Another Star

Another Star
Venus dan Mentari



Kota Moskow adalah ibukota Rusia, sekaligus kota paling ramai di negeri ini. Tapi meski begitu, kalian harus tau satu hal. Disini minim interaksi, bahkan sesama tetangga pun ada yang tidak saling mengenal. Penduduk Moskow hanya akan menganggap bahwa di dunia ini hanya dia yang hidup, tidak ada orang lain. Itulah kesan yang Venus rasakan setelah pindah ke Kota ini 4 tahun yang lalu. Dia dulunya tinggal di Filipina.


Venus anak tunggal dari seorang ilmuan luar angkasa, Teddy namanya. Dia hidup hanya bersama sang ayah setelah ibunya meninggal saat dia berumur 4 tahun. Venus, gadis 18 tahun yang ramah, cantik, dan memiliki senyuman hangat sehangat mentari.


Venus cantik, tapi banyak yang bilang kalau dia aneh hanya karena dia suka tersenyum. Yup, orang Rusia memiliki pepatah 'hanya orang bodohh yang tersenyum pada orang yang tidak dikenal'. Sedikit aneh memang, tapi itulah yang Venus rasakan.


Pagi itu di Clarion Internasional High School, Venus menenggelamkan kepalanya di lekukan tangan. Malas sekali dia kalau sudah harus bertemu pelajaran olahraga. Itu melelahkan, apalagi dia harus mengeluarkan keringat yang membuat mukanya jadi kusam.


"Ven..." sahabatnya-Gabby, datang sambil membawakan sekaleng minuman dingin. Venus mengangkat kepalanya.


"Apa?"


Gabby menyerahkan kaleng minumnya, "Dari Victor"


Venus menatap kaleng itu tanpa minat, ya kali dia pagi-pagi udah dikasih soda. Mau bikin kembung?.


"Nggak mau akh, buat lo aja sana"


Gabby mengendikkan bahu, menerima soda itu dengan senang hati. Lumayan, kebetulan dia juga haus.


Tak berselang lama bell masuk berdering lewat audio-audio yang ada di depan kelas. Membuat Venus kembali mendengus malas. Dari dulu dia dan olahraga adalah musuh bebuyutan.


Dua gadis itu lalu berjalan menuju toilet untuk ganti baju. Banyak yang menyapa Venus, bahkan secara terang-terangan mengajaknya berkencan. Tapi dua enggan menanggapi. Diantara banyaknya cowok di sekolah ini, belum ada satupun yang berhasil mencuri perhatiannya.


Venus masuk ke dalam bilik toilet yang berbeda dengan Gabby. Dia membuka papperbagnya yang berisi seragam olahraga dan makeup. Meskipun dia tau akan percuma menggunakan make up saat olahraga, tapi dia tetap pakai supaya mukanya gak kumel-kumel amat.


"Lama banget lo!" Gabby berseru saat dia baru keluar toilet. Cewek itu menyengir lalu ikut bergabung untuk ngaca di cermin wastafel samping sahabatnya.


"Baru juga 15 menit" sahutnya. Cewek itu memakai liptint sedikit supaya tidak pucat. Lalu mengambil karet rambut dan mencepol rambutnya menjadi satu.


"Yuk buruan, udah ditungguin Mr.Harry nih pasti" Gabby mengajak Venus keluar, dan disetujui oleh gadis itu segera. Mereka masuk dulu ke dalam kelas untuk meletakkan tas lalu barulah menuju ke lapangan belakang. Disana teman sekelas mereka sudah melakukan gerakan pemanasan, Venus dan Gabby langsung berlari dan bergabung di barisan palung belakang sebelum Mr. Harry menyadari kalau mereka terlambat.


Olahraga hari ini hanya jogging mengelilingi lapangan. Cukup singkat karena Mr.Harry ada rapat di tempat lain, Venus bersyukur akan hal itu. Cewek itu berhenti jogging dan istirahat di pinggir lapangan setelah menyelesaikan 5 putarannya. Tangannya bergerak menghapus keringat di dahi, sambil sesekali mengibas-ngibaskan bajunya yang terasa lengket oleh keringat.


"Nih..." sebuah tangan kekar menyodorkan tissue, membuat Venus kontan mengangkat kepala. Victor datang sambil tersenyum lebar. Di tangannya sudah dipenuhi aneka minuman dan snack, bisa dipastikan itu untuk siapa.


"Makasih Victor jelek" Venus tertawa lebar sambil mengambil tissue itu. Victor ikut tertawa lalu duduk di lantai samping Venus, menemani cewek itu mengelap keringatnya.


"Perasaan joggingnya cuma 5 puteran, tapi keringetnya udah kayak atlet maraton" dia mencibir sambil sedikit tergelak.


"Panas tau, tuh liat mataharinya udah terik!" Venus berdecak, cowok itu gak tau aja kalau dia paling malas kepanasan. Rasanya hatinya juga ikut kebakar karena kesal.


"Nih minum" Victor menyodorkan sebotol air mineral dingin yang tutupnya sudah dia bukakan, double baik deh pokoknya. Sayang, dia bukan tipe Venus.


"Emang cuma lo yang bisa ngertiin gue", gadis itu menerima botol minum dengan senang hati, lalu meminumnya sampai sisa setengah.


"Apa?"


"Diantara kita, beneran gak bisa lebih dari sekedar sahabat?" pertanyaan itu kembali terlontar, pertanyaan yang kontan membuat Venus kehilangan kata-kata. Victor sudah menyatakan perasaan sejak 2 tahun yang lalu. Tapi Venus tidak bisa membalas lebih. Dia nyaman bersama cowok itu hanya sebatas sahabat, dan mungkin akan terus seperti itu sampai kapanpun.


Venus menunduk dalam. Ada rasa bersalah saat tau kalau Victor masih menunggu sampai sekarang. Bahkan saat dia sudah terang-terangan menolak dan bilang kalau tidak punya perasaan lebih padanya. Bahkan sampai sekarang pun, cowok itu masih setia menunggu Venus dan enggan berhubungan dengan gadis manapun.


"Vic, Sorry" dua kata, tapi mampu mencabik-cabik hati milik seorang Victor Angelio. Cowok itu tersenyum miris, kemudian mengangguk sembari mengacak rambut Venus gemas.


"No problem" sahutnya dengan senyum terpaksa. "Asal bisa selalu deket sama lo gue udah seneng. Tapi satu yang perlu lo tau Ven, gue selalu disini. Nungguin lo sampai kapanpun"


***************


Sore hari setelah pulang sekolah memang sangat melelahkan. Pukul 14.00 waktu setempat Venus baru keluar dari sekolahnya. Dengan langkah gontai ogah-ogahan, gadis itu melangkahkan kakinya menuju stasiun. Di Moskow, sebagian besar penduduk akan menggunakan kereta bawah tanah untuk berpergian, mereka menyebutnya dengan nama 'Metro'. Disini banyak orang berkumpul untuk menunggu kereta, terutama disaat pagi dan sore.


Karena banyaknya jumlah penduduk, besar kemungkinan kalian akan bisa berpapasan dengan mantan kalian disini. Karena tempat ini seperti tempat dimana semua penduduk berkumpul.


Venus naik ke dalam kereta yang dirasa sejalur dengan tujuannya. Gadis itu mengedarkan pandangan untuk mencari bangku kosong. Sampai akhirnya mata cokelat terang milik gadis bernama Venus Graziella itu berhasil menemukan 1 kursi kosong. Segera saja dia berjalan cepat menghampirinya.


Gadis itu menatap laki-laki yang duduk di sampingnya dengan wajah kaku. Laki-laki itu hanya diam membisu, sembari membaca buku tebal dengan seksama. Tampan, batin Venus. Laki-laki seperti ini adalah tipenya banget. Putih, ganteng, tinggi, dan cool, akh Venus tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Hingga tiba-tiba orang itu menoleh, membuat Venus kelabakan karena ketahuan mengamati.


Dia menyengir sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Nanggung juga udah ketahuan, akhirnya Venus memutuskan untuk mengulurkan tangannya mengajak kenalan. Masa bodo dengan rasa malu, toh berkenalan masih manusiawi kan.


"Hai, namaku Venus" dia tersenyum lebar, sehangat mentari. Namun ternyata sekarang dia sedang berhadapan dengan kutub es, senyumannya tidak mempan sama sekali. Cowok itu tidak menanggapinya dan kembali membaca buku, membuat Venus jadi malu sendiri. Gadis itu kontan menarik kembali uluran tangannya.


"Ganteng sih, tapi dingin banget" dengusnya dalam hati.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan. Mereka saling diam sampai kereta berhenti di daerah Tsentralnaya. Venus memberesi tasnya dan ternyata cowok itu juga ikut turun. Yup... mereka 1 arah. Namun saat dia turun dari kereta, cowok itu sudah tidak ada. Menghilang seperti hantu.


"Cepet banget ilangnya" gadis dengan rambut sepinggang itu celingukan kesana-kemari mencari seorang laki-laki yang berhasil membuatnya terpesona. Ini adalah kali pertama seorang Venus tertarik pada seseorang. Tapi sayang dia tidak bertemu orang itu lagi, mau tidak mau dia harus menelan kekecewaan.


Tidak mau berlama-lama mencari sesuatu yang tidak pasti, Venus memilih untuk meninggalkan stasiun bawah tanah dan pulang menuju apartemennya. Jarak antara stasiun dan apartemen lumayan jauh, tapi dis memilih untuk jalan kaki. Sekalian menikmati senja.


Gadis itu menyusuri jalanan dengan riang, sambil sesekali membenahi rambutnya yang terbang karena angin. "Cowok tadi siapa ya, ganteng banget. Semoga besok ketemu lagi" Venus bergumam senang. Meskipun tadi dia diacuhkan, dia bertekad akan mendapatkan nama cowok itu kalau mereka bertemu lagi di lain waktu.


*************


Jarum jam bergerak menuju kearah angka 7. Mars tiba-tiba muncul di dalam apartemennya setelah melakukan teleportasi. Menghindari seorang perempuan yang mengajaknya berkenalan di dalam kereta. Baginya gadis tadi sangat aneh, udah senyum-senyum sendiri lalu tiba-tiba ngajak kenalan.


Cowok itu meletakkan bukunya di rak buku, dan menggantungkan hoodienya di dinding. Mars lalu duduk di ruang tengah, duduk tenang sambil menonton TV siaran berita yang menampilkan berita tentang jatuhnya komet tadi malam. Tentu Mars tau hal itu, tubuhnya selalu bereaksi saat ada peristiwa luar angkasa.


Perlahan setitik harapannya muncul saat sang reporter menyampaikan tentang prediksi ilmuan bahwa akan ada komet susulan yang akan jatuh sekitar 5 bulan lagi. Mata tajamnya kemudian menatap langit dari jendela yang gordennya dia buka. Penglihatannya menerawang keatas, menembus atmosfer Bumi. Pusaran itu akan terbuka. 5 bulan lagi, dia bisa kembali ke planetnya.