ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
TIGA MAKHLUK MIMPI



BAB 29


Egon berdiri kembali dari posisinya. Ia mengamati sekelilingnya yang nampak sepi namun berkabut. Tiba-tiba pandangan matanya melihat kembali paman Alexander. Pria yang memungut dan memberikan kehangatan padanya untuk pertama kalinya.


"Paman Alex, kau hidup kembali?" Egon hampir terperdaya.


Ayah Bradon itu semakin mendekatinya dan berusaha menawarkan pelukan untuk Egon. Pada saat itu juga, Egon kembali fokus pada tujuannya sehingga lambat laun, pandangan sosok paman Alex di matanya menghilang.


Kemudian, tiba-tiba saja ia diserang dari belakang hingga ia jatuh tersungkur dan hampir jatuh ke dalam jurang air berwarna hijau.


Bag bug Bag Bug !


Suara-suara pukulan yang menghajar Egon terdengar amat keras. Bahkan saat Egon berusaha membalas serangan, ia selalu kehilangan kesempatan. Sebab, musuhnya kali ini tidak mau menampakkan diri.


Beberapa kali mendapat serangan, Egon dapat mencium bau makhluk yang ada di hadapannya. Maka dengan bertahap pula ia dapat mengenali gerakan musuhnya dari bau yang ia cium tersebut.


Dan karena sebelumnya ia sudah mendapat pukulan berkali-kali dari musuh yang tidak terlihat, tubuh Egon yang sedang ditunggui Zola pun memuntahkan darah dari mulutnya.


"Kakak ! Apa kau baik-baik saja?" tanya Zola menggoyangkan tangan Egon.


Egon masih belum bisa kembali. Ia berdiri dan mulai berkonsentrasi. Ia juga mempertajam indra penciumannya. Pada saat yang tepat, ia mencium bau makhluk itu berada di sisi kanannya. Secepat kilat, ia bergerak mencengkeramkan tangannya yang ternyata berhasil mencekik leher seorang. musuh.


Lambat laun, musuh yang terkena cekikan Egon pun terlihat. Rupanya seorang wanita berpakaian serba hitam. Tanpa menunggu serangan balik, Egon menubruk makhluk itu dan duduk di atasnya.


"Jadi, rupanya kau yang mengambil jiwa-jiwa manusia itu?!!" Egon sangat geram.


"Siapa kau? Kenapa kau peduli pada mereka semua??" tanya makhluk yang dicekik.


"Karena kau juga mengambil jiwa dua direwolf itu."


"Siapa mereka?"


"Mereka keluargaku ! Beraninya kau megambil jiwa mereka !"


Tiba-tiba saja, Egon mendapatkan tusukan dari belakang.


OHGH !


Seketika itu juga Egon mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia mempererat cengkeramannya pada makhluk yang ada di hadapannya. Namun saat itu ia sedikit lemah, sehingga makhluk yang ia cekik mendorongnya keras. Kemudian menghilang.


"Hoh,, Hoh,," suara Egon mengambil nafas.


Baru saja ia hendak berdiri, ia mendapat serangan api yang akhirnya membakar dirinya. Walaupun ia sedang merasakan sakitnya luka sebab tusukan di punggungya, Egon berguling-guling ke lantai untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya.


Sampai akhirya api itu padam, Egon berlutut memulihkan dirinya. Untung saja tusukan yang ia dapatkan tadi tidak mengenai jantungnya.


Tiba-tiba saja, tempat itu mulai berkabut kembali. Egon kesulitan melihat, sebab kabut menutupi pandangannya. Lalu, tiba-tiba pula seseorang menarik kakinya dan menyeretnya hingga jauh.


Egon melihat wujud makhluk yang berbeda dari yang pertama ia cekik sedang menarik dirinya menuju jurang. Karena ia tidak mau mati sia-sia, Egon segera melipat tubuhnya dan meraih kepala makhluk tersebut.


Kali ini Egon tidak mau memberi kelonggaran. Ia merubah dirinya menjadi Lycan sepenuhnya. Ia melompat menubruk makhluk tersebut kemudian mengoyak kepalanya hingga otak dan semua isinya keluar.


GHEERRR !


Suara geraman Egon sedikit membuat dua makhluk lain menciut. Mereka menyaksikan bagaimana Lycan itu mencabik kepala kakak mereka. Dan karena kakak pertama mereka mati, dua makhluk yang tersisa itupun berhenti sementara waktu. Mereka mengawasi Egon dari puncak tebing.


"Lihat. Aku sudah menghabisi teman kalian," ucap egon.


"Jika kalian ingin selamat, maka lepaskan jiwa-jiwa mereka sekarang juga !" sambung Egon memberi peringatan.


Namun sepi.


Tiba-tiba saja ia kembali mendapat tusukan dari depan hingga ia terdorong mundur. Pada saat itu juga, ia melihat satu makhluk yang bertanduk telah menusuknya dengan kuku jari yang runcing dan panjang.


"Matilah kau !" suara makhluk itu tertawa cekikikan saat Egon terdesak di sebuah batu.


Sambil menahan rasa sakit, Egon menatap makhluk itu dengan tangannya yang memegangi tangan sang makhluk. Karena Egon masih hidup, makhluk itu menekan semakin dalam tusukannya. Hingga akhirnya ia melihat Egon lemah dan tak sadarkan diri.


"Rupanya, kau seorang Lycan? Jadi, tidak ada bedanya dengan kami, hihihi," suara cekikikan itu tampak puas dengan hasil serangannya.


Namun karena lengah, Egon dapat menyerang balik dan merogoh jantung makhluk tersebut. Dengan gerakan pelan, Egon menarik keluar benda yang berdegup-degup itu.


"Aaaaaaaakkhhh !!" teriakan histeris sang makhluk.


"Hahh ! Bagaimana rasanya?" Egon tersenyum menyeringai.


"K Kau ! Sialan kau !"


Makhluk itu menghilang. Meskipun begitu, jantungnya yang hitam kini berada di tangan Egon.


"Cepat lepaskan mereka semua ! Jika tidak aku akan menghancurkan jantungmu !"


"Saudaraku ! Tolong aku ! Cepat lepaskan mereka, jika tidak aku bisa mati," pekiknya kesakitan.


Makhluk yang menyerang Egon pertama kali itu, berdiri di hadapan saudaranya. Ia juga tidak mempedulikan ucapan saudaranya. Ia justru menendang saudaranya dengan kaki.


"Kau payah ! Kenapa dia bisa mengambil jantungmu? Ambil kembali !"


"Aku tidak bisa, luka ini teramat sakit," jawab makhluk yang diambil jantungnya oleh Egon.


"Kalau begitu, kau pantas mati."


"Apa? Tunggu saudaraku !!"


Saudara yang masih hidup itu terbang menyerang Egon. Ia datang melecuti tubuh Egon dengan ekornya yang berujung tajam.


...----------------...


Zola ketakutan karena melihat tubuh Egon sempat terasa amat panas seperti terbakar. Bahkan karena panas tersebut, tubuh egon mulai melepuh. Kemudian tiba-tiba saja kembali normal, tetapi mengeluarkan darah dari mulutnya.


Dengan cemas, Zola mengelap darah yang keluar dengan kain yang ia dapat dari gorden.


"Kakak ! Bertahanlah. Kau harus mengalahkan makhluk itu," Zola memohon pada Egon.


Di tempat lain,


Egon masih berjuang untuk membebaskan para tahanan makhluk mimpi itu. Rupanya ada tiga makhluk yang mengurung jiwa para manusia. Satu sudah mati, satu lagi sekarat karena jantungnya ada di dalam genggaman Egon. Dan satu lagi mulai menampakkan diri kembali pada Egon.


Mereka bergumul dan saling menghantam juga mencekik leher lawan mereka masing-masing. Hingga akhirnya Egon menarik ekor panjang milik makhluk itu, lalu memutarnya kemudian membantingnya ke tanah dengan keras. Ia menyerang dan memelintir kepala makhluk yang pertama kali menyerangnya. Hingga kepala itu benar-benar copot dari tempatnya.


Egon berseru pada satu makhluk yang sekarat, "Lepaskan mereka semua ! Maka aku akan mengembalikan jantungmu."


Mendengar ucapan Egon, makhluk itu menampakkan diri di hadapan Egon. Dengan kesakitan yang amat sangat, ia bertanya, "Sungguh?"


"Ya."


Rupanya, makhluk itu menuruti perkataan Egon. Dengan sisa tenaganya, ia mengerahkan kekuatan dan melepaskan jiwa-jiwa manusia itu dari kurungan.


CRING CRING CRING !


Di dunia asli, tubuh tanpa jiwa yang berkeliaran dimana-mana itu pun hidup kembali. Mereka berseru dan mengucap syukur karena telah diselamatkan. Beberapa yang berada di dekat Zola dan tubuh Egon pun segera mengerumuni mereka.


"Dia yang menolong kita, bukan?" tanya seseorang.


"Benar. Itu dia, pemuda yang datang membunuh para makhluk !" seru beberapa.


Horreee !!! Pahlawan kita !!


Zola terkejut karena manusia-manusia itu kembali hidup. Namun ia segera bersyukur, sebab ia menjadi tahu. Bahwa Egon berhasil membawa mereka semua kembali ke dunia nyata.


Beberapa waktu kemudian, Carli dan Capi pun hidup. Mereka berdua segera menunggu Egon kembali ke tubuhnya.


Kembali di tempat Egon,


Semua manusia sudah dibebaskan dari kurungan. Kini Egon merasa lega.


"Aku sudah melepaskan semuanya, jadi sekarang aku mohon kembalikan jantungku," pinta makhluk terakhir.


"Baiklah."


Egon hampir saja memberikan jantung itu begitu saja pada makhluk terakhir. Jika ia tidak melihat gerakan tangan yang hendak menyerangnya.


Rupanya, makhluk itu akan berbuat curang dengan menyerang Egon. Setelah mendapatkan kembali jantungnya, ia bisa kembali menangkap jiwa-jiwa manusia yang ia lepaskan, pikirnya.


"Apa yang kau lakukan?" Egon geram.


"Tidak, tidak. Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi aku mohon berikan jantungku sekarang juga," ucap makhluk terakhir.


"Baiklah. Tapi kau harus ambil ini sendiri," jawab Egon melempar jantung tersebut ke tengah jurang dengan kencang.


"Apa??? Tidak ! Jangan lemparkan !"


Makhluk terakhir itu mengejar jantungnya yang dilempar Egon ke jurang dengan dasar cairan hijau. Cairan yang akan membakar apapun yang mengenainya.


"Tidak aaaaaa aakkkk !!!!!


Makhluk itu tenggelam ke dalam cairan yang membakar apa saja itu bersama jantungnya. Dan akhirnya, tidak ada yang tersisa.


BERSAMBUNG...


🐾🐾🐾