
BAB 26
Lilitan ular Lamia begitu menyesakkan dada Egon. Pun saat iblis wanita itu mendekatinya dengan halus namun sangat mengerikan.
Pada saat bertatapan dan mata mereka saling bertemu, sekali lagi Egon terhipnotis. Ia menjadi diam dan menerima begitu saja apapun yang akan dilakukan Lamia.
Dengan lidah yang menjulur-julur, perlahan namun pasti, Lamia melepaskan pakaian Egon. Iblis itu begitu bersemangat melihat mangsanya tanpa perlawanan bertekuk lutut kepadanya. Untuk menikmati Egon, Lamia berubah ke wujud menjadi sepenuhnya ular.
Tangan Egon meraih-raih kepala ular raksasa yang ada di depannya. Terasa amat sulit baginya karena lilitan Lamia yang membatasi pergerakan tubuhnya.
Tiba-tiba saja Lamia menyemprot wajah Egon dengan cairan biru. Cairan tersebut terasa panas di wajah Egon dan membuat pandangannya kabur.
Saat bersamaan pula, Lamia yang sekarang berwujud ular raksasa melebarkan mulutnya untuk menelan Egon. Namun karena Egon masih memiliki sisa tenaga, ditangkapnya rahang ular raksasa tersebut.
Egon berusaha mematahkan rahang sang ular. Ia membentangkan tangannya sekuat tenaga agar rahang ular tersebut terlepas.
Dalam perjuangannya mematahkan rahang Lamia, lidah panjang sang ular tersebut mencoba melilit leher Egon. Keduanya saling melawan. Bahkan Lamia semakin mengencangkan lilitan pada tubuh mangsanya itu sehingga Egon sulit bernafas.
Pada detik-detik perkelahian sengit itu, Gill muncul dan langsung melompat ke atas kepala Lamia. Ia menggigit kepala ular raksasa itu dan melukai mata ular dengan cakar tajamnya.
CRASS !
Gill menyerang tiada ampun. Membuat Lamia meliuk ke sana kemari merasakan kesakitan, karena bola mata kanannya pecah akibat cakaran tajam dari Gill.
Mendapat perlawanan dari dua arah, iblis berwujud ular itu kewalahan. Dengan putus asa Lamia memindahkan lidahnya untuk melilit tubuh Gill. Dan tanpa sepengetahuan serigala besar itu, ujung lidahnya terbuka dan dari bagian tengahnya keluarlah ular-ular kecil beracun yang merayap masuk ke dalam tubuh Gill melalui pembuluh arteri kecil menuju pusat utama, yaitu jantung.
Seketika itu juga Gill merasakan sakit pada jantungnya. Seakan denyut pada jantungnya melemah dengan tiba-tiba. Karena itu, cengkeraman kuku yang ia benamkan pada kepala Lamia pun mengendor. Jatuhlah ia meluncur ke bawah dan tercebur ke dalam air.
Akhirnya, Lamia kembali fokus pada Egon. Ia kembali melilitkan lidahnya dan membuat Egon kembali merasakan sesak nafas.
Namun karena Egon melihat bahwa Lamia menggunakan cara licik dengan memasukkan ular berbisa ke dalam tubuh Gill, ia semakin bertekad.
Apalagi saat Gill jatuh tercebur ke air, Egon semakin menguatkan tekadnya untuk menghabisi Lamia. Ia harus segera mengakhiri pertarungan sengit itu. Sambil berteriak kencang, Egon mengerahkan otot tangannya dan kembali meregangkan rahang ular raksasa itu.
HYAAAAAAAA !!!
Egon berteriak sampai urat di lehernya terlihat bergaris-garis. Kekuatannya kini tidak tanggung-tanggung. Kedua tangannya pun menjadi lebih kuat. Semangatnya yang membara membuatnya berhasil meregangkan rahang Lamia sedikit demi sedikit.
AAAAAAAAAAHHHH !
Lamia berteriak histeris menghadapi kematiannya. Tubuhnya meliuk-liuk kesakitan seraya membanting-banting Egon ke dalam air dan membenturkannya pula ke dinding.
Akhirnya, Egon berhasil membuat mulut ular itu terbagi menjadi dua bagian. Ia juga menarik kuat lidah Lamia sehingga copot dari jalurnya.
Akhirnya, Lamia tewas di tangan Egon. Seketika itu juga lilitan pada tubuh Egon terlepas. Bahkan ia ikut jatuh bersamaan jatuhnya tubuh Lamia ke dalam kolam tersebut.
BYUUUURRR !
Egon sempat tenggelam karena tertimpa tubuh ular raksasa. Namun dengan insting binatangnya, ia berenang cepat mencari jalan keluar menuju permukaan.
Saat berenang cepat, kebetulan sekali ia juga melihat Gill berada di dasar kolam. Diraihnya tubuh Gill dan berusaha ia angkat.
Sebenarnya kolam tersebut tidak lebih dari 4 meter. Namun keberadaan tanaman rambat yang subur dan hampir memenuhi kedalaman kolam membuat Egon kesulitan menuju permukaan.
Ketika berhasil membawa Gill ke atas, ia segera mencari tempat kering di sekitar sana. Ia memanggil-manggil Gill yang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Bahkan tanda vitalnya hampir tidak terlihat.
"Gill ! Bangunlah !" panggil Egon merasa sangat sedih.
Egon melihat ada bekas tanda membiru di dada Gill. Ia yakin bahwa itu jalan yang dilewati ular kecil dari lidah Lamia. Dengan cepat ia mengeluarkan kuku tajamnya. Dan membuat sayatan vertikal di dada Gill untuk mengeluarkan ular berbisa dari dalam jantung saudaranya tersebut.
Dan benar saja, tiga ekor ular kecil berwarna hitam kebiruan tengah melingkar di dalam jantung Gill. Rupanya ular-ular itu telah menyebarkan racun mereka. Dan racun tersebut mulai menyerang jantung Gill.
Dengan marah Egon menarik ular-ular kecil itu keluar. Lalu menarik lepas kepala-kepala mereka hingga terputus memuncratkan darah berbisa mereka.
Setelah ular-ular itu mati, Egon menutup kembali sayatan yang ia buat. Ia meludahi luka sayat tersebut agar cepat menutup. Karena Gill masih belum sadar juga, Egon menggendongya dan bergegas meninggalkan gua kediaman Lamia.
SRAK ! KRASAKK !
Egon sampai di pohon besar tempat persembunyian Jeneva.
"Jeneva ! Keluarlah !!" panggil Egon cemas.
Cukup lama bagi Egon untuk bertemu dengan Jeneva. Makhluk tersebut akhirnya muncul setelah beberapa menit berlalu.
Kali ini Jeneva keluar dari dalam akar tanah.
"Kau kembali?" tanya Jeneva terkejut.
"Ceritanya panjang. Jadi dengarkan aku. Aku bertemu Lamia dan berhasil membunuhnya. Namun untuk saat ini bisakah kau menolong Gill untukku? Aku akan menceritakan sisanya nanti," tanya Egon khawatir.
"Dia terkena racun ular kecil dari lidah Lamia," lanjut Egon masih menggendong Gill.
"Baiklah. Letakkan dia. Aku akan mencoba mengobatinya."
Egon meletakkan tubuh Gill di atas rerumputan. Jeneva langsung mengucapkan sebuah mantra yang membuat tanaman menjalar tumbuh di dekat Gill. Tanaman tersebut terus tumbuh menjalar-jalar dan bergerak membungkus tubuh Gill.
"Mungkin aku hanya bisa mengurangi racun yang ada padanya. Namun tidak membuang semuanya. Sebab kau tahu sendiri. Bisa racun yang di masukkan oleh Lamia sendiri ke dalam tubuh mangsanya, adalah racun paling mematikan di dunia. Dan tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa mengelaknya."
"Lalu? Apa yang akan terjadi pada saudariku?"
"Kita lihat saja nanti."
Berjam-jam telah mereka lewati. Namun Gill masih belum juga keluar dari dalam bungkusan yang diciptakan Jeneva.
"Apakah ada cara lain untuk menyelamatkan dia?"
"Sayangnya, tidak ada," Jeneva menjawab dengan lesu.
"Oh ya, apakah Carli dan Capi kembali kemari?"
"Mereka? Tidak."
"Lalu, kemanakah mereka pergi? Apa mereka dapat menemukan jalannya?"
"Seharusnya begitu. Rusa putih memberiku kabar bahwa dua anjing Direwolf telah berhasil keluar dari hutan."
Egon diam menunduk.
"Saat itu aku berpikir, kau pasti tersesat dan bertemu Lamia. Rupanya apa yang kupikirkan benar terjadi. Sekarang ceritakan bagaimana kau membunuhnya. Kita mempunyai waktu sebelum dia bangun."
"Baiklah. Akan kuceritakan. Awalnya dia hanya megincarku. Aku sempat jatuh ke dalam genggamannya. Dan kami bertarung sengit mempertahankan diri. Pada waktu yang tepat, Gill datang ikut menyerang. Namun lidah Lamia yang saat itu melilit leherku ia pindahkan ke tubuh Gill."
"Hmm. Lalu?"
"Lalu, aku melihat sesuatu keluar dari dalamnya dan merasuk ke dalam tubuh Gill. Mereka bertiga adalah ular hitam kebiruan. Ular yang meracuni Gill hingga seperti ini."
"Hmm begitu rupanya. Kemudian bagaimana caramu menghabisinya?"
"Aku mematahkan rahangnya menjadi dua bagian."
Jeneva mengangguk pelan. Ia memahami alur cerita yang disampaikan Egon padanya.
...----------------...
( Bersambung..... )