Another Star

Another Star
Kejadian



Hari ini matahari tidak terlalu bersemangat menerangi Kota Moskow, terbukti dari langit yang nampak mendung sejak tadi pagi. Sama seperti perasaannya, Venus merasa sangat malas menjalani aktivitas di sekolah karena seharian ini dia belum bertemu dengan Mars. Cowok itu tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali, bahkan saat dia datang ke Kelas Astronomi pun Mars tidak ada disana.


"Ven, mau ikut ke kantin gak?. Ada si Victor tuh, kan lumayan kalo dapet gratisan"


Gaby yang hobinya ngumpanin temen sendiri, tiba-tiba datang dan langsung mengajak Venus untuk ikut ke Kantin karena ada Victor disana, yang pastinya akan membayar semua tagihan mereka asal Venus mau ikut. Dan hal itu tentu sangat menguntungkan untuk kaum mendang-mending seperti Gaby.


"Ogah ah, males. Lo aja sana berduaan sama si Victor" tolak Venus dengan malas.


"Dih ogah lah, lagian dia kan maunya sama lo bukan sama gue!" Gaby menyahut dengan kesal, pupus sudah harapannya untuk bisa makan di kantin gratis hari ini.


"Eh mau kemana lo?" dia berucap lagi saat melihat Venus bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Nyari pangeran gue lah, buat nyegerin mata!"


********


Cowok jangkung bernama Mars Ellerick itu nampak sangat tenang menikmati waktu sendirinya ditemani oleh sebuah buku. Sudah sejak jam istirahat pertama dia disini, itu berarti dia sudah menghabiskan waktu 2 jam di taman belakang. Cowok itu melepas earphonenya yang tidak mengalunkan musik sejak tadi. Kepalanya mendongak, menatap sekeliling yang ternyata sudah sepi.


Mars memilih bangkit dari kursi yang dia duduki sejak 2 jam yang lalu. Cowok itu lantas mengemasi bukunya dan bergegas menuju kelas. Dia memang sengaja menyendiri disana, bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin menikmati sisa waktunya di Bumi tanpa terganggu oleh siapapun. Terutama Venus.


Gadis itu selalu saja mengganggunya, mengikuti Mars kemanapun dan melakukan hal yang terkadang di luar nalar. Mengirimkan pesan beruntun setiap hari, dan kadang menelponnya tanpa alasan.


"Udah error nih otak gue" Mars menggerutui otaknya sendiri yang tiba-tiba terbayang tingkah konyol Venus. Cowok itu menggeleng beberapa kali, mencoba mengembalikan kewarasan otaknya yang sempat hilang.


"MARSSSS"


Mars menolehkan kepalanya saat dia mendengar seseorang memanggil. Dari kejauhan, tepat di gedung seberang lapangan Venus berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangan. Mars hanya menatapnya lekat. Bukan, bukan kepada Venus, melainkan kepada seseorang yang sedang berdiri di Rooftop. Orang itu membawa sebuah pot besar dan hendak menjatuhkan pot itu ke bawah, tepat kearah Venus.


Mars menatap orang itu dan Venus yang masih melambaikan tangan bergantian. Sampai akhirnya pot benar-benar dijatuhkan ke bawah. Mars terkejut bukan main. Cowok itu melesat secepat kilat menghampiri Venus dan mendorong gadis itu ke samping hingga mereka jatuh ke lantai bersama. Bertepatan dengan itu, pot tersebut jatuh dan langsung hancur berkeping-keping. Menimbulkan suara yang keras sehingga membuat beberapa orang menoleh kearah mereka.


Venus syok hebat, dadanya terasa sesak dan kerongkongan terasa sangat kering. Bahkan untuk menelan ludah pun rasanya dia kesulitan. Mars masih menatap orang di atas sana yang nampak berlari menjauh setelah mengetahui rencananya gagal. Cowok itu kemudian beralih menatap Venus yang berada di bawahnya. Pandangan mereka beradu, dan Mars dapat melihat sorot mata ketakutan di bola mata cokelat terang gadis itu.


"Lo gapapa?" tanyanya dengan suara rendah. Tidak ketus seperti biasa.


Venus masih belum menjawab, gadis itu melihat kearah pecahan pot di dekatnya kemudian menelan ludah gugup. "Gue hampir mati ya ampun" gumam gadis itu.


"Minum" cowok itu menyerahkan sebotol air yang sudah dia bukakan tutupnya kepada Venus dan diterima oleh gadis itu dengan senang hati. Dia meneguk air mineral sampai tersisa setengah kemudian kembali menutupnya.


Mars masih diam, berdiri dan menatap Venus yang terlihat masih mencoba mengendalikan perasaannya. "Lain kali kalo jalan jangan bengong!"


Venus mendongak, menatap Mars dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Gimana lo bisa ngelakuin itu?!" tanyanya.


"Ngelakuin apa?" bukannya menjawab, Mars malah balik bertanya dengan muka datar, seolah tadi tidak terjadi apa-apa.


"Lo gak usah pura-pura lupa deh. Jelas-jelas tadi gue liat lo ada disana", Venus menunjuk gedung seberang lapangan yang berjarak sekitar 60 meter dari tempat mereka duduk sekarang. "Gimana bisa lo nolongin gue secepet itu?!"


Venus terus menatap Mars dengan tatapan tajam, menuntut penjelasan dari cowok itu. Sedangkan Mars, dia tetap tenang. Menatap balik Venus sembari menghela nafas panjang.


"Lo salah liat"


"Gue gak mungkin salah liat, Mars!. Mata gue masih sehat, nggak minus apalagi rabun!" tukas Venus dengan cepat.


"Tapi lo sering halu. Mungkin lo lagi halu liat gue, jadi semua orang yang lewat lo anggep itu gue" sahut Mars dengan tenang. Venus nampak berpikir, apa iya dia halu?. Dia yakin betul tadi melihat Mars di gedung seberang, sedang berdiri sambil membawa sebuah buku. Tapi tiba-tiba dalam waktu kurang dari 3 detik cowok itu sudah ada didekatnya dan menyelamatkannya dari maut. Otak dangkal Venus kesulitan mencerna semua kejadian.


"Masa iya sih gue halu" gumam gadis itu dengan wajah bingung. Melihat keterdiamannya, sudut bibir Mars tertarik keatas membentuk sebuah senyuman yang amat tipis hingga tidak ada yang menyadari kalau dia tersenyum. Rasanya sangat puas bisa membuat gadis cerewet macam Venus kebingungan.


"Berhenti bersikap ceroboh!", entah apa yang merasukinya hari ini, Mars merutuki mulutnya sendiri. Hari ini tanpa sadar rasanya dia sudah terlalu banyak bicara hal yang tidak penting, apalagi dengan manusia seperti Venus.


Senyum Venus terulas lebar karena merasa diperhatikan. Saking lebarnya dia tersenyum, mata bulat Venus sampai menyipit hingga tersisa segaris. Nampak sangat menggemaskan.


"Mars gak mau kalo gue kenapa-napa ya?. Hehee.... Iya kok, lo tenang aja. Gue bakal lebih hati-hati lagi buat lo. Ya kali gue belum dapetin cinta lo tapi gue udah mati duluan. Kan gak lucu"


Baru saja Mars bersimpati, gadis itu sudah kembali ke jiwa cerewet seperti biasa. Ucapannya selalu ngelantur. Tapi hari ini ada satu hal yang Mars ketahui tentang Venus, gadis itu pintar menyembunyikan perasaan. Seperti sekarang, dia berhasil menyembunyiksn rasa takut dan cemasnya dibalik tawa riang dan muka jahil yang dia miliki. Sehingga terkadang orang lain menganggap Venus tidak memiliki masalah hidup dan menjadi manusia paling bahagia di muka Bumi ini.


"Dasar aneh!" Mars berucap sinis, cowok itu kemudian berbalik badan. Melangkah meninggalkan Venus yang masih menatap bingung kearahnya.


"MARS MAKASIH YA UDAH NOLONGIN GUE, LOVE U!!"


Kepala Mars menggeleng kecil mendengar teriakan Venus dari arah belakang sana. "Sama-sama" sahut cowok itu dalam hati.