ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
MUNCULNYA SUPERMOON DI ATAS PULAU SIREN



BAB 36


Egon merebahkan dirinya ke atas batuan besar yang terdapat di pulau Siren. Pulau tempat para kawanan makhluk yang gemar menyanyi itu berkumpul jika tidak ada kegiatan. Bersama Serena yang ikut tiduran di sampingnya, Egon beristirahat untuk menghadapi hari esok.


Dan karena ekor wanita itu tidak berada di dalam air, maka ekor itu berubah menjadi kaki seperti manusia layaknya.


Jika saat itu Egon tidak memberikan pakaiannya, maka wanita itu akan benar-benar telanjang bulat di hadapan Egon. Untungnya, pakaian milik Egon berukuran besar, sehingga mampu menutupi bagian vital itu meski tidak sampai bawah.


Saat ia berbaring, dilihatnya bulan yang tampak begitu penuh. Rupanya saat itu waktunya bulan purnama atau bisa juga disebut Super Moon. Di mana para manusia serigala atau Lycan dapat berubah sepenuhnya ke dalam wujud asli mereka.


"Tuan, apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Serena.


"Jatuh cinta? Tidak pernah."


"Apa kau serius?"


"Hmm. Serius. Aku seorang pengembara. Dan di dalam perjalananku kemari, aku hanya bertemu dengan makhluk-makhluk jahat yang berniat membunuhku. Bahkan tiga anjingku tewas satu persatu karena berjuang bersamaku. Jadi, tidak ada wanita yang aku cintai dan mencintaiku selama itu."


"Benarkah? Sudah berapa lama kau mengembara?"


"Entahlah. Mungkin 50 tahun dalam hitungan manusia," jawab Egon sambil mengantuk dan menutup matanya.


Serena terkejut mendengar pengakuan Egon. 50 tahun bukan waktu yang singkat. Ditengoknya wajah Egon yang tenang.


"Apa benar dia bukan manusia? Lalu jika begitu, siapa dia sebenarnya?"


Pikir Serena.


"Aku akan tidur sebentar. Kau juga sebaiknya istirahat di sini bersamaku, nona. Ingat janjimu, kau akan menemaniku pergi ke daratan besok."


"Ya, baiklah. Besok kita pergi bersama," Serena mendekat dan merebahkan kepalanya di atas dada Egon.


Egon membuka mata kembali karena terkejut, tapi ia diam saja saat wanita itu melakukannya. Bahkan ia tersenyum ketika Serena juga memeluknya.


Baru saja Serena memejamkan mata dengan tenang, kelompoknya datang mengepung Egon. Mereka memutuskan untuk menangkap Egon karena Serena tidak mau melepasnya.


"Ketua??!!" Serena terkejut kelompoknya datang.


Begitupun dengan Egon. Ia bangun dan bersiaga saat melihat puluhan Siren tengah mengepungnya.


"Nona, apa kau berencana menangkapku dengan cara seperti ini?" Egon bertanya serius.


"Ah? Tidak tuan, aku bukan bagian dari rencana mereka. Sungguh. Aku benar-benar ingin melindungimu," jawab Serena tak kalah gugup.


"Tapi, mengapa mereka...."


"Sudah. Tidak perlu berdebat. Tangkap mereka berdua!" perintah sang ketua pada kelompok yang dipimpinnya.


Beberapa Siren mulai mendekati Egon dengan buas. Mereka sungguh-sungguh ketika mengatakan akan menangkap Egon dan Serena. Karena tidak ingin menjadi santapan mereka, Egon pun berencana akan melawan.


Satu persatu melompat, menyerang dan mencoba melukai Egon dengan cakar dan sirip mereka. Ketika semakin banyak yang menyerangnya, Egon membentengi diri dengan cakarnya.


Berulangkali ia mendapatkan serangan yang menyebabkan tubuhnya terluka. Dan berulangkali pula ia memberikan serangan balik. Beberapa Siren yang mendapatkan luka sayatan akibat terkena cakar Egon pun jatuh terkapar dan berdarah-darah.


"Jadi, apa kalian akan melanjutkan pertarungan ini? Baiklah. Jika keinginan kalian adalah kematian, maka aku akan mewujudkannya," Egon berkata sambil ngos-ngosan.


Matanya mulai tajam dengan warna orens kemerahan. Perlahan namun pasti, tubuhnya membengkak dan mengeluarkan bulu hitam kecoklatan. Ia berubah sepenuhnya menjadi Lycan.


Semua yang berada di sana terkejut melihat perubahan itu. Begitu juga Serena yang sedang dipegangi oleh dua Siren.


"Tuan.... itukah kau?"


AAAUUUUU !!


Egon melolong panjang.


Semua Siren sedikit gentar ketika mendengar lolongan seperti itu. Mereka tidak ingin mati sia-sia di tangan makhluk berbulu seperti Lycan atau manusia serigala.


Namun karena perintah sang ketua, mereka terpaksa kembali menyerang. Dan pada menit berikutnya, sepuluh sampai lima belasan Siren tewas dengan luka cakar dan gigitan dari Egon.


Ketua Siren itu melompat dan membentangkan kedua tangannya yang berselaput dan muncullah sirip berduri dari sikunya. Ia menyerang Egon dan berusaha melukainya dengan sirip tersebut. Namun itu tidak berhasil mengenai Egon. Sebab Egon melompat dari batu satu ke batu yang lainnya untuk menghindar.


Pada saat Siren yang lain ikut menyerang lagi, Egon sempat terbanting jatuh dan dua Siren berusaha menyeretnya ke dalam air. Tapi Egon berpegangan kuat pada batu agar tubuhnya tidak terseret oleh mereka.


Belum selesai sampai di situ, melihat Egon masih tetap kuat bertahan, ketua Siren melompat dan menyerang Egon dari belakang. Ia menekan leher Egon dengan kukunya sehingga terluka.


Egon tidak mau mati sia-sia di tangan para Siren. Sambil menggeram, ia mengibaskan tubuhnya dan melompat dengan tubuh memutar sehingga para Siren jatuh terpental jauh darinya. Saat ketua para Siren terpental juga, Egon meraihnya dan menekan kepalanya ke atas bebatuan dengan cakarnya.


"Mundur dan selamatkan diri kalian. Jika tidak, kalian akan menghadapi kematian seperti ketua kalian ini," kata Egon sambil menggeram.


Para Siren yang terluka parah berhenti menyerang. Mereka menjerit-jerit saat Egon memutar kepala sang ketua dan menggigitnya dengan ganas hingga terlepas. Kepala itu pun jatuh menggelinding dan tercebur ke dalam air.


Merasa marah karena ketua mereka tewas mengenaskan, para Siren kembali menyerang dengan brutal. Mereka mengeroyok Egon dari sisi kanan, kiri, depan dan belakang. Meski Egon terluka parah, ia mampu menyerang balik mereka semua.


Begitu semua Siren kelelahan, Egon masih mampu berdiri tegak. Nafasnya naik turun dengan cepat. Perlahan, lukanya pun mulai membaik.


"Lihat, luka-luka itu?" seru salah seorang Siren terkejut melihat luka pada tubuh Egon perlahan sembuh.


"Dia mampu meregenerasi tubuhnya dengan baik," kata Fury tidak percaya.


"Benar. Jika seperti ini, sia-sia kita mengorbankan diri. Kita semua tewas, tapi dia bisa kembali sehat seperti semula," sahut yang lain.


Karena kelompoknya sedang berdebat, Serena mengeluarkan suara memekik keras yang terdengar seperti pancaran suara ultrasonic.


"Hentikan semuanya! Sayangi nyawa kalian, teman-teman. Biarkan dia kembali ke darat seperti rencana semula. Tidak ada untungnya bagi kita menahan dia seperti ini. Jika terus bersikeras seperti yang ketua lakukan, kita semua akan tewas," kata Serena pada semua kawanannya dengan bahasa khusus.


Mendengar ucapan Serena, Siren yang tersisa setuju. Mereka berunding dan akhirnya bersedia masuk kembali ke dalam air, menyelam ke dasar lautan. Menyelamatkan diri apa salahnya? Demi menyelamatkan hidup agar tidak mati sia-sia. Begitu hasil rundingan di antara mereka.


Tiga puluh menit setelah semua Siren kembali ke lautan, Egon berubah perlahan. Tubuhnya menyusut perlahan dan menjadi manusia seperti semula. Dan karena Egon butuh waktu untuk mengembalikan tenaga, ia merebahkan diri kembali di atas batu.


Pakaiannya sobek di sana sini dengan tubuh yang dipenuhi luka dan darah. Pada luka yang kembali membaik, terdapat garis bekas luka yang menutup.


Serena mendekat dan mengangkat kepala Egon agar tidur di pangkuannya. Kemudian ia mengusap bekas luka yang begitu banyak di tubuh Egon. Mengapa begitu banyak? Tentu saja. Sebab, begitu banyak pula pertarungan yang terjadi dalam hidupnya.


"Apakah sakit, tuan?" tanya Serena saat mengusap bekas luka di dada Egon.


Egon tidak langsung menjawabnya. Tangannya lebih dulu meraih tangan Serena.


"Aku minta maaf karena menghabisi ketua dan beberapa anggota kelompokmu," jawab Egon.


Serena mengambil nafas dalam-dalam, "Itu bukan salahmu, tuan. Mereka yang lebih dulu membuat keputusan."


"Aku tidak menyangka, kau akan mengkhianati kelompokmu sendiri demi manusia sepertiku," kata Egon.


"Itu karena aku jatuh cinta padamu."


Serena menatap wajah Egon dengan berseri-seri, "Dan karena mereka lebih dahulu menghianatiku, aku tidak akan menyesalinya."


Egon memejamkan mata karena merasa amat lelah. Dengan tidur di pangkuan Serena, ia menikmati proses penyembuhan dirinya dengan sangat tenang.


Pada saat tenang seperti itu, Serena tiba-tiba saja menciumnya. Egon membuka mata perlahan dan mendapati wanita itu sedang tersenyum kepadanya. Setelah beberapa saat tertegun, diraihnya kembali kepala wanita itu. Egon membalas ciuman yang diterimanya dengan tulus.


Bulan purnama yang bersinar di langit perlahan mulai menghilang. Digantikan bulan sabit nan indah dan bersinar terang. Langit malam pun bertabur bintang yang berkelap-kelip. Salah satunya membentuk rasi bintang orion.


Ditambah semilir angin laut yang sejuk dan sepoi-sepoi, suasana sunyi malam itu terasa begitu hangat.


πŸ§œπŸ»β€β™€οΈ


πŸ§œπŸ»β€β™€οΈ


πŸ§œπŸ»β€β™€οΈ


πŸ§œπŸ»β€β™€οΈ


πŸ§œπŸ»β€β™€οΈ


Bersambung........