
...----------------...
πNb :
Sebelumnya, terimakasih banyak buat pembaca yang masih setia pada karya ini,,,, π
karena beberapa bulan kemarin penulis sibuk mengurus kematian Ibunda dan pendaftaran sekolah putrinya. Jadi nggak sempet nulis2 cerita deh,,,
Dan karena penulis mencoba kembali melanjutkan cerita,,
Semoga para pembaca suka lanjutan ceritanya yaa,,,
jangan lupa kasih jempolnya,,,ππ
Selamat membacaaa,,,,πππ
πππ
...----------------...
BAB 23
Dalam langkah panjang Egon dan yang lainnya di dalam hutan, tampak beberapa ekor kupu-kupu terbang rendah melintas di dekat mereka. Suasana hutan juga tampak sunyi. Namun Egon merasakan ada sesuatu yang sedang mengawasi dirinya. Berulang kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan.
"Ada apa?" tanya Gill.
"Aku rasa, ada sesuatu yang mengawasi kita," ucap Egon lirih.
Gill menoleh ke belakang dan menyapukan pandangannya. Tempat itu memang sedikit aneh, di dalam hutan yang terlindung pepohonan, terdapat tumbuhan bunga dan beberapa pintu seperti rumah peri. Bahkan ada kotak-kotak lampu dari cahaya api di beberapa titik. Jika saat itu suasana begitu sunyi, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya misterius.
"Apa kau pernah mendengar tentang peri?" tanya Carli.
"Peri?" jawab Egon.
"Ya. Peri adalah makhluk mitos yunani, pada jaman dulu Dewa kami selalu turun untuk berkunjung."
"Aku baru mendengar itu darimu," jawabnya dengan lirih.
Tanpa mereka sadari, sesuatu sedang mendengarkan obrolan mereka dari sebuah pohon. Pada sebuah rerimbunan dedaunan, muncul sebuah wajah misterius dari dalam kayu (batang pohon).
Egon dan yang lainnya tidak menyadari kemunculan wajah misterius tersebut. Mereka justru duduk beristirahat dan bersandar di bawah pohon tersebut.
Malam itu, mereka merasa amat kelelahan karena sudah cukup jauh berjalan sejak melewati kota mati. Lagipula, para anjing juga butuh istirahat sebab tubuh mereka yang terluka harus mendapatkan pengobatan alami. Dan mereka bisa mencari sesuatu yang dapat dijadikan obat di hutan tersebut.
"Kita istirahat di sini sebentar. Dan melanjutkan perjalanan besok," perintah Egon.
"Tapi, apa tempat ini aman untuk kita istirahat?" tanya Capi.
"Kita berjaga bergantian. Aku akan mengambil giliran jaga yang pertama kali," jawab Egon. "Kalian istirahatlah," lanjut Egon sambil menumpuk beberapa daun untuk tempat ia duduk.
Malam itu, Egon berjaga sendirian. Ketiga kawannya tidur tepat di sebelahnya. Pada awalnya, suasana masih seperti beberapa jam yang lalu. Sunyi. Namun semakin larut, suara-suara alam membuat bulu kuduk Egon berdiri.
Selain udara terasa amat dingin, mata Egon mulai terasa berat. Walaupun begitu, Egon tetap mencoba untuk terjaga dari rasa kantuk yang melanda.
Ketika waktu mulai merayap ke pertengahan malam, dari kejauhan Egon melihat cahaya kecil berkedip-kedip. Dan sesekali terdengar suara gemerisik semak yang entah karena tertiup angin atau karena ada sesuatu di sana.
Dengan keberaniannya, Egon mendekati asal suara. Ia melihat cahaya kuning berkedip yang semakin terang berpijar di atas cekungan kayu yang ditumbuhi jamur-jamur kecil. Dan saat ia benar-benar ada di dekat cahaya itu, Egon terperanjat.
Di depannya tampak sesuatu seperti manusia namun berukuran kecil, lebih kecil dari ukuran bayi. Dia dapat menciptakan cahaya berbentuk kupu-kupu berwarna warni nan indah dan menjadikannya seolah hidup pula.
Egon diam tak bergerak. Bahkan ia menahan nafasnya agar manusia kecil itu tidak menyadari kehadirannya. Sesekali ia mendengar suara kecil dari manusia yang ia yakini adalah seorang peri, seperti cerita Carli.
"Sekarang apa yang harus kulakukan, kupu-kupu cantik? Apa semua yang kulakukan hari ini, salah?"
"Ini sungguh tidak adil."
Peri yang ada di depan Egon belum menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri sambil memperhatikannya dari belakang. Peri tersebut terus saja berbicara kepada diri sendiri.
Dan ketika peri hijau bersayap itu merebahkan diri ke atas tumpukan jamur dengan kedua tangan diangkat ke belakang kepalanya, ia melihat sebuah wajah yang asing sedang memperhatikannya. Spontan saja peri itu kabur ketakutan dan terbang bersembunyi di rerimbunan daun, meninggalkan jejak cahaya yang berpijar-pijar.
"Hei, jangan pergi," panggil Egon.
Egon memperhatikan peri hijau yang bersembunyi karena takut. Sesekali peri itu melongokkan kepalanya dan melihat ke arah Egon yang tersenyum. Karena Egon tampak tidak berbahaya, peri tersebut sedikit demi sedikit mendekat pada manusia yang ingin sekali ia lihat itu.
"Apa kau takut padaku?"
Peri itu mengangguk.
"Jangan takut. Aku tidak akan berbuat jahat padamu."
Peri itu mengangguk lagi dengan matanya yang berbinar-binar.
"Apa kau peri dan tinggal di sini? Namaku Egon. Aku datang bersama kawan-kawanku untuk bermalam di sini," Egon mengulurkan jari telunjuknya. "Senang bertemu denganmu."
Pada awalnya, sang peri merasa ragu. Namun, setelah berpikir cukup lama, peri itu meraih jari telunjuk Egon. Mereka bersalaman dan saling berkenalan. Nama peri itu Green. Dia peri tumbuhan. Setelah saling mengenal, mereka berdua mengobrol sepanjang malam. Dan sesekali, Green berbisik agar Egon tidak berbicara terlalu kencang.
"Pssst ! Pelankan suaramu," ucap Green.
"Ada apa?"
"Dryad."
"Apa itu Dryad??"
"Peri penjaga hutan. Dia akan berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya untuk menyesatkan dan kemudian menangkap manusia yang masuk dan merusak hutan."
"Penjaga hutan?"
"Ya."
"Lalu, apakah kira-kira Dryad itu akan menangkapku?"
"Jika kau berbuat atau merusak sebuah pohon atau tumbuhan lainnya, maka ia akan murka, sebab pohon di hutan adalah rumah baginya" Green menjelaskan.
"Benarkah?"
"Kadang dia akan menyesatkan manusia dengan mengelabui pandangannya. Dan seringkali manusia yang tergoda padanya akan berakhir mengenaskan."
"Wow. Mengerikan sekali. Seperti apa dia? Aku penasaran," jawab Egon.
"Pssttt !! Jaga ucapanmu. Bisa jadi dia sedang mendengarkan kata-katamu."
Saat peri tumbuhan sedang berbicara, Egon mengusap dan mengedipkan matanya berulang kali ketika tanpa sengaja melihat pergerakan di sebuah pohon.
Ia merasa bahwa baru saja ada sesuatu yang menatapnya dari batang pohon yang ada di hadapannya.
Untuk sesaat ia merasa ngeri. Mengingat cerita dari peri tumbuhan, bahwa makhluk yang disebut Dryad itu benar-benar ada, ia pun meneguk ludah karena merasa cemas. Sebab, walaupun dirinya bukan manusia seutuhnya, tetap saja ia merasa khawatir akan kemunculan makhluk tersebut.
Suasana menjadi hening.
Tiba-tiba terdengar suara mengagetkan dari atas pohon. Baik Egon maupun sang peri segera menoleh ke arah suara. Namun suara itu terdengar berpindah-pindah. Kemudian seolah menghilang.
Hal itu tentu saja membuat Egon semakin waspada. Ia mempertajam indra pendengaran dan penciumannya. Matanya yang tajam juga berusaha terus bekerja mengawasi keadaan di sekitarnya.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Mereka merasa ada sesuatu yang mendekat. Tiba tiba, angin berhembus sangat kencang dan membuat dahan pohon besar di hadapannya bergoyang. Beberapa daun kering berguguran terbang melayang disekitar Egon. Dan tiba-tiba pula sebuah daunnya melintas dengan cepat di depan muka dan melukai hidungnya hingga berdarah.
CRASS !!
(Bersambung.....)