Another Star

Another Star
Bumi dan Penghuninya



Weekend ini Venus bertekad ingin menghabiskan harinya untuk beres-beres Apartemen dan memenuhi semua kebutuhan dapur, mengingat kalau besok sudah mulai musim dingin. Sekolah diliburkan mulai awal Januari sampai akhir Februari nanti untuk menghindari bahaya dari suhu dingin di Rusia yang terkadang bisa mencapai suhu -9°C.


Seluruh Apartemen sudah dia bersihkan, sekarang dia bersiap pergi ke swalayan untuk membeli pasokan makanan supaya dia tidak perlu repot-repot keluar Apartemen lagi. Biasanya rutinitas ini selalu dia lakukan bersama Daddynya, tapi kini kondisi sudah berbeda. 2 minggu berlalu tapi pihak maskapai belum memberikan informasi yang memuaskan. Venus cuma bisa menunggu, tidak mau berlagak menjadi cewek cengeng lagi. Dia tau Daddynya tidak suka kalau dia begitu. Venus tau Daddynya tidak suka melihat dia menangis. Maka dari itu dia bertekad untuk tidak berekspektasi lebih, apapun hasil takdirnya nanti, dia sudah siap berlapang dada.


Gadis itu memakai jaket yang tersampir di gantungan baju. Hari ini suhu di Kota Moskow berada di titik 18°C, cukup dingin untuk dia yang gampang pilek. Venus lalu mengambil dompetnya, melihat sisa uang yang tinggal beberapa lembar rubbel. Sepertinya dia akan butuh kerja sampingan.


"Tinggal segini, nanti cukup buat beli makan berapa hari ya?" dia menggumam kecil sambil berpikir keras. Dalam hati agak dongkol, kenapa musim dingin harus terjadi saat dia lagi gak punya uang.


Enggan kelamaan berpikir, Venus berjalan keluar pintu Apartemennya dan menunggu lift sampai. Butuh waktu sekitar 3 menit untuk menunggu benda persegi itu tiba di lantai 5. Venus menekan tombol lalu pintu lift terbuka. Dia sedikit kaget saat melihat ada Mars disana, sedangkan Mars cuma bersikap biasa.


Tidak mau nengukur waktu, gadis itu bergegas masuk ke dalam lift. Dan lift bergerak turun menuju lantai dasar. Venus melirik Mars yang terlihat acuh, seperti biasa. Dia berdehem singkat untuk memecah hening, sambil memikirkan topik apa yang bisa dipakai untuk nemancing obrolan.


"Mars mau kemana?" tanya Venus setelah berpikir beberapa saat. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk mendapat jwwaban dari cowok es itu. Untung dia orangnya penyabar.


"Swalayan" sahut Mars singkat.


Mata Venus membelalak disertai senyuman kecil yang terbit. Kebetulan banget, apa semesta sekarang lagi memberi clue kalau dia dan Mars memang jodoh?. Samaan mulu perasaan.


"Bisa sama gitu ya, gue juga mau ke Swalayan. Jangan-jangan kita jo-..


"Gak usah halu!" Mars memotong omongan gadis itu sebelum dia selesai mengucapkan kalimatnya. Udah ketebak arahnya mau kemana, jodoh-jodoh. Dia tau kalau itu sangat mustahil.


"Kan gak ada yang nggak mungkin di dunia ini!. Lo single, gue juga single, mana ketemu mulu. Bisa aja kita emang jodoh kan?" Mars melirik Venus dengan malas, gadis itu malah menaik-turunkan alisnya nggak punya dosa. Disertai senyum lebar yang tidak luntur dari tadi.


"Lo berharap bisa berjodoh sama gue?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Venus.


"Ya iyalah!"


"Tapi gue enggak!"


Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka. Mars langsung ngacir keluar, meninggalkan Venus yang masih betah dengan muka cengonya. Gadis itu mendumel-dumel, kurangnya dia apa sih. Cantik udah, pinter udah, famous gak usah ditanya, tapi masih aja ditolak. Dia jadi penasaran tipe cewek macam apa yang disukai Mars itu.


"Ih Mars, lo gak boleh takabur gitu dong. Kan takdir gak ada yang tau. Sekarang aja lo sok-sokan gak mau sama gue, liat aja nanti, pasti giliran lo yang ngejar-ngejar gue. Ati-ati jilat ludah sendiri!" perempuan itu terus ngoceh-ngoceh di belakang Mars sepanjang jalan menuju Swalayan. Mars menghela nafas panjang, berusaha sebisa mungkin menulikan pendengaran supaya kupingnya tidak sakit mendengar suara Venus yang tidak bisa dibilang kecil.


Mars terus berjalan, diikuti Venus dibelakangnya yang masih betah ngoceh sampai mulutnya berbusa. Dia nggak peduli, nanti juga diem sendiri—begitu pikirnya.


"Mars tau nggak sih, masak kemaren ada yang ngirim boneka panda gedeee banget padahal gue nggak pesen loh. Aneh banget kan" curhat Venus meskipun tidak direspon. Mars dengar, tapi memang sengaja tidak mennyahut. Menurutnya hal seperti itu sudah lumrah. Bukannya culture orang Rusia memang begitu, selalu memberi barang kepada orang yang mereka suka. Jadi mungkin saja boneka itu dari orang yang kagum pada Venus di sekolah, begitu yang Mars simpulkan.


Swalayan tinggal 25 meter lagi, di sebelah selatan—seberang jalan raya. Tapi saat jarak ke tempat tujuan tinggal sedikit, Mars malah tiba-tiba berhenti hingga membuat Venus yang berjalan di belakangnya tidak siap mengerem. Alhasil untuk yang kedua kalinya hidung Venus kembali menabrak punggung Mars yang kerasnya melebihi punggung atlet tinju.


"Kalo berhenti pake lampu sent bisa gak sih, sakit tau hidung gue nabrak punggung lo. Untung nggak patah!!" dumel Venus sembari mengelus hidungnya.


Mars diam beberapa saat sembari terus melihat kearah gedung swalayan. Cowok itu lalu balik badan, dan langsung menarik tangan Venus pergi darisana.


"Eh Mars, kita mau kemana?" tanya Venus dengan bingung. Dia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Mars yang lebar. Cowok itu tidak menyahut, dia terus menarik pelan tangan Venus untuk pergi. Mereka menuju arah Stasiun Metro, lalu masuk ke dalam kereta dan berbaur dengan kerumunan.


Venus masih menatap Mars dengan bingung. Sikap cowok itu sangat aneh hari ini. Tadi acuh, terus tiba-tiba narik tangan, sekarang malah bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.


"Lo ngapain narik tangan gue kesini, kita mau kemana?" tanya Venus dengan pertanyaan beruntun.


"Cari bahagia" sahut Mars singkat dan mengundang banyak pertanyaan.


Kondisi Metro ramai saat itu, mayoritas tempat duduk sudah full. Tapi di ujung gerbong Mars menemukan satu tempat duduk kosong. Dia segera menarik tangan Venus kesana dan menyuruhnya untuk duduk.


"Terus lo gimana?" tanya Venus tidak enak hati karena tempat duduk cuma tersisa satu.


"Lo duduk aja, gue gak masalah. Yang penting lo nggak capek"


Entah sengaja ngebaperin atau gimana, tapi omongan Mars tadi sukses membuat kupu-kupu di perut Venus rasanya menggelitik. Dia jadi tidak bisa nahan supaya nggak ketawa. Di situasi seperti ini dia malah cengar-cengir sendiri.


Kereta berhenti dia area pusat Kota Moskow, ikon populer di kota ini. Mars dan Venus keluar dari stasiun. Berjalan berdua di tengah kerumunan banyak orang. Langkah kaki Venus yang kecil membuatnya kesulitan mengimbangi langkah lebar Mars sehingga kadang dia tertinggal. Mars mencari-carinya di belakang, kemudian menghela nafas saat sadar kalau Venus masih ketinggalan.


"Jangan jauh-jauh dari gue" ucap Mars pelan.


Venus diam-diam menyembunyikan senyumnya. Kalo gini terus, gimana dia nggak salting coba.


Dengan tangan yang saling bertaut, dua orang itu masuk ke dalam area Red Square atau Lapangan Merah. Red Square atau lapangan merah merupakan lapangan terbuka yang menjadi pusat Kota Moscow. Lapangan merah ini dikelilingi oleh beberapa bangunan bersejarah yang mulai dibangun pada akhir abad ke-15.


Dikelilingi beberapa tempat bersejarah, mulai dari Gereja St. Basil Cathedral, Lenin Mausoleum, Dinding Kremlin, dan State Historical Museum. Sebelah tenggara Lapangan Merah terdapat Gereja St. Basil Cathedral yang dibangun pada tahun 1555 oleh Ivan IV, seorang Tsar Rusia pertama. Terdapat juga sebuah tempat bernama Mausoleum Lenin yaitu tempat jasad asli Vladimir Lenin yang diawetkan. Vladimir Lenin sendiri merupakan pemimpin pertama Uni Soviet. Kompleks Lapangan Merah dikelilingi oleh Dinding Kremlin yaitu, sebuah benteng yang mengitari Istana Kremlin, kediaman resmi Presiden Rusia.


Sejak dibangun, Lapangan Merah ini pernah dijadikan tempat berlangsungnya kejadian besar di Moscow, seperti parade hingga demonstrasi. Sehingga termasuk ke dalam salah satu tempat paling populer di Rusia.


Red Square




Gereja St. Basil Cathedral



Mars mengajak Venus menyusuri Red Square, lalu naik ke puncak tertinggi kuba. Menikmati keindahan aransemen artistik kuba-kuba emas yang menghiasi tempat itu dari ketinggian. Venus mengulas senyum lebar, senyum tercantik yang membuat siapapun yang melihatnya jadi ikut tersenyum.


"Lo tau nggak, kisah penting dibalik tempat ini?" tanya Mars memulai pembicaraan.


"Yang gue tau, tempat ini salah satu tempat bersejarah. Udah ada dari Jaman Kolonial" Venus menyebutkan info tipis-tipis yang dia tau. Maklum, dia tidak terlalu tertarik tentang hal-hal berbau sejarah.


"Lapangan Merah dulu dipakai untuk acara penobatan Raja dan Tsar Rusia yang sekarang merupakan pusat kegiatan masyarakat seperti upacara, pidato kenegaraan, pelantikan presiden, perayaan hari besar nasional, konser musik, dan parade militer yang diawali oleh Uni Soviet dan diteruskan oleh Federasi Rusia. Lapangan Merah juga dianggap sebagai tempat suci. Dulu banyak prosesi meriah diadain disini selama Minggu Palma, kayak "prosesi keledai" yang terkenal diselenggarakan, di mana sang patriark, duduk di atas keledai, ditemani oleh tsar dan orang-orang keluar dari Katedral Santo Basil di Kremlin"


"Lo liat itu" Mars menunjuk sisi timur Benteng Kremlin. "Sisi timur segitiga Kremlin, terletak berdekatan sama Lapangan Merah dan di antara sungai Moskva dan Sungai Neglinnaya, sisi itu dulu dianggap sebagai sisi Kremlin yang paling rentan untuk diserang, karena dulu nggak dilindungi oleh sungai maupun alam lainnya. Oleh karena itu, tembok Kremlin dibangun dengan ketinggian tertinggi di sisi ini, dan Seorang Arsitek Italia yang terlibat dalam pembangunan benteng ini meyakinkan Ivan III untuk membersihkan area di luar tembok untuk menciptakan lapangan menembak"


"Kenapa lo bisa tau banyak hal seolah lo ngalamin sendiri kejadian itu. Padahal bangunan ini udah ratusan tahun" tanya Venus dengan muka bingung, Mars terdiam.


"Itu pentingnya baca buku" sahut Mars dengan tenang.


Venus menatapnya dengan mata memicing. Sedikit kurang puas dengan jawaban cowok itu. Tapi ya sudahlah, percuma juga dia tanya. Pasti ujung-ujungnya gak dijawab.


"Lo seneng?" tanya Mars saat melihat Venus tersenyum melihat pemandangan, sambil mencoba mengalihkan pembicaraan. Tatapan cowok itu menjurus ke depan. Kearah langit.


"Dikasih semesta seindah ini, emang ada alasan buat gue untuk nggak bahagia?" ucap Venus diiringi senyuman. Gadis itu kembali melihat depan, tarikan nafasnya yang panjang terdengar di telinga Mars. Venus kembali berucap.


"Kadang, manusia itu egois. Padahal sebelum hidup mereka udah dikasih tau tentang periodisasi hidup, pertama bahagia, kedua sedih. Tapi giliran mereka ditempatkan di opsi kedua, mereka marah dan kecewa. Nyalahin kehidupan yang katanya nggak adil padahal mereka yang kurang bersyukur"


"Karena pada dasarnya manusia emang serakah" sahut Mars setelah sekian lama diam. 200 tahun sudah dia tinggal di Bumi, bertemu dengan berbagai karakter manusia di setiap tempat. Dan dari semua itu mereka memiliki satu sifat yang sama, serakah. Selalu merasa kurang, selalu ingin mendapat lebih tanpa memikirkan makhluk lain.


Manusia kadang memang tidak tau diri. Sudah diberi mudah malah minta lebih.


"Manusia emang hampir sama, tapi nggak semuanya sama. Ada satu kondisi dimana kita harus ngelihat orang nggak cuma dari apa yang dia lakuin, tapi tujuan dari dia ngelakuin itu. Daddy gue pernah bilang, sejahat-jahatnya orang pasti ada sisi baiknya. Seserakah dan egois apapun manusia, pasti mereka juga ada sisi baiknya. Bahkan pekerjaan kayak pencopet pun. Untuk ngehidupin keluarga misalnya, dia nggak mau keluarganya sampe kelaparan apalagi anaknya sampe putus sekolah. Ya, emang caranya salah. Tapi tujuannya nggak sepenuhnya salah"


Pertemuan dengan Venus kali ini membuat Mars tau beberapa hal. Tentang sisi baik buruknya penilaian. Dan dia juga tau, kalau ternyata selama ini dia sudah diberi kesempatan untuk hidup di semesta yang indah.


"Mars, sejahat apapun dunia, jangan pernah berpaling untuk jadi orang baik."


Mars



Venus