
BAB 34
Egon melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa keindahan alam benar-benar ada di depannya. Begitu keluar dari gua yang dilalui air sungai, ia segera mencari tanah yang nyaman sebagai tempat peristirahatan terakhir Carli dan Capi.
Dengan kedua tangan dan kukunya, ia menggali lubang untuk mengubur kedua temannya itu. Setelah lubang yang ia gali cukup dalam, Egon segera meletakkan jasad kedua temannya di dalam.
"Maafkan aku, kawan. Seandainya aku bisa melindungi kalian berdua dari makhluk yang aku sendiri pun tidak tahu itu."
Cukup lama bagi Egon merenungi apa yang terjadi sebelumnya. Sekarang, ia benar-benar merasa sendiri di dunia. Tanpa kawan, tanpa keluarga. Oleh karena itu, saat ia melangkah pergi, terasa amat berat baginya meninggalkan makam kawan yang bersamanya di masa-masa terakhir.
Setelah akhirnya Egon seorang diri melanjutkan perjalanan berkeliling dunia sebagai seorang pengembara yang kesepian, beberapa tahun kemudian ia terlihat sedang menuju kembali ke tanah tempat kelahirannya. Perancis. Untuk sampai di Marsheille-France, benua Eropa, Egon menumpang di sebuah kapal layar milik seorang kapten bernama Fulgerar.
Pria berjanggut itu rupanya memiliki tangan besi dan mempunyai temperamen yang kasar. Untuk mendapatkan ijin menumpang di kapalnya, Egon juga harus sedikit berkorban. Ia bersedia menjadi kacung atau jongos rendahan di kapal milik Fulgerar yang akan berangkat dari Itali menuju Perancis.
Begitu kapal mulai berlayar, Egon mulai kegiatannya sebagai kacung Fulgerar. Ia menggosok lantai kapal menggunakan sikat dan sabun bersama kacung lainnya. Dengan Murdoc sebagai mandornya.
Pada saat itu, kawan sesama kacung yang bernama Ismael mengajaknya bicara.
"Kau salah naik kapal, bung," katanya pada Egon.
"Salah? Apa maksudmu?"
"Kapal ini hanya berlayar untuk memuaskan nafsu kapten saja," lanjut Ismael.
"Selama aku ikut berlayar, mereka hanya fokus memburu Siren."
"Siren? Apa itu?"
"Apa kau benar-benar tidak tahu siren?"
"Ya. Aku tidak tahu. Memangnya siapa dia?"
"Siren itu adalah makhluk yang berasal dari jaman Yunani kuno. Menurut cerita yang beredar selama ini, mereka adalah wanita yang berparas amat cantik dan mempunyai suara yang sangat merdu," Ismael berbisik di telinga Egon.
"Mereka diburu? Kapten memburu wanita cantik? Begitu maksudmu?" tanya Egon heran.
"Bukan seperti itu. Konon, Siren adalah wanita setengah ikan. Tapi semua orang tahu, bahwa Siren itu gemar memikat hati para pelaut dengan nyanyian mereka."
"Aku rasa tidak semua orang tahu. Salah satunya aku."
"Dengar, bung. Mereka akan menangkap siapapun yang berhasil dipikatnya. Itulah yang membuatku berpikir bahwa kapten sudah gila. Untuk apa dia memburu makhluk yang sudah pasti akan membunuhnya?"
"Gila? Hey, hati-hati dengan ucapanmu. Mereka bisa salah paham jika mendengarmu berkata seperti itu tentang kapten," balas Egon waspada.
Egon menoleh ke arah Murdoc.
"Bagaimana tidak berpikir seperti itu? Orang gila mana yang berlayar untuk bertemu siren?"
SIK ISIK ISIK !
Suara sikat yang ada di tangan Egon. Ia tidak memberi jawaban karena Murdoc sedang mengawasi mereka dari jauh.
"Siapapun yang melihat dan bertemu mereka, maka itulah hari terakhir sebelum kematian menjemput," Ismael merasa gila.
"Apa benar ada makhluk seperti itu? Ah, aku rasa itu semua hanya mitos belaka," jawab Egon lirih.
"Entahlah. Yang aku dengar, mereka suka sekali merayu para nelayan dengan kecantikan yang mereka miliki sebelum menarik mereka ke dasar laut."
"Jika benar begitu, aku berharap tidak akan pernah bertemu mereka untuk saat ini."
Tiba-tiba saja Murdoc datang membawa lecut di tangannya dan langsung mencambuk tubuh Ismael dan Egon dengan emosi.
CETARRR !!
"Hey!! Siapa yang mengijinkan kalian mengobrol di sini?! Kerja yang becus, dasar kacung sialan!!"
"Ampun, tuan," pekik Ismael.
"Tiada ampun. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan jangan banyak bicara!!" teriak Murdoc pada Egon dan Ismael sambil kakinya menendang kepala mereka bergantian.
Egon menahan nafas saat Murdoc melecuti tubuhnya beberapa kali. Meski ia setengah makhluk, namun tetap saja ia merasakan sakitnya.
Luka menganga akibat cambuk pun menghiasi tubuh Egon dan Ismael. Bahkan pakaian yang mereka kenakan terkoyak akibat terkena sabetannya.
Begitu selesai mengerjakan tugas, beberapa kelasi membawa mereka ke dalam ruang hukuman. Mereka juga mengikat tangan Egon dan Ismail ke belakang tubuh.
"Jangan berisik dan renungkan kesalahan kalian!"
BANGG!
Pintu dibanting dengan kasar. Dua pria yang dikenal Ismael dengan nama Pedro dan Berg itu pergi tanpa berkata-kata lagi.
...----------------...
Tujuh hari kemudian, mereka dibebaskan dan kembali mendapat perintah untuk bekerja. Rupanya kapten sedang berdiri di dek menatap laut sambil memperhatikan awak kapalnya yang baru saja mendapat tangkapan besar. Ya. Mereka menangkap dua ekor paus berukuran sedang. Selain daging, mereka juga akan mengambil minyak mereka dan menyimpannya di dalam tong-tong besar.
"Hurraaa!!! Hurraa!!"
Begitulah teriakan para awak kapal. Mereka begitu senang karena tangkapan berharga mereka itu akan bernilai jutaan dolar di daratan nanti.
Karena kapal mereka mendapat tangkapan ikan, Egon yang berstatus sebagai jongos kapal itu pun mendapat tugas pembersihan. Begitu mereka selesai menyimpan minyak, amber dan daging paus tangkapan, Egon mulai menyikat lantai tempat penyembelihan ikan seperti biasanya.
Kali ini, ia bekerja tanpa bercakap-cakap. Sejak dua hari yang lalu, ia mendapat mimpi buruk mengenai kapal karam. Entah apa artinya, hal itu cukup mengganggu pikirannya.
Baru saja kapal mereka sampai di sebuah teluk, awan hitam tiba-tiba saja muncul disertai badai dan petir.
Kapal mereka terombang-ambing oleh angin yang kencang. Sesekali petir menyambar dengan suara gunturnya yang membuat para awak kapal seolah sedang mengikuti adu nyali.
Semakin lama, cuaca semakin tidak bersahabat. Hujan deras turun dengan angin kencang yang membuat layar mengembang penuh sehingga kapal pun melaju dengan kencang. Dan pada saat putaran badai tercipta, kapten berteriak pada para awaknya agar memutar haluan kapal.
Di tengah kabut dan guyuran air hujan, mereka tidak akan selamat jika mengikuti pusaran angin. Sebab wilayah pusaran itu terdiri dari tebing-tebing curam yang mampu menghancurkan kapal jika menabraknya.
"Turunkan layar dan putar haluan!!!" Fulgerar berteriak kencang.
Begitu teriakan sang kapten terdengar, mereka semua pun bekerja mati-matian untuk menghindari badai dan tebing. Kapal berbelok dengan suara kayunya yang bergemeretak. Meski sudah berusaha sekeras mungkin, namun bagian buritan berbenturan cukup kencang dengan dinding tebing.
Hal itu menyebabkan kebocoran pada kapal. Dari kejauhan dasar laut, puluhan makhluk yang disebut siren sedang mengamati kapal mereka dengan seksama.
"Kapten! Kapal akan karam!" teriak Murdoc.
"Turunkan jangkar! Siapkan sekoci dan bawa awak kapal yang kompeten turun bersama. Kita tidak bisa terlalu lama mempertahankan kapal yang bocor."
"Baik, kapten."
Kapten Fulgerar berpikir bahwa jika ia tidak bisa mendapatkan Siren di atas kapal megahnya, maka ia akan mendapatkan mereka dari atas sekoci. Maka, ia pun berkata pada beberapa awak kapal yang cukup hebat dalam menggunakan harpun.
"Siapkan harpun dan tombak kalian. Kita akan berburu Siren di tengah badai seperti ini."
Meski bingung dan tidak percaya bahwa di dalam kondisi seperti ini, kapten mereka masih saja memikirkan soal siren. para awak kapal hanya menuruti perintah kapten.
Selang beberapa waktu, kapal mereka semakin tenggelam. Awak kapal berusaha mendapatkan sekoci mereka. Namun, para jongos seperti Egon tidak kebagian sekoci.
Ketika satu persatu sekoci turun, jongos yang tidak mendapat bagian sekoci, melompat mengejar mereka. Bahkan ada beberapa yang jatuh ke dalam air.
Pada saat gawat seperti itu, terdengar nyanyian merdu yang mendayu-dayu seakan makhluk siren itu benar-benar muncul dan tengah mengelilingi mereka semua. Benar saja. Mereka muncul dan melompat menarik para awak kapal dan membawa mereka ke dasar lautan.
Satu, dua, tiga, empat,... sepuluh, dua puluh. Makhluk-makhluk cantik itu bermunculan dari dalam laut untuk menculik para nelayan .
"Tidak!"
"Tolooooooooongg!!'
Terdengar suara teriakan ketakutan dari para awak yang berada di sekoci. Meski begitu, kapten Fulgerar begitu bersemangat menangkap sesuatu yang mustahil ia tangkap.
Sementara semua sedang menyelamatkan diri, Egon masih berada di geladak kapal dengan wajah pucat pasi. Ia tidak sedang takut pada makhluk bernama siren itu, melainkan rasa mual tengah menguasai dirinya.
Sebagai makhluk serigala atau Lycan, jati diri yang sebenarnya ia miliki pun muncul. Egon benar-benar tidak berdaya di tengah kepungan air laut yang luas dan dalam seperti itu. Membayangkan ia harus berenang di lautan dalam yang dipenuhi siren, kepalanya mendadak pening.
Begitu kapal semakin tenggelam, Egon merasa mual dan memuntahkan air yang baru saja ia minum di pinggir pembatas geladak. Belum lagi saat ia melihat Ismael mati saat jatuh ke dalam air. Rupanya anak itu tidak bisa berenang.
Uhuk Uhuk.... Hoekk!
Kondisi Egon nampaknya sedang tidak baik. Ia seperti orang yang teler akibat menenggak miras. Sempoyongan ke sana kemari dan sesekali memuntahkan air. Tanpa ia ketahui, satu makhluk siren sedang mengamatinya sambil tersenyum tipis mengagumi.
"Siapa pemuda itu," gumam Serena, makhluk siren yang berambut hitam.
Dan....
Kapal itu akhirnya benar-benar tenggelam. Egon kewalahan berenang menghampiri sebuah papan kayu yang mengambang tak jauh dari posisinya.
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung.........