
BAB 42
Sepuluh tahun kemudian, anak-anak yang di asuh Egon beranjak besar. Mereka sudah pandai mencari makanan sendiri. Meski begitu, Egon tidak mengajarkan pada mereka cara menangkap mangsa yang hidup dan bernyawa. Sehingga, jika mereka pergi mencari makanan, makanan seperti buah-buahanlah yang mereka bawa pulang.
Anak-anak itu tumbuh menjadi anak yang baik dengan didikan dari Egon. Seorang ayah tunggal yang belum pernah menikah dan mempunyai anak.
Meski sepuluh tahun telah berlalu, Egon masih tetap sama. Tidak menua. Sedangkan Seravina semakin cantik dan menjadi gadis yang matang di usianya ke tiga puluh dua tahun.
Pada saat usia Seravina itu, banyak pemuda yang ingin meminangnya. Tetapi Seravina menolak semua yang datang padanya. Sebab, ia masih berharap pada Egon. Karena ia sudah menunggu Egon selama sepuluh tahun, mudah baginya untuk menunggu lagi.
Siang itu, Seravina datang berkunjung ke hutan setelah beberapa tahun lamanya ia tidak menampakkan diri. Terakhir ia bertemu Egon adalah saat ia mencoba mengajak Egon menikah. Tapi pada saat itu, Egon tidak mau melakukannya.
Kini, ia datang lagi karena merasa rindu pada kesibukannya yang sudah berjalan beberapa tahun itu. Terutama pada Egon. Ia mencoba mengambil hati dengan membawa pakaian baru untuk anak-anak. Tidak lupa pula untuk Egon. Satu-satunya pria yang menggetarkan hatinya.
"Ayo anak-anak, cobalah pakaian yang ku buat untuk kalian," seru Seravina pada anak-anak begitu ia sampai di pintu gua.
"Lihat! Nona Seravina datang kembali!!"
Anak-anak berseru riang. Tanpa menunggu lama lagi, ke delapan anak itu mengerumuni Seravina dengan bersemangat.
"Nona, bagaimana kabarmu? Apa kau tidak pernah datang karena kau sudah menikah?" tanya Bora.
Seravina tersenyum lalu menggelengkan kepala. Ia mengusap kepala anak-anak dengan tulus.
"Saat kau pergi, ayah kami selalu murung. Setiap malam, kami melihatnya sedang melamun memandang jauh ke desa tempatmu berada. Sepertinya dia merindukanmu, nona Seravina," kata Tora jujur.
"Iya benar, kasihan sekali ayah kami," kata Kora.
DEG!
Jantung Seravina berdebar. Benarkah apa yang dikatakan anak-anak ini? Egon merindukannya? Apa itu artinya, diam-diam Egon juga mencintainya?? Seravina melamun.
"Apa aku benar-benar boleh memiliki ini, nona Seravina?" tanya anak ke enam yang bernama Sora mengagetkan Seravina.
"Ehh?? Tentu saja, sayang. Ambillah," jawabnya kemudian.
"Kalau untukku yang mana, nona Seravina?" Mora anak ke lima pun ikut bertanya.
Egon memberi nama anak-anak Thomas dengan nama yang sama. Hanya huruf depannya saja yang berbeda. Nama mereka adalah Bora, Dora, Gora, Kora, Mora, Sora, Tora, Zora. Sesuai urutan dari abjad pertama.
Pada saat anak-anak sedang bersenang-senang dengan kedatangan Seravina, Egon kembali dari berburu. Di tangannya ia membawa seekor babi hutan gemuk dan masuk ke dalam gua tanpa curiga.
Begitu masuk, ia melihat anak-anak sedang ramai berkumpul bersama seorang wanita. Eh, wanita??
Egon menurunkan binatang buruan dan mengikatnya di atas perapian. Kemudian ia juga menyalakan apinya. Tinggal menunggu sampai daging itu matang sempurna. Kemudian, ia berdiri menatap wanita cantik berambut panjang yang ada di hadapannya. Karena melihat ayah mereka hanya berdiri saja, anak-anak berseru padanya.
"Ayah! Ayah! Lihat, nona Seravina datang membawa pakaian baru untuk kita!"
"Lihat, punyaku ayah. Bagus, bukan?" kata Zora.
Egon tersenyum pada anak-anak dan berlutut dengan satu kaki untuk membantu anak-anak tersebut memakai pakaian mereka. Begitu pakaian mereka dikenakan, anak-anak berlarian ke luar gua dan bermain kejar-kejaran.
Seravina mendekat. Egon pun berdiri kembali.
"Hai. Bagaimana kabarmu?" tanya Seravina.
"Kaukah itu?" tanya Egon lirih.
"Ya. Ini aku. Seravina."
"Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk pakaiannya. Anak-anak sudah besar. Mereka juga semakin banyak gerak. Sebaiknya kau pulang segera. Aku takut mereka akan menyusahkanmu. "
Egon berbalik pelan dan hendak melanjutkan pekerjaannya. Tapi Seravina meraihnya dengan cepat kemudian memeluknya erat.
"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Seravina.
Egon berdiri kaku, "Bagaimana denganmu?"
"Aku merindukanmu Egon, lalu tempat ini, anak-anak, itu sebabnya aku datang kembali kemari."
"Kau menghilang selama bertahun-tahun, aku kira kau sudah melupakanku dan hidup bahagia bersama seseorang."
"Tidak. Aku tidak pernah melupakanmu. Aku pun sama. Setiap kali aku menunggumu datang ke desa. Tapi kau tak kunjung menjemputku. Sejak aku mengatakan ingin menikah denganmu, aku kira kau benar-benar tidak ingin melakukannya."
"Jika sekarang aku mengatakan menikahlah denganku, akankah kau menerimanya?"
Seravina menengadahkan kepalanya. Bertahun-tahun lamanya, ia benar-benar menunggu kalimat itu keluar dari mulut Egon.
"Aku ingin melakukannya. Tapi aku tidak percaya diri untuk mengungkapkannya."
"Baiklah. Tidak perlu mengungkapkan semua itu. Yang penting sekarang, aku sudah mengerti bagaimana perasaanmu padaku," Seravina mempererat pelukannya.
"Sebenarnya saat pertama kali kau menanyakan soal ibu baru bagi anak-anak, aku sudah mempunyai perasaan untukmu. Tapi aku tidak yakin, kau mampu hidup dan mempunyai anak dari binatang buas sepertiku."
"Egon.... "
"Aku hanya tidak ingin kau ketakutan dan menyesali semuanya setelah nanti kau menjadi istriku."
"Egon, dengarkan aku,,,"
"Aku masih tidak bisa lupa, bagaimana wanita-wanita itu ketakutan melihat wujud asliku. Aku juga takut seandainya kau lari ketakutan saat sedang bersamaku."
Karena Egon masih saja bicara, Seravina meraih kepala Egon dan mencium bibirnya cukup lama.
"Lihat, aku tidak lari ketakutan, bukan?"
Egon dan Seravina saling bertatapan. Mereka kembali merajut cinta yang sempat mengalami salah faham selama beberapa tahun belakangan.
Karena cinta mereka telah bersatu, dengan perlahan Egon kembali mencium Seravina.
Untuk beberapa menit, mereka terlibat ciuman yang penuh kerinduan.
Karena suara anak-anak terdengar ramai, Egon membawa Seravina keluar dari gua. Kemudian ia melompat dari satu dahan ke dahan lainnya sambil tetap memeluk Seravina. Dipilihnya tempat yang benar-benar sunyi untuk bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan gadisnya tersebut.
Setibanya di puncak tebing nan tinggi, tanpa suara anak-anak, tanpa takut terganggu seekor binatang pun, Egon merebahkan Seravina di atas rerumputan. Ia kembali mencium gadis itu dengan sangat lembut.
Keinginan yang selama ini ada di dalam hatinya kini dapat ia salurkan dengan penuh cinta bersama seorang wanita cantik dan keibuan.
Begitu melepas pakaian Seravina, Egon melakukan penetrasi dengan baik dan tanpa kesulitan. Hubungan percintaan itu berlangsung tanpa paksaan. Pada hari itu, Seravina menyerahkan semua miliknya pada Egon. Pria yang sudah lama ia inginkan.
Tak berapa lama kemudian, mereka bergumul dengan penuh kasih dan kehangatan. Suara-suara yang mereka ciptakan saat pergumulan itu berlangsung pun, melebur jadi satu bersama desiran angin dan gemericik air terjun.
Bahkan burung-burung bernyanyi bersama untuk memberikan nuansa romantis pada dua makhluk berbeda yang sedang bercinta dengan indahnya.
Wusss.....
Ketika malam tiba, Egon dan Seravina baru kembali ke gua. Mereka mendapati anak-anak sudah terlelap dengan perut gendut karena kekenyangan. Rupanya daging babi hutan yang ia tinggalkan tadi sudah matang dan langsung disantap oleh anak-anak dengan nikmat.
Dan ternyata, mereka juga ingat untuk menyisakan beberapa bagian untuk ayah dan nona Seravina mereka.
Seravina menyelimuti anak-anak dan tersenyum pada Egon. Sekali lagi, mereka berciuman dengan hangat dan cukup lama. Dengan bersatunya tubuh mereka hari itu, mereka menganggap bahwa mereka telah melakukan sebuah pernikahan dalam ikatan yang suci.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Egon pada Seravina setelah sekian lama menciumi dirinya.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Bagaimana ini, setelah melakukan itu bersamamu, aku merasa sangat kelaparan."
Egon mendekati perapian dan meraih daging yang tersisa. Ia benar-benar lapar dan seakan telah kehabisan banyak tenaga. Setelah membuat Seravina senang pada siang harinya, ia harus mengisi ulang baterai dalam tubuhnya.
"Maaf, nona. Aku harus mengisi ulang tenaga yang sudah banyak ku keluarkan untukmu hari ini," kata Egon tersenyum.
"Ya. Baiklah. Makan dan isi kembali tenagamu sampai penuh. Kalau sudah penuh, gunakan kembali tenagamu itu untukku. Tapi kali ini, aku ingin melakukannya lebih lama bersamamu," kata Seravina berkedip manja dan dan genit.
Egon menoleh dengan mulut menganga karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya. Baiklah."
Egon, yang semula hidup seorang diri dengan berbagai rintangan kehidupannya, akhirnya menemukan tambatan hatinya.
Ia tidak lagi berkelana mencari teman ataupun kedamaian. Hanya Seravina yang ia butuhkan sekarang. Wanita cantik dan anggun, yang bersedia membantunya pada kasus penculikan beberapa wanita itu membuatnya merasakan kehangatan.
Bahkan, meski dengan delapan anak yang bukan dari darah daging mereka, Seravina bersedia menjalani hidup bersama Egon dengan apa adanya di hutan.
Kini, Egon hidup bahagia bersama wanita yang mengetahui jati dirinya. Siapa dia yang sebenarnya, wanita itu juga tidak merasa keberatan. Seravina mampu menerima kekurangan Egon.
Mereka bahagia dan saling melengkapi. Dan di hutan Marsheille juga, keluarga baru mereka itu menikmati hidup dengan damai.
...****************...
...~ TAMAT ~...
...****************...