ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
SEBUAH DENDAM, MENGHANCURKAN SEGALANYA



BAB 22


Egon membantu Gill bangun dan tanpa ia sadari telah merubah dirinya ke dalam wujud Lycan. Dan karena ia mendengar bahwa Ciko telah tiada di tangan makhluk itu, Egon semakin tidak dapat menguasai amarahnya.


Dengan bantuan bulan purnama, ia menunjukkan taring serigalanya pada makhluk yang menyerang tiba-tiba.


Dalam kegelapan bawah tanah itu, sebuah pertarungan sengit terjadi. Bahwa para anjing tampak terluka parah dengan beberapa bagian tubuh yang terkoyak.


Egon menerjang makhluk yang berwujud seperti siluman tikus itu dengan pasti. Ia mencabik dan membalaskan rasa sakit yang diterima kawan-kawannya dengan penuh amarah. Terutama atas kematian Ciko yang disebabkan pembantaian oleh makhluk jelek berbulu hitam itu.


CRAK !



Suara kuku-kuku tajam yang saling melukai. Egon melompat naik ke punggung makhluk itu dan menggigit lehernya dengan bersemangat. Seketika makhluk itu menjadi oleng ke sana-kemari karena kesakitan.


Bahkan makhluk itu juga beberapa kali menabrakkan tubuhnya ke tembok bermaksud agar Egon melepaskan gigitannya.


Namun Egon tak menyerah. Ia terus saja menggigit dan mencabik makhluk itu tanpa ampun. Ia bahkan memukul-mukulkan kepala makhluk itu dengan keras tepat ke lantai dan tembok, tergantung bagaimana posisi mereka saat itu.


Pada situasi itu, Gill, Carli dan capi sesekali ikut menyerang. Mereka melawan makhluk tersebut bersama-sama. Pertarungan itu tanpa sengaja membuat kuali bergeser dan menumpahkan isi di dalamnya yang ternyata penuh dengan jantung dan bola mata manusia. Walaupun terkejut, Egon berusaha tetap menyeimbangi serangannya. Hingga di titik penghabisan, makhluk itu jatuh terkapar dan berubah menjadi seorang wanita tua yang buta dan berkaki seperti tikus besar.


"Apa itu wujud aslimu? Beraninya kau menculik kawanku dan menjadikannya sebagai target santapan!"


"HIYAAAA !!"


Egon meregangkan dan mengangkat cakarnya, hendak menghabisi wanita tua itu dengan sekali pukulan, namun terdengar suara yang membuatnya terhenti.


"Tunggu. Ampuni aku wahai anak muda," ucap wanita tua itu sekarat.


"Jangan minta ampun padaku! Saat salah satu temanku tewas ditanganmu, itulah kesalahanmu!" seru Egon dengan geram.


"Setelah semua yang kau lakukan pada penduduk desa ini, apa kau belum puas juga, ha?!!" lanjut Egon kembali bersiap untuk menyerang.


Wanita tua itu diam.


"Aku hanya ingin mereka merasakan bagaimana sakitnya saat mata mereka diambil keluar dengan paksa," jawab wanita tua buta.


"Apa?"


"Dulu, aku memiliki seorang cucu. Sebelum sebuah tragedi menyakitkan menimpa kami. Hanya karena kami tinggal di dalam hutan dan kami hidup miskin di dalam gua bersama tikus-tikus liar, mereka menuduh kami sebagai penyihir hitam dan mengarak kami keliling desa. Setelah memukuli kami, mereka mencabik-cabik tubuh kami dan mengambil kedua mataku yang berharga. Mereka juga tega membelah dada dan mengambil jantung milik cucuku secara hidup-hidup. Setelah itu mereka membuang kami ke dalam sumur begitu saja dan membiarkan kami mati perlahan,"


Wanita tua itu menangis.


"Aku masih teringat bagaimana teriakan memilukan itu. Aku tidak bisa melupakan semuanya dan mengutuk desa ini. Bahwa jika jiwaku kembali ke dunia, aku akan membuat mereka semua merasakan apa yang kami rasakan," ucapnya sambil terbatuk dan berdarah.


Egon tidak dapat mempercayai semua cerita yang dikatakan wanita tua itu. Namun jika semua itu benar, betapa menyedihkannya sesuatu yang terjadi padanya di masa lalu.


"Lalu, apa kau masih ingin melakukan itu padahal kau tahu bahwa kami bukan bagian dari mereka?"


"Aku hanya tidak ingin seseorang mengetahu tempat ini."


"Apa bedanya? Kau tetap membunuh seorang temanku."


"Aku menyesal, maafkan aku," menangis.


"Aku mengerti, tapi ijinkan aku membawa serta cucuku," jawab wanita tua.


"Dimana cucumu?"


Wanita itu bangkit dan berjalan terseok-seok mendekati tumpukan jerami. Ia menyibak jerami-jerami itu dan terlihatlah oleh Egon mayat busuk milik cucu wanita tersebut.


Seketika kastil yang berdiri megah itu berubah menjadi dasaran sumur yang lembab di bawah tanah. Aroma busuk yang disebabkan kematian mengenaskan menjalar dimana-mana.


Karena semua dendamnya sudah terbalaskan, wanita tua itu memeluk cucunya, sekali lagi ia mengucapkan permintaan maaf pada Egon dengan tulus. Dan setelah Egon mengangguk, tubuh sang wanita tua beserta cucunya perlahan terkikis dan menghilang.


WUSS !


Angin bertiup dan berhembus melewati tengkuk Egon. Untuk sesaat Egon terdiam memandangi kesunyian tempat ia berdiri.


Dilihatnya kuali yang penuh jantung dan bola mata manusia itu. Sungguh disayangkan. Akibat dari ulah sadis mereka (penduduk desa), seseorang menjadi makhluk yang mengerikan dan berbalik melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah ia dapatkan.


Egon diam dan kemudian menunduk. Ia mengerti seperti apa perasaan wania tua itu sebelumnya. Sebab, ia sendiri juga merasakan bagaimana kehilangan seseorang dalam keluarganya dan merasakan dendam yang begitu dalam. Sebuah dendam yang ia rasakan sebab hatinya yang terluka.


Egon menghela nafas. Lalu ia berpaling menatap Ciko yang terkapar di tanah. Ia mengatupkan kedua rahangnya dengan kuat. Ciko tewas karena dendam seseorang pada penduduk desa. Bukankah semua itu seharusnya tidak terjadi?


Ya. Dendam.


Seseorang yang tidak bersalah terluka karena dendam seperti itu. Pada saat Egon termenung dan hanya berdiri mematung. Gill, Carli dan Capi mendekatinya. Mereka melingkar di kaki Egon. Menunjukkan kesedihan yang mendalam atas kematian saudara mereka, Ciko.


...****************...


Mereka keluar dari sumur tua dan memandang langit yang kini sudah kembali malam. Egon merangkak naik sambil menggendong Ciko di punggungnya. Karena semuanya sudah kembali, maka perjalanan mereka pun akan mereka lanjutkan sebagaimana mestinya.


Sambil tertatih-tatih, mereka semua berjalan tanpa suara. Masing-masing hanyut dalam pikiran mereka. Melewati beberapa burung gagak dan bangkai, keempat sekawan itu berjalan dengan harap-harap cemas. Apa yang mereka alami malam kemarin, bukanlah sebuah mimpi. Dan bukan pula akhir dari semuanya. Bahkan, perjalan panjang mereka baru saja dimulai.


Saat mereka akhirnya keluar dari desa yang mereka sebut sebagai kota mati, tak lama kemudian mereka sampai di hutan rimbun yang cukup sunyi.


Egon menguburkan Ciko di sebuah tanah dekat dengan pohon besar yang tampak kokoh. Dengan tanda sebuah batu dan goresan darah, mereka dapat mengenali tempat itu jika suatu saat mereka datang kembali ke sana.


Selamat jalan Ciko, semuanya memejamkan mata untuk berdoa sejenak. Pada saat itu, Gill melihat luka di jari-jari tangan dan wajah Egon akibat gigitan tikus besar mulai tertutup kembali.


"Apa yang terjadi pada wajah dan tanganmu?" tanya Gill setelah mereka selesai berdoa.


"Tikus-tikus besar yang melakukannya," jawab Egon.


"Mereka menggigit dan memakan tubuhmu?"


"Hmm. Aku jatuh pingsan di depan kastil. Saat aku terbangun, mereka sedang mengerumuniku," jawab Egon santai dan justru mendapat tatapan tajam dari ketiga kawannya.


"Astaga! Jadi apa nantinya dirimu jika kau tak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri? Tikus-tikus itu hampir melenyapkan jari-jarimu," pekik Gill sambil memelototi jari Egon yang mulai pulih.


"Sudah. Sekarang aku tidak apa-apa, bukan? Mari lanjutkan perjalan," ajak Egon.


Ketika mereka melanjutkan perjalanan kembali, dua hari dua malam mereka berjalan tanpa beristirahat. Hutan yang mereka lewati tidak kunjung usai. Semakin dalam, semakin rimbun dan lembab. Akankah mereka mendapat tantangan kembali?


πŸ€ Simak ceritanya dan jangan lupa bawa kudapan,,,πŸ˜‰


...****************...