ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
SEBUAH DESA TANPA JIWA



...~ BAB 27 ~...


Egon merasa khawatir saat Gill terus saja memejamkan mata dan tak sadarkan diri. Ia berusaha mencari dan meramu obat herbal untuknya.


"Apa kau masih menyiapkan obat untuknya?" tanya peri Green.


"Ya."


"Aku rasa, dia sudah siuman."


"Apa? Benarkah?"


Egon menghentikan pekerjaannya dan bergegas menghampiri Gill yang tengah tergeletak lemah. Ia begitu senang saat mengetahui keadaan saudaranya tersebut.


"Kau sudah bangun, Gill !" ucap Egon memeluk saudaranya.


"Hmm. Apa aku tidur cukup lama?"


"Ya. Kau membuatku takut saja."


Hehehe


Gill tertawa dipaksakan. Ia tidak ingin membuat Egon semakin khawatir. Sebab ia menyadari, bahwa dirinya tidak mungkin bertahan dalam waktu yang lama.


"Kemarilah, aku akan membuatkan makanan untukmu," Egon merasa harus melayani Gill dengan baik.


Disuapkannya biji pohon ek yang sudah ia panggang ke dalam mulut Gill. Serta beberapa jamur Truffle yang berwarna hitam.


"Cobalah jamur Truffle ini. Rasanya enak, bukan? Kau beruntung sekali. Menurut Jeneva, jamur ini sangat langka dan hanya beberapa yang tumbuh di dunia. Tapi siapa sangka, aku bisa menemukan beberapa di hutan selatan."


Egon menceritakan keseruannya berburu makanan bersama Green pada Gill. Kemudian setelah Gill merasa kenyang, Egon membantu saudaranya tersebut tidur kembali.


"Baiklah, kau boleh istirahat kembali. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu. Oke?"


Beberapa waktu kemudian, Egon pergi bersandar di sebuah pohon besar. Ia melayangkan pandangnya ke seluruh pelosok hutan. Dalam kesendiriannya, ia memikirkan Carli dan Capi.


"Bagaimana kabar mereka, ya? Apakah mereka berdua sudah pergi jauh, atau justru menungguku?" gumam Egon lirih.


Saat seperti itu, angin bertiup sepoi-sepoi. Egon tidak malu untuk mengakui bahwa karena angin tersebut, ia menjadi merasa sangat mengantuk. Akhirnya, dengan perlahan matanya yang tajam itu terpejam. Ia tidur tanpa alas di atas rumput yang di dekatnya tumbuh jamur kancing berwarna coklat.


...----------------...


Di dalam mimpi Egon, ia melihat Carli dan Capi menyalak keras. Kedua anjing direwolf itu menggonggong keras pada satu makhluk yang tidak begitu jelas. Namun nampaknya, makhluk itu memiliki sayap yang luas dan lebar. Dan di dalam mimpinya itu, Carli dan Capi diserang dengan lontaran bola api. Sehingga tubuh mereka terbakar karenanya.


Karena ia peduli dengan kedua kawannya, Egon berusaha menyelamatkan mereka. Namun yang terjadi justru ia terbakar sendiri. Dalam keadaan tidurnya, Egon mengerang tanpa sadarkan diri. Jiwanya masih berada dalam mimpinya. Sesekali ia menggeram karena melihat kedua anjing kawannya itu memekik kesakitan.


Begitu akhirya ia membuka mata, keringat pun membasahi sekujur tubuhnya.


HOSH HOSH


"Aah. Rupanya itu hanya mimpi."


Kemudian saat ia berdiri dan mencoba berjalan, barulah ia merasakan jika tubuhnya terasa panas dan perih. Ia menjatuhkan diri dan mencoba duduk dengan tenang. Rupa-rupanya, beberapa bagian tubuhnya melepuh karena efek terbakar.


"Sshh,,, aah.Apa ini? Tubuhku melepuh?"


Egon menjadi bingung. Kenapa bisa tubuhnya melepuh seperti itu? Bukankah ia terbakar saat ia menyelamatkan Carli dan Capi di dalam mimpinya?


Beberapa saat kemudian, tubuhnya yang melepuh itu berangsur normal seperti sedia kala. Ia hanya bisa bersyukur sebab darah Lycan yang mengalir dalam tubuhnya. Dengan begitu, ketika ia mengalami luka, tubuhnya akan melakukan penyembuhan dengan sendirinya.


Egon beranjak dari tempatnya dan menengok keadaan Gill. Ia melihat saudaranya itu tidur dengan nyenyak.


"Gill, apa kau tidak mau bangun? Kau sudah tidur cukup lama."


Egon mencoba membangunkan Gill. Namun apa yang terjadi membuatnya sedih. Sebab, rupanya Gill sudah tidak bernyawa.


"Gill?? Kau tidak boleh bercanda seperti ini !" teriak Egon merasa sedih saat ditinggalkan saudara satu-satunya yang ia punya.


Digoncangkannya tubuh Gill namun tidak ada pergerakan pasti. Nafas dan detak jantungnya pun sudah tidak menunjukkan denyutan.


"Gill ! Tidaakkk !!!"


Egon berteriak histeris.


Mendengar teriakan memekakkan telinga seperti itu, otomatis Jeneva keluar dari dalam pohon. Ia melihat Egon sedang memeluk Gill dengan tangisan. Ia pun mengerti apa yang tengah terjadi.


Setelah hatinya kuat, Egon berencana melanjutkan perjalanan. Sebab ia juga masih harus menemukan Carli dan Capi. Untuk itu, ia meminta mereka untuk menjaga makam saudaranya, Gill.



Namun, Egon masih enggan beranjak pergi dari hadapan Gill. Ia masih merasa sedih karena ditinggalkan kawan terbaiknya.


"Baiklah, Jeneva. Aku pergi sekarang, ya. Tolong jaga makam Gill untukku."


"Baiklah. Aku akan menjaganya."


Setelah mendengar jawaban dari Jeneva, Egon segera pergi melanjutkan perjalanannya. Ia melangkah dengan pasti menuju jalan yang menuju sebuah desa. Dan benar, Carli dan Capi berada di sana.


...----------------...


KRASAK


Egon berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju desa. Sepanjang jalan yang ia lewati, terasa sangat sunyi. Entah apa yang terjadi di desa tersebut.


Ketika akhirnya ia melihat orang-orang ramai berjalan, ia merasa sedikit lega. Namun orang-orang itu berjalan dengan wajah pucat pasi. Egon merasa hal itu sangat aneh. Bahkan cukup mencurigakan.


"Ada apa dengan mereka semua?"


Egon iseng bertanya pada salah satu orang. Namun orang yang ia tanyai bak sedang terhipnotis oleh suatu kekuatan gaib. Mata mereka terbuka namun pandangan mereka kosong.


"Astaga. Mereka seperti mayat hidup saja?"


Kemudian Egon kembali berjalan dan menemukan hal serupa di beberapa rumah. Manusia-manusia yang berjalan tanpa arah bertubrukan ke sana sini. Pada saat ia memutuskan untuk duduk beristirahat, ia dikagetkan oleh seorang anak kecil yang bersembunyi di sebuah tong besar.


"Hei? Mengapa kau bersembunyi di sana?" tanya Egon menyapa.


Egon melihat ketakutan ada pada anak tersebut. Anak itu bahkan tidak mau mendekatinya. Jika diamati, mata anak itu merah dan kelihatan bengkak.


"Jangan takut gadis manis, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu. Kau juga bisa duduk di sini bersamaku," sapanya ramah dan menyejukkan.


"T tidak mau."


"Baiklah. Kau bisa tetap di situ," ucap Egon. "Apa kau tahu? Apa yang terjadi pada mereka semua?" lanjutnya.


"Mereka sudah mati."


"Apa maksudmu? Bukankah mereka masih bisa berjalan?"


"Makhluk mengerikan itu mengambil jiwa-jiwa mereka di dalam mimpi. Yang kau lihat itu adalah tubuh yang hidup tanpa jiwa. Mereka bisa dianggap sebagai mayat hidup," jawab anak perempuan itu.


"Makhluk mengerikan?"


"Jangan pernah tidur jika kau tidak ingin makhluk itu menyantap jiwamu."


"Apa? Tunggu. Apa maksudmu? Ada makhluk mengerikan yang memakan jiwa manusia lewat mimpi? Begitu??"


"Hemm. Tepat sekali."


"Jadi, itu alasan mengapa matamu jadi bengkak seperti itu? Karena kau takut untuk tidur?"


"Iya. Kau cukup pintar untuk mengerti situasi ini."


"Apa?"


Egon terkekeh mendengar celoteh anak kecil itu. Ia merasa bahwa anak itu dapat menjadi teman perjalanannya.


"Siapa namamu? Apa boleh aku tau?" tanyanya.


"Namaku Zola," jawab anak itu. "Kau sendiri?"


"Aku Egon. Senang bertemu denganmu."


Lambat laun, Zola merayap keluar dari tempat persembunyiannya. Ia merasa bahwa Egon bukanlah seorang musuh. Dan mungkin saja, ia bisa bergantung padanya untuk mencari jalan keluar dari tempat mengerikan itu.


...----------------...


BERSAMBUNG...