ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
EMPAT SEKAWAN YATIM & PIATU



BAB 8


Beberapa hari di Mont Agel, kelompok sirkus Alexander mendapat banyak pengunjung yang setia dengan pertunjukan mereka. Rata-rata, mereka adalah anak-anak dan orang tua.


Saat Bradon tampil bersama Gustafo dan beberapa anggota lainnya, penonton pun bersorak gembira saat melihat tarian Irish andalan mereka. Bahkan saat paman Bet dan paman Kristoff memainkan aksi mereka berakrobat di atas tali, itulah permainan yang ditunggu-tunggu dan mendebarkan.


Kira-kira jam satu siangan, pertunjukkan mereka sudah selesai. Alexander mencari Egon karena ia ingin mengajak anak itu ke suatu tempat.


"Ke mana teman barumu itu?" tanya Alexander pada putranya.


"Dia sedang duduk di depan pagar," jawab Bradon.


"Ayah akan membelikannya pakaian baru dan sepatu. Apa kau mau ikut?" ucapan Alexander membuat Bradon terharu.


"Ayah mau membelikannya sepatu dan baju? Benarkah?"


"Ya. Kau ikutlah juga. Ayah juga akan membelikanmu pakaian baru."


"Baiklah."


Bradon merasa sangat senang saat ayahnya mengatakan akan membelikannya pakaian. Juga untuk Egon. Sebab ia juga merasa kasihan melihat Egon yang bertelanjang kaki serta berpakaian lusuh dan jelek.


Memang benar, ia tidak tahu dari mana Egon datang. Tetapi, ia seperti menemukan saudara dari jauh saat bertemu dengan anak itu.


Karena ayahnya sudah berlalu, Bradon pun segera berjalan menyusul di belakangnya. Mereka melihat Egon sedang tiduran di padang rumput bersama anjingnya. Di mata Bradon, Egon dan anjingnya tampak saling menyayangi satu sama lain.


"Kau sedang bersantai, rupanya?" tanya Alexander mengagetkan Egon.


"Eh??" Egon duduk.


"Ayo ikutlah bersama kami ke pasar kota. Paman akan membelikanmu pakaian baru."


"Pakaian?"


"Ehem. Apa kau mau?"


Egon mengangguk cepat. Disusul suara gonggongan Gill. Rupanya anjing itu juga tahu apa maksud pria dewasa yang ada di hadapannya. Tanpa berlama-lama, mereka bertiga pun pergi turun ke pasar kota.


Pasar lokal dimana semua penduduk desa tumpah ruah di sana. Mereka berjalan beriringan mencari toko pakaian bekas yang murah namun masih bagus. Sekilas mata, Alexander menemukan toko yang ia cari.


Mereka pun memasuki toko tersebut. Banyak sekali pilihan baju dan setelan yang lumayan menarik perhatiannya. Dengan semangat, Bradon memilih baju berwarna coklat kesukaannya.


Alexander juga sudah mendapatkan pilihan untuk Egon. Dengan baju dan celana yang juga berwarna coklat di tangan, ia menyuruh Egon mencobanya. Mendapat perintah seperti itu, Egon hanya menuruti keinginan ayah dari sahabat barunya. Ia meraih pakaian itu dan mencobanya. Rupanya pakaian itu begitu pas di badannya dan ia juga menyukainya.


"Apa kau suka?"


Egon mengangguk beberapa kali. Ia begitu senang karena pakaian bagus itu akan segera menjadi miliknya. Saat Egon hendak melepasnya, Alexander mengatakan bahwa pakaian itu langsung dipakai saja.


Kemudian, ayah Bradon mendekati putranya yang sudah mendapatkan baju pilihannya. Ia segera mengajak kedua anak laki-laki itu pergi ke penjaga toko dan membayar semua pakaian yang mereka ambil.


Beranjak dari toko pakaian, mereka masuk ke toko sepatu yang sama-sama toko bekas yang masih bagus. Alexander memilih sepatu yang kuat dan ringkas untuk alas kaki Egon.


Dan yang paling utama adalah sepatu yang tebal dan hangat yang akan menghangatkan mereka jika datang musim dingin nanti.


Walaupun melihat Egon dibelikan sepatu baru oleh ayahnya, Bradon tidak merasa iri ataupun dengki. Ia justru merasa senang karena ayahnya memperhatikan sahabat barunya itu seperti memperhatikannya.


...****************...


Pada akhirnya, mereka pulang ke lokasi berdirinya tenda sirkus dan tempat berhentinya karavan-karavan mereka. Kepulangan mereka rupanya sudah dinantikan oleh Mariane dan Gustafo. Kedua anak itu memanggil Bradon dan Egon. Karena paman Alexander langsung pergi ke karavannya, Egon duduk di tepi karavan Gustafo.


"Kalian dari mana?"


"Wah, iya benar. Kau sekarang memakai sepatu," ucap Mariane. "Kakimu tidak akan sakit lagi," lanjutnya.


"Iya."


Egon menjawab sambil tersenyum di dalam hati. Baik Mariane ataupun yang lain tidak tahu bahwa dirinya sudah terbiasa seperti itu sejak bayi. Bahkan selama ini, ia berlari di atas batu dan semak berduri dengan hanya bertelanjang kaki.


Egon mengusap-usap bulu di tengkuk Gill. Sambil menguap, ia menyandarkan kepala di dinding karavan yang ada di belakangnya. Apa yang ia lakukan itu diikuti Gustafo. Anak berkulit hitam manis itu mengusap sepatunya.


"Saat pertama datang ke sirkus Alexander, aku juga dibelikan sepatu baru oleh tuan Alex. Dan sepatu ini, adalah sepatu ke tiga yang dia belikan untukku," cerita Gustafo senang.


"Benar. Sepatu kami ini akan berguna di musim dingin nanti," sahut Mariane.


"Berguna?"


"Ya. Sepatu itu akan melindungi kakimu dari dinginnya salju," jawab Bradon sambil tersenyum.


"Bukankah saat turun salju kita lebih aman jika berdiam di dalam gua?" jawab Egon lugu.


Mendengar jawaban Egon, mereka bertiga tertawa. Anak itu begitu lugu saat mengucapkan hal itu. Itu lucu sekali. Bahkan sedikit konyol.


*Bagaimana mungkin manusia bisa diam saja di dalam gua? Seperti makhluk purba saja.*


Pikir mereka.


Karena Egon tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan, ia hanya bisa menatap ketiga kawan yang sedang menertawakannya.


"Apa yang lucu?"


"Kau yang lucu," jawab Mariane.


"Apa yang aku ucapkan salah?"


"Kau tahu? Di musim dingin, manusia akan diam di dalam rumah mereka dengan cerobong asap di dalam rumah mereka masing-masing. Mereka juga akan keluar rumah sesekali untuk berburu atau membeli bahan makanan sebanyak mungkin untuk persediaan satu bulan," jawab Bradon menerangkan.


"Memangnya kau tinggal dimana selama musim dingin ini? Apa kau tinggal di dalam gua?" tanya Gustafo sambil terkekeh karena merasa Egon hanya melucu saja.


"Benar. Aku memang tinggal di dalam gua."


Mendengar jawaban Egon, semuanya berhenti tertawa. Mereka saling berpandangan dan kemudian menatap Egon kembali.


Mereka mengamati tubuh Egon dari atas hingga bawah kaki. Tidak ada yang aneh, hanya rambut Egon yang tampak sedikit panjang. Tetapi, bila mengingat penampilan Egon saat pertama datang, mereka ingat saat itu wajah dan tangan Egon penuh coreng dan luka gores. Apa mungkin itu luka karena tinggal di dalam gua?


"Kau serius?" tanya Bradon.


"Ya. Aku,,,,,,"


Egon menelan kembali ucapannya karena ia ingat bahwa kebenaran tentang dirinya tidak boleh diketahui siapapun. Akhirnya ia mengarang cerita.


"Emm. Maksudku, aku tinggal di dalam rumah yang seperti gua, sebab ayah dan ibuku sudah lama tiada. Tinggal berdua dengan anjingku ini, aku tidak mampu merawat rumah peninggalan orang tuaku dengan baik. Bahkan saat beberapa bagian dindingnya ambruk, aku terpaksa meninggalkan rumah itu dan berkelana ke manapun kaki membawaku pergi," jawab Egon panjang lebar.


"Jadi begitu? Kita sedikit mempunyai kesamaan. Aku juga tidak mempunyai orang tua sejak umur enam tahun," ucap Mariane.


"Jika benar begitu, kita sama-sama pernah merasakan kehilangan orang tua kita. Itu hal paling menyedihkan yang pernah kita rasakan, bukan? Mari berteman dan bersahabat. Kita akan berbagi dan saling menguatkan seperti satu keluarga," ucap Gustaf terharu.


Mereka pun terdiam dan merenung. Di tempat itu, mereka akhirnya menemukan kawan yang senasib. Dengan sesuatu yang mereka sama pernah rasakan, empat sekawan itu merasakan kekuatan baru di dalam diri mereka. Sambil berpelukan erat, mereka tersenyum penuh haru.


...****************...


BERSAMBUNG..