ALONE IN THE WORLD

ALONE IN THE WORLD
BAGAI DITELAN BUMI



BAB 32


WUUZZZ!!


Egon berhasil menggunakan tali dari akar gantung yang menjuntai-juntai ke bawah itu. Ia melayang melewati mulut jurang dan mendarat dengan selamat di seberang.


"Aku sudah sampai! Kalian berdua cepatlah menyusul kemari!!"


Egon berteriak memanggil dua kawannya. Dan beberapa menit kemudian, anjing-anjing besar itu melompat ke arahnya.


"Kalian merubah wujud lagi?"


"Ahaha. Ya. Kami pikir, jika ukuran tubuh kami lebih besar, maka jurang akan semakin kecil," kata Capi.


"Lalu apakah itu benar?" tanya Egon.


"Ya. Kami seperti melompat di atas selokan," jawab Carli tertawa.


"Jika begitu, kenapa aku harus susah payah melayang sendiri? Kau bisa saja kan menawarkan padaku untuk naik ke punggungmu?"


"Apa? Benar juga, ya?" Carli menggaruk-garuk kepalanya sesaat setelah kembali mengecil.


"Pssst! Diamlah. Ada yang aneh," bisik Capi.


Egon dan Carli segera diam. Mereka melangkah mengikuti Capi ke depan. Semakin melangkah ke dalam kabut pekatnya, racun akan semakin mudah menguasai pikiran mereka.


Di depan mereka, tampaklah serakan mayat manusia dan makhluk-makhluk lain yang rupanya mati keracunan. Egon segera memeriksa mayat-mayat yang tergeletak itu karena penasaran.


Yang ia tahu pasti, ada makhluk yang membuat mereka seperti itu. Namun Egon belum menyadari, apa tepatnya yang membuat mereka mati dengan tubuh yang membiru.


"Waspadalah! Ada sesuatu yang membuat mereka jadi seperti ini," katanya pada Carli dan Capi.


Namun ucapannya tidak ada yang menjawab. Begitu ditengoknya ke belakang, Egon melihat Carli dan Capi tergeletak di tanah dengan tak sadarkan diri.


Berkali-kali dipanggilnya mereka. Namun tidak juga siuman. Belum sempat mencari tahu, Egon sendiri merasakan aroma kabut yang aneh. Menyesakkan jantungnya.


"Kabut ini beracun?" pikirnya cepat.


Tanpa pikir panjang, disobeknya sebagian bajunya dan menggunakan kain bagian dari pakaiannya tersebut untuk menutupi hidungnya. Namun sebelum itu, ia membasahi kain tersebut dengan sedikit air minum perbekalan mereka.


Egon berusaha kembali membangunkan kawan-kawannya. Meski sudah mengenakan penutup hidung seperti itu, rupanya racun begitu kuat. Mata Egon berkunang-kunang.


Dalam bayangannya, ia sedang bersama seorang wanita cantik di sebuah rumah kecil. Dan beberapa anak kecil yang memanggilnya ayah.


Egon terperdaya oleh racun yang mulai merasuki pikirannya. Pada saat ia berhalusinasi, sebuah akar rambat menarik tubuhnya mendekat ke sebuah pohon tua besar. Begitu pula Carli dan Capi. Dari tengah pohon tua tersebut muncul serabut-serabut tajam bak duri panjang yang berjumlah ribuan.


Apa itu? Rupanya, pohon tersebutlah yang membuat racun halusinasi. Dengan begitu, ia mampu mengambil sari makanan dari jiwa makhluk yang ada di dekatnya.


Pada saat jarum berumbai itu menusuk tubuh Egon untuk mengambil sari jiwanya, Egon yang sedang berhalusinasi merasakan ada yang aneh pada dirinya. Sehingga dengan sendirinya, seperti ada kekuatan dalam dirinya untuk menyadarkan diri kembali.


Dan itu berhasil!


Egon membuka matanya dan melihat sebuah makhluk pohon yang berakar mengerikan sedang berusaha menyantapnya.


Jarum-jarum yang menancap di tubuhnya pun seakan menyedot sesuatu dengan lahap dari dalam dirinya, Carli dan juga Capi.


"Hiyyaaa!!"


Egon melawan. Dan terlepas dari cengkeraman akar pohon tersebut. Ia jumpalitan ke sana kemari untuk menghindari usaha sang akar untuk menangkapnya kembali. Dengan gerakan cepat, Egon menarik tubuh Carli dan Capi bersamaan.


Begitu lepas dari cengkeraman akar pohon, Egon berlari kencang dengan Carli dan Capi yang ada di pelukannya. Akar yang merambat-rambat itu mengejar Egon dengan cepat. Jika semula hanya ada beberapa, kini dari tanah yang merekah, mereka muncul dan langsung mengejar langkah Egon.


"Sial! Mereka terus mengejarku!!" umpat Egon.


Tanpa menoleh ke belakang, ia terus melarikan diri dari kejaran akar buas menuju hutan yang lebih dalam. Dan pada perbatasan batu nisan berukuran besar, akar itu berhenti mengejar.


Hosh... Hosshh...


Egon merasa kecapekan. Dengan pelan ia menurunkan Carli dan Capi dari gendongannya. Sekali lagi, Egon berusaha menyadarkan mereka. Namun sepertinya, dua-duanya keracunan cukup parah.


"Apa ini? Bibir dan wajah mereka mulai berwarna ungu...." Egon gugup.


Sambil terus menepuk kepala mereka, Egon mengawasi keadaan sekitar yang seketika menjadi aneh. Langit menjadi mendung dan tampak berawan hitam tebal. Petir menyambar-nyambar dengan sempurna. Tiba-tiba suatu bayangan hitam yang berwujud seperti tangan berkuku runcing menarik Carli dan Capi ke dalam tanah pemakaman.


"Carli! Capi!!"


Egon berteriak mencoba menghentikan mereka. Namun tanah tempat bayangan hitam yang menarik kedua kawannya segera menutup. Egon terkejut dan berdiri gemetaran. Anehnya, awan yang semula mendung kini kembali tenang.


"Oh tidak! Apa yang harus aku lakukan? Makhluk apa itu tadi? Dan ke mana dia membawa Carli dan Capi pergi?"


Egon segera mendekati tanah yang menelan kedua kawannya. Ia mencoba menggali tanah tersebut dengan kedua tangannya. Tapi tidak semudah yang ia kira. Butuh waktu lama untuk menggali sampai ke dalam.


...----------------...


Hari sudah beranjak malam, Egon baru selesai menggali hingga ke bawah. Tapi ia tidak menemukan apapun di dalam tanah tersebut. Kosong??


"Apa? Mengapa tidak ada apa-apa di sini?" Egon tercengang. "Lalu, ke mana perginya Carli dan Capi?"


"Tidak mungkin mereka lenyap begitu saja ditelan bumi, kan?"


"Ah. Kira-kira, makam ini makam siapa? Mengapa ada makhluk aneh muncul dari dalam sini dan mengambil Carli dan Capi?"


Egon merasa kepalanya pusing. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Dipandangnya hamparan luas area makam tersebut. Tidak mudah karena tempat tersebut dipenuhi kabut.


Di sana tidak ada makam lain. Hanya ada pepohonan yang tandus dan tampak sudah mati. Namun udara di tempat itu juga tidak begitu baik.


Setelah menunggu beberapa hari berharap kemunculan kedua kawannya kembali, Egon menyusuri tanah berbatu di kawasan makam. Ia tidak bisa menunggu begitu lama tanpa kepastian.


Pada usaha terakhirnya, ia berjalan melewati sungai. Meski ia berpikir bahwa Carli dan Capi tidak mungkin ada di sana, tetapi ia mencoba untuk meyakini sebuah harapan.


Sampai pada ujung perjalanannya, Egon melihat samar-samar dari jauh. Seperti ada dua sosok makhluk yang terbaring di atas batu. Dengan cepat ia berlari mendekatinya. Dan apa yang ia lihat membuatnya terkejut.


"Carli?!! Capi?!!"


Ketika Egon memeriksa tanda kehidupan mereka, rupanya ia datang terlambat. Mereka sudah tidak bernafas. Tidak ada denyut di nadi mereka. Wajah dan bibir mereka tidak lagi ungu, melainkan sudah menghitam.


"Aaaaaarrrrhhh!!" Egon berteriak kesal dan kecewa.


Ia begitu menyesali sesuatu yang terjadi di tempat tersebut. Seandainya ia tidak memilih jalan itu dan mencari jalan lain. Kedua kawannya pasti akan tetap hidup.


Namun sebenarnya ia juga tidak benar-benar bersalah. Sebab, memang tempat itulah satu-satunya jalan yang bisa mereka lewati.


Egon menangis histeris. Sambil sesekali berteriak mengeluarkan kekecewaan pada diri sendiri.


"Apa yang aku lakukan pada kalian?!!" katanya sambil mengerang sedih


Ia benar-benar sedih harus kehilangan keluarga terakhir dalam hidupnya. Setelah berkali-kali menghadapi rintangan dan ujian, satu persatu ia harus kehilangan teman seperjalanan.


Entah itu mereka menetap untuk hidup bersama orang lain, ataupun tewas menyedihkan. Egon benar-benar terpuruk kali ini. Jika Carli dan Capi saja tidak. Akankah ia mampu keluar dari tempat itu?


Bersambung........