
BAB 33
Egon mengikat kedua tangan Carli dan Capi agar saling berkaitan. Kemudian ia menyusup ke tengah di antara tubuh mereka lalu menggendong keduanya di punggung dan depan badannya.
Ia harus menemukan jalan keluar dari tempat mengerikan seperti itu. Sambil berjalan dengan murung, ia menapaki jalan yang tanpa ia duga adalah wilayah berpasir. Entah itu ada di mana, Egon juga tidak tahu pasti.
"Sebenarnya aku ada di mana sekarang?" gumamnya sambil menatap langit yang menampakkan matahari seakan begitu dekat ke bumi.
Langkah Egon terseok-seok karena tanah tempatnya berpijak rupanya telah menyerap banyak tenaganya. Hosh.. Hosh...
"Panas sekali," Egon menyeka keringatnya. "Ada apa dengan matahari itu? Kenapa aku merasa keberadaannya seperti begitu dekat di atas kepalaku?" lanjutnya.
Ia istirahat sebentar di sebuah gua batu besar. Tangan dan kakinya seakan melepuh karena kepanasan. Alas kakinya yang sudah usang pun seakan tak sanggup lagi menahan temperatur panas yang tinggi.
Lambat laun, Egon kelelahan dan jatuh pingsan di pintu gua. Beberapa menit di saat ia tak sadarkan diri, muncul seekor laba-laba raksasa dari dari persembunyiannya.
Makhluk raksasa itu mendekati Egon dan memuntahkan cairan lengket yang kemudian ia rajut menjadi benang untuk menggulung tubuh Egon, Carli dan Capi.
Karena saat siang udara begitu panas, begitu malam tiba udara berubah menjadi dingin seketika. Udara dingin itu pun mampu merasuki tulang-tulang manusia.
Dan ketika akhirnya Egon membuka mata di esok paginya, ia sangat terkejut ketika menyadari bahwa dirinya berada di dalam gulungan jaring laba-laba. Jika dari luar, hampir semua bagian tubuhnya tertutup jaring.
Namun ada sedikit celah yang berada di wajahnya sehingga matanya tampak bergerak-gerak saat mencoba melawan kelenturan jaring tersebut. Ia tidak mau menyerah menjadi makanan makhluk apapun. Maka dari itu, ia berontak dan berusaha melepaskan diri sekuat tenaga.
"Sial! Ayo tendang! Lawan! Singkirkan jaring itu dari tubuhmu, Egon!!" pekiknya menyemangati diri sendiri.
Dan karena usahanya benar-benar keras, jaring yang membuatnya tergantung di atas dinding gua itu pun jatuh ke bawah. Tepat pada saat ia jatuh ke tanah, laba-laba raksasa itu muncul dan memilih makanannya. Makhluk itu berdiri tepat dihadapannya pula.
Makanan? Ya. Selain dirinya, beberapa makhluk yang terbungkus di jaring dan tergantung di dinding gua itulah makanan bagi laba-laba raksasa. Makhluk itu menyimpan persediaan makanan untuk beberapa bulan lamanya di dalam kantung jaringnya. Dan jika ia mau makan, maka ia tinggal memilih makanan yang paling lama ia simpan.
Untung saja. Karena Egon termasuk makanan baru yang disimpan, raksasa itu tidak meliriknya. Bahkan raksasa itu tidak menyadari saat kantung berisi Egon itu jatuh di atas tanah.
SRET
Egon mengeluarkan cakarnya dan berusaha menyayat kantung laba-laba itu secara perlahan. Ia sangat menyadari. Bahwa di gurun pasir itu, raksasa laba-laba itulah raja dari semua makhluk yang ada di sana.
Saat ia harus berusaha menyobek benang yang menggulung tubuhnya, dilihatnya raksasa itu menurunkan stok makanannya dan membuka gulungan untuk ia santap.
Di dalam gulungan itu, terdapat mayat seorang pria tua yang sudah sangat pucat. Tanpa menunggu apapun, raksasa itu mengunyah tubuh sang pria tua dari bagian kepalanya terlebih dahulu.
KRAK KRIEEK KRIYYIEKK !
Bunyi dari mulut laba-laba raksasa yang sedang mengunyah terdengar mengerikan. Egon menelan ludah dan berkeringat dingin. Ia sudah berhasil melubangi gulungannya. Tinggal bagaimana caranya ia keluar tanpa dilihat oleh raksasa yang tepat ada di hadapannya.
Hap!
Ia berhasil mencapai dindingnya. Dadanya bergerak naik turun saat sedang mengatur nafas. Dengan punggung yang bersandar di dinding gua, Egon membuat dirinya menempel erat.
Ia tidak ingin hidupnya sia-sia menjadi santapan raksasa. Namun, ia harus melewati laba-laba itu jika ingin keluar dari dalam gua. Untuk sesaat ia berpikir. Tiba-tiba, ia merasakan hembusan angin segar dari dalam gua.
"Apa ini? Anginnya terasa begitu segar. Jika aku bisa merasakan hembusan angin dari dalam, maka itu artinya, apakah ada jalan keluar di dalam gua?"
Egon berkata dalam hati.
Sekian waktu ia berpikir dan mencoba memutuskan mengadu nasib. Baik. Ia bertekad untuk mencari tahu dan masuk ke dalam gua. Benarkah apa yang ia pikirkan soal jalan keluar? Jika ingin tahu, maka ia harus melakukannya.
Ia mengintip raksasa itu kembali. Rupanya sekarang makhluk besar berkaki delapan itu sedang tidur di tanah. Ah. Itu kesempatan dari dewa. Ia harus segera bergerak menyelinap ke dalam gua.
Tapi ia tiba-tiba saja ingat soal Carli dan Capi. Meski khawatir raksasa itu bisa saja terbangun, ia mengendap-endap mendekati gulungan besar yang ia yakini bahwa Carli dan Capi ada di dalamnya. Egon menyayat sedikit di bagian atas dan melihat dalamnya. Benar itu mereka. Karena ikatan yang ia buat pada tangan mereka tidak terlepas, maka si raksasa menggulungnya bersama jadi satu.
Setelah berhasil mendapatkan kedua kawannya itu, Egon kembali memasangkan diri di tengah mereka dan menggendongnya kembali. Carli di depan dan Capi di belakang. Ia harus berhati-hati supaya raksasa tidak menyadari pergerakannya. Jika salah langkah dan salah perhitungan sedikit saja, maka ia akan tertangkap dengan mudah.
SET
Egon melangkah perlahan dengan sangat hati-hati. Jalan menuju ruang dalam gua tidak terlalu gelap. Sehingga ia tidak perlu menggunakan obor untuk menyusurinya. Dengan tubuh kedua kawannya di gendongan, Egon sedikit kesusahan. Namun ia bertekad akan membawa mereka keluar dari tanah kematian itu dan menguburkan dengan layak di suatu tempat yang nyaman.
Semakin ke dalam, gua tersebut mengarah ke bawah. Dindingnya tampak lembab dengan berbagai serangga kecil yang merayap-rayap. Kemudian ia juga mendengar suara tetesan air di sudut lainnya.
"Sungai?"
Egon melihat ada sungai di dalam gua. Sebuah kolam dengan air yang bergerak mengalir ke sebuah tempat. Tanpa ragu, Egon menyusuri sungai tersebut. Setelah cukup jauh meninggalkan lokasi raksasa laba-laba, ia duduk sebentar melepas lelah.
Diraihnya kantung minum yang terikat di pinggangnya. Aah. Ia minum dengan sangat nikmat. Sambil mengusap air di bibirnya, Egon mengamati keadaan dengan seksama. Hening. Beberapa menit kemudian, datanglah segerombolan kelelawar terbang melintas di atas sungai. Dan menuju sebuah dinding yang rupanya sarang bagi mereka.
"Kelelawar? Mereka datang dari luar," gumamnya.
Kemudian setelah tubuhnya merasa lebih baik, Egon berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Ia menyusuri sungai itu kembali dan menuju jalan di ujung sana. Semakin jauh, ia melihat sebuah cahaya. Anginnya juga semakin segar dengan udara yang berbau dedaunan.
Egon benar-benar berharap akan menemukan jalan keluar di sana. Sesampainya di ujung tempat yang ia harapkan, ia berdiri menatap ke depan. Akhirnya! Akhirnya ia melihat ada lubang di gua ujung sungai. Benar-benar seperti apa yang ia harapkan.
Ia melangkah keluar dan melihat matahari di langit. Di depan sana, ia juga melihat sungai yang luas dengan pemandangan hijau di sisinya. Mata Egon berkaca-kaca. Inikah akhir dari hutan kematian?
Meski ia penasaran dengan makhluk yang merenggut nyawa kedua temannya, namun ia tidak mau berbalik kembali. Ia memilih meneruskan perjalanannya dengan aman dan mencari tempat yang cocok untuk menguburkan keduanya.
Bersambung.......