adalah buku, Mars ingin cepat-cepat menuliskan kata 'Tamat' di bawah halamannya. Supaya dia tidak perlu lagi bangun di tempat ini, menghadapi gedung-gedung raksasa, bau asap kendaraan, dan bunyi berisik mesin kereta. Mars benci langkah tergesa-gesa para pekerja di lobby stasiun, Mars benci ocehan tidak penting anak-anak kecil saat balapan sky, Mars benci segala sesuatu tentang Moskow yang membuatnya merasa 'sendiri'.


Sampai tepukan di bahu membuat cowok itu menoleh. Alan dan Elfan, duo tablo yang sudah lama tidak muncul, tiba-tiba berdiri di belakangnya sambil menyengir lebar.


"Woy lama nih nggak ketemu!" Alan merangkul bahu Mars dengan tampang tengil andalannya.


"Kita yang nggak ngeliat lo, apa lo yang nggak pernah keluar kelas ya" tambah Elfan setelahnya.


"Ngapain juga keluar kelas kalo harus ketemu orang-orang aneh" jawab Mars yang terkesan acuh.


"Wihh ngerii" sorak Alan dan Elfan secara bersamaan.


Mars cuma geleng-geleng kepala. Mereka jalan bertiga, lalu duduk di kursi pinggir jalan dekat Stasiun Metro. Berseberangan dengan pedagang-pedagang makanan pinggir jalan yang sedang sibuk melayani pembeli.


"Ini pertemuan pertama kita setelah jadi temen sebulan lalu" Elfan memulai pembicaraan.


"Hooh ya, semenjak resmi temenan batang hidung lo nggak pernah keliatan" Alan menimpali sambil menoleh kearah Mars yang duduk di tengah.


"Susah emang temenan sama orang nolep" seloroh Elfan disertai cengiran, Mars berdecak keras.


"Gue nggak nolep anjirr"


Wuhuu, umpatan pertama Mars setelah sekian lama!!.


"TAPI ANSOS!" tukas Alan dan Elfan bersamaan.


"Buat apa juga kenal sama orang banyak, kalo ujung-ujungnya harus saling pisah, terus dilupain gitu aja". Begitulah persepsi Mars tentang hidup. Dimana setiap penghuninya hanya akan berdiri di tiga fase. Bertemu, dekat, lalu berpisah. Sampai akhirnya mereka akan saling melupakan.


"Kalo prinsip hidup lo kayak gitu, curiga deh gue kalo selama ini lo belum pernah jatuh cinta"


"1000% gue yakin tebakan lo bener!" Elfan berucap hiperbola pada anggapan Alan.


"Pernah", diluar dugaan. Dua cowok itu kontan menoleh kearah Mars setelah dia menjawab.


"Sumpah?!"


"Sama siapa anjirr?!"


"Gila banget tuh cewek"


Mars cuma tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. Tatapannya menjurus kearah penjual roti di seberang jalan sana. Penjual yang mengingatkannya pada seorang perempuan baik hati, yang tidak pernah lupa berbagi, pemilik senyum sehangat mentari. Perempuan yang tidak pernah lupa untuk menjalankan Askida Ekmek untuk membantu mereka yang membutuhkan.


"Salah satu manusia, yang nggak ada duanya, dan salah satu spesies langka di Bumi"


Alan dan Elfan sontak memajukan badannya kearah Mars saat cowok itu mulai bicara.


"Tapi dia juga orang pertama yang bikin gue tau apa itu arti kehidupan"


Dia Venus


Andai Bumi adalah sebuah buku, Mars ingin segera menuliskan kata tamat di baris akhir episodenya. Tapi mungkin Venus adalah satu-satunya bagian dari Bumi yang Mars ingin biarkan agar tetap hidup.


"Gue jadi penasaran sama tuh cewek" ucap Alan menanggapi.


"Udah diperjuangin belum bro?"


Mars menggeleng kecil, disertai senyuman tipis di sudut bibirnya. "Belum"


"Lo perjuangin lah anjirr, percuma cinta tapi gak ada usaha. Sama aja kayak lo pengen kaya tapi kerjaannya cuma tiduran" Elfan berseloroh kesal. Jomblo-jomblo gini, dia tipikal orang yang pantang mundur sebelum dapat orang incarannya. Sayangnya cuma gak pernah diterima aja.


"Ngapain, nggak ada gunanya. Gue sama dia, itu cuma kemustahilan yang dipaksakan" balas Mars dengan tenang.


"Kalo ujung-ujungnya cuma buat dia kecewa, mending nggak usah kan?"


*****************


Malam itu semua hal terasa seperti asing bagi Venus. Dari kecil dia tidak pernah sendiri, tidak pernah kurang kasih sayang, dan tidak pernah sekecewa ini. Tapi mungkin ini memang siklus hidup yang dibicarakan orang-orang dewasa. Kalau kita sebagai manusia, jangan terlalu bahagia dengan keadaan. Takutnya besok malah terjadi sebaliknya. Kecewa.


Empat tahun hidup di Moskow, membuat Venus menyadari bahwa kota ini penuh dengan ketidakpedulian dan sesak.


Diisi oleh dua belas juta jiwa, kota ini terlalu sesak untuk menampung malam-malam panjang yang kita sesap di jembatan penyeberangan bersama sebotol air mineral yang ikut dingin karena suhu. Kota ini terlalu sesak untuk menampung perasaan-perasaan setiap penghuninya yang ingin segera ditembakkan kepada si pencuri rasa.


"Udah malem, nggak mau pulang?" seruan dari seseorang membuat Venus menoleh cepat ke belakang. Sosok laki-laki jangkung, dengan mata segelap obsidian dan paras western khasnya yang mencolok. Membawa sebotol kecil vodka di tangan, dan menampilkan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Masih belum pengen pulang" sahut Venus mencoba ramah.


Darren mengambil posisi berdiri tepat di samping Venus. Melihat kendaraan berlalu-lalang di bawah sana. Lampu-lampu gedung menyinari malam gelap hari ini. Tidak ada bintang, mungkin mereka malu. Atau mungkin sedang tertutup eksistensi salju di Bulan Januari.


"Biasanya orang yang nggak suka pulang, berarti kebahagiaan yang dia cari nggak ada di rumah itu" suara Darren menjadi satu-satunya suara yang terdeteksi di telinga Venus dari sekian banyak suara berisik di sekitar.


"Emang nggak ada" ucap Venus sembari tersenyum kecil.


"Gue juga" Darren ikut tersenyum kecil. Dia meminum vodka yang dia bawa sedikit.


"Empat tahun lalu gue sama Daddy dateng kesini, berusaha bikin kenangan baru dan ngelupain kenangan lama. Tapi ternyata kenangan barunya nggak seindah skenario gue. Semesta punya skenario sendiri yang nggak bisa gue tolak alurnya" gadis itu mulai bercerita.


"Tapi bukannya itu emang tugas semesta, bikin skenario se-plot twist mungkin supaya manusia-manusianya tau arti hidup, arti perjuangan, dan tau kalau siklus bahagia dan kecewa itu emang nyata", Darren memang bukan orang yang teoritis tentang hidup. Tapi kalau bicara tentang siklus hidup, dia ahlinya. Tentang siklus bahagia dan kecewa, dan tentang apa itu arti kehilangan.


...****************...


Venus



Mars



Darren