Another Star

Another Star
Care



Malam sudah menjelang saat itu, tapi baik Venus ataupun Victor masih betah diam-diaman di dalam mobil. Setelah tadi berhasil membujuk gadis itu untuk masuk mobil, Victor segera menjalankan mobilnya menuju Apartemen Venus. Sesekali dia melirik ke samping, melihat bagaimana gadis yang biasanya hobi ngoceh kini duduk anteng dengan pandangan menjurus kearah luar jendela.


"Lagi sariawan, Ve?. Diem-diem aja" tidak betah dengan kesunyian yang ada, Victor akhirnya buka suara. Melirik Venus lagi, kemudian kembali fokus menyetir.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi!" sahut Venus dengan kesal, kini dia menatap oenuh kearah Victor, menunggu cowok itu merespon pertanyaannya sebelum mereka masuk mobil tadi.


"Lo tau darimana gue ada di tempat itu?. Gak mungkin banget kalo kebetulan, kebetulan gak mungkin bisa pas banget kayak gitu"


Sebenarnya pertanyaan Venus simple, tapi entah kenapa Victor kesulitan untuk menjawab. Karena dia takut kalau jawabannya ini bisa membuat gadis di sampingnya ini semakin menjauh dan memilih orang lain.


"Gue tau dari....


"Dari Mars kan?" potong Venus dengan cepat. Melihat respon Victor cuma diam, dia dapat menyimpulkan kalau tebakannya benar. Venus kembali melihat ke luar jendela, diam-diam dia menyembunyikan senyumannya.


"Nyatanya dia gak tega kan ninggalin gue sendirian, masih peduli aja pakek segala gensi" gadis itu menggumam kecil tapi masih bisa di dengar oleh Victor.


Victor melirik Venus sekilas dengan raut wajah masam. Andai Venus tau sepanas apa perasaannya saat ini, apa gadis itu juga akan tetap memuja-muja Mars di depan orang yang sudah jelas suka padanya.


Victor akui, Mars memang menghubunginya tadi, entah cowok itu bisa dapat nomornya dari mana. Yang jelas dia cuma berpesan untuk menjemput Venus di pantai dan memintanya untuk mengantar gadis itu sampai Apartemen dengan selamat.


"Mars, lo kenal dia udah lama?" tanya Victor dengan nada dingin.


"Nggak sih, sebulan lebih ini kayaknya. Tapi gak tau kenapa gue bisa senyaman ini sama dia" Venus memelanlan volume suaranya di akhir kalimat. Tapi tetap saja, kuping Victor masih sehat walafiat dan dapat mendengar dengan baik apa yang gadis itu ucapkan.


"Lo bisa cepet banget nerima orang baru, tapi pas gue kenapa susah banget Ve?"


Ucapan Victor membuat Venus kontan menoleh. Meski cowok itu melihat depan, tapi dia bisa melihat sorot mata kekecewaan di matanya.


Venus melihat ke luar jendela lagi. Bukan maksudnya tidak menghargai, tapi mau bagaimana lagi, perasaan tidak bisa dipaksa kan?. Dia sudah terlanjur nyaman dengan hubungan mereka yang sebatas sahabat. Dia lebih suka Victor sebagai sahabatnya yang selalu ada disaat dia susah maupun senang, Victor yang selalu membantunya dan memberi semangat.


"Gue minta maaf" ucap Venus dengan lirih.


"No, gue yang minta maaf. Lo gak salah, hati gue aja yang gak tau diri bisa-bisanya jatuh cinta sama lo" Victor tertawa pedih, menertawakan kisah cinta pertama sekaligus patah hati pertamanya.


"Vic, meskipun gue gak bisa bales perasaan lo, lo gak bakal ninggalin gue kan?"


Anggap aja Venus gak tau diri. Dia tidak bisa membalas perasaan Victor, tapi dia juga tidak bisa kalau cowok itu menjauh atau pergi dari hidupnya.


"Gue janji, apapun yang terjadi gue bakal terus ada di samping lo. Sebagai orang yang setia nunggu lo sampe kapanpun"


Sedangkan di sisi lain, Mars mengendarai mobilnya sendirian. Menikmati suasana Kota Moscow ditemani suara klakson-klakson kendaraan di sekitarnya. Mobilnya kini terasa kosong dan hampa tanpa suara milik Venus. Tidak ada lagi suara yang selalu berhasil menusuk indra pendengarannya. Sekarang gadis itu sedang berada di mobil lain, bersama laki-laki lain juga. Dan bodohnya itu semua terjadi karena permintaan dia sendiri.


**********


Matahari sudah bersinar terik saat gadis bernama Venus Graziella berangkat ke sekolahnya. Gadis itu berlari menyusuri trotoar, terlalu buru-buru sampai tidak sengaja menabrak bahu beberapa orang.


Akibat galau semalaman, dia jadi terlambat bangun untuk berangkat sekolah. Alarmnya mati, dan sialnya tidak ada yang membangunkannya mengingat kalau sekarang dia tinggal sendirian.


Venus melihat sekeliling untuk mencari taksi, tapi tidak ada satupun taksi yang kosong. Semua penuh karena setiap pagi penduduk kota ini akan berlomba-lomba keluar rumah entah untuk bekerja ataupun sekolah. Tidak heran kalau jalanan di Kota Moscow disebut sebagai jalanan paling ramai di Rusia, tempat ini tidak pernah sepi kendaraan. Bahkan pengendaranya pun termasuk ke dalam salah satu pengendara paling agresif di dunia. Salip sana-sini, trobos sana-sini.


Venus berdecak berkali-kali. Dia melihat kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sial, 20 menit lagi bell masuk berdering tapi dia masih nangkring di pinggir jalan seperti orang hilang. Mau naik metro pun percuma, antrian disana bisa membuatnya yang sudah telat jadi makin telat.


Tapi sepertinya kali ini Dewi Vortuna sedang berpihak kepada Venus. Di seberang jalan ada sebuah taksi kosong yang berhenti. Gadis itu menghela nafas lega. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, bersiap untuk menyebrang. Setelah dirasa aman, Venus mulai maju beberapa langkah ke tengah jalan. Tapi tiba-tiba dari balik gang sebuah ruko yang letaknya di utara jalan, sebuah motor sport melaju kencang kearahnya. Mata Venus membelalak, mau menghindar tapi kakinya terasa kaku. Gadis itu memejamkan mata, diam sambil merapalkan doa memohon pengampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa yang sudah dia buat selama di dunia.


Venus tidak berani buka mata, sampai dia merasakan ada tangan yang menariknya ke tepi sampai mereka berdua jatuh barengan di trotoar pinggir jalan. Venus membuka matanya saat merasa pantatnya perih karena tergores trotoar. Gadis itu lalu menoleh, dan menemukan sosok Mars yang juga sedang tergelempang di pinggir jalan.


"Mars?!" gumam Venus dengan lirih.


Tapi Mars tidak menjawab. Cowok itu fokus melihat pengendara motor yang tadi sempat hampir menabrak Venus. Setelah tadi dia berhasil menarik Venus ke tepi, orang itu baru mengerrm motornya setelah melewati mereka sekitar 30 meter. Dari balik helm fullface warna hitam yang orang itu kenakan, Mars dapat melihat orang itu sedang melirik kearah mereka lewat kaca spion. Dia memfokuskan pandangannya lagi, mencoba menggunakan kelebihan melihat yang dia punya. Tatapannya menajam, menembus kaca hitam yang digunakan orang itu. Mars cuma bisa melihat matanya, ada dua tahi lalat kembar yang terletak di pelipis kanan.


Orang itu lalu kembali tancap gas secepat kilat, tanpa balik arah ataupun sekedar permintaan maaf. Mars jadi semakin curiga dengan orang itu.


"Mars?"


Suara panggilan dari Venus mrmbuatnya menoleh. Gadis itu menatap bingung kearahnya, "Tangan lo....."


Venus menggantungkan kalimat yang dia ucapkan. Mars kontan melihat tangannya sendiri. Dia kaget bukan main. Cowok itu langsung mengangkat tangannya yang tanpa sadar sudah mencengkram pembatas jalan sampai penyok. Mars menatap tangannya sendiri, begitupun dengan Venus. Gadis itu tambah bingung saat melihat tangan Mars tidak lecet sedikitpun.


"Gimana bisa tangan lo kayak gitu" ucap Venus yang masih dilanda kebingungan.


Mars menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Dia sendiri juga bingung kenapa dia bisa kelepasan, padahal biasanya dia selalu bisa mengontrol emosi. Cowok itu menghela napas, mencoba untuk tenang dan mencari alasan paling tepat yang masuk akal.


"Ini bukan karena tangan gue, kemaren ada yang jatuh disini mungkin itu sebabnya besinya bisa sampe penyok" kilah Mars.


Venus masih kurang percaya dan kurang puas dengan jawaban yang cowok itu berikan. Perasaan kemarin tidak ada kecelakaan disini, dan dia ingat hetul kalau besi itu tadi masih utuh. Lagian kecelakaan model apa yang bisa membuat penyokan di besi yang mirip genggaman tangan seperti itu.


Tapi Venus memilih diam, bersikap sok percaya. Dia akan menunggu sampai Mars mau cerita sendiri nanti, meskipun kecil kemungkinan.


"Oh, kirain tangan lo hehe. Lagian gak mungkin juga sih manusia bisa penyokin besi kayak gini, emangnya alien bisa punya kekuatan kayak gitu" gadis itu tertawa hambar, dan Mars cuma melihatnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Andai Venus tau kalau dia memang alien.


Mars berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Venus berdiri. Venus dengan senang hati menerima uluran tangan itu, kapan lagi coba Mars baik begini.


"Thanks", Venus mengumbar senyum manisnya. Membuat Mars diam-diam merekam setiap gambaran bagaimana gadis itu tersenyum di otaknya. Barangkali dia akan kangen setelah kembali ke planet dimana dia berasal.


"Makasih udah nolongin gue hari ini, and makasih juga karena lo udah care sama gue" lanjutnya.


Mulut Mars terbuka hendak menyahut.


"Harus gue bilang berapa kali sih, jangan ceroboh. Susah banget ya jaga diri sendiri?"


Cowok itu berucap dengan geram, tapi bukannya takut Venus malah gemas sendiri. Muka Mars kalo lagi kesel lucu, mirip bayi koala.


"Takut banget ya kalo gue kenapa-napa?" pancing Venus sembari menaik turunkan alisnya.


Mars dia tidak merespon, iya ya, kenapa juga dia peduli.


"Mulai besok berangkat sekolah sama gue"


"Aye-aye kapten!"


...****************...


**Jan lupa like, komen, and vote ya mantemannnnnn


makasiiiii**