
Sepertinya baru kali ini Venus percaya kalau takdir memang gak ada yang tau. Pagi itu saat dia akan berangkat sekolah, tentunya dia akan menggunakan lift untuk turun ke lantai 1. Seperti biasa, dia harus mengantre dulu menunggu benda persegi itu tiba di lantai tempatnya berpijak.
Gadis itu melihat layar kecil di bagian atas lift. Angka tersebut menunjukkan kalau lift masih berada di lantai 10. Kemudian turun, turun, dan tiba di lantai 5-tempat unit apartemen Venus berada. Saat pintu lift terbuka, betapa kagetnya dia saat melihat Mars juga ada disana. Cowok itu juga sama kagetnya dengannya. Terlihat jelas di raut wajah yang dia tunjukkan.
Selama beberapa detik mereka mematung dan saling menatap, sebelum akhirnya suara Mars mengentrupsi Venus untuk segera masuk.
"Lo kalo cuma mau bengong disana, gue turun duluan!"
Venus berdecak keras. Dia buru-buru masuk ke dalam sana dan lift mulai berjalan turun. Di sela-sela keheningan, Venus menoleh kearah Mars yang sedang menatap lurus ke depan. Tingginya yang 167 cm cuma sebatas bahu Mars yang memiliki tinggi 178 cm. Dengan begitu Venus harus sedikit mendongak.
"Lo tinggal disini juga?" tanyanya.
"Iya" sahut Mars tanpa menoleh.
Sekarang Venus baru tau kalau mereka satu atap. Bedanya Mars berada di lantai 10 sedangkan dia di lantai 5. Sayang sekali, seharusnya mereka bisa tinggal sebelahan.
Pintu lift terbuka saat mereka sudah sampai di lantai 1. Mars melangkah lebih dulu dengan langkah lebarnya. Sedangkan Venus berjalan di belakang seperti anak ayam yang mengikuti sang induk. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Pupus sudah bayangan mesra bersama Mars. Saat mereka berjalan berdampingan, saling bercanda dan membicarakan tentang masa depan. Lalu saat dia capek, Mars akan berjongkok dan menawarkan punggungnya untuk menggendong Venus.
Memang sudah seharusnya dia tidak membayangkan hal itu dari awal. Karena kejadian-kejadian yang dia bayangkan tadi, adalah sebuah kemustahilan yang tidak akan pernah dilakukan oleh seorang Mars.
Belum selesai dia mendumel dalam hati, Mars tiba-tiba berhenti hingga membuat hidung Venus menabrak punggungnya. Asli, ini lebih sakit dari menabrak punggung gorila.
"Ihh Mars.... Kalo berhenti bilang dulu dong!" gadis itu merengut sembari mengusap hidungnya. Sambil sesekali mengecek tulangnya ada yang bengkok atau tidak.
Mars berbalik badan dan menatap Venus dengan tatapan memicing, "Lo ngapain ngikutin gue?"
Kini giliran mata Venus yang memicing bingung, "Dih PD banget, siapa juga yang ngikutin lo?!"
"Gue mau jalan ke Metro ngapain lo ikut"
"Emang yang boleh naik metro cuma lo doang?. Gue juga mau kesana kali"
Gadis itu mendengus. Mars ini ada-ada aja. Masak cuma gara-gara mereka searah, dia sudah dituding jadi penguntit. Mentang-mentang tampangnya selalu punya aura mencurigakan.
"Oh"
Jawaban yang dilontarkan cowok itu sontak membuat rahang Venus nyaris jatuh. Sebenarnya cowok itu terbuat dari apa sih, kaku betul mirip kanebo kering.
Sebelum Venus sempat mengucapkan dumelannya, Mars sudah lebih dulu balik badan dan jalan duluan. Venus mencak-mencak sendiri. Kalo gak inget cinta, mungkin dia sudah menceburkan Mars ke Samudra Pasifik.
"Emang minta dicium nih cowok" gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
Venus menarik nafas panjang di pinggir jalan. Menyiapkan mental untuk menghadapi sikap Mars yang kadang di luar nalar. Gadis itu lalu menyisir rambutnya menggunakan telapak tangan, lalu berdehem sebentar dan memasang senyuman secantik mungkin.
"Sabar Ven, sabar. Kan kata orang kebahagiaan itu gak instan, harus ada perjuangannya. Yuk, gak boleh nyerah. Ayo kejar si kulkas tiga pintu. Pokoknya harus sampek dapet!"
Beberapa orang menatapnya aneh karena ngomong sendiri. Tapi Venus tidak peduli. Dia cuek-cuek aja. Ini hidup gue, kalo gak suka ya gak usah diliat. Begitu prinsipnya.
"MARS TUNGGUIN GUE!!" Venus setengah berlari mengejar Mars yang sudah berjalan jauh di depan. Ini langkahnya yang kependekan atau kaki Mars yang kepanjangan sih?. Cepet amat perasaan jalannya.
"Tungguin gue dong!"
Mars kembali mendengus saat gadis itu berjalan di sebelahnya. Kenapa dia tidak bisa sehari saja terbebas dari perempuan bernama Venus?!.
Sedangkan Venus, dia adalah pihak paling bahagia disini. Gapapa lah harus jalan kaki dari Apartemen sampai manapun, asalkan ditemani Mars dia mau. Sepanjang jalan menuju metro, Venus tidak henti-henti mengumbar senyuman. Dalam hatinya, dia menobatkan hari ini sebagai hari paling bahagia yang dia miliki. Kapan lagi dia bisa jalan bareng Mars di pagi hari seperti ini. Meskipun tanpa gandengan, tapi melihat bayangan mereka bisa berjajaran saja Venus sudah senang.
"Mars udah sarapan?" dia bertanya pertanyaan basa-basi yang biasa diucapkan jutaan umat di Bumi.
"Udah mandi?"
"Udahlah!"
"Udah sayang sama gue belum?"
Cowok itu menoleh kearahnya dengan muka datar khas yang selalu dia tunjukkan. Venus ikut menoleh, tersenyum sambil menunggu dia bersuara. "Lo tanya sekali lagi, gue tinggal!!"
Sialann!
Meskipun dengan menahan gondok, Venus tetap tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Oke!" gadis itu menyahut. Dan setelah itu tidak ada percakapan lagi. Venus menjelma menjadi gadis baik yang diam dan anteng berjalan di samping Mars. Mars cukup tenang akan hal itu.
Mereka sampai di Stasiun Metro, ada ratusan orang yang juga menunggu kereta bawah tanah untuk bepergian. Tempat ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Melihat banyaknya orang disana, Mars melirik ke Venus yang berdiri sampingnya. Tanpa Venus itu sadari, Mars mundur selangkah lalu beralih berdiri di belakangnya. Mengawasi tanpa gadis itu sadari.
Selang beberapa menit kereta datang dari arah timur. Semua orang bersiap untuk naik ke kereta tersebut. Venus menunggu orang di depannya untuk naik, lalu dia bersiap untuk naik kebijakan kereta yang lumayan tinggi. Mars masih setia berdiri di belakang gadis itu, menunggu sampai dia naik dengan aman. Namun dikarenakan rok sekolah Venus hanya sebatas di atas lutut, tentu rok itu tersingkap saat digunakan naik.
Mars menyadari hal tersebut. Dengan gerakan cepat dia mengambil bukunya dan menggunakan buku itu untuk menutupi paha bagian belakang milik Venus. Setelah gadis itu naik dengan aman, barulah dia memasuki kereta.
Mars masih berdiri di belakang Venus sembari mencari bangku yang kosong, tapi sepertinya tidak ada. Hari ini kereta sangat penuh, terpaksa mereka harus berdiri sampai tempat tujuan.
Venus tersenyum cantik kearah Mars saat tatapan mereka tidak sengaja bertemu. Sebelah tangan gadis itu berpegangan pada pegangan kereta sedangkan sebelahnya lagi sibuk menata rambut.
Penumpang hari ini sangat sesak. Beberapa dari mereka berdesak-desakan hingga membuat penumpang lain tidak sengaja terdorong. Di sebelah Venus seorang ibu-ibu dengan tubuh tinggi besar, berjalan dengan arogan. Hingga lengan gadis itu tidak sengaja terdorong. Pegangannya pada pegangan kereta terlepas, dia nyaris jatuh. Beruntung Mars dengan cepat menangkapnya sehingga kepala gadis itu tidak jadi membentur dinding kereta.
Tanpa kesengajaan Venus berada di pelukan Mars. Tangan cowok itu memegang erat punggungnya agar tidak jatuh. Sungguh posisi yang tidak aman untuk kesehatan jantung Venus. Gadis itu mendongak, menatap bola mata Mars yang penuh kemisteriusan. Di mata cowok itu dia tidak bisa menebak apapun.
"Bisa gak sih sehari aja lo gak ceroboh?!" Mars berseru dengan kesal. Tanpa melepas pegangannya, dia menatap bola mata cokelat terang milik Venus dan baru menyadari kalau gadis itu memiliki mata yang indah.
"Sekarang gue udah boleh ngomong belum?. Kan tadi lo gak ngebolehin gue ngomong" Venus balik bertanya dengan muka polosnya. Mars menghela nafas, kemudian berdehem malas.
"Gue gapapa kok jadi orang paling ceroboh di dunia, biar gue bisa dapet malaikat pelindung kayak lo"
************
Mereka tiba di Clarion saat jam masuk kurang 10 menit. Setelah insiden tadi, tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Mars bahkan saat Venus mengoceh di samling telinganya. Cowok itu berjalan lempeng mendahului, tanpa memperdulikan Venus yang kesusahan berjalan karena tali sepatunya lepas tapi dia mager membenahi.
Saat dia hendak masuk ke dalam kelasnya, Venus tiba-tiba memanggil dengan suara lantang. Mars berbalik badan, berdiri diam sambil menunggu gadis itu sampai di tempatnya berdiri saat ini.
Venus berdiri di depannya, menatapnya lekat hingga rambut gadis itu terjatuh menjuntai ke samping. "Tadi gue lupa belum ngasih morning greetings buat lo" celetuknya. Mars masih diam menyimak.
Venus berdehem sembari membenahi rambutnya ke samping, "Good morning Mars ganteng" dia memberikan morning greetings sembari memasang senyum tercantik yang khusus dia tunjukkan hanya untuk Mars.
"Belajarnya yang semangat ya, jangan kangen sama gue. Kita ketemu lagi nanti pulang sekolah. See u prince!" gadis itu menepuk pelan pucuk kepala Mars hingga membuat cowok itu tertegun. Dia melihat punggung Venus yang mulai menjauh dan tanpa sadar dia tersenyum tipis setelahnya.
"Aneh"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BAPER DIKIT, EH GAK DENG, BAPER BANGET😭
Mars Ellerick
Alien ganteng gue❤