ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
LAMIA, MAKHLUK CANTIK BERTANGAN ENAM



BAB 25


Gill berlari mengejar kunang-kunang yang membuatnya terpesona. Berkerlap kerlip bagai bintang di angkasa raya. Ia tidak melihat ke mana arah yang sedang ia tuju. Hingga ia dihadapkan pada sebuah gua yang menganga tanpa suara.


Ketika ia hendak berbalik, alangkah terkejutnya ia. Sebab sekelilingnya hanya terlihat kabut putih pekat. Begitu juga saat Egon sampai di sana dengan nafas yang terengah-engah. Ia lari sekuat tenaga agar menyamai kecepatan Gill, saudaranya.


Sambil tangannya bertumpu di kedua lututnya, pemuda itu pun terkejut dengan penampakan sekeliling mereka.


Hosh ! Hosh !


"Apa yang terjadi di sini?" pekiknya.


"K-kau lihat kabut itu? Apa kali ini kita tersesat?" Gill panik dan bertanya pada Egon.


"Itulah yang kutanyakan. Ada apa dengan suasana tempat ini."


Egon berjalan memeriksa keadaan. Dan berulang-ulang mencari jalan untuk keluar dari kabut. Namun selain kabut pekat, ia tidak bisa melihat apapun di sana.


Hanya pintu gua misterius yang lagi dan lagi terlihat oleh kedua matanya. Dan di sekitaran gua tersebut Egon merasakan suhu udara yang terasa amat sangat dingin. Belum pernah ia merasakan dingin seperti saat itu.


"Aku merasa sangat kedinginan. Mari kita istirahat di dalam," Egon mengajak Gill memasuki gua.


"Baiklah."


Keduanya memasuki gua dengan sangat hati-hati. Gill yang berjalan di depan tidak merasakan sesuatu yang berbahaya menurut dia. Sedangkan Egon terus menggosok-gosokan kedua telapak tangannya sambil terus berjalan di belakang Gill.


Melewati lorong gua yang pengap, akhirnya mereka menemukan tempat yang cukup hangat dengan tumpukan rumput kering di tengah ruangan. Beberapa jamur liar juga tumbuh di sekeliling ruang gua tersebut. Egon menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruang gua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput.


"Apa yang kita lakukan ini benar? Kau tidak ingat cerita Jeneva tentang Lamia" tanya Gill.


"Aku ingat. Tapi untuk saat ini, inilah yang bisa kita lakukan."


"Tapi bagaimana jika kita bertemu dengannya di sini?" Gill merinding.


"Jika kau takut pada Lamia, mengapa kau berlari menjauh saat kita bersama menuju jalan yang benar. Karena ulahmu, sekarang aku ada di sini bersamamu."


"Apa kau menyalahkanku, sekarang?"


"Tidak. Untuk apa aku menyalahkanmu. Itu semua tidak bisa merubah keadaan kita sekarang. Ssshh huuff...." Egon melenguh kedinginan.


Suasana hening sesaat. Baik itu Gill maupun Egon berada dalam pikiran mereka masing-masing. Beberapa jam kemudian, asap yang bergulung-gulung muncul dari suatu tempat dan membuat mereka mengantuk. Keduanya pun tertidur pulas.


Dalam kesunyian tersebut, muncullah sesosok makhluk cantik dari balik dinding gua. Sepasang mata yang memancarkan sinar berwarna merah menyala dengan bulu mata lentik miliknya itu menatap tubuh Egon tanpa berkedip. Dengan pandangan yang menakutkan, lidah panjang berwarna biru menyapu bibir bawahnya.


SLURRRPPP !!


Wanita berparas elok itu pergi meninggalkan ruangan Egon dan berlalu menuju kolam dingin yang ada di sisi lain gua. Air kolam tersebut bercampur dengan warna yg sedikit kemerahan sebab sudah ribuan nyawa manusia hilang di tempat itu.


Darah mereka mengalir dan menyatu dengan air kolam. Tak berapa lama kemudian, suara nyanyian sesat yang menggema merdu di dalam gua terdengar hingga ke telinga Egon. Seperti terkena hipnotis, Egon membuka matanya dan melangkah pergi menuju tempat di mana nyanyian merdu berasal.


SRET !


Egon berjalan seakan menyeret kedua kakinya yang tampak berat. Kedua tangannya lemah lunglai dengan tatapan mata kosong yang juga menguasainya.


Tanpa ia sadari, ia berjalan dengan langkah gontai memasuki kolam. Saat separuh tubuhnya terendam di dalam air, sesuatu yang tampak meliuk mendekati dirinya dari bawah.


Kemudian sesuatu yang nampak seperti ekor ular dengan gerigi memutari kaki kirinya. Ekor ular itu berhenti sesaat ketika menelusuri sel*ngk*ngan Egon.


Pemiliknya merasakan kehangatan yang bersumber dari sana. Bahkan, ekor Lamia itu meliuk dan menyusup ke dalam pakaian bawah yang dikenakan Egon lalu menggelitiknya.


Namun, berkat gerakan ekor ular yang cukup erotis di bagian itu, Egon mendapatkan kesadarannya kembali. Egon begitu terkejut saat penglihatannya kembali normal.


Dilihatnya sesosok wanita yang cantik dengan enam tangan sedang bersenandung dan menatap tajam dirinya.


Saat dilanda kebingungan, tiba-tiba saja sesuatu memeluk erat kakinya.


Ia teringat dengan cerita Jeneva. Bahwa beberapa tahun belakangan hutan itu kedatangan iblis Lamia. Dan menguasai wilayah gua di sekitar sana.


"A-apa yang kau lakukan padaku?"


Tidak ada jawaban. Lamia hanya diam dan tersenyum. Wanita itu masih saja melanjutkan nyanyiannya sambil ke enam tangannya menari-nari dengan indah.


"Apa maumu!" tanya Egon sekali lagi.


"Kau sungguh ingin tahu?" ucap Lamia akhirnya dengan suara lemah lembut nan menggoda.


"Katakan!"


"Yang ku inginkan,, adalah,,,," Lamia menghentikan ucapannya yang nampak manja.


"Apa! Kenapa diam?!"


Hening.


"Aku menginginkan tubuhmu. Apa kau mau bercinta denganku?" lanjut Lamia sembari tertawa.


"A-apa?!" Egon berucap lirih menyadari kelalaiannya.


Lamia melanjutkan tarian erotis yang biasa ia lakukan untuk menjerat mangsanya. Pada akhirnya, mangsa yang terjerat akan menjadi santapannya.



Perlahan namun pasti, Lamia mengangkat tubuh Egon dengan ekornya agar mendekat kepadanya. Tampak dengan jelas, separuh badan Egon berada dalam lilitan yang erat.


Untuk kali pertama, ia mencoba melepaskan diri dan melawan dengan sekuat tenaga. Bahkan ia juga mengeluarkan kuku tajamnya untuk melukai ekor Lamia. Akan tetapi semakin lama ia melawan, semakin ia merasakan bahwa tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Aaarrrggghhh !" teriak Egon saat mencengkeram ekor Lamia.


HOSH ! HOSH ! HOSH !


Lamia menertawakan usaha Egon yang tak kunjung berhasil dalam meloloskan diri. Merasa bahwa Lamia tengah mempermainkannya, pada saat bagian ekor yang lain berada di dekat dirinya, Egon segera menangkap dan membenamkan giginya yang runcing. Dengan kuat ia menggigit bagian tubuh Lamia hingga darah biru milik wanita tersebut muncrat keluar.


"Aahh! Apa yang kau lakukan!" pekik Lamia sembari mengibaskan ekornya agar terlepas dari gigitan Egon.


Menerima perlawanan dari Egon, Lamia menyudahi tawanya. Sebab ia juga merasa kesakitan. Namun beberapa menit kemudian, ia kembali tertawa. Dengan semangat ia menekankan tubuh Egon ke dinding gua dengan ekornya yang kuat.


Kemudian ia meluncur mendekati Egon dan mengendus setiap lekuk tubuh pemuda itu. Lalu, dengan mata merah yang bersinar, ia berhenti tepat di depan muka Egon. Di pandanginya mulut dengan gigi-gigi tajam yang penuh dengan darahnya itu.


Lamia tersenyum menyeringai. Melihat santapannya yang lumayan tangguh, ia justru semakin berselera.


"Apa kau senang, bisa menggigit daging dan darahku yang beracun?" senyum Lamia.


"Apa?"


"Kau menggigit dagingku. Tentu saja kau juga merasakan darahku. Bagaimana? Apakah lezat?" Lamia berkata di dekat bibir Egon sambil menggoda.


"Cih,, " Egon berusaha meludah.


"Kenapa kau meludah? Apa kau takut jika mati karena racunku?"


Egon menggeram.


"Sebaiknya, bercintalah terlebih dulu denganku. Setidaknya, kematianmu tidaklah sia-sia."


Sebelum Egon memberikan jawabannya, Lamia membanting tubuh Egon ke dasar gua. Kemudian ia mendekati Egon yang merasakan kesakitan dengan sinar mata menakutkan.


SRIIIIIIIINGGGG !!


(Bersambung........)