
BAB 37
Meski ombak di lautan menerjang kencang, Egon berenang dengan gigih melawannya. Berbeda dengan Serena yang tampak biasa-biasa saja menghadapinya.
Bagaimapun, Egon harus melakukannya sebab tidak ada kapal atau perahu yang berani melewati pulau Siren. Ia berenang dengan jarak sangat jauh untuk menuju daratan Perancis.
Sesekali, Serena memegangi pinggang Egon atau berenang cepat sambil memeluknya. Ia melakukan itu untuk membantunya tetap berada di permukaan dan tidak tenggelam. Bahkan dengan bantuan dari Serena, Egon mampu meluncur dengan lebih cepat melintasi lautan luas.
Sambil terus berenang, Serena tertawa senang dan mengajak Egon bercanda. Ia benar-benar bahagia bisa bertemu pemuda seperti Egon. Manusia setengah Lycan yang membuatnya jatuh cinta. Meski itu terjadi hanya sekali dalam hidupnya dan pada akhirnya mereka tidak bisa bersama, ia tetap merasa bersyukur bisa mengenalnya.
Setelah ribuan mil jarak yang mereka tempuh, akhirnya Egon sampai juga di daratan. Ia merasa sangat lelah karena berjam-jam bergelut dengan ombak dan lautan.
"Ah. Terima kasih, nona. Kau mengantarku ke daratan dengan selamat," ucap Egon sambil berbaring mengambil nafas.
"Sama-sama, tuan. Setelah dari sini, kau akan pergi ke mana?" tanya Serena sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.
"Aku akan kembali ke hutan tempat kelahiranku, Marseille."
"Marseille?"
"Ya."
Serena menarik lepas sebuah sisiknya dan memberikannya pada Egon. Meski saat diambil terasa amat sakit, ia tulus memberikan sisik itu sebagai kenang-kenangan darinya.
"Terimalah kenang-kenangan dariku ini, tuan. Aku harap, kau akan menjaganya untukku."
"Nona. Kau mengambil sisikmu?"
"Hmm. Hanya itu yang bisa kuberikan padamu."
"Tapi, aku tidak mempunyai sesuatu yang bisa ku berikan padamu, nona. Ini terlalu berlebihan," Egon menerima sisik Serena dengan ragu.
"Tidak apa, tuan. Bagiku, kau sudah memberiku hal terindah yang tidak akan pernah mampu ku lupakan."
Egon tersenyum, "Baiklah. Aku akan menerima hadiah ini dan menyimpannya dengan baik."
"Terima kasih, tuan. Semoga kau tetap sehat dan hidup dengan baik."
Egon mengangguk. Begitu mengatakan salam perpisahan pada Serena, ia pun berdiri dan mulai melangkah pergi. Sebelum melangkah lebih jauh, ia melambaikan tangan pada wanita Siren itu.
Sepeninggal Egon, Serena segera berenang kembali ke pulau tempatnya tinggal. Bersama Siren yang lain, ia membentuk susunan ketua yang baru. Dan pada akhirnya, ia menjadi ketua terpilih yang menggantikan ketua lama.
Beberapa tahun kemudian, di setiap malam purnama. Atau saat di mana gerhana bulan muncul, saat bulan sabit, Serena selalu memandangi langit. Dengan cara seperti itu, ia dapat mengenang kembali waktu indah bersama Egon.
...----------------...
Di tempat lain, tepatnya di hutan Marsheille. Egon duduk sendiri di antara gua tempatnya tinggal. Hutan yang dulu pernah terbakar itu sudah kembali dipenuhi pepohonan rindang.
Alamnya pun terasa sejuk dan bersahabat. Binatang kecil dan besar berkeliaran, entah itu kelinci ataupun babi hutan. Membuatnya merasakan kedamaian seperti dulu saat hidup bersama saudara-saudaranya. Dengan begitu, ia juga tidak akan kelaparan. Karena stok makanan tersedia di tempat itu.
Siang di hutan Marsheille, Egon sedang memanggang daging babi tangkapannya. Di hutan itu ia mengenang masa lalunya bersama keluarga Amaury dan Evarist.
Sambil membolak-balikkan daging yang ia bakar, ia juga mengingat keluarga paman Alexander.
"Kira-kira, mereka sedang apa sekarang? Apakah hidup dengan bahagia?" gumam Egon.
Di desa yang bisa dibilang dekat dengan hutan Marseille, semua penduduk yang dulu pergi kini sudah ada lagi. Mungkin mereka semua pendatang di tempat itu. Sebab, Egon tidak mengenali bau mereka sedikitpun.
Setiap malam, Egon mengendap-endap dan bersembunyi untuk memeriksa keadaan desa tersebut. Tidak ada yang sama. Tempat itu cukup berkembang dari penduduk semula.
Beberapa usaha kecil dengan tenaga manual seperti pabrik keju dan pakaian pun ada di sana. Seperti saat ia mengembara bersama rombongan sirkus paman Alex, ia bahagia bisa mendapatkan keju ataupun susu dari sebuah peternakan.
Kini, jika ia menginginkan keju atau susu, ia bisa saja datang ke sana. Membeli ataupun ikut bekerja.
Pada suatu sore, saat Egon sedang duduk disebuah pohon. Ia mendengar suara langkah yang menuju tempatnya berada. Dengan cepat ia mengawasi keadaan yang membuatnya waspada.
Rupanya, ada seorang gadis yang datang membawa keranjang buah di tangannya. Entah, ke mana gadis itu pergi Egon belum tahu dengan jelas. Ternyata ia berhenti dan memetik buah murbei yang ada di pohon dekat tempat Egon bersembunyi.
Pada saat memetik buah murbei, gadis itu bernyanyi, bersenandung dan menari dengan lemah lembut. Suara nyanyianya terdengar merdu sekali di telinga Egon. Tapi tiba-tiba saja gadis itu mendongakkan kepalanya ke atas pohon.
"Hey, siapa kau? Apa kau sedang mengawasiku?" tanya gadis yang bernama Seravina itu.
"Apa?" Egon menggumam.
Seravina belum pernah melihat Egon sebelumnya. Ia begitu penasaran dengan sosok pemuda yang berpakaian compang camping itu. Berulang kali ia meminta Egon turun dari pohon. Meski awalnya ragu, Egon turun dengan perlahan.
"Kau tinggal di sini?"
Egon mengangguk.
"Benarkah? Di mana rumahmu?" Seravina begitu penasaran.
Egon menatap gadis itu dan berpura-pura tidak bisa bicara. Ia tidak ingin dijatuhi banyak pertanyaan. Akhirnya ia asal menunjuk saja dan mengarah pada pohon.
"Pohon? Kau tinggal di atas pohon? Begitu maksudmu?"
Egon mengangguk. Seravina merasa kasihan pada Egon. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam keranjang. Buah murbei yang baru saja ia petik.
"Ini untukmu. Pasti kau belum makan."
Egon hanya mengangguk dan menerima buah murbei tersebut. Karena Egon begitu penurut, Seravina menganggap bahwa pemuda itu cukup baik. Tidak menyeramkan ataupun mencurigakan. Dengan perlahan ia mengelus kepala Egon dan tersenyum.
"Sedang apa dia? Mengapa dia melakukan ini padaku? Kekanakan sekali. Tapi tunggu! Mengapa aku merasa bahwa sentuhannya begitu hangat seperti yang ibu lakukan padaku dulu?"
Egon merasa nyaman. Meski baru bertemu dengan gadis itu, tetapi ia merasa seperti sudah mengenalnya jauh sebelum ia datang kembali ke tempat itu.
Pada saat mereka sedang menikmati proses perkenalan diri, terdengar suara pria yang memanggil nama Seravina.
"Seravina! Di mana kau??!"
Egon segera berlari bersembunyi di balik pohon dan diam tanpa kata. Melihat hal itu, Seravina pun mengerti bahwa pemuda yang ia temukan tidak ingin keberadaannya diketahui orang lain.
"Aku di sini, ayah! Aku segera ke sana!!"
Seravina pergi sambil terus menoleh pada Egon. Ia juga melambaikan tangannya seolah itulah salam perpisahan untuk jumpa kembali lagi lain waktu.
"Aku akan kembali...." bisik Seravina.
Begitu suara-suara manusia itu lenyap, Egon segera keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan cepat menuju guanya. Begitu sampai di gua, Egon duduk beristirahat. Diletakkannya buah murbei yang diberikan Seravina di atas batu.
"Seravina? Siapa dia?"
Egon bangun dan berjalan mondar-mandir di dalam gua. Ia masih saja khawatir jika seseorang tahu keberadaannya di sana akan membawa bencana untuknya. Meski letak gua tempat tinggalnya begitu rumit untuk ditemukan manusia.
Sebab, untuk menuju ke guanya saja, manusia harus melewati hutan yang sangat rimbun dengan air terjun dan tebing curam sebagai pelindungnya.
"Tidak. Tidak mungkin gadis itu akan menemukanku sampai ke gua. Tempat ini sangat terlindungi. Siapapun yang masuk pasti akan tersesat," begitu pikirnya.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian, setelah Egon sedikit lupa akan Seravina. Ia memanjakan dirinya dengan mandi di air sungai yang alirannya ia dapat dari air terjun.
"Ah, segarnya."
Egon mengusap rambut kepalanya dengan kedua tangannya. Secara kebetulan ia menyenggol kalung yang bandulnya ia buat dari sisik ikan pemberian Serena. Ia melubangi bagian pinggir sisik tersebut dan mengikatnya dengan tali akar pohon.
Egon tersenyum mengenang saat itu.
"Lihat, nona. Sisik darimu, aku jadikan kalung. Aku juga memakainya setiap hari."
Saat Egon sedang menceburkan mukanya ke dalam air, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara wanita yang ada di belakangnya.
"Kau sedang mandi?"
Karena kaget, dengan cepat Egon mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Seravina? Kenapa ia bisa sampai di tempat ini? Ini mustahil.
Egon berbalik dan menatap Seravina yang datang membawa tas dari kain yang di ikat.
"Kemarilah. Lihat apa yang aku bawa untukmu," seru Seravina.
Karena Egon merespon dengan lambat, Seravina menariknya keluar dari air. Dan mengajaknya melihat apa yang ia bawa dalam buntalan kain yang ia bawa.
"Lihat. Aku membawakanmu pakaian baru!" Seravina berseru riang.
Seravina tersenyum melihat ekspresi Egon yang tampak bingung. Ia pun meraih Egon dan mencoba membantunya untuk melepas pakaian di tubuhnya yang sudah koyak. Namun, begitu Serena menyentuh pundaknya, Egon segera mundur selangkah. Ada apa?
Bersambung..........