ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
PENYELAMAT DATANG DARI PIHAK MUSUH



BAB 35


Egon berhasil meraih papan kayu yang mengapung di dekatnya. Meski ia bisa berenang, namun ombak yang bergulung-gulung membuatnya kesulitan mempertahankan diri di permukaan.


Di depan matanya ia menyaksikan sendiri bagaimana para awak kapal diseret para Siren ke dasar lautan. Wajah cantik mereka berubah menakutkan saat rasa lapar menguasai diri mereka.


Pada saat Egon duduk di atas papan, Siren yang sejak tadi memperhatikannya perlahan mulai mendekatinya. Di saat bersamaan, dari bawah laut datang pula Siren lain yang berambut pirang hendak menyeretnya ke dasar.


Siren itu berenang begitu dekat. Semakin dekat. Dan akhirnya ia menyepak Egon dengan ekornya sehingga papan kayu itu terbalik dan Egon jatuh kembali ke dalam air.


Begitu melihat ancaman di depan mata, Egon berusaha berenang menjauh dan mencari tempat untuk menyelamatkan diri. Belum begitu jauh menghindar, sesuatu yang sempat menyepaknya tadi kini kembali untuk menyeretnya masuk ke dasar laut.


BLUB BLUB....


Egon tidak sempat untuk menarik nafas terlebih dahulu sehingga ia pun merasa gelagapan berada di dalam air. Kini, dalam kondisi diseret, Egon dapat melihat dengan jelas makhluk seperti apa yang sedang membawanya menuju dasar lautan.


Serena melihat salah satu kawannya sedang menarik pria yang ia perhatikan sejak tadi. Dengan cepat ia berenang mencegah Siren itu agar tidak melukai pria tersebut.


"Tunggu! Jangan ganggu dia," Serena mencegat Fury dengan cepat.


"Ada apa?" Fury memiringkan kepalanya.


"Dia milikku," jawab Serena.


Meski curiga, namun Fury menurut dan pergi meninggalkan pria yang sedang ia seret pada Serena. Kemudian ia berenang bersatu dengan yang lain dan memberitahu sesuatu pada mereka.


Setelah Fury pergi, Serena berenang menuju permukaan dengan cepat. Sebab ia melihat pria yang kini ada di pelukannya itu hampir kehabisan nafas.


"Jangan mati, bertahanlah," kata Serena.


SPLASSH !


Begitu sampai di permukaan, Egon benar-benar kehabisan nafas. Ia tak sadarkan diri dan menjadi lemas. Serena merasa pertemuannya dengan Egon adalah kehendak dewa. Sejak melihatnya untuk pertama kali di atas dek kapal layar itu, ia merasa jatuh cinta padanya.


Jika tidak, bagaimana bisa ia menyelamatkan manusia yang seharusnya ia celakai. Apalagi semua pria di kapal tersebut sudah mereka tarik ke dasar. Mengapa ia harus mengecualikan seseorang diantaranya? Yah. Apalagi kalau bukan karena kekuatan cinta.


Melihat wajah Egon yang ada di pelukannya, Serena merasakan damai. Ia tersenyum dan berenang ke pulau kecil tempat kelompoknya berkumpul dan bernyanyi. Sebab jika berenang terlalu jauh, ia takut pria itu akan benar-benar mati kehabisan nafas.



SRET!


Serena meletakkan Egon di atas sebuah batu besar. Ia memeriksa denyut jantungnya dan mencoba untuk membangunkannya.


"Tuan, bangunlah..."


Karena Egon masih tetap tidak sadarkan diri, Serena memberinya nafas buatan.


"Lihatlah, apa yang dilakukan anak ini?" ketua kelompoknya datang bersama Fury.


"Ah? Ketua?" Serena kaget dan langsung melidungi tubuh Egon dari ketuanya.


"Kau menyelamatkannya?"


Serena menundukkan kepala.


"Kita para Siren, sudah sepantasnya memikat para pria. Namun bukan untuk urusan cinta. Melainkan untuk menyantap mereka. Jadi, mengapa kau justru menyelamatkan nyawanya?" tanya sang ketua.


"Fury, cepat ambil alih manusia itu!" perintah ketua mengagetkan Serena.


"Tidak. Kau boleh menyantap yang lain. Tapi tidak dengan pria ini!"


"Beraninya, kau?"


"Aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Tolong biarkan dia hidup."


Serena memohon pada ketua kelompok mereka dengan tulus. Karena Serena adalah anggota yang disayangi, maka ketua memberinya ijin. Namun, Serena hanya diperbolehkan untuk menolongnya saja. Setelah itu, ia tidak boleh terikat dengan manusia tersebut (Egon).


"Baiklah. Aku akan membiarkan dia hidup. Tapi kau tidak boleh terikat dengan manusia seperti dia."


"Mengapa tidak boleh, ketua? Apa aku tidak boleh jatuh cinta?"


"Jatuh cinta adalah kelemahan bagi kaum kita. Jadi jangan pernah melanjutkan perasaanmu. Tetaplah menjadi Siren yang ditakuti manusia. Lagipula, dia bukan manusia. Hubunganmu dengannya tidak akan pernah berhasil."


"Apa?"


"Sebelum dia sadar, cepat pergi tinggalkan dia. Kalau kau tidak melakukan apa yang ku perintahkan, kami yang akan melakukannya."


"Ah?"


Ketua Siren pergi tanpa berkata kembali, begitu juga Fury. Serena diam tak bergeming sebab memikirkan perkataan ketuanya barusan.


Serena adalah Siren yang masih sangat lugu. Ia baru tumbuh besar dengan usia mencapai 100 tahun. Dibanding yang lain, yang rata-rata usia di atas 500 tahunan. Ia juga lahir dari ibu seorang Siren dengan ayah seorang pelaut yang notabene adalah manusia biasa.


Serena merebahkan tubuhnya di sisi Egon sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, Egon membuka mata dan terkejut melihat seorang wanita cantik berwajah sendu ada di sampingnya.


"Siapa kau?" Egon menatap Serena dari atas hingga kaki. Kaki?? Tapi Egon tidak melihat kaki wanita itu. Yang ada hanyalah benda penjang bersisik dan berekor seperti ikan.


Ikan?? Egon tersadar bahwa tadi ia sempat diseret oleh sesuatu ke dalam tengah laut. Seperti semua penumpang kapal milik Fulgerar. Mereka diseret oleh makhluk yang berwujud manusia, namun seperti ikan.


"K Kaukah Siren?" tanya Egon gugup berada di dekat wanita tanpa pakaian itu.


"Namaku Serena. Kau siapa?"


Egon duduk dan sedikit menjauh. Dilayangkan pandangannya ke seluruh lautan. Ia tidak tahu lagi sekarang berada di mana. Sebab, sekitarnya hanya tampak air yang mengelilinginya.


"Ke mana kalian membawa semua awak kapal? Mengapa aku tidak melihat mereka di sini?"


"Tenanglah, tuan. Mereka juga baik-baik saja seperti dirimu. Kami hanya membantu kalian dari perahu karam," Serena berbohong.


"Benarkah? Aaah. Syukurlah kalau begitu. Aku merasa sangat khawatir jika semua cerita temanku tentang Siren benar adanya," Egon berlagak percaya sebab ia tahu, semua awak kapal dibawa menuju dasar laut untuk disantap.


"Apa kau baik-baik saja, tuan?"


"Ya. Ku rasa aku baik-baik saja. Hanya saja, aku penasaran, bagaimana harus keluar dari lautan ini," kali ini Egon menampakkan wajah kebingungan.


"Jangan khawatir, aku akan mengantarmu sampai pantai," Serena menyela.


Egon diam menunduk. Ia masih ragu dengan keberadaan Serena. Jika wanita itu Siren, mengapa ia repot-repot akan mengantarnya ke pantai? Bukankah lebih cepat bila menyantap dirinya di sini? Apakah dia punya cara lain untuk menyantapnya?


Ah. Itu tidak bisa asal ditebak.


Tapi melihat penampakan wanita yang tidak mengenakan pakaian seperti itu, Egon merasa tidak enak berada di dekatnya. Ada perasaan aneh di dalam dirinya meski ia tahu bahwa wanita itu adalah makhluk mengerikan.


Tanpa pikir panjang, ia melepas ikatan tali pinggangnya dan pakaian luarnya. Karena selama ini ia memakai baju dobel tiga, ia bisa memberikan satu untuk wanita itu.


Dipakaikannya baju yang baru ia lepas itu ke wanita yang telanjang di sisinya. Meski pakaian yang ia berikan bukanlah pakaian baru, setidaknya ia tidak perlu melihat wanita telanjang lagi di depannya.


Serena menatap wajah Egon tanpa berkedip dan menurut saja apa yang Egon lakukan padanya. Ia tersenyum dan berpikir bahwa pria itu begitu baik kepadanya, sampai-sampai rela memberikan pakaiannya.


"Tuan, siapa namamu?" Serena bertanya soal nama untuk kedua kalinya.


"Egon."


"Egon? Nama itu, sesuai denganmu. Kau seorang yang mengayomi, penyayang dan pastinya kau pun kuat dan berani," Serena benar-benar mengaguminya.


Egon mengikat kembali pinggangnya dengan ikat tali yang ia buat dari kain.


"Nona Siren. Ah, Serena maksudku. Apa kau akan tetap disini sampai besok pagi?"


"Ya. Besok aku akan menemanimu menuju daratan."


"Oh. Begitu. Tapi aku bisa melakukannya sendiri besok. Jika kau ingin pergi, pergilah nona."


"Tidak apa, aku akan menemanimu. Aku tahu lautan ini begitu luas untuk diseberangi seorang manusia. Tuan akan melakukannya sendiri? Kau yakin itu tidak masalah?"


Egon meneguk ludah. Memang benar apa yang dikatakan Serena. Ia pasti tidak mampu berenang sejauh itu menuju daratan.


"Baiklah. Mungkin itu pilihan terbaik untukku."


"Bagus. Malam ini tidurlah di sini bersamaku. Jika matahari sudah nampak di langit, aku akan membangunkanmu."


Egon menoleh pada makhluk Siren yang menurutnya sedikit aneh. Apa benar wanita Siren itu tidak bermaksud menyantapnya? Lalu apa yang ada dalam pikirannya?


CINTA.


Egon tidak tahu bahwa dirinya berhasil mengambil hati Siren itu. Karena perasaan yang muncul di dalam hati Serena itu tidak benar, maka Siren lain sedang berkumpul mengadakan pertemuan untuk menyingkirkan manusia yang sedang bersama Serena.


Bagaimanapun, mereka harus menyingkirkan dan menghabisi manusia terkahir yang selamat dari kapal karam itu.


🌊


🌊


🌊


🌊


🌊


Bersambung.......