
"Jangan takut, ada gue"
Rasanya Venus sangat ingin menghentikan waktu, supaya saat-saat dirinya ada di dalam pelukan Mars bisa berlangsung lebih lama bahkan tidak pernah berakhir. Saat cowok itu menarik bahunya untuk mendekat, disitulah jantung Venus serasa ingin melompat dari tempatnya. Sikap Mars yang berubah tiba-tiba membuat Venus bingung. Tapi dia suka.
Mereka duduk berdua di sofa panjang dengan posisi Venus yang masih memeluk pinggang Mars kuat dan lengan cowok itu yang berada di atas pundaknya. Kini yang dia pikirkan bukan lagi bagaimana cara mengendalikan rasa takut, tapi bagaimana caranya dia bisa mengendalikan detak jantungnya yang berdetak kencang di dalam pelukan seorang Mars Ellerick. Berada di dekat cowok itu memang bisa membuatnya sesak nafas.
Tower listrik yang mengalami masalah membuat aliran listrik dalam gedung itu terpaksa dipandamkan dalam beberapa jam ke depan. Seluruh penghuni Apartemen resah, kecuali Venus tentunya. Dia malah berharap kalau lampu bisa mati lebih lama lagi.
"Mars"
"Hmm?" suara Mars menyahut di dalam keheningan. Kini Venus yang mengumpat dalam hati, kenapa deheman cowok itu terdengar sangat merdu di telinganya.
"Thankyou, udah mau nemenin gue"
Tanpa Venus sadari, cowok bernama Mars itu menyunggingkan senyum tipis di tengah kegelapan. Dia mengangkat kepalanya, lalu meletakkan dagunya di atas kepala Venus. Membiarkan gadis itu bergerak-gerak di atas dadanya.
Mars tidak menyahut, dan Venus tidak bicara lagi. Ruangan menjadi sangat hening, membuat suara kendaraan berlalu-lalang di bawah sana dapat terdengar. Jarum jam berdetak dengan seirama, berputar tanpa disadari bahwa waktu 4 jam sudah terlewati. Lampu gedung menyala pada pukul sebelas malam. Ruangan menjadi sangat terang. Mars menunduk dan mendapati Venus sudah tidur pulas di pelukannya.
Dia terdiam sembari menatap wajah Venus lekat-lekat. Mata bulat yang biasa menatapnya penuh binar kini tertutup rapat hingga kedua sisi bulu mata lentik itu menyatu. Bibir yang biasanya selalu mengoceh dan memberinya senyuman terindah kepadanya kini tertutup, tanpa senyuman. Wajah gadis itu terlihat sangat tenang saat tidur. Mars tidak bisa bohong, dia menyukai semua yang ada di wajah Venus.
Tapi satu lagi, dia harus sadar diri. Semestanya dan semesta Venus berbeda. Mereka tidak akan bisa menentang alam.
"Lo gak salah, perasaan lo juga gak salah, gue yang salah karena tinggal di tempat yang gak semestinya".
**********
Venus menggeliat kecil saat sinar matahari menerjang penglihatannya. Perlahan mata gadis itu terbuka, dia langsung terduduk saat menyadari kalau dia sudah berada di dalam kamar yang bukan kamarnya. Venus melihat ke sekitar dengan hingung, tapi selang beberapa menit dia bernafas lega saat tau kalau ini kamar Mars. Terbukti dari foto cowok itu yang terpasang di dinding kamar.
Sekarang Venus jadi berpikir, apa mungkin semalam Mars menggendongnya. Kalau benar, dia sangat menyesal karena tidak bangun sehingga dia tidak bisa merasakan saat-saat digendong oleh pangeran kutubnya. Duh, memikirkan itu Venus jadi cengar-cengir sendiri.
"Pantesan tidur gue nyenyak banget, ternyata abis digendong pangeran!" gadis itu mencak-mencak diatas kasur. Bahkan cuma membayangkan pun dia sudah salting, gimana kalau dia mengalami betulan. Bisa-bisa Venus pingsan di tempat.
Mars yang berada di dapur, tanpa sengaja menangkap suara Venus meskipun jarak kamar dan dapur sangat jauh. Itu berkat kelebihan pendengarannya, dia bisa mendengar suara meskipun dalam radius ratusan meter.
Dia cuma bisa menggeleng kecil, sudah bukan kejutan lagi kalau respon Venus sangat heboh. Gadis itu memang selalu hiperaktif diberbagai kesempatan.
Mars menyiapkan sarapan untuk mereka. Ya meskipun cuma sandwich, setidaknya sebagai tuan rumah dia masih memiliki adab dengan tidak membiarkan tamunya pulang dalam keadaan lapar.
Selang beberapa menit, Venus keluar dari kamar dan langsung menghampiri Mars di meja makan. Wajah gadis itu berseri-seri saat di pagi hari begini dia sudah disuguhi pemandangan yang menyedapkan mata, yaitu Mars.
"Pagi Mars ganteng" sapa Venus dengan senyum terutas lebar. Sedangkan yang disapa cuma mengangguk dan menyuruhnya makan dengan isyarat mata yang dia berikan.
"Makan!" satu kata perintah keluar dari mulut cowok itu. Venus cuma mendengus singkat, sudah hal biasa kalau sapaannya diabaikan oleh Mars.
"Ini lo bikin sendiri?" Venus kembali bicara saat melihat sepotong sandwich di atas piring. Memang gak serapi masakan chef terkenal di restoran, tapi tampilannya tidak terlalu buruk juga.
"Yaiyalah" sahut Mars singkat seraya memakan makanannya.
Venus manggut-manggut beberapa kali. Meski awalnya sedikit ragu, tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk makan. Satu suapan pertama, matanya langsung melotot. Sumpah, sandwich Mars lebih layak makan daripada mie goreng buatannya yang selalu gosong.
"Ini enak banget!" gadis itu berseru dengan mulut yang dipenuhi roti sehingga suaranya tidak begitu jelas.
"Telen dulu makanannya!" tegur Mars segera.
Venus mengunyah makanannya dengan cepat, takut dimarahi paduka lagi. Akhirnya mereka makan dengan tenang, Venus menjelma menjadi gadis baik dan penurut supaya Mars tidak mengusirnya. Saat tengah makan, dia teringat akan ponselnya yang semalaman dalam kondisi mati. Dia lalu mengambil ponsel yang dia letakkan di saku hoodie, dan menekan tombol on.
Butuh waktu sekitar 5 menit untuk menunggu alat canggih itu benar-benar menyala. Saat sudah menyala, ada puluhan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Venus mengerutkan kening bigung. Karena tidak mau penasaran berkepanjangan, akhirnya dia memutuskan untuk menelpon balik. Suara dering tunggu terdengar dari operaror, sampai akhirnya panggilan tersambung dan suara seorang laki-laki menyahut dari seberang sana.
"Hallo?" Venus menyapa lebih dulu, "Maaf ini siapa ya?. Ada keperluan apa telfon saya?" tanyanya.
"Benar ini dengan Nona Venus Graziella?"
"Iya, dengan saya sendiri" gadis itu menyahut lagi, entah kenapa dia merasa ini bukan pertanda baik.
"Kami dari maskapai penerbangan AWLJ AIR, ingin menyampaikan kabar bahwa pesawat AWLJ AIR tujuan Moskow-California semalam hilang kontak. Dari data yang kami dapat, ayah Nona-Tuan Teddy menjadi salah satu penumpang dalam pesawat tersebut. Dengan sangat hormat, kami selaku pihak maskapai meminta Nona untuk datang ke Bandara pagi ini guna melakukan pencocokan data dan validasi penumpang sehingga kalau ada informasi lebih lanjut kami dapat menghubungi keluarga korban"
"Kenapa?" tanyanya. Tapi bukannya menjawab, Venus malah menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan, dia menangis keras.
"Ve, kenapa?!" suara Mars naik satu oktaf, kini tangannya beralih memegang lengan Venus yang terasa dingin.
"Mars anterin gue ke Bandara sekarang", Venus mendongak hingga Mars dapat melihat wajah gadis itu yang merah dan dibanjiri air mata, "Pesawatnya Daddy hilang kontak"
Rasanya Mars sangat kesulitan menelan ludah saat melihat Venus menangis seperti ini. Ini adalah kali pertama dia melihat gadis itu menangis. Tidak ada lagi Venus yang cerewet, Venus yang selalu tersenyum riang, yang ada sekarang hanyalah Venus yang rapuh.
Mars berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil, setelah itu dia langsung kembali dan menggandeng tangan Venus keluar. "Ayo!"
Mereka berjalan cepat menuju mobil dan langsung tancap gas menuju Bandara. Venus terus menangis, sambil sesekali dia berusaha menelfon ayahnya berharap sang ayah dapat mengangkat telfonnya dan membuktikan kalau berita itu salah. Saat sang operator menyampaikan kalau nomor tidak aktif, Venus kembali mengerang.
"Dad, please angkat telfonnya!" gadis itu benar-benar kacau sekarang. Tidak peduli dengan wajahnya yang lembab karena menangis, Venus masih berusaha menghubungi ayahnya.
💬Venus
~ Daddy dimanaaa?
~Dad please angkat telfon Venus.
~Daddy baik-baik aja kan?
~Dad prank nya ga lucu ihhðŸ˜
~ Ve bakal marah bgt klo daddy beneran ninggalin Venus
Venus memaki ponselnya sendiri saat chat benar-benar hanya checklist satu. Bahkan kehadiran Mars tidak lagi dia pentingkan, sekarang fokusnya cuma pada satu titik, sang ayah. Mars mengendarai mobilnya secepat yang dia bisa. Menyalip kendaraan sana-sini supaya mereka bisa lekas sampai di Bandara.
45 menit kemudian mobil Mars tiba di Bandara Internasional Sheremetyevo. Mereka segera bergegas menuju ruang pusat informasi. Venus berjalan dengan gelisah, mengharap sedikit keajaiban dari Tuhan untuk keluarganya hari ini. Disaat situasi seperti ini, tangan Mars terulur menggenggam telapak tangan Venus yang terasa dingin. Gadis itu mendongak, menatap kearah wajah Mars yang masih lempeng menatap ke depan. Perlahan, hati Venus menghangat. Kegelisahannya perlahan sedikit berkurang berkat Mars di sampingnya.
Banyak orang yang merupakan keluarga dari korban berkumpul disaba, sembari menunggu pengumuman dari pihak maskapai. Venus dan Mars bergabung dengan kerumunan orang itu. Di bagian paling depan, seorang laki-laki yang merupakan petugas yang bertugas menyampaikan pengumuman berdiri sembari memegang mikrofon.
"Selamat pagi, untuk semua hadirin yang berkenan hadir pagi ini. Kami selaku pihak maskapai penerbangan AWLJ AIR, dengan berat hati menyampaikan bahwa pesawat AWLJ AIR hilang kontak setelah melewati Pegunungan Ural pada pukul 20.00 . Kami selaku pihak maskapai akan berusaha keraa untuk menemukan awak pesawat dan juga penumpang dalam keadaan apapun. Harapan kami agar keluarga tetap bersabar dan menunggu informasi dari kami selanjutnya"
Informasi itu benar-benar membuat dunia Venus runtuh. Gadis itu berjongkok dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan agar orang lain tidak melihat kalau dia sedang menangis.
"DADDY!!"
Hari ini adalah hari dimana Mars melihat kehancuran seorang Venus, saat dimana gadis itu berada di titik terendahnya. Mars ikut berjongkok di samping Venus. Tidak ada tindakan yang dia lakukan. Dia hanya diam, menemani gadis itu menangis di tengah kerumunan banyak orang. Karena dia tau, yang Venus butuhkan saat ini bukan kata penenang yang mungkin cuma berisi omong kosong, tapi sebuah ruang untuk dia bisa menguatkan hatinya agar mampu menerima kenyataan.
"Mami udah pergi, kalo Daddy pergi juga nanti Venus sama siapa?. Venus gak siap ditinggal Daddy, Venus gak mau sendirian" gadis itu masih terisak-isak, menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Gadis malang yang kini harus hidup sendirian.
"Lo gak sendirian" suara Mars membuat Venus mendongakkan kepalanya. Mata cokelatnya yang kini memerah, beradu tatap dengan mata hitam gelap milik Mars.
"Lo masih punya gue", ucapan itu membuat jantung Venus berdetak kencang. Apalagi saat Mars memeluknya, untuk yang kedua kali. Kenyamanan mulai memasuki hati Venus. Entah kenapa, dia selalu merasa kalau dunia akan baik-baik saja asalkan ada Mars di sampingnya.
"Jangan pernah tinggalin gue, Mars" gadis itu bergumam kecil di dada Mars, tapi cowok itu masih bisa mendengarnya.
"Gue gak bisa janji, Ve" sahut Mars dalam hati.
...****************...
Mars
Venus
...Suka banget bacain komen kalian😊. Spam komen ya guys, jan lupa like dan votenya. Maaci:)...