Another Star

Another Star
Sisi Lain



"Mars, kata orang hidup bakalan lebih enjoy kalo diawali sama yang manis-manis. Contohnya cokelat sama gue"


Pagi hari di jam pelajaran ke 3, tepat disaat seluruh kelas jam kosong karena guru pembimbing sedang meeting, Venus datang ke kelas Mars sembari membawa sebotol cokelat hangat di tangannya. Seperti biasa, gadis itu selalu datang dengan senyum riang yang tidak pernah luntur. Dan Mars masih seperti biasa, menganggapnya angin lalu yang tidak terlalu berharga. Teman sekelas Mars sudah biasa dengan pemandangan itu, dan mereka juga tidak peduli.


"Thanks", masih menghargai pemberian orang lain, Mars menerima botol warna pink yang Venus berikan. Membuat gadis itu jingkrak-jingkrak sendiri karena akhirnya ada barang pemberiannya yang mau Mars terima.


"Mars mau bantuin gue gak?" dia berucap lagi.


"Apaan?"


Tanpa menjawab apapun, Venus meraih tangan cowok itu dan menggenggamnya sebentar hingga membuat pemiliknya kebingungan. Tapi Mars cuma diam, membiarkan Venus bertingkah sesuka hati. Padahal bisa saja dia menghempaskan tangan Venus dan mencaci gadis itu seperti biasa. Tapi entah kenapa, hari ini dia tidak mau melakukan itu.


"Bantuin ngasih energi ke gue" ucap Venus sembari tersenyum lebar. Menatap lekat kearah bola mata Mars yang juga sedang menatapnya. Tatapan yang saling beradu itu, berhasil membuat jantung Venus berdegup kencang. Memang ya, menatap Mars dalam jarak sedekat ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Mars lebih dulu melepas ikatan mata mereka. Wajahnya masih datar seperti tidak terjadi apapun, berbeda dengan wajah Venus yang sudah bersemu merah. "Udah belom?. Tangan lo keringetan, gue gak suka!" cowok itu berucap dengan santainya. Seolah apa yang barusan terjadi di antara mereka bukanlah sesuatu yang berarti.


Venus menaikkan kedua alis, dan dengan cepat dia melepas pegangannya pada tangan Mars sembari tersenyum lebar. "Hehee, udah. Pasti hari ini gue semangat gara-gara udah dapet asupan energi dari Abang Mars" ucapnya dengan nada centil. Putus sudah urat malunya setelah mengenal Mars.


Cowok itu tidak menjawab, cuma diam dengan tatapan yang tidak lepas dari Venus, membuat gadis itu gugup sendiri. "L-lo ngapain sih ngeliatin gue kayak gitu" protesnya dengan gugup.


"Mata lo....


Mars menggantungkan ucapannya, Venus jadi penasaran sendiri. Gadis itu menaikkan kedua alisnya seraya mendekatkan kepalanya kepada Mars. "Mata gue kenapa?", dalam hati dia sudah menaruh harapan yang tinggi kalau cowok itu akan memuji matanya yang indah, sama seperti yang dikatakan cowok lain.


"Mata lo, ada beleknya"


Rasanya Venus sangat ingin menghilang dari muka Bumi ini. Wajahnya memerah bahkan menjalar sampai telinga saking malunya. Gak elite banget, punya mata belekan di depan crush. Dia seperti tidak punya muka lagi saat berhadapan dengan Mars.


*******


Insiden memalukan tadi, Venus segera bergegas ke toilet untuk melihat kondisi wajahnya. Gadis itu berkaca di kaca wastafel, seraya membelalakkan matanya disana.


"Gak ada beleknya tuh" gumamnya saat tidak melihat ada kotoran di kelopak mata. Dia sendiri juga sedikit tidak yakin. Pasalnya saat mandi, dia akan membersihkan seluruh badan bahkan pada sela terkecil sekalipun. Jadi kalau sampai ada belek yang tertinggal, maka itu sangat mustahil.


"Wahh, jangan-jangan tuh cowok ngerjain gue!" decak Venus sambil geleng-geleng kepala. Tapi jujur, dia sedikit tidak menyangka kalau Mars ternyata punya sisi jahil juga.


"Jahilnya bikin sayang, sayangnya bukan milik gue"


******


Di jam istirahat, Venus berjalan sendirian kearah kantin karena Gabby tidak masuk hari ini. Jadinya mau tidak mau dia harus kemana-mana sendiri. Dalam hati dia berharap bertemu Victor yang bisa menemaninya makan di kantin. Kalau berharap pada Mars itu adalah sebuah kemustahilan. Belum sempat dia duduk pun pasti sudah diusir.


"Oh jadi ini ya, cewek gak tau malu yang hobbynya ngejar-ngejar cowok. Padahal udah ditolak mentah-mentah. Gak punya harga diri lo?!" dari arah belakang Venus mendengar ucapan seseorang yang seperti memang sengaja menyindirnya. Terbukti dari nada bicara orang itu yang penuh penekanan di akhir kalimat serta volume bicara yang tidak bisa dibilang kecil.


"Tau nih si Mbak Planet, malu-maluin kaum cewek aja"


"Gak punya malu banget woyy, emang si Victor gak cukup sampe harus ngegebet anak baru juga?!"


Kali ini Venus yakin kalau ucapan itu memang ditujukan untuknya. Gadis itu dengan cepat berbalik badan, dan menemukan Alexa dan sahabatnya-Megan, sedang menatap sinis kearahnya.


"Kalo berani ngomong di depan orangnya, jangan berani ngomong di belakang doang!!" Venus berucap dengan nada tinggi, membuat atensi semua orang tertuju kearah mereka. Banyak yang berbisik-bisik, dan menunggu kelanjutan dari pertengkaran Venus dan Alexa yang terkenal tidak pernah akur dari dulu.


"Yahhh, ada yang kesindir ya?. Bagus deh kalo tau diri" Alexa menjawab dengan sinis. Alexa Fallerine, pemegang title 'Face of Clarion'. Dialah perempuan yang menduduki peringkat ke 1 siswi paling cantik di Clarion, satu tingkat diatas Venus. Disaat Venus menganggap nominasi itu tidak penting, maka berbeda dengan Alexa. Gadis itu terlalu mengagungkan pencapaian itu hingga kadang berbuat sesuatu semena-mena. Muka cantik, tapi kelakuan minus.


"Sorry, apa kata lo?" Venus menyahut, "Gue gak punya otak?. Gak salah?!" tambahnya seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Setau gue setiap orang itu punya otak ya. Atau jangan-jangan kalian kali yang gak punya otak, pake acara nuduh gue. Kalo gak punya otak ya gak punya otak aja, gak usah nuduh orang!" serang Venus dengan muka menjengkelkan yang berhasil membuat Alexa tersulut emosi.


"Eh cewek murahan, gak usah sok deh lo. Lo tuh yang gak punya otak, dasar gak tau malu!"


"Diucapkan oleh orang yang nilai ujiannya cuma 34" Venus menyela sembari tersenyum miring. Alexa mati kutu.


"Daripada lo ngurusin hidup gue, mending lo urusin tuh nilai ujian lo yang 50 aja gak sampe. Banyak-banyak belajar ya Lex, biar otak sama mulut lo ada gunanya, gak cuma buat ngebacot doang!" tambahnya dengan sarkas.


Kini Alexa tidak punya jawaban lagi. Niat hati ingin membuat Venus malu, tapi malah dia yang dipermalukan. Melihat lawan bicaranya kalah telak, Venus tertawa mengejek. Dia mendekat kearah Alexa seraya menepuk bahunya.


"Lain kali, kalo mau ngapa-ngapain dipikir dulu pake otak. Jangan cuma modal mental doang, giliran gini, malu kan lo?!" Alexa cuma diam sembari mengepalkan kedua tangannya saat Venus melewatinya dengan muka mengejek. Benar-benar menyebalkan.


Sedangkan Venus, dia juga sama kesalnya. Rasa laparnya hilang begitu saja setelah melihat muka Alexa yang membuat orang ingin muntah. Disaat kesal seperti ini biasanya dia akan melampiaskan dengan ngedumel sendiri di Rooftop. Seperti saat ini, Venus menggerutu tidak jelas di tempat terbuka itu. Menumpahkan kekesalannya dengan menggebu-gebu pada angin dan langit.


"Gue gak punya otak katanya?!. Ayam aja punya otak apalagi gue. Gak kebayang gimana reaksi Daddy pas tau kalo anaknya yang cantik jelita ini dikatain gak punya otak!" gerutu Venus dengan kesal. Mukanya merah, tidak lupa bibir yang mengerucut beberapa senti hingga pipinya menggembung lucu. Terlihat menggemaskan.


"Bilang aja lo iri kan gara-gara Victor sukanya sama gue bukan sama lo!. Gak laku aja kebanyakan gaya. Ya jangan salahin gue dong kalo cowok-cowok suka sama gue apalagi Victor. Secara Daddy ganteng, Mama cantik, jadi gak heran kalo duel mereka menciptakan gue yang cantik paripurna gini" Venus masih dengan kenarsisan tiada tara!.


"IHHH KESELLL, KESELLL, KESELLLL, PENGEN CEBURIN ALEXA KE KANDANG BABII"


Dia berteriak kesal. Memang seperti itulah Venus, dia selalu bersikap tenang di depan lawan bicara. Tapi kemudian dia akan menyendiri dan menggerutu tanpa henti seperti sekarang.


Gadis itu lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk meredam emosinya. Sebentar lagi bell masuk berbunyi, dia tidak mau terlambat masuk kelas dan berujung mendapat surat peringatan. Venus lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Membuka aplikasi kamera dan mengarahkan kamera ke wajahnya. Dia mulai berpose, tersenyum manis seraya mengerahkan jari telunjuk dan tengah ke dekat pipi.


"Untung masih cakep" gumamnya lagi.


Venus memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu berdiri dan bersiap kembali ke kelas.


"Astaga, Mars?!" saat berbalik badan, betapa terkejutnya dia saat melihat Mars ada disana. Berdiri diam sembari bersandar di tembok. Tangannya bersendekap dada dengan gaya cuek khasnya, terlihat sangat maskulin dan mempesona.


"Lo dari tadi disini?" tanya Venus dengan gusar. Jangan sampai Mars melihat tindakan konyolnya tadi. Kalau itu terjadi, dia tidak akan berani untuk muncul di depan Mars lagi.


"Baru aja" sahut cowok itu singkat. Venus menghela nafas lega. Dia lalu melangkah menjauh seraya menepuk bahu Mars singkat.


"Yaudah kalo gitu gue duluan ya. Gue udah selesai kok, pake aja tempatnya. Selamat menyendiri Mars!"


Sepergian Venus, Mars menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. "Cewek aneh", bagi Mars Venus adalah perempuan paling aneh yang pernah dia temui. Mana ada orang kesal tapi masih sempat-sempatnya berfoto. Ya, Mars sejak tadi berada disana. Memperhatikan Venus.


...****************...


Venus



Alexa