Another Star

Another Star
Kita dan Salju Pertama



Banyak pikiran yang mengerubungi pikiran Mars malam itu. Tentang waktu, hidup, dan seseorang. Jika melihat dari waktu-waktu sebelumnya, titik ini adalah saat yang dia nantikan. Saat dimana dia bisa kembali, ke kehidupannya yang sebenarnya bukan disini. Tapi semakin kesini, pikiran Mars mulai bercabang karena seseorang.


Dia Venus


Dia Venus, perempuan bersuara cempreng yang hobi buat rusuh. Perempuan yang setiap harinya tidak pernah absen memberikan senyuman sehangat mentari untuk Mars. Dia, yang membuat Mars sejenak ragu untuk pergi.


Pagi tadi sebenarnya bukan sebuah kebetulan. Mars sengaja pergi ke swalayan juga supaya bisa bertemu Venus dan membantu gadis itu, meskipun cuma dengan membayari bill belanjaan. Ya, dia bisa mendengar ucapan Venus dari lantai 10 tempatnya tinggal.


Tapi saat sampai di Swalayan, seseorang menarik perhatian Mars. Seorang laki-laki berjaket hitam, sedang menatap fokus kearah Venus. Dari radius 25 meter dia bisa melihat kalau orang itu membawa suntikan dan senapan di tangannya. Merasa bahwa itu pertanda bahaya, Mars langsung menarik tangan Venus untuk menjauh. Di sela langkah mereka, Mars tahu kalau orang itu mengikuti dari belakang meskipun dia tidak balik badan. Dia menarik tangan Venus lebih cepat lalu masuk ke dalam kerumunan supaya mereka tidak ketahuan.


Orang itu mulai tidak mengikuti saat dia dan Venus sudah naik metro. Saat itu Mars bingung tapi masih harus bersikap santai supaya Venus tidak curiga. Dan berakhirlah mereka jalan-jalan di Red Square, lalu baru ke Swalayan yang ada di dekat sana.


Setelah selesai mengantar Venus dengan selamat ke Apartemennya, Mars naik ke lantai 15. Tepat ke Rooftop Apartemen. Disini sendirian sambil menatap langit. Mencari-cari planetnya di antara banyaknya bintang di langit malam yang tanpa awan mendung kali ini.


Di titik itu, sudut 85°—planetnya bersinar paling terang di antara banyak bintang. Bibir Mars mengulas senyum tipis. Tangannya terangkat ke langit, guna mengirim signal kalau dia ada disini lewat cincin berlambang matahari yang dia pakai di jari telunjuk.


Segala macam ricuh mulai bersarang di kepalanya. Menerka setiap kemungkinan yang terjadi hari ini, esok, atau lusa. Tentang Venus tadi, dia jadi tidak tenang. Gadis itu sendirian sekarang. Ayahnya pergi, terus bagaimana nanti kalau dia pergi juga.


Siapa yang akan menjaga senyuman Venus supaya tetap terbit


"3,5 bulan lagi"


"Kenapa sama 3,5 bulan?"


Suara sahutan dari belakang kontan membuat Mars menoleh ke belakang. Venus, perempuan itu berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Memakai blazer panjang dengan celana panjang, cuaca cukup dingin malam ini karena salju pertama diberitakan akan turun sebentar lagi. Venus melangkah, berjalan menghadap kearah Mars yang sedang melihatnya.


"3, 5 bulan lagi ada apa?" ucap Venus mengulang pertanyaannya.


Mars diam, bingung harus bilang apa. Cowok itu menelan ludahnya sampai jakun di kerongkonannya bergerak naik turun.


"Lo nggak perlu tahu" sahut Mars sembari menatap Venus dalam.


Venus ikut mengarahkan pandangannya ke dalam iris mata hitam pekat itu. Iris yang membuatnya menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya pada pemilik mata ini.


Mereka terkunci dalam satu dimensi waktu. Yang diharapkan keduanya tidak punya jalan keluar untuk pergi, dan berakhir menetap di dimensi itu meskipun sulit.


"Apapun itu, di 3,5 bulan lagi, gue cuma berharap semoga itu bukan perpisahan" Venus menjeda ucapannya tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Mars. "Gue capek kehilangan terus"


"Kehilangan udah jadi salah satu periodisasi hidup manusia, lo nggak bisa nolak hal itu" sahut Mars yang sejak tadi diam.


"Iya, tapi nggak untuk kehilangan lo. Kalau bisa, hal itu bakal jadi hal yang paling gue tolak di hidup gue"


Venus maju selangkah lebih dekat, mengikis jarak dan ruang untuk dingin yang mulai masuk karena salju mulai turun dengan lebat.


"Selama kita sama-sama, gue nggak bisa nutupin sesuatu kalo gue sayang sama lo Mars. Lebih dari apapun. Gue juga nggak tau alasannya, gue juga nggak tau kenapa harus lo, yang jelas hari ini gue cuma mau nurutin hati gue untuk ngomong sama lo"


"Gue sayang sama lo Mars, sehebat salju yang turun di Bulan Januari"


"Biar salju pertama ini jadi saksi Deklarasi Cinta Venus"


Venus memejamkan matanya, menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan. Udara dingin membuat kulit pipinya ikut dingin, tapi kenapa suhu badannya masih terus meningkat. Dia gugup.


"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Mars dengan ekspresi tidak terbaca.


"Karna kalo nunggu lo kelamaan" sahut Venus spontan.


Mars mau menjawab lagi, tapi Venus langsung menodongkan jari telunjuk di depannya. Menyuruh diam. Jujur dia malu brutal.


"Nggak, nggak Mars!. Kalo lo mau ngomong penolakan, gue belum siap pleasee. Diem aja diemmm, silahkan lo jawab kalo gue udah mempersilahkan jawab. Yang jelas jangan sekarang" perempuan itu berucap dengan heboh.


Pipinya merah karena malu, padahal beberapa menit yang lalu dia masih bisa bicara dengan fasih tentang pernyataan yang dua sebut deklarasi cinta.


Mars menatapnya dalam, dengan ekspresi tidak terbaca. Hal itu membuat Venus tidak bisa menebak apa isi pikiran cowok itu.


"Masuk, disini dingin"


Tidak menjawab apa-apa, Mars menarik tangan Venus untuk masuk ke dalam gedung Apartemen. Dia mulaj merasa dingin yang menusuk, padahal selama 200 tahun dia disini, Mars tidak pernah merasa dingin ataupun panas. Waktunya sudah hampir tiba.


Lift sampai dulu di lantai 10, Mars keluar lebih dulu lalu langsung pergi tanpa berkata apapun. Venus menatap kepergiannya kecewa, padahal biasanya Mars akan menyempatkan diri mengantarnya sampai depan Apartemen, tapi sekarang tidak.


"Why?"