
Satu minggu tanpa Mars, satu minggu tanpa obrolan tidak penting, dan satu minggu tanpa pertemuan singkat yang mungkin kata semesta cuma sebuah kebetulan. Tiga hari yang lalu, pihak maskapai penerbangan menyampaikan kalau pesawat yang ditumpangi Ayahnya tenggelam di laut. Dan bisa dipastikan kalau seluruh awak pesawat beserta penumpangnya tidak ada yang selamat.
Venus datang ke tempat evakuasi hari itu, sendirian. Melihat bagaimana awak pesawat diangkat dari laut yang sudah berminggu-minggu ini memeluknya erat. Dari 108 orang yang terdaftar sebagai penumpang, hanya ada 15 mayat yang ditemukan dalam kondisi tidak terbentuk dan ayah Venus tidak termasuk di dalamnya. Sisa dari 15 orang itu, dinyatakan meninggal dan jasadnya tidak ditemukan.
Tidak apa, Venus tidak marah pada semesta karena mengambil bahagianya 'lagi'. Tapi kali ini dia ingin berpesan pada laut, untuk menjaga Ayahnya agar tetap tenang dan bahagia di tengah ombak yang menyelimuti.
"Laut, kalau emang Venus nggak bisa meluk Daddy lagi, titip Daddy di sana ya. Jaga dia dengan baik terus bilangin ke Daddy, kalo putri kecilnya akan terus kuat dan bertahan untuk jadi kebanggaan Profesor Teddy" kata Venus pada laut hari itu.
Dan kini, di dalam unit apartemen ini dia benar-benar sendiri. Dulu saat Mamanya meninggal, ada Ayahnya yang berdiri kokoh untuk menjadi sandaran hidup Venus. Ada sosok ilmuan hebat yang menjadi alasan dia untuk bertahan. Tapi kini semua orang-orang yang dia anggap sebagai sandaran perlahan pergi satu persatu.
"Hidup mandiri, dimulai!" kata Venus pada dirinya sendiri.
Gadis itu lalu melihat brosur lowongan kerja yang dia dapat dari penjaga swalayan tadi pagi. Sebenarnya Venus tidak punya bakat bekerja apalagi bekerja sebagai barista, bikin kopi saja dia kadang masih sering kepahitan. Tapi untuk sekarang, dia sangat butuh pekerjaan itu. Dia tidak mungkin terus menggantungkan hidupnya pada sisa uang tabungan dan tunjangan dari sang ayah. Lama kelamaan pasti akan habis. Apalagi dia masih duduk di bangku sekolah menengah, pasti butuh biaya lagi untuk daftar ke perguruan tinggi setelah ini. Dan Venus harus mempersiapkan itu dari sekarang.
Setelah merasa yakin dengan pilihannya, Venus meraih tas selempang yang berisi berkas-berkas lamaran kerja. Dia berjalan keluar apartemen dengan memakai Coat cokelat gelap, menembus salju yang turun deras sore itu.
************
Dari lantai 10 yang berjarak 250 meter dari tanah, Mars melihat keadaan di bawah sana dari balik jendela kaca yang sedikit buram karena terkena suhu dingin. Cowok itu menyesap sedikit teh hangat dari dalam cangkir yang dia bawa, sebelum akhirnya tatapannya beralih pada siaran berita yang menampilkan perkiraan cuaca kalau nanti malam akan terjadi badai salju. Hal ini sudah sering terjadi di Rusia, mengingat kalau negara ini termasuk negara paling dingin di dunia.
Rentan suhu di Kota Moskow saat ini mencapai minus 30° celcius. Udara di luar sangat dingin di tambah lagi salju yang turun cukup deras. Bisa dipastikan kalau sebentar lagi masyarakat Moskow akan langsung berdiam diri di rumah setelah melihat berita badai salju.
Mars memilih duduk di sofa ruang tamunya. Tatapan cowok itu kemudian beralih pada layar ponsel yang sudah seminggu ini sepi tanpa ada yang menghubungi. Notifikasi dari perempuan cerewet yang selalu menerornya kini tidak ada. Tapi bukankah dia sendiri yang menyuruh perempuan itu untuk pergi?.
Mars menghela nafas, sudah seminggu dia bimbang tidak menentu. Ternyata urusan percintaan tidak sesimpel memecahkan misteri luar angkasa. Cinta dan drama memang sudah menjadi pasangan abadi yang tidak mungkin dipisahkan.
**************
"Selamat, kamu diterima kerja di sini. Kamu sudah bisa bekerja mulai lusa"
Jabatan tangan dari pemilik Cafe Venus terima dengan senang hati. Senyum mengembang lebar di bibir perempuan 18 tahun itu. Tidak sia-sia di semalaman suntuk belajar tata cara membuat kopi yang endulan.
"Terima kasih, sir" kata Venus.
Interview kerja berjalan sesuai dengan harapan. Venus mendapat posisi barista yang dia inginkan. Perempuan itu lalu bangkit berdiri, bersiap untuk pergi.
"Saya pamit undur diri"
Mr. Tom yang menjadi atasan Venus sontak mengangguk sebagai jawaban. "Hati-hati, saya dengar sebentar lagi akan ada badai" pesan orang itu.
Venus mengangguk mengiyakan. Badai salju sudah menjadi hal yang biasa di Rusia. Apalagi di tengah cuaca ekstrem seperti ini. Gadis itu lalu beringsut keluar Cafe. Tampak langit sudah gelap diiringi gumpalan es yang berjatuhan semakin deras. Coat yang Venus pakai bahkan tidak mampu menangkal dingin yang kian menusuk.
Gadis itu mematri langkahnya menuju jalanan, mencari kendaraan apapun yang bisa mengantarnya pulang segera. Tapi suasana jalan kali ini sangat sepi dan sunyi, tidak ada seorang pun yang berlalu lalang.
Angin bertiup sangat kencang hingga pohon-pohon besar menundukkan batang mereka. Venus berpegangan pada pembatas jalan agar dia tidak ikut terseret angin. Gadis itu berusaha mencari tempat manapun yang sekiranya bisa menjadi tempat berlindung. Hingga matanya menemukan halte kosong di ujung jalan. Venus segera melangkah kesana. Minimal dia bisa berteduh dari salju sampai ada bantuan datang.
Suhu kini sudah mencapai minus 37° celcius. Angin kencang disertai salju yang lebat mengguyur tanpa henti. Venus mengeratkan coat-nya sambil meringkuk di lantai halte yang terbuka. Jantungnya mulai berdetak tidak menentu, dia menggigil, badannya tidak bisa mentolerir suhu sedingin ini. Venus berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kesadarannya.
Mars
.
.
.
.
Di sebuah apartemen yang berjarak 10 km dari tempat Venus berada, sosok Mars sedang disibukkan dengan mengisi jurnal penelitian yang akan dia bawa ke departemen keilmuan 3,5 bulan lagi. Jurnal yang berisi riset penting itu harus dia selesaikan sebelum dia kembali ke planetnya.
Saat dia sedang fokus-fokusnya, dering ponsel membuyarkan konsentrasi cowok itu. Mars melirik layar ponselnya yang menampilkan notif panggilan dari Venus. Spontan Mars menegakkan punggungnya, entah kenapa jantungnya berdegup lebuh cepat.
Mars menekan ikon hijau panggilan itu hingga panggilan tersambung.
"Ada apa?" tanyanya to the point. Tapi yang terdengar hanyalah suara angin yang berisik di sertai suara petir. Mars menelan ludahnya cemas sampai suara lirih Venus terdeteksi di telinganya.
"Mars, tolong"
Hanya sampai situ, lalu panggilan tiba-tiba terputus. "Halo, halo, VE?!. LO KENAPA?!"
"AH SIALAN!!"
Mars tanpa sadar menendang meja di depannya dengan emosi. Rasa khawatir memenuhi pikiran cowok itu, seluruh pikirannya terus tertuju pada satu nama. Venus.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi Venus lagi tapi nomornya tidak aktif. Akhirnya Mars menyerah. Cowok itu memejamjan kedua matanya, menggenggam kedua tangan erat-erat dengan telinga yang dia fokuskan penuh.
Pandangannya memantau seisi kota sambil berusaha mendeteksi suara Venus yang mungkin dapat terdeteksikan di telinganya. Hingga akhirnya Mars dapat menemukan keberadaan gadis itu. Dengan gerakan cepat dia berdiri, dan dalam hitungan detik dia sudah menghilang dari tempatnya dan muncul di tempat Venus berada.
Mars sudah tidak peduli lagi dengan dinginnya salju malam itu. Yang ada dipikirannya saat ini cuma perempuan yang kini sedang meringkuk kedinginan di lantai halte sendirian. Mars berlari menghampiri Venus dan langsung menatap gadis itu dengab tatapan cemas.
"Ve, lo kenapa bisa ada disini?!" itu adalah pertanyaan pertama yang Mars keluarkan. Rasanya dia sangat ingin marah karena gadis itu sangat ceroboh. Tapi saat melihat keadaannya saat ini dia mengurungkan niat itu.
Venus sekarang jauh dari kata baik. Bibirnya yang menggigil berubah warna jadi biru, saat Mars menyentuh lengannya, kulit Venus terasa sangat dingin seperti es. Mata gadis itu mengerjap kecil, pandangannya yang memburam dia paksa untuk melihat kedatangan Mars lebih jelas. Venus merasa seluruh badannya mati rasa ditambah jantungnya yang berdetak sangat cepat, tapi itu justru membuat kepalannya ikut pusing.
"M-mars?" ucap Venus dengan suara yang sangat lirih.
Mars tidak menjawab lagi, dia sibuk menggosok-gosok telapak tangan Venus agar lebih hangat. "Gue bisa mati kalo gak ada lo" kata Venua lagi, kali ini agak ngelantur.
Melihat keadaan Venus, Mars dapat menyimpulkan kalau gadis ini terkena hipotermia. Suhu badannya mencapai 33°C. Jauh dibawah suhu normal manusia pada umumnya. Gadis itu mulai kehilangan kesadarannya.
Mars segera menggendong Venus ala bridal style, sebelum itu dia melepas coat-nya dan memakaikan ke Venus. "Ve, jangan tutup mata!!" serunya dengan tidak tenang. Tidak ada kendaraan malam itu, sedangkan dia tidak mungkin berjalan dari sini ke rumah sakit dengan kondisi Venus seperti ini.
Melihat Venus yang mulai memejamkan matanya, membuat Mars tidak punya pilihan lain selain teleportasi. Dia memejamkan matanya, dan dalam sekejab mereka sudah berpindah tempat. Mars terus berjalan menuju resepsionis, tanpa sadar kalau Venus sudah membuka matanya.