
ā¢Tentang seorang perempuan yang mirip sekali dengan Planet Venus.
Tentang Venus yang menjadi tempat paling tidak ramah untuk disinggahi. Tentang Venus yang dijauhi seantero Bimasakti karena ketidakramahannya.
Tapi saat kamu mengenal Venus lebih dekat, maka kamu yang akan jatuh terpikat.
~Mars
*********
Kejadian ini benar-benar seperti mimpi buruk bagi Venus. Saat ayahnya, satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini harus mengalami insiden yang membuat Venus sendiri tidak yakin pria itu masih hidup atau tidak. Yang jelas dia cuma berharap kalau Ayahnya baik-baik saja. Meskipun kecil kemungkinan.
Hari itu dia terpaksa harus absen dari semua kegiatan sekolah, Venus ingin menenangkan diri sambil berusaha kembali menata hatinya. Satu yang membuat Venus bersyukur, Mars masih disini. Menemaninya melewati semua hari-hari yang entah kenapa semakin kesini semakin terasa buruk.
"Air mata lo gak bisa ngerubah keadaan, gak bisa bikin bokap lo balik kesini, jadi daripada energi lo terbuang cuma buat kegiatan yang gak berfaedah, mending lo doa. Supaya bokap lo bisa balik lagi dalam keadaan baik" suara Mars menginstrupsi di antara keheningan. Ini adalah kalimat paling panjang yang pernah terucap dari mulut cowok itu. Membuat suara isak tangis Venus yang sejak tadi pagi terdengar kini mulai mereda. Di balik lutut yang dia tekuk di atas sofa, gadis itu menatap Mars yang duduk di seberangnya dengan muka datar.
"Lo gak ngerti apa yang gue rasain!. Daddy itu satu-satunya keluarga yang gue punya, kalo dia pergi nanti gue sama siapa?!" Venus menyahut dengan suara putus-putus karena kembali menangis. Dia berulang kali menghapus kasar air matanya yang jatuh di pipi, malu juga kelihatan cengeng di depan Mars.
"Justru karena gue ngerti, makanya gue masih disini" cowok itu menyahut cepat. Dengan sekali tarikan nafas dia mengucapkan kalimat yang dia sendiri tidak tau kenapa harus bilang begitu.
"Kenapa lo milih ada disini?" Venus balik memancing, ingin tau seberapa jauh cowok itu memperhatikannya.
"Supaya lo gak ngerasa sendiri, because i'm here" dalam hati Mars merutuki mulutnya sendiri, bisa-bisanya dia bilang begitu. Kata-kata tadi keluar begitu saja tanpa bisa dia kontrol. Entah sudah berapa kalimat konyol yang dia ucapkan dari tadi.
Dia sendiri juga tidak tau kenapa dia masih disini. Padahal kalau mau dia bisa saja langsung pergi ke sekolah tadi pagi, tapi yang dia lakukan justru tetap standby di Apartemen Venus sambil menemani gadis itu menangis seharian. Mars cuma mengikuti nalurinya yang tidak mau gadis pemilik senyum sehangat mentari itu terpuruk dan menghadapi semuanya sendirian.
Venus menelan ludahnya susah payah. Sial, padahal tadi dia yang mancing duluan tapi kenapa dia juga yang dibuat salting.
"Berhenti jadi cewek lemah, ini bukan Venus yang gue kenal"
Entah sudah berapa kalimat dari Mars yang membuat Venus terpaku. Cowok itu selalu penuh kejutan. Sikap dan tindakannya tidak bisa ditebak, Venus bahkan sampai kesulitan menjabarkan sikap Mars ini sebagai apa. Peduli, sayang, apa cuma kasihan.
"Kalo lo ngelakuin ini semua cuma karena kasian, mending gak usah. Gue gak butuh dikasiahani", dia menjeda. Matanya yang merah menatap kearah Mars yang juga menatapnya dengan tenang. "Gue seneng lo ada disini nemenin gue, tapi kalo lo disini cuma karena kasian sama keadaan gue mending gak usah Mars. Gue gak mau lo merasa terbebani sama masalah gue"
"Siapa bilang gue disini karna kasian?", Mars memotong dengan cepat. Tatapannya tajam menatap kearah Venus yang tiba-tiba mati kutu. Ditatap begitu oleh Mars membuatnya kesulitan bernafas.
"Rasa kasian doang gak cukup bisa buat nahan gue tetep disini sampe sekarang"
Otak Venus yang cuma sebesar mata pindang dibuat berpikir keras. Omongan Mars terlalu berbelit-belit, dia jadi kesulitan menangkap makna konotasi dari kalimat tersebut. Jantung gadis itu berdetak kencang, apa ini berarti motif Mars masih menemaninya bukan karena kasian, tapi peduli?. Atau mungkin sayang?.
Belum selesai dia berpikir, tangannya sudah ditarik Mars keluar. Venus mengerutkan kening bingung saat langkah mereka berjalan kearah parkiran.
"Kita mau kemana?" tanya Venus bingung.
Mars menekan tombol di kunci mobilnya, dan alarm mobil di bagian ujung langsung menyala. Mars menggandeng tangan Venus kesana dan baru melepaskannya saat mereka sudah tiba di depan mobil.
"Masuk!" perintahnya.
"Kita mau kemana dulu?!" gadis itu masih kekeuh tidak mau masuk dan memilih berdiri di dekat pintu. Bertekad tidak mau masuk sebelum Mars menjawab pertanyaannya.
Cowok itu tampak menghela nafas panjang, mencoba sabar. Ditatapnya wajah Venus dengan tatapan dingin yang selalu dia tunjukkan.
"Cari bahagia"
**********
Mobil Mars berbelok kearah pantai yang terletak di sebelah Utara Kota Moskow yang lumayan jauh dari apartemen mereka. Mata Venus menelisik ke setiap penjuru tempat saat mereka sudah turun dari mobil. Ramai, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung meskipun bukan hari libur.
"Kita mau ngapain kesini?" kepala Venus menoleh, menatap bingung kearah Mars yang berdiri di sampingnya. Badan cowok itu yang lebih tinggi mengharuskan Venus untuk mendongak demi bisa melihat wajahnya.
"Ngitung pasir" sahut Mars dengan asal.
Bibir Venus mencebik kesal, ngitung pasir pantai selebar ini bisa-bisa sampai dia tua baru selesai. Tapi rasa badmood yang tadinya muncul sekarang langsung luntur saat Mars menggandeng tangannya menuju bibir pantai. Venus melihat pergelangan tangannya dan punggung Mars beberapa kali. Gadis itu menggigit bibirnya sendiri supaya tidak teriak sekarang.
Ini yang membuatnya suka sekaligus bingung. Sikap Mars selalu berubah setiap waktu. Venus tidak bisa menebak apa arti semua sikap care Mars ini.
Mereka melewati beberapa penjual yang berjejer di pinggir jalan kecil menuju pantai. Salah satunya penjual pirozhki. Roti ini menjadi salah satu makanan Rusia yang paling terkenal dan juga populer sebagai street food.
Pirozhki umumnya memiliki bentuk oval dan dibuat dengan adonan ragi yang berisi beragam tambahan bahan yang meliputi buah-buahan segar, dan selai. Untuk rasa yang manis, maka perlu diberi tambahan keju cottage.
Venus menghentikan langkah kakinya di depan penjual itu, kemudian berbicara kepada si penjual dan membeli rotinya.
"Mars mau roti juga gak?" Mars menggelegar sebagai jawaban dari pertanyaan yang gadis itu lontarkan. Melihat jawaban itu Venus lalu mengambil dua bungkus roti, dia merogoh saku celananya untuk mengambil uang hendak membayar. Tapi Mars menghalangi.
"Biar gue aja" cegah Mars dengan cepat. Dia lalu beralih menatap si penjual untuk menanyakan harga, "Berapa?"
"15 Rubel untuk dua porsi" sahut penjual itu.
Mars mengambil beberapa lembar uang dari saku jaketnya lalu menyerahkan uang itu kepada penjual tersebut.
Tanpa dia duga, setelah roti selesai dia bayar Venus malah menyerahkan satu bungkus roti yang dia bawa kepada penjual tadi, "Ini untuk askida ekmek" ucapnya.
Mars sontak menoleh kearah Venus, mrlihat gadis itu dari samping yang sedang tersenyum kearah si penjual. Tentu dia tau apa itu askida ekmek, yaitu kebiasaan sedekah roti yang biasa dilakukan oleh orang Rusia. Mereka sengaja membeli roti double lalu menyumbangkan salah satu roti yang sudah dia beli. Roti itu kemudian akan digantungkan kembali oleh si penjual di sisi samping gerobak atau tokonya yang berarti bahwa roti itu gratis dan boleh diambil oleh siapa pun yang mau.
Persepsinya tentang Venus perlahan mulai berubah. Jika dulu menurutnya Venus adalah manusia paling ribet, cerewet, dan makhluk paling menyebalkan di Bumi, tapi sekarang di mata Mars Venus adalah perempuan baik, tulus, dan rendah hati. Gadis berhati tulus dengan senyum sehangat mentari.
Mars tertegun saat Venus tiba-tiba menoleh sambil tersenyum dan menaikkan kedua alisnya, "Ayo, kok malah bengong!"
Dua orang beda gender itu duduk berdua di pasir pantai yang kering. Menunggu mentari beristirahat di tempat ternyamannya dan digantikan oleh Bulan, si manis dengan cahaya teduhnya.
Rambut Venus beterbangan terkena angin yang lumayan kencang. Mata gadis itu menatap lurus ke depan dengan sedikit menyipit karena rasa silau yang berasal dari sinar matahari senja.
Pemandangan langit saat itu sangat cantik, tapi ada pemandangan yang lebih cantik menurut Mars, yaitu perempuan di sampingnya. Mata Mars berulang kali melirik kearah Venus, lalu kembali melihat depan saat gadis itu juga menoleh kearahnya. Pengecut memang, tapi dia sengaja melakukan itu supaya tidak ada celah bagi Venus untuk terlalu berharap.
"Mars" suara Venus menyapa indra pendengarannya, mengalihkan atensi Mars dari ombak pantai yang saling berkejaran menuju tepi. Cowok itu menoleh dan langsung bersitatap dengan pandangan Venus yang dari tadi melihatnya.
"Boleh gak gue minta satu hal ke lo?" Venus menjeda ucapannya saat respon Mars cuma diam. Tapi diamnya Mars kali ini seperti sebuah izin untuk dia kembali bicara. "Jangan tinggalin gue"
Mars terdiam, menatap Venus intens dengan mata tajamnya. Wajahnya yang minim ekspresi selalu berhasil membuat orang lain mati kutu.
"Gue sendirian sekarang, Papa gak tau keadaannya sekarang kayak gimana. Gue cuma gak sanggup ngadepin semuanya sendiri. Gue butuh lo, orang yang gue percaya untuk saat ini"
Tatapan teduh milik Venus membuat Mars mengalihkan pandangannya kearah lain. Dari samping Venus dapat melihat kalau cowok itu sedang menelan ludahnya, raut mukanya belum menunjukkan respon yang signifikan. Venus selalu kesulitan dalam menebak apa isi hati cowok itu.
"Jangan percaya sama gue" sahut Mars setelah diam beberapa menit.
"Kenapa?. Selama kita kenal, gue tau lo cowok baik. Lo yang gue butuhin Mars, dan gue yakin kalo semua hal akan baik-baik aja selama ada lo di deket gue"
Mars menolehkan kembali kepalanya, membalas tatapan Venus dengan tatapan yang lebih dingin dari tadi.
"Lo tau, ikan selalu merasa kalo air itu sumber hidup dan kebahagiaannya, tapi kadang air juga yang bikin ikan mati karena arus. Gitu juga dengan gue. Orang yang katanya lo percaya ini, bisa aja nyakitin lo kapanpun gue mau", alis Mars menukik tajam, pertanda kalau yang dia ucapkan tadi bukan main-main.
"Gue ingetin sekali lagi, jangan pernah percaya dan berharap sama gue. Karena itu sama aja lo ngejatuhin diri lo sendiri"
Omongan Mars membuat Venus langsung terdiam. Sesalah itu kah perasaannya pada makhluk di depannya ini, sampai berharap pun dia tidak boleh?.
Tapi pada dasarnya perasaan Venus pada Mars memang salah. Dan kesalahan itu tidak boleh berlanjut, sebelum banyak orang yang akan menderita nantinya. Itu sebabnya Mars membangun benteng setinggi menara agar jalan hidup yang sudah dia susun tidak berantakan. Tapi sepertinya, pondasi menara yang Mars buat kurang kuat. Benteng itu perlahan mulai terkikis dan mungkin akan segera dihancurkan oleh manusia bernama Venus.
Tidak mau terjebak dalam zona terlarang, Mars memilih bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Pergi ke tempat ini bersama Venus memang kesalahan kedua yang dia lakukan setelah menemani gadis itu seharian. Tapi panggilan dari Venus membuat kepalanya mau tidak mau kembali menoleh.
"Kenapa gue gak boleh berharap ke lo?!" tanya Venus dengan tatapan memicing.
"Karena gue bukan sesuatu yang bisa lo harapin!"
Dan setelah itu Mars benar-benar pergi, meninggalkan Venus di tempat itu sendirian. Entah tidak punya hati atau bagaimana, Venus jadi ngomel-ngomel sendiri. Menyumpah serapahi Mars yang sudah berani meninggalkannya padahal dia sendiri yang ngajak kesini. Benar-benar titisan setan!.
"Gue sumpahin lo jatuj cinta sama gue!" gerutunya dengan berapi-api.
Venus memilih pergi dari tempat itu. Masa bodo dengan sunset, kalau keburu malam dia bisa-bisa dibantai berandalan dan berujung pulang tinggal nama.
Gadis itu berjalan kaki menyusuri trotoar, mencari jalan besar dan berharap bisa mendapatkan taksi. Matahari sudah terbenam dan langit sudah gelap. Kali ini Venus benar-benar mengutuk Mars yang sudah tega meninggalkan dia seperti gelandangan.
Tinnnnnn....
Suara klakson mobil dari arah samping membuat Venus menoleh. Mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya. Venus sudah bersiap untuk lari dan teriak andaikan kalau itu orang jahat atau komplotan penjual organ manusia yang sedang viral di TV-TV.
Tspi belum sempat dia lari, sosok Victor sudah muncul dari dalam mobil yang membuatnya diam-diam menghela nafas lega.
"Lo ngagetin gue tau gak, gue kira tadi penculik!" Venus langsung memukul bahu Victor saat cowok itu sudah berdiri di sampingnya. Bukannya merasa bersalah karena hampir membuat anak orang jantungan, Victor malah terkekeh pelan seraya menatap Venus geli.
"Gue mah emang mau nyulik elo, mau gue bawa ke pelaminan terus kita nikah deh" gurau cowok itu.
Venus mendelik malas, "Ogah gue punya suami kayak lo, bisa-bisa mati muda entar"
"Kan jodoh gak ada yang tau, Ve. Sekarang aja lo bilang gak mau, taun depan siapa tau kita berdua bisa berdiri barengan di depan Altar"
"Iya berdiri barengan. Lo sama pasangan lo, terus gue sama Mars deh" Venus kontan tertawa, tapi tidak berlangsung lama saat raut wajah Victor berubah masam. Dia menyengir kemudian menepuk bahu cowok itu berulang kali.
"Bercanda kali, Vic. Lagian kan kita temen, gue pengen aja gitu kita bisa nikah barengan sama pasangan kita masing-masing"
Venus merasa kalau dia adalah manusia paling jahat malam ini. Semoga dengan itu Victor bisa menyadari kalau kedudukannya di hidup Venus tidak akan pernah lebih dari seorang sahabat.
"Eh BTW lo tau dari mana kalo gue ada disini?" tanyanya dengan bingung.
"Gue tau dari...-
...***Daripada gabut mending like, komen, and share cerita iniiiii. Hehee, penasaran gak kelanjutannya apa?....
...Ikutin terus ceritanyaa ya guys biar gak ketinggalan scene. Othor emang slow up, otak lagi buntuš...
Say hay dulu ke Mars***
Mbak Venus
Mas Victor si duta NT