
"Hai Mars ganteng!"
Sekarang sapaan seperti itu selalu Mars dengar setiap hari, sapaan yang cuma berani diucapkan oleh Venus. Tidak peduli sedingin dan sesinis apa sikap Mars padanya, gadis itu tetap datang setiap waktu sembari memberikan senyuman yang dia persembahan khusus untuk Mars.
Tapi entah kemana, siang ini Venus tidak kelihatan batang hidungnya. Padahal biasanya gadis itu sudah standby di depan Kelas Astronomi menunggu Mars keluar dari sana. Kepala Mars menggeleng beberapa kali, kenapa juga dia harus peduli?!. Bukannya baginya Venus itu tidak penting?!.
Tidak mau memiliki pikiran yang lebih ngawur, Mars mempercepat langkahnya untuk menuju taman belakang sekolah. Tubuh tegap cowok itu berjalan melewati manusia-manusia yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Entah apa itu Mars juga tidak mau tau. Menurutnya manusia adalah makhluk paling ribet yang pernah dia temui. Mereka selalu melakukan hal yang sebenarnya tidak penting dan mengurusi urusan yang sebenarnya bukan urusan mereka.
Mars duduk di kursi yang biasa dia duduki setiap harinya. Sembari memangku buku yang memiliki tebal 712 halaman, cowok itu menikmati waktu sendirian dengan tenang.
Dia membuka halaman demi halaman, membaca tiap kalimat yang terangkai dengan seksama. Matanya sangat jeli dan cepat dalam membaca, bahkan kurang dari 5 menit dia sudah mencapai halaman ke 35. Lebih cepat dari yang manusia biasa lakukan.
"Hai Brader!" sebuah tepukan di bahu membuat atensi Mars teralihkan dari buku yang sedang dia baca. Kini tatapannya menatap penuh kepada dua orang laki-laki yang sedang berdiri di dekatnya sambil menyengir.
"Ada apa?" Mars ingat mereka. Dua orang yang dia bantu kemarin di gudang samping.
Salah satu di antara mereka mengulurkan tangan mengajak berkenalan, "Gue Alan, yang kemaren lo tolongin"
Mars masih diam melihat mereka, belum membalas uluran tangan. Tapi salah satu dari mereka menarik tangan Mars dan memaksanya untuk berkenalan secara resmi.
"Udah, bales aja sih. Tangan kita nggak ada virusnya kok!" dia menyengir lagi.
"Mars" Mars menyahut singkat.
"Gue Elfan"
Mereka berkenalan singkat sebegai sapaan awal. Alan dan Elfan kemudian duduk di ruang kosong samping Mars tanpa permisi, tanpa dipersilahkan. Mars sih bodo amat, toh kursi ini bukan miliknya.
"Thanks banget loh, kemaren lo udah nolongin kita. Kalo gak ada lo mungkin kita udah nginep lagi di Rumah Sakit. Ya gak Fan!"
"Yoi" Elfan menyahut.
Kata 'lagi' dalam kalimat yang diucapkan Alan menarik perhatian Mars. "Kalian sering digituin?" tanyanya penasaran.
"Nggak sering lagi, kita gak ngapa-ngapain aja selalu digangguin sama si Ronal. Kayaknya dia kalo gabut emang selalu ngeroyok orang deh" Alan menjawab dengan berapi-api. Kalau dia ditanya siapa orang yang paling dia benci di dunia ini, maka jawabannya pasti Ronal.
"Gabutnya gak berfaedah banget anjirr. Mentang-mentang kita sekolah disini gara-gara beasiswa dari bokapnya, dia bisa bertingkah seenak jidat"
Sekarang Mars tau alasan Alan dan Elfan menjadi bahan bully oleh Ronal dkk. Dia merasa paling berkuasa karena ayahnya sudah menyekolahkan dua cowok itu. Jujur Mars muak, orang angkuh macam Ronal ini memang selayaknya dibuang dari muka Bumi.
"Mars, lo mau nggak jadi temen kita?" Alan bertanya dengan muka penuh harap. Mars menoleh kaget, ini adalah kali pertama ada yang mau mengajaknya berteman di negara ini.
"Gue?" cowok itu menunjuk dirinya sendiri, dan dua orang itu mengangguk bersamaan.
"Iya lah, siapa lagi. Kami seneng banget kalo lo mau gabung" sahut Elfan.
Alan mengulurkan tangannya sembari tersenyum simpul, "teman?"
Mars masih diam, dia berpikir sekali lagi harus menerima atau tidak. Apalagi sebentar lagi dia akan pergi. Tapi melihat muka Alan dan Elfan sepertinya mereka bukan orang yang licik.
Sampai akhirnya Mars membalas uluran tangan itu, mereka saling bersalaman. "Teman"
******
Mars baru kembali ke kelasnya saat jam istirahat hanya sisa 10 menit. Seperti biasa Mars tidak pernah memperdulikan sekitar. Cowok itu tetap menatap lurus ke depan, berjalan tanpa senyum dengan muka datarnya.
"HAI MARS!!" Venus tiba-tiba muncul daei balik tembok hingga Mars sedikit kaget. Cowok itu berdecak keras. Kenapa dia harus muncul tiba-tiba.
"Apaan sih lo, ngagetin orang aja!" dia berseru kesal. Venus mengerucutkan bibirnya karena dimarahi. Tapi detik berikutnya gadis itu menyengir lalu mendekat kearah Mars, membuatnya waspada.
"Mars kaget ya?. Jantungnya aman kan?. Nggak pindah ke dengkul?" Venus mengusap dada Mars hingga membuat cowok itu mendelik heran. Kok bisa ada spesies cewek macam Venus di muka bumi ini.
"Otak lo yang pindah ke dengkul!" Mars mendorong jidat Venus ke belakang supaya lebih jauh darinya. Gadis itu mencebik, gak bisa banget dimodusin!.
"Jahat banget mulutnya, minta gue cium ya?!"
"Benerin dulu tuh, maskara lo luntur!"
Mars berlalu melewatinya, Venus kelabakan sendiri. Buru-buru dia mengambil kaca kecil yang selalu dia bawa di kantung jas almamater. Gadis itu melihat pantulan wajahnya di cermin. Tidak ada yang salah, maskara oke, liptin masih oke, bedak juga rata. Venus mendengus lalu memasukkan kaca tersebut dengan kasar.
"MARSSS!!"
Teriakan melengking Venus masih terdengar dari radius 20 meter tempat Mars berdiri. Cowok itu mendengarnya. Diam-diam dia terkekeh kecil, tapi cuma sebentar.
"Dasar cewek sinting"
Enggan menanggapi Venus lagi, Mars masuk ke dalam kelasnya sebelum guru datang. Tapi baru juga dia duduk, sebuah pengumuman dari audio central membuatnya kembali berdiri.
"Panggilan untuk Mars Ellerick agar segera menuju ke Ruang Konseling sekarang, terima kasih!"
Tentu ini bukan hal baik, Mars sudah bisa menebak apa pemicunya. Saat siswa lain menatapnya bingung, dia segera menuju ke Ruang Konseling tanpa banyak bicara. Di ruangan yang dikhususkan untuk murid-murid bermasalah, Mars duduk diam menghadap Miss Teresa yang sedang melihatnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Mars Ellerick, anak Astronomi, right?" Mars mengangguk singkat.
"Pindahan dari Verdant Internasional High School Chicago, and baru sekolah disini dua minggu tapi sudah berani membuat anak kepala sekolah masuk rumah sakit. Wow, berani sekali kamu!"
Mars mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Membalas tatapan sengit Miss Teresa dengan berani. "Why, saya cuma membela sesuatu yang benar" sahutnya dengan santai.
"Apa yang benar dari tindakan kamu?. Itu sudah masuk kriminalitas" Miss Teresa berseru lantang.
"Kalau tindakan saya termasuk kriminal, lalu apa julukan yang pantas untuk anak kepala sekolah yang terhormat, yang sudah melakukan pembullyan, menyabotase nilai ujian, dan tindakan anda dan kepala sekolah sebagai seorang guru yang sudah menyalahgunakan uang pembangunan sekolah?!"
Miss Teresa kalah telak. Dia tidak punya sanggahan karena semua yang diucapkan Mars benar adanya, "Gimana kamu bisa tau?!"
Mars terkekeh sinis. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa lebih dekat dengan guru cantik itu, "Saya bukan orang seperti bayangan Anda Miss. Kalau saya mau, hari ini bisa aja jadi hari terakhir Miss disini"
Cowok itu berdiri, dia membenahi almamaternya sebentar sebelum kembali tersenyum kepada Miss Teresa yang sedang duduk kaku. "Saya rasa udah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jadi saya permisi"
Mars keluar dari Ruang Konseling dengan sikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Baru juga 10 langkah dia berjalan, Venus kembali datang dan langsung menghadang jalannya.
"Minggir!" gadis itu menggeleng.
"Mars tadi kenapa dipanggil BK?" tanya Venus dengan tatapan curiga.
"Bukan urusan lo!" sahut Mars acuh. Moddnya sedang buruk sekarang. Dia hendak pergi tapi Venus menahan pergelangan tangannya.
"Jawab dulu!"
Mars menghadap kearahnya. Melihat dia dengan tatapan serius hingga membuat Venus merinding sendiri.
"Gak usah selalu pengen tau bisa gak sih?!. Lo itu bukan siapa-siapa gue, jadi gak usah sok peduli. Oh ya, gue minta lo jangan deket-deket gue, perasaan lo ganggu tau gak!"
Venus mematung di tempatnya bahkan sampai Mars sudah pergi dari sana. Kata-kata cowok itu lebih menusuk dari apapun bahkan berhasil membuat Venus si manusia bodo amat menjadi mau tidak mau merasa tergores oleh kalimatnya.
Gadis itu kemudian melihat punggung Mars yang mulai menjauh. Rasanya sakit tapi dia tidak tau bagaimana caranya untuk berhenti.
"Sorry kalo kehadiran gue ganggu lo Mars, tapi gue juga gak tau gimana caranya ngilangin perasaan gue buat lo!"
Mars
Venus
LIKE , KOMEN, DAN VOTE YA MANTEMAN:)